Rabu, 27 Mei 2020

Itaewon Class: Tentang Dendam, Mimpi, Cinta dan Persahabatan

 


Usai maraton nonton Itaewon Class, saya bisa bilang drama korea satu ini benar-benar paket lengkap cerita yang recomended! Such a mix of emotions, great plot, great pacing, amazing acting all round, engaging OST and exquisitely shot scenes! 

Berbeda dengan drama lainnya, saya menonton Itaewon Class bukan atas rekomendasi teman atau karena aktornya atau tertarik review orang. Jadi nggak punya gambaran bakalan kayak apa IC. Tapi pada beberapa episode awal saya tercengang karena drama ini ternyata dinamis dan banyak mengeksplorasi beberapa masalah yang progresif dan nyata. Dan setiap karakter yang muncul begitu nyata dan kompleks. 

Drama ini berkisah tentang perjuangan Park Sae Ro Yi  untuk membalas dendam atas ketidakadilan yang dialaminya. Park Sae Ro Yi yang memiliki cita-cita menjadi polisi memegang teguh prinsip hidupnya untuk melakukan apa yang dianggap benar meski apapun yang terjadi. Karena prinsip itulah, Saeroyi dikeluarkan dari sekolah karena memukul Jang Geun Won yang sedang membully teman sekelasnya. Jang Geun Won semena-mena karena ayahnya Jang Dae Hee adalah pemilik perusahaan Jangga yang merupakan perusahaan nomor satu dalam industri makanan di Korea.

Park Sae Ro Yi bisa tetap bersekolah asal dia mau berlutut dan meminta maaf pada keluarga Jang. Tapi meski tahu ayahnya adalah karyawan Jangga, Saeroyi  menolak meminta maaf atas kesalahan yang tidak diperbuatnya. Ayah Saeroyi yang diminta membujuk anaknya agar mau meminta maaf pun malah mendukung Saeroyi dan memilih mengundurkan diri dari perusahaan. 

Sampai di sini, bisa jadi penonton akan menyayangkan sikap Park Sae Ro Yi yang keras kepala yang selain membuatnya putus sekolah  juga membuat ayahnya jadi pengangguran. Tapi, Mr. Park justru berpikiran lain, lelaki itu sangat bangga pada anaknya yang telah bersikap penuh percaya diri untuk melakukan apa yang dianggapnya benar. 

"You have no idea how proud I was. I want you to keep living like that, son." ~Mr. Park.

Pasangan ayah dan anak tersebut digambarkan tetap optimis untuk melanjutkan hidup penuh mimpi hingga Mr Park tiba-tiba meninggal akibat tertabrak mobil Jang Geun Won. Ketika tahu Geun Won menabrak orang sampai meninggal, Mr Jang dengan kekuasaan uangnya malah memutar balikan keadaan dengan memenjarakan Park Sae Ro Yi dengan tuduhan percobaan pembunuhan terhadap Geun Won. Nggak tanggung-tanggung akibat memukul Geun Won karena marah tahu ayahnya sudah ditabrak sampai mati, Saeroyi malah divonis penjara 3 tahun. 

screenshot saat Saeroyi dikunjungi Mr Jang, ekspresi marah Saeroyi benar-benar keren.

Jadi udah dibuat putus sekolah, kehilangan ayah sebagai keluarga satu-satunya, eh masih harus terpenjara 3 tahun lamanya. Gimana Saeroyi nggak dendam coba? Saya aja yang nonton juga ikutan dendam hahaha. 

Menariknya pembalasan dendam yang dipersiapkan Park Sae Ro Yi ini yang menurut saya keren. Saeroyi mempelajari seluk beluk perusahaan Jangga dan autobiograpi Jang Dae Hee sebagi musuhnya yang kemudian menginspirasinya dalam hal bisnis. Karena itu juga ia banyak membaca buku tentang cara berbisnis dan mulai bermimpi untuk membuka bar sendiri suatu hari nanti. Jadi Saeroyi menetapkan cara balas dendam pada keluarga Jang adalah dengan membangun bisnis untuk menyaingi dan menghancurkan bisnis keluarga Jang. Benar-benar mimpi besar yang terlihat tak mudah diwujudkan oleh seorang pemuda yang notabene bukan anak orang kaya, tidak terlalu pintar, hanya memiliki ijazah SMP, mantan napi pula. 

Setelah keluar dari penjara, hal pertama yang dilakukan Saeroyi adalah menemui Oh Soo Ah, cinta pertama sekaligus satu-satunya temannya. Ketika ditanya Soo Ah apa rencananya, Saeroyi bilang ingin membuat bar di Itaewon. Soo Ah yang karakternya realistis dan cenderung ingin hidup nyaman dan aman mengingatkan bahwa selain membangun bisnis itu tidak mudah, di Itaewon juga harga sewa gedung tidak murah. Soo Ah bertanya lagi, kapan rencana bikin bar-nya? Saeroyi menjawab, tujuh tahun lagi karena ia akan bekerja dulu untuk mengumpulkan uang. 

Dan dalam tujuh tahun itu ternyata Saeroyi sebagai mantan napi yang telah melakukan banyak pekerjaan berat dari memancing, kerja kuli bangunan sampai kerja di pabrik untuk ngumpulin duit, benar-benar balik ke Itaewon untuk mendirikan kedai dengan nama Dan Bam atau Honey Light. Dari sinilah cerita jatuh bangun bisnis Saeroyi dan balas dendamnya dimulai. 

Drama IC ini benar-benar berbeda dengan drama klasik lainnya yang menye-menye dan terlalu dramatis sampai nggak realistis. This drama is about persistency, consistency, integrity, trust, and hardwork is not enough for make dream be come true. Jadi drama ini nggak cuma punya satu karakter utama yang kuat lalu dengan usaha dan keberuntungannya bisa sukses dan berhasil membalas dendam. Oh, tidak semudah itu Ferguso! 

Drama ini penuh lika-liku dan plot twist serta beberapa karakter unik yang berkelindan sama pentingnya. Tidak seperti drama kebanyakan yang fokus pada tokoh utama satu atau dua orang, sementara sisanya cuma pemeran pendukung yang muncul sesekali tanpa penokohan yang kuat. 

Sebelumnya Park Seo Joon bukan aktor favorit saya, meski saya udah nonton What's Wrong with Secretary Kim dan Hwarang: The Poet Warrior Youth. Nggak tahu kenapa di dua drama itu karakter utama yang diperankan PSJ menurut saya nggak begitu menarik. Tapi setelah menonton PSJ memerankan Park Sae Ro Yi penilaian saya berubah, I Love PSJ!  Langsung saya masukin keranjang aktor drakor pilihan. 

