Laman

Senin, 04 November 2019

Pepe si Katak Hijau yang Mati di Amerika, Bereinkarnasi dan Berjuang Bersama Demonstran Hong Kong


 
"Akhir adalah kesempatan untuk awal yang baru. Aku punya beberapa rencana untuk Pepe yang tidak bisa benar-benar kudiskusikan, tetapi Pepe akan bangkit dari abu seperti burung Phoenix ... dalam kepulan asap ganja." ~ Mat Furie ~ (2017) 

Pepe antropomorfik hijau dengan tubuh humanoid yang diciptakan pada tahun 2005, pada tahun 2017 dikabarkan telah dibunuh oleh penciptanya sendiri, Matt Furie yang seorang seniman dan kartunis Amerika. Alasan Furrie membunuh Pepe karena kecewa karakter komiknya tersebut telah dijadikan lambang white power, simbol kebencian dan rasisme supremasi kulit putih (alt-right) sekaligus karakter untuk kampanye Donald Trump. 


Dalam sebuah komik yang dirilis untuk Free Comic Book bulan Mei 2017, Matt Furie menggambarkan Pepe, katak hijaunya yang pemalas dan penyayang tapi terkenal dan dicintai banyak orang tersebut, sebagai mayat yang diletakkan di dalam peti mati. Gambar tersebut menurut Furie ia tujukan sebagai bentuk teguran terhadap ekstrimis sayap kanan Amerika yang telah mengambil dan mengubah kataknya menjadi simbol rasisme dan kebencian dengan semena-mena. 

Namun, dalam satu kesempatan wawancara dengan media, Furrie dengan yakin mengatakan bahwa kematian katak hijaunya bukan berarti akhir semua cerita. Seperti burung Phoenix yang membakar dirinya menjadi abu untuk kemudian terlahir kembali sebagai Phoenix baru, Furrie percaya suatu hari Pepe akan bangkit kembali sesuai dengan karakter aslinya dan hidup di dunia baru. 


Siapa sangka, dua tahun kemudian,  Pepe yang meski dalam kematiannya tetap membuat Furie harus berjuang di pengadilan berkali-kali untuk mempertahankan dan merebut hak ciptanya dari berbagai pihak yang tidak bertanggung jawab dan berusaha mendulang keuntungan berupa uang dari karyanya, benar-benar terlahir kembali. Tapi pada kelahirannya kembali di sebuah kota baru, Pepe yang tetap berwarna hijau itu tidak lagi menjadi katak pemalas dan simbol kebencian serta Islam phobia seperti di komik The Adventure Of Pepe yang ditarik dari peredarannya, dia sudah menjelma menjadi sosok pejuang demokrasi yang pemberani dan semangat berjuang bersama para demonstran muda Hong Kong. 


Para demonstran Hong Kong menggunakan Pepe the Frog sebagai simbol kebebasan dan perlawanan terhadap RUU ekstradisi dan tindak kebrutalan polisi yang disebut dengan julukan Popo dalam gerakan anti-ekstradisi 2019. Karenanya tulisan 'Pepe never forgot Popo' dan gambarnya bisa ditemukan di banyak dinding Lennon di berbagai penjuru kota. 

Bahkan saat protes terhadap insiden penembakan oleh polisi di Tsim Sha Tsui yang menyebabkan seorang perempuan kehilangan mata kanannya, gambar yang memperlihatkan sosok Pepe si Katak dengan mata yang terluka menjadi viral. Pepe dalam kampanye "Mata Untuk Hong Kong" berhasil mendapatkan perhatian sejumlah media internasional sekaligus menjadi perdebatan di kalangan para demonstran sendiri. Sebagian demonstran sempat menolak kehadiran Pepe yang memang di negara barat lebih dikenal sebagai simbol kebencian, tapi