Secara Park Seo Joon berhasil banget memerankan karakter Saeroyi yang idealis dan memegang teguh prinsip, sadar kapasitas diri, mau belajar dan tidak sok tahu, serta tangguh bisa survive. As long as he's alive it's not a big deal. He is the man of his word and know his own value, terbukti dengan cara dia mewujudkan mimpinya. Biar lambat asal selamat eh asal terwujud.

Scene favorit saya adalah saat Saeroyi menghibur Ma Hyun Yi yang sedang down karena statusnya sebagai transgender terkuak dan mendadak menjadi bahan pembicaraan orang.

"You don't need to convince others about who you are." 

Kalimat Saeroyi terasa personal dan familiar bagi saya, ya kita nggak perlu repot-repot menunjukkan dan membuktikan siapa diri kita kepada orang lain yang hanya bisa mencemooh dan menjadikan serta membully kita. Kita yang paling tahu diri kita. Fighting!

Karakter Park Sae Ro Yi nggak sempurna, itu yang saya suka. Jadi lebih manusiawi. Sisi keras kepala, idealis yang kebangetan dan jujur apa adanya membuat sosok Saeroyi jadi nyebelin sekaligus bikin gemes yang ngelihatnya. Pingin ikutan ngelus kepalanya seperti kebiasaan Saeroyi kalau sedang gugup atau memikirkan sesuatu hal yang penting. Oh ya saking konsistennya si Saeroyi ini, model rambutnya sejak SMA sampai akhir cerita gak berubah hahahaha. Padahal karakter lainnya sepanjang cerita ganti model rambut beberapa kali.


Karakter utama kedua adalah Jo Yi Seo yang diperankan Kim Da Mi. Jo Yi Seo digambarkan sebagai seorang influencer beken di medsos dengan kecerdasan IQ 162 dan hipster Korea. Tapi di balik penampilannya yang keren itu, ternyata ia mengidap penyakit mental sociopathic tendencies yang membuatnya tega melakukan apa saja demi tercapai tujuannya.

Sepanjang menyimak banyak karakter cewek di drama Korea, karakter protagonis Jo Yi Seo ini beda banget, gak menye-menye dan strong. Jo Yi Seo cewek genius dan multi talenta yang super pede. She have maximum confidence level that I really envy so badly. Saking pedenya, Jo Yi Seo yang baru lulus SMA berani mengajukan diri sebagai manajer Dan Bam. Jo Yi Seo juga rela diusir ibunya yang matre karena ketahuan tidak kuliah dan memilih bekerja di kedai kecil.

"It's not how I raised. I'm not depending on someone else's dream. And I'm not going to live in your dream either. I'm going to live for myself. It's my life." ~Jo Yi Seo~

Daebak! Jo Yi Seo benar-benar berjuang untuk mendapatkan cinta Saeroyi, tapi bukan dengan cara merayu. Dia berusaha dan bekerja keras untuk menunjukkan kapasitas dirinya dengan menjadi orang yang dibutuhkan Saeroyi. Berbeda dengan So Ah yang karena merasa sudah mendapatkan cinta Saeroyi jadi meminta dan menunggu Saeroyi memperjuangkan cintanya, Jo Yi Seo justru setia mendampingi dan bekerja untuk membuat Saeroyi bahagia. Jadi kalau Yi Seo berhak mendapatkan cinta Saeroyi bukan cuma karena dia sangat mencintai Saeroyi, tapi karena dia telah bekerja keras dan banyak berkorban serta terluka karena Saeroyi. Sepertinya begitulah cinta, harus bersedia mendukung orang yang dicintai sejak dari nol seperti Yi Seo, bukan tak mau ambil risiko dan hanya menunggu orang yang dicintai menjadi kaya dan berhasil seperti Soo Ah.

Selain Park Sae Ro Yi dan Jo Yi Seo, Itaewon Class juga menampilkan berbagai tokoh dengan karakter yang unik dan berbeda yang berhasil mendobrak standar penampilan dan stereotip para pemeran drama Korea.

Karakter Ma Hyeon Yi sebagai kepala chef di DanBam, seorang transgender yang berusaha agar dirinya diterima oleh lingkungannya. Choi Seung Kwon mantan teman sebui Park Sae Ro-yi saat di penjara yang berusaha keras mengubah sifat premannya menjadi orang baik-baik yang loyal kepada bos dan rekannya. Juga ada karakter Tony Kim, seorang keturunan Afrika-Korea yang sering mendapat diskriminasi karena warna kulitnya.


Karakter tim DanBam atau  geng Itaewon Class ini begitu saling melengkapi dan membuat drama IC begitu berwarna. Loyalitas, persahabatan, kepercayaan, serta kekuatan saling mendukung menjadi kunci keberhasilan mereka dalam menjalankan bisnis DanBam. Chemistry para pemain yang begitu bagus membuat Itaewon Class semakin seru.

Persahabatan tim Dan Bam sangat unik, secara orang-orang yang menjadi satu kelompok ini dipilih Saeroyi yang anti sosial atau tidak memiliki pengalaman berteman secara acak, dan kesemua orang pilihan tersebut sama seperti Saeroyi: rapuh dan butuh pelukan eh?

Bagian terbaik dari lingkaran pertemanan Tim Dan Bam ini adalah mereka semua bersandar satu sama lain dan bersedia mempertaruhkan segalanya untuk satu sama lain. Bikin saya jadi iri setengah mati hiks.

Setting IC mengingatkan saya pada beberapa tempat di Hong Kong: Wan Chai, Central dan Mong Kok. Kota yang ramai, multietnik, banyak bar dan pertokoan. Pokoknya, suatu hari jika saya bisa ke Korea Selatan, Itaewaon pasti masuk list tempat yang wajib saya kunjungi.

Terlepas dari semua hal di atas, saya menganggap drama korea itu punya nilai plus kalau soundtrack-nya keren, sesuai suasana dan cerita. Ada beberapa drakor yang sudah saya unduh ost-nya, misalnya saja Goblin dan Born Again. 

Dan Itaewon Class ini memiliki banyak soundtrack dengan berbagi genre yang membuat saya kesengsem banget. Saat scene sedih terdengar lagu ‘Still Fighting It‘ yang dinyanyikan Lee Chan Sol atau ‘Someday, The Boy’ dari The Feel yang membuat suasana semakin sendu dan emosional sampai baper. Kemudian di saat adegan Park Sae Ro Yi begitu bersemangat untuk bangkit dari kegagalannya, terdengar lagu ‘Start‘ dari Gaho. Lagunya yang upbeat benar-benar menyemangati bukan cuma Saeroyi tapi juga saya sebagai penontonnya. Alhasil seusai nonton IC saya pun mengunduh ost-nya juga. 



Oh ya, kehadiran aktor Park Bo Gum sebagai cameo di episode akhir merupakan bonus buat penonton Itaewon Class. Bikin saya ngiler bayangin makan mie bikinan koki setjakep Park Bo Gum. Wew!



Minggu, 24 Mei 2020

Review Dew (Let's Go Together): Sebuah Kisah yang Menguras Air Mata dan Menghangatkan Hati


Menonton film bagi saya sama halnya membaca buku. Dan film produk Thailand Dew (Let's Go Together) ini menurut saya adalah sebuah buku yang keren dan indah sekali. Menguras air mata sekaligus menghangatkan hati.

Saat menonton Dew yang berdurasi 2 jam ini saya menangis keras berkali-kali. Membayangkan betapa menyedihkannya ketika kita sebagai manusia tidak dapat menjadi apa yang kita inginkan karena pembatasan dari masyarakat, keluarga, norma, kepercayaan, dan budaya kita. Betapa frustasinya ketika hidup kita ini dikendalikan oleh lingkungan kita sepenuhnya. Hingga apa yang bisa kita lakukan dalam keputusasaan adalah memikirkan cara menemukan tempat di mana kita dapat melarikan diri dan menjauh dari semua bentuk penghakiman. Damn! Saya pernah mengalaminya.

Film bergenre roman ini bercerita tentang Phop dan Dew, yang belajar di sekolah yang sama yang secara perlahan-lahan menyadari ada sesuatu yang lebih dari persahabatan di antara mereka. Sayangnya, mereka hidup di era yang tidak terbuka untuk homoseksual sehingga perasaan dan hubungan cinta keduanya menjadi ketidakmungkinan yang menyedihkan.

Konon pada tahun 1990-an, tahun setting dalam film ini, AIDS menyebar di Thailand dengan sangat cepat, dan umumnya dialami oleh para pria homoseksual. Hal tersebut membuat pemerintah Thailand  melakukan pendidikan dan pencegahan dengan cara menempatkan para remaja homoseksual (berpenampilan banci atau bersikap cenderung feminin) ke dalam semacam kamp untuk dididik secara militer agar menjadi 'jantan'. Saat itu, homoseksual dianggap penyakit mental yang harus diobati dan para penderitanya mesti disembuhkan dengan cara apapun.

Saya tidak bisa membayangkan betapa sulitnya menjadi seorang homoseksual di Thailand pada saat itu, dianggap sakit mental meskipun sebenarnya itu bukan penyakit mental. Adalah terlarang bagi seseorang untuk mencintai sesama jenis kelamin. Betapa banyak kisah-kisah seperti ini yang seharusnya diceritakan, dipaksa untuk dihapus hanya karena masyarakat mengatakan demikian. 

Cerita tentang latar belakang keluarga Dew dan Phop dalam film ini juga menjadi point penting jalannya cerita.

Ibu Dew adalah orang tua tunggal yang bekerja sebagai pegawai pelayanan publik yang tugasnya berpindah-pindah tempat. Dia digambarkan sebagai sosok ibu tangguh yang sangat mencintai anaknya. Dialog antara Ibu dan Dew saat Dew ditelpon diajak minggat Phop membuat saya nangis termehek-mehek. 

"Kenapa kamu ingin pergi? Pergi kemana?"

"Aku akan pergi ke mana saja, yang penting tidak tinggal di kota ini. Karena ibu tidak mau menjawab pertanyaan yang kuajukan. Apakah ibu akan tetap mencintai dan menerimaku jika aku seorang gay?"

"Kenapa tidak? Ibu akan tetap mencintaimu meski kamu seorang gay. Ibu mencintai dan menerima apapun adanya dirimu, Dew. Karena kamu anak ibu satu-satunya. Kalau kamu pergi ibu akan sendirian. Jadi ibu mohon jangan pergi.... Jangan tinggalkan ibu." 

"Tapi nantinya ibu akan menganggapku sebagai orang yang sakit dan memasukkanku ke pusat rehabilitasi seperti orang lainnya."

"Itu tidak benar. Kamu boleh mencintai siapapun Dew, kamu berhak mencintai laki-laki mana pun. Ibu tidak akan melarangnya dan Ibu rela menjadi satu-satunya perempuan yang kamu cintai di dunia ini. Jadi ibu mohon jangan pergi..., jangan tinggalkan ibu."

Argh... Saya jadi ingat pengakuan beberapa teman gay saya tentang bagaimana sikap dan perlakuan ibu mereka. Cinta ibu kepada anaknya sepanjang masa memang benar adanya.

Kehidupan dan keadaan keluarganya membentuk Dew menjadi sosok ceria tapi penuh teka-teki. Dew gambaran bocah kota besar yang pindah ke kota kecil, memiliki sifat yang egois dan asertif, membuat hubungannya dengan Phop menjadi labil. Namun Dew memiliki sisi ketulusan dan selalu berupaya menunjukkan kasih sayangnya kepada Phop.

Sementara itu tentang keluarga Phop digambarkan memiliki seorang ayah yang sangat maha mengatur. Semua keputusan dibuat oleh ayah yang tidak memberikan ruang sedikit pun bagi anak-anaknya untuk memiliki pengalaman emosional mereka sendiri dan mengembangkan rasa otonomi. Hal ini membuat sosok Phop menjadi anak rapuh yang kesepian yang cenderung berpaling dari keluarganya. 

Itulah sebabnya Phop merasa hidupnya lebih berarti dan lebih berguna ketika bersama Dew. Hal itu ditunjukkan gimana saat isu Dew adalah gay mulai menyebar. Phop rela menggantikan Dew untuk menjalani pelatihan di kamp militer sebagai upaya melindungi orang yang dicintainya dengan caranya sendiri.

"Kemarikan dompetmu?"

"Kenapa? Kamu ingin merampokku?"

"Kemarikan dompetmu!" Phop mengambil paksa dompet dan kartu pelajar Dew. "Mereka hanya akan melihat nama di kartu pelajar kita. Jadi biarkan aku yang pergi ke kamp pelatihan untuk menggantikanmu." 

Argh so sweet sekaligus nyesek banget bagian ini. Apalagi ketika Phop pulang dari kamp dengan tubuh penuh lebam.

Setelah gagal minggat bareng karena Dew kasihan pada ibunya, saya bertanya-tanya bagaimana Dew dan Phop akan bertemu lagi setelah 23 tahun berpisah.  Saya mengira mungkin ketika Phop kembali ke Pang Noi sebagi seorang guru yang beristri akan mengunjungi Dew atau mungkin mereka akan saling bertemu tanpa sengaja gitu kayak di film-film lainnya.

Damn! Saya benar-benar tidak menyangka kalau ternyata film ini mengangkat tema reinkarnasi juga. Awalnya saya mengira Natcha adalah putri Dew karena dia memiliki kemiripan dengan Dew, misalnya suka makan sosis dengan selada atau menyukai musik serta buku stereogram. 

Saya menunggu-nunggu dan penasaran kapan kemunculan Dew. Tapi saya dibikin misuh karena ternyata Natcha adalah Dew! Ternyata Dew meninggal pada malam kepergian Phop. Dew yang emang gak begitu bisa naik motor, menyusul Phop ke stasiun dan mengalami kecelakaan. What the fuck! Argh kacau. Ending film ini benar-benar tidak terduga. Plot twist. 

Menariknya, film ini memasukkan tentang stereogram atau ilusi optik (dengan pola gambar berulang yang seakan terlihat hanya sebagai gambar abstrak) yang menyembunyikan sebuah gambar tiga dimensi yang hanya dapat dilihat dengan metode tertentu. Hal ini menarik dan membuat saya berpikir agak lama, dan menganggapnya sebagai metafora.

Sepertinya sebagaimana keberadaan gambar 3D yang tersembunyi, ada pesan tersembunyi yang ingin disampaikan pembuat film ini. Terutama setelah apa yang dikatakan Phop kepada Natcha.

"Sebenarnya, aku selalu bisa melihatnya (melihat gambar 3D yang tersembunyi dalam stereogram) meski kamu tidak mau memberitahuku apa yang ada di dalamnya. Tapi aku tahu apa itu."

 "Tapi, saat itu, aku terus berpura-pura tidak tahu karena aku tidak berani mengatakannya, Dew. Karena itu ketidakmungkinan bagi kita. Kita berdua sama-sama tahu tentang itu, kan?"

Menurut saya, kemungkinan selain gambar beberapa binatang yang disebutkan, ada gambar hati atau cinta dalam buku stereogram tersebut. Phop tidak mau menyebutkan gambar itu dan bersikukuh pura-pura tidak tahu meski membuat Dew yang tidak percaya menjadi jengkel dan memaksanya untuk mengatakan apa yang dilihatnya. Kepura-puraan dan kejengkelan itu disebabkan keduanya tahu hubungan mereka tidak bisa diterima dan berbahaya. Sebab selain bisa dihukum oleh pemerintah juga bisa dihakimi masyarakat karena tempat tinggal mereka merupakan kota kecil yang secuil gosip bisa menyebar kemana-mana. Semacam di kampung saya nih 🙄

Terlepas dari ulasan gak jelas saya di atas, Film Dew ini keren karena memang akting para pemerannya sangat bagus.

Nont Sadanont yang berperan sebagai Phop muda, menyampaikan karakternya dengan cukup baik melalui ekspresi wajahnya, sama halnya akting Ohm Pawat sebagai Dew. Keduanya melakukan perannya dengan sangat baik dan mengagumkan. Sebagai penonton saya bisa merasakan emosi masing-masing karakter: rasa cinta, sakit, takut, pedih, marah, gelisah, berkelindan seperti roller coaster. 


Salah satu adegan favorite saya di film ini adalah saat Dew dan Phop menunjukkan "gayisme" tertentu dalam perilaku unik mereka saat sesi latihan menari. Dew menerima perannya sebagai 'gadis' pasangan menari Phop.  Dengan menggunakan dinamika kemitraan tradisional itu artinya Phop lebih dominan.  Namun ternyata sebaliknya, Dew malah terlihat lebih agresif dan justru Phop yang mengikutinya.
 

Jumat, 22 Mei 2020

Unforgettable: Tentang Memeluk Luka Dalam Ingatan


Jika kamu memiliki ingatan-ingatan tentang; persahabatan, kehilangan, kesalahpahaman, penyesalan, cinta pertama dan luka-luka kenangan, dijamin kamu bakalan tertawa sekaligus menangis ketika menonton film Unforgettable/ Pure Love! 

Film Korsel Unforgettable/ Pure Love bernuansa retro dengan setting jadul ini dibuka dengan adegan suara seorang penyiar radio musik dan lanskap malam Korsel. "Surga itu adalah tempat di mana saat ini kamu berada bersama orang-orang yang kamu cinta ..."

Kemudian berawal dari sebuah surat pembaca dan request lagu Dust In The Wind, cerita 23 tahun sebelumnya tentang persahabatan 5 remaja; Soo Ok, Beom sil, Gil Ja, San Dol dan Gae Deok  pun bergulir.

Keempat remaja yang bersekolah jauh di seberang pulau menghabiskan liburnya di kampung tepi pantai untuk menemani Soo Ok yang karena kelainan tulang kaki tidak bisa bersekolah atau pergi kemana-mana layaknya mereka. 


Di antara kelima sahabat itu, Soo Ok adalah sosok yang paling suka traveling dan punya banyak mimpi. Teman-temannya yang menyayangi dan menerimanya apa adanya selalu setia membantu aktivitasnya dengan menjadi kaki Soo Ok. 

Ketika Soo Ok mengatakan pingin pergi berlayar ke sebuah pulau kecil lainnya di tengah laut, keempat sahabatnya pun berusaha mewujudkannya meski dengan risiko mesti mencuri kapal dan menanggung hukumannya bersama-sama.

Ketika Soo Ok makbedunduk mengatakan pingin ikutan lomba menyanyi karena mengharapkan salah satu hadiah dari lomba tersebut, sahabatnya berusaha membantunya berlari mengantar Soo Ok dengan gerobak. Bahu membahu mereka menarik dan mendorong gerobak untuk mengejar waktu perlombaan yang sudah mepet.

Tidak hanya bercerita tentang persahabatan, film ini juga bercerita tentang kisah cinta remaja antara Soo Ok dan Bum-Sil yang dibumbui kecemburuan juga. 


Bum Sil yang pemalu adalah lelaki yang selalu setia meminjamkan punggungnya untuk menggendong Soo Ok yang cerewet dan ceria. Lambat laun, cinta di antara keduanya pun diam-diam tumbuh dalam kesunyian. Alhasil cinta itu baru terungkap 23 tahun kemudian, setelah waktu melesat jauh....

Bum Sil tidak pernah tahu kalau keinginan Soo Ok ikutan lomba nyanyi cuma kepingin mendapatkan hadiah radio tape recorder untuk diberikan kepada Bum Sil.

"Ibu! Bukannya hadiah itu hadiah utama milik Soo Ok kemarin, kenapa ada di sini?" 

"Iya! Soo Ok tadi pagi datang untuk menukar hadiah lomba, katanya dia lebih suka hadiah yang yang ibu dapatkan." 

Didorong mimpi-mimpi sekaligus takut ditinggalkan dan dilupakan Bum Sil dan teman-temannya yang bisa bebas kemana-mana, Soo Ok terobsesi agar kakinya bisa dioprasi. Ketika mengetahui kenyataan bahwa operasi juga tak menjamin ia bisa berjalan lagi, Soo Ok depresi dan menceburkan diri ke lautan. 

Kepergian Soo Ok sebagaimana kepergian orang bunuh diri lainnya, meninggalkan luka-luka yang menganga di dada ke empat sahabatnya. Dan luka-luka yang disembunyikan selalu saja menjadi bayi-bayi kesedihan dan kesakitan di dalam ingatan jika pemiliknya tak berusaha berdamai dan memeluknya. 

Itulah kenapa ketika saya menonton film ini sambil tertawa dan menangis sendirian semacam sebuah perjalanan. Perjalanan untuk kembali kepada kenangan, dan berusaha memeluk luka-luka yang masih ada dalam ingatan.

Hmm... aslinya yang bikin kenapa menonton dan apa yang paling saya sukai dari film ini adalah DO aka Do Kyungsoo! Akting idola saya yang memakai andalan 'bahasa mata' ini benar-benar jaminan bikin penonton baper. Seperti pernah saya bilang ke teman sesama pecinta drakor, DO punya kelebihan dalam menyampaikan setiap karakter sosok yang diperankan melalui matanya yang bulat besar itu.
Nggak heran kalau karena perannya di film ini, DO meraih penghargaan aktor paling populer Baeksang Arts Awards ke-53 pada tahun 2016 lalu. Daebak! 

Oh ya gara-gara nonton film ini, lagu di playlist hape saya bertambah dua: Dust In The Wind dan The Water is Wide. 

"The water is wide, I cannot swim ore. And neither have I, the wings to fly. Give me a boat
that can carry two and we both shall row, my true love and I ...


Kamis, 21 Mei 2020

Tentang Kim Soo Hyun yang Sedang Ditunggu




Ketika saya bilang suka acting Jang Ki Yong di Born Again, seorang teman meminta saya menonton Kim Soo Hyun. "Dijamin kamu bakalan suka!"

Sebelumnya saya sudah menonton drama saeguk Moon Embracing The Sun dan emang suka dengan totalitas akting Soo Hyun sebagai raja saat marah dan menangis. Dapet banget feel-nya. Tapi saya belum pernah nonton drama dan film doi yang lainnya. 

Pilihan saya kemudian jatuh ke drama My Love From The Star. Di drama ini Soo Hyun memerankan alien Do Min Joon. Sebagai alien yang sudah tinggal dan hidup di bumi selama 400 tahun, karakter: sosok lelaki muda tampan dan kaya yang misterius, cool, smart, kesepian, angkuh sekaligus rapuh berhasil diperankan secara sempurna oleh Soo Hyun. Benar-benar memikat. Nggak heran kalau melalui drama ini doi mendapatkan banyak penghargaan di negaranya sana (Best Actor, Best Netizen Award, Best Couple Award dan Most Popular Actor). Tjakep sih.

Setelah mantengin My Love From The Star yang panjangnya puluhan episode, saya lanjut nonton akting Soo Hyun di film Secretly Greatly yang konon diadaptasi dari webtoon populer. 

Genre film berdurasi dua jam ini action dan komedi berlatar konflik Korea Selatan - Korea Utara yang berkisah tentang tiga orang mata-mata Korea Utara yaitu Won Ryu Hwan (Kim Soo Hyun), Ri Hae Rang (Park Ki Woong), dan Rhee Hae Jin (Lee Hyun Woo) yang ditugaskan untuk menyusup ke wilayah Korea Selatan. 

Dalam rangka mengawasi masyarakat sekitar sekaligus saling mengawasi antar mata-mata (ribet banget huh!), masing-masing dari mereka menyamar menjadi orang idiot, penyanyi rock, dan seorang murid SMA di sebuah kota kecil.

Sampai sini aslinya nggak jelas banget sih target yang mereka awasi sebagai mata-mata negara yang telah dididik dan dilatih secara spesial dan professional dan siap bertaruh nyawa itu apa. Mendadak aja, karena ada pergeseran kekuasaan secara tiba-tiba di Korut, ketiga orang tersebut menerima perintah bunuh diri untuk menyelesaikan misi!  Bener-bener nyebelin plot ceritanya. 

Oke mari fokus saja pada akting Kim Soo Hyun di film ini yang konon membuat doi mendapatkan penghargaan Grand Bell untuk Aktor Terbaik di negaranya sana karena perannya yang memang memukau. Soo-hyun memainkan karakter seorang agen rahasia  yang menyamar menjadi Dong-gu, seorang remaja idiot yang tinggal sebagai anak angkat sekaligus pegawai toko di sebuah kota kecil yang orang-orangnya kalau belanja pakai minta dianterin ke rumah belanjaannya. Hahahaha!

Di awal cerita saya menikmati sosok lucu Dong-gu dan monolog Ryu-Hwan. Secara kebayang banget gimana rempongnya menjadi Dong-gu sekaligus Ryu-Hwan di saat bersamaan. Gimana seseorang yang memiliki keahlian bela diri yang mumpuni, penembak jitu dan punya kecerdasan superior sekaligus radar kepekaan yang tidak diragukan lagi harus berpura-pura menjadi ceroboh dan bodoh: jatuh setidaknya sekali sehari, buang air besar secara teratur di depan umum dan tidak menunjukkan tingkat kecerdasan serta rela dibully bocah. 

Yang menjadikan karakter Ryu-Hwan lebih kuat dan menonjol sekaligus bikin meleleh itu adalah bagaimana ia sebagai sosok tentara yang keras dan tegas yang siap membunuh dan terbunuh sewaktu-waktu juga menjadi anak rantau yang kesepian dan merindukan ibunya di kampung. Selain itu Ryu-Hwan juga jatuh sayang dan perhatian kepada ibu angkatnya yang di luar nampak kasar dan pelit tapi di dalam ternyata tulus menyayangi Bang Dong-gu.

Oh ya gara-gara menonton film ini saya jadi menemukan jawaban kenapa makbedunduk Kim Soo Hyun bisa muncul sebagai cameo memerankan orang idiot berbaju hijau di drama Crash Landing On You! Pret banget. Rupanya Bang Dong-gu bertemu 4 orang mata-mata dari Crash Landing On You saat sedang menjadi mata-mata di Secretly Greatly ini. Wew! 

Saat nonton akting Kim Soo Hyundi Film Real dan The Thieves, Soo Hyuk sebagai Jang Tae-Young dan Zampano terlihat lebih matang dengan adegan dewasanya. Eh? 

Saya jadi nggak sabar nungguin drama terbaru Kom Soo Hyun: Psycho But Its Okay atau Its Okay Be Not Okay. Semoga saja drama terbaru yang akan menjadi tonggak kembalinya Soo Hyun setelah hiatus ini bias sebagus harapan semua orang yang menunggunya. 




Kamis, 30 April 2020

365: Repeat The Year dan Hasrat Manusia untuk Mengubah Takdir


 
Docpri: Screenshoot episode 1




“Tidak masalah jalan manapun yang saya pilih, pasti akan memberikan kesempatan. Selama saya tidak takut.” - Ji Hyung-joo -

Saya baru saja selesai menonton drama korea “365: Repeat The Year” atau
 “365: One Year Against Destiny”. Drama TV bersambung ini konon diadaptasi dari novel Jepang berjudul “Repeat” karya Kurumi Inui. Drama bergenre  thriller, misteri, fantasi, dan kriminal yang membuat saya menekan tombol pause dan repeat untuk menonton ulang beberapa adegan dengan plot cepat sambil menahan napas ini menurut saya perpaduan antara Final Destination dan The Hunger Games. Keren pakai banget.

365: Repeat The Year mengisahkan tentang 10 orang yang menjadi resetter atau mengikuti reset mengatur ulang kehidupan mereka dengan mundur satu tahun ke belakang dari 11 Januari 2020 ke 11 Januari 2019. Kesepuluh orang rapuhyang berbeda latar belakang dan usia tersebut ingin kembali ke tahun sebelumnya untuk mencegah kejadian buruk yang telah terjadi dalam kehidupan mereka masing-masing.

Pada episode awal, saya sempat menekan tombol pause dan merenungi cerita pembuka drama yang begitu manusiawi. Betapa nyaris semua orang ketika menghadapi situasi buruk, terjebak di titik paling galau dan kesedihan yang tak tertahankan kerap berandai-andai: andai waktu bisa diputar kembali, mungkin semua tak akan sama.. Jika saya bisa menghindari kesalahan yang sama, tentunya semua kan baik-baik saja dan saya akan bahagia.

Sebelum lanjut menonton episode selanjutnya, saya  sempat berpikir, bagaimana jika saya yang sedang di titik nol makbedunduk ditelepon orang asing yang menawari saya untuk kembali ke masa lalu? Apakah saya akan menerimatanpa curiga dan tanpa mempertimbangkan risikonya seperti sepuluh orang dalam drama tersebut? Atau saya akan berpikir ulang kemudian memilih melanjutkan kehidupan saat ini seperti salah satu perempuan yang sedang hamil yang menolak kembali ke tahun sebelumnya karena tak ingin kehilangan bayinya? Ah! Ternyata saya kesulitan untuk menemukan jawaban pasti dalam diri saya sendiri. Labil.

Setelah seminggu kembali ke tahun lalu, sebagian resetter merasa senang karena bisa memperbaiki keadaan. Tapi sebagian lagi menyesal karena malah menemukan kenyataan pahit yang sebelumnya tak mereka temukan di masa depan.

Siapa sangka kesepuluh orang yang awalnya tak saling mengenal dan dipertemukan pertama kalinya dalam program reset tersebut pada akhirnya memiliki cerita kehidupan yang bersinggungan. Mereka mulai sadar bahwa mereka telah kembali ke masa lalu untuk mengikuti sebuah permainan yang penuh misteri. Mereka mulai mempertanyakan apa risiko usaha mereka untuk mengubah takdir? Apa efek samping atau risiko dari perjalanan menembus waktu yang sudah mereka lakukan?  

Mereka yang saling mencurigai setelah kematian demi kematian terjadi, berusaha keras untuk memecahkan misteri dan menyelidiki serta mencegah siapa yang akan mati selanjutnya dengan mengenali berbagai pola dari urutan tempat duduk, siapa yang berdiri duluan pada saat sedang berkumpul, hingga siapa yang menerima rangkaian bunga dan kartu ucapan berisi sebaris pesan teka-teki.

Kerja tim, kepercayaan, persahabatan, penipuan, pengkhianatan, hingga misteri kematian dan teka-teki pembunuhan berantai yang berakhir dengan pembelokan takdir yang diramu dalam plot cepat dengan total 24 episode ini benar-benar seru, mendebarkan tapi nggak menye-menye.

Selain plot twist dan sinematografinya yang menarik karena kamera kadang-kadang disorot berdasarkan sudut pandang tak biasa, yaitu sudut pandang mata pemain. Akting para pemainnya juga benar-benar total dan professional sehingga karakter tiap tokoh dalam cerita menjadi sangat kuat. Lee Joon-hyuk sebagai Ji Hyung-jooNam Ji-hyun sebagai Shin Ga-hyunKim Ji-soo sebagai Lee Shin dan Yang Dong-geun sebagai Bae Jung-tae dan pemain pendukung lainnya masing-masing memerankan sosok yang nggak hanya numpang lewat kemudian terlupakan.

Usai menonton episode terakhir, lagi-lagi saya bertanya kepada diri sendiri: Andai memiliki kesempatan untuk mengubah takdirmu dengan kembali ke masa lalu, apa kamu mau, Yuli? Kemungkinan saya akan terus mencari jawaban hingga kesempatan itu benar-benar datang. Dan selama kesempatan itu masih belum menjadi kemungkinan, saya pun bisa mengingat kata-kata yang diucapkan  Ji Hyung-joo ketika dia berhasil reset independent atau kembali ke 1 tahun sebelumnya dengan melakukan perjalanan pribadi, “Tidak masalah jalan manapun yang saya pilih, pasti akan memberikan kesempatan. Selama saya tidak takut.”

Jujur saja selesai menonton 365: Repeat The Year, saya jadi heran kenapa drama sekeren ini bisa kalah  populer dengan drama bertema pelakor The World of the Married dan dunia pararel The King: Eternal Monarch ya?

Senin, 20 April 2020

3 Alasan Kenapa Jomblo Harus Nonton The King: Eternal Monarch


doc.screenshot pribadi 


Setelah 3 tahun hiatus, Lee Min Ho yang menjalani wajib militer tanpa combat dengan menjadi petugas layanan publik di Suseo Social Welfare Center Gangnam kembali mengguncang dunia 'perdrakoran'. Disebabkan banyak orang yang kangen serta penasaran pada totalitas akting terbarunya, Drama The King: Eternal Monarch yang dibintanginya memecahkan rekor di SBS untuk penayangan perdananya pada hari Jumat kemarin (17/4/2020).

Dalam drama romansa fantasi yang mengisahkan dua dunia paralel yang di satu sisi dunia digambarkan sebagai Korea yang monarki konstitusional dan di sisi lainnya lagi sebagai dunia yang mirip dengan Korea masa kini, Lee Min Ho berperan sebagai Kaisar Muda Lee Gon yang jomblo.

Lee Gon merupakan kaisar generasi ketiga Korea. Di mata warga kerajaannya, Lee Gon adalah sosok pria penguasa yang sempurna, berwajah tampan, bersikap amat tenang, berpenampilan rapi dan seksi serta punya skill yang unggul bukan hanya di bidang sastra, fisika, matematika dan sejarah, tapi juga di dunia seni bela diri dan olahraga (taekwondo, berpedang, renang, lari, dayung, berkuda, dll). 

Tak ada yang tahu kalau sebenarnya di balik semua itu, karena tragedi masa kecilnya, Lee Gon yang memiliki bekas luka di lehernya cenderung sangat sensitif, kompulsif, dan lebih menyukai buku dan angka-angka dibandingkan berkomunikasi dengan sesama manusia lainnya.

Berikut 3 alasan kenapa para jomblo harus nonton The King: Eternal Monarch 

1. Karena jomblo butuh inspirasi dari sesama jomblo.

Dengan menonton Kaisar jomblo Lee Gon yang dengan segala kesempurnaan yang dimilikinya tetap merasa kesepian dan mencari-cari serta merindukan sosok yang bahkan tidak diketahui keberadaannya. Setidaknya para jomblo tidak perlu mengasihani diri sendiri dan bisa bilang: Tuh, Lee Gon yang sempurna aja juga mesti berusaha serta menunggu waktu tiba untuk menemukan jodohnya kok. Jadi jomblo bukan tentang kesempurnaan atau kekurangan, jomblo itu hanya soal waktu. Semangat! 

2. Karena dunia pararel menjanjikan harapan dan kesempatan bagi jomblo.

The King: Eternal Monarch bukan cerita pertama yang menggunakan setting dunia pararel yang memang selalu menarik. Ada puluhan film dan novel lain, yang juga menggunakan dunia pararel sebagai latar, misalnya saja The Lake. 

The Lake bercerita tentang dua jomblo, Kate dan Alex yang tinggal di rumah yang sama dengan tahun berbeda. Tanpa saling menyadari keduanya tinggal di dunia pararel, di mana masa depan bagi Alex adalah masa lalu bagi Kate. Keduanya terlibat surat menyurat lintas waktu hingga akhirnya berhasil berjumpa dan akhirnya bisa hidup bersama sakinah mawadah warohmah. Eh? 

Setidaknya dengan menonton cerita dengan latar dunia pararel, para jomblo bisa optimis sekaligus menghibur diri kalau-kalau seseorang yang dirindukan tapi belum ditemukan itu ternyata tinggal di dunia pararel. Sangat dekat dan bersinggungan, selalu bersama hanya berbeda lintas waktunya saja. 

Ya, siapa tahu akan tiba masa bagi para jomblo untuk menemukan pintu yang bisa diterobos seperti pintu yang dilalui Lee Gon untuk bertemu Detektif Jung Tae-eul. 

3. Karena jomblo butuh hiburan dan piknik.

Menonton The King: Eternal Love sama halnya drama korea unggulan lainnya, bisa menjadi hiburan yang luar biasa karena jalan cerita yang menjanjikan dan para pemain yang aktingnya gak diragukan.

Selain itu, meski baru tayang dua episode, sinematografi TKEL ini terlihat sangat indah. Pemandangan yang diambil dari seluruh wilayah Korea dengan bumbu grafik komputer yang canggih membuat dunia pararel di dalam drama yang 'melo-melo gimana' ini terkesan nyata. Jadi para jomblo bisa berasa sedang piknik gratis saat menontonnya.


Oh ya pembaca, baik yang jomblo pun non jomblo, berbicara tentang dunia pararel, hingga saat ini para ilmuwan sedang melakukan penelitian loh. Jika suatu hari terbukti dunia pararel itu ada, kita akan bisa melihat ke salah satu dunia alternatif tersebut dan menemukan seperti apa kehidupan dan kondisi kita di sana? Antara seru dan mengerikan sih sebenarnya. Jadi pada akhirnya anggap saja menonton The King Eternal Monarch sebagai persiapan kalau-kalau suatu hari kita benar-benar tersesat ke dunia pararel kita.




  

Senin, 04 November 2019

Pepe si Katak Hijau yang Mati di Amerika, Bereinkarnasi dan Berjuang Bersama Demonstran Hong Kong


 
"Akhir adalah kesempatan untuk awal yang baru. Aku punya beberapa rencana untuk Pepe yang tidak bisa benar-benar kudiskusikan, tetapi Pepe akan bangkit dari abu seperti burung Phoenix ... dalam kepulan asap ganja." ~ Mat Furie ~ (2017) 

Pepe antropomorfik hijau dengan tubuh humanoid yang diciptakan pada tahun 2005, pada tahun 2017 dikabarkan telah dibunuh oleh penciptanya sendiri, Matt Furie yang seorang seniman dan kartunis Amerika. Alasan Furrie membunuh Pepe karena kecewa karakter komiknya tersebut telah dijadikan lambang white power, simbol kebencian dan rasisme supremasi kulit putih (alt-right) sekaligus karakter untuk kampanye Donald Trump. 


Dalam sebuah komik yang dirilis untuk Free Comic Book bulan Mei 2017, Matt Furie menggambarkan Pepe, katak hijaunya yang pemalas dan penyayang tapi terkenal dan dicintai banyak orang tersebut, sebagai mayat yang diletakkan di dalam peti mati. Gambar tersebut menurut Furie ia tujukan sebagai bentuk teguran terhadap ekstrimis sayap kanan Amerika yang telah mengambil dan mengubah kataknya menjadi simbol rasisme dan kebencian dengan semena-mena. 

Namun, dalam satu kesempatan wawancara dengan media, Furrie dengan yakin mengatakan bahwa kematian katak hijaunya bukan berarti akhir semua cerita. Seperti burung Phoenix yang membakar dirinya menjadi abu untuk kemudian terlahir kembali sebagai Phoenix baru, Furrie percaya suatu hari Pepe akan bangkit kembali sesuai dengan karakter aslinya dan hidup di dunia baru. 


Siapa sangka, dua tahun kemudian,  Pepe yang meski dalam kematiannya tetap membuat Furie harus berjuang di pengadilan berkali-kali untuk mempertahankan dan merebut hak ciptanya dari berbagai pihak yang tidak bertanggung jawab dan berusaha mendulang keuntungan berupa uang dari karyanya, benar-benar terlahir kembali. Tapi pada kelahirannya kembali di sebuah kota baru, Pepe yang tetap berwarna hijau itu tidak lagi menjadi katak pemalas dan simbol kebencian serta Islam phobia seperti di komik The Adventure Of Pepe yang ditarik dari peredarannya, dia sudah menjelma menjadi sosok pejuang demokrasi yang pemberani dan semangat berjuang bersama para demonstran muda Hong Kong. 


Para demonstran Hong Kong menggunakan Pepe the Frog sebagai simbol kebebasan dan perlawanan terhadap RUU ekstradisi dan tindak kebrutalan polisi yang disebut dengan julukan Popo dalam gerakan anti-ekstradisi 2019. Karenanya tulisan 'Pepe never forgot Popo' dan gambarnya bisa ditemukan di banyak dinding Lennon di berbagai penjuru kota. 

Bahkan saat protes terhadap insiden penembakan oleh polisi di Tsim Sha Tsui yang menyebabkan seorang perempuan kehilangan mata kanannya, gambar yang memperlihatkan sosok Pepe si Katak dengan mata yang terluka menjadi viral. Pepe dalam kampanye "Mata Untuk Hong Kong" berhasil mendapatkan perhatian sejumlah media internasional sekaligus menjadi perdebatan di kalangan para demonstran sendiri. Sebagian demonstran sempat menolak kehadiran Pepe yang memang di negara barat lebih dikenal sebagai simbol kebencian, tapi pada akhirnya sebagian lainnya berhasil meyakinkan teman-temannya bahwa mereka bisa merehabilitasi Pepe dan mengabaikan anggapan buruk yang ada jika dengan itu berarti dunia Internasional bisa lebih memperhatikan gerakan dan perjuangan untuk demokrasi mereka.

Pada sebuah Forum maya di LIHKG, para demonstran muda anti-ekstradisi Hong Kong menyatakan bahwa mereka harus merebut kembali Pepe yang dianggap cocok menjadi simbol rakyat dan menjadi bagian dari revolusi mereka untuk melawan Popo yang merupakan simbol aparat dan pemerintah Hong Kong dan China. 

Furie dalam sebuah balasan surat elektronik kepada seorang pengunjuk rasa Hong Kong selain mengatakan terkejut sekaligus bahagia juga menunjukkan dukungannya terhadap Pepe. "Ini adalah berita bagus! Pepe untuk Rakyat!"

Kemunculan Pepe di tengah lautan demonstran berbaju hitam yang mengenakan masker, kacamata keselamatan dan topi kuning secara konsisten sejak berlangsungnya demonstrasi musim panas di Hong Kong sebenarnya tidak instan atau mendadak. Jauh sebelum gerakan anti ekstradisi dimulai pada tanggal 9 Juni 2019, sosok Pepe sudah dikenal dan akrab di kalangan anak muda Hong Kong berkat serangkaian stiker WhatsApp yang menggambarkan Pepe dalam berbagai bentuk dan ekspresi serta aktivitas sehari-hari. Meski bukan termasuk seni tinggi, rangkaian luas stiker mikro-emosi Pepe membuatnya menjadi alternatif yang menyenangkan dan ekspresif bagi emoji.

Ketika gerakan pro-demokrasi di Hong Kong memanas, proliferasi stiker Pepe juga turut memanas dan hadir dalam bentuk yang semakin lengkap. Selain bisa menjadi sosok demonstran garis depan, seorang reporter dan fotografer pemberani, seorang perwira polisi anti huru hara, Pepe juga bisa menjadi sosok pejabat pemerintah seperti Kepala Eksekutif Carrie Lam Cheng Yuet-ngor.



Tidak hanya dalam bentuk sticker dan gambar, Pepe yang sudah terlahir kembali dan secara resmi menjadi warga Hong Kong tersebut bisa ditemui dalam bentuk boneka, mainan dan boneka tas pada setiap demonstrasi, baik itu demonstrasi yang 'panas' pun yang damai semacam 'Human Chain' atau aksi membentuk rantai manusia. 


Dalam sebuah wawancara dengan AFP, seorang demonstran Hong Kong mengatakan Pepe di Amerika dan Pepe yang telah menjadi warga Hong Kong adalah Pepe yang berbeda. Pepe Hong Kong adalah Pepe yang baik, penyayang dan pemberontak seperti gambaran para pemuda Hong Kong. Bagi para demonstran anti-ekstradisi, selain bisa menjadi hiburan dan motivasi, Pepe juga menjadi alat untuk menunjukkan ekspresi perasaan para demonstran yang karena ancaman keselamatan dirinya harus menyembunyikan wajah di balik masker. 

“Bahkan dalam situasi yang sangat sulit, kami masih ingin merasakan harapan dan bahagia. Jika kami dapat mempertahankan pikiran dengan cara yang positif (bersama Pepe), maka kami akan bisa terus melanjutkan demontrasi dan menemukan cara untuk kemenangan demokrasi." ~Demonstran HK~ (2019) 






Featured Post

Kisah Galau di Hati Minggu

Novel yang menurut saya termasuk kategori young adult ini ( baca: tidak direkomendasikan untuk pembaca di bawah umur tanpa pendampingan o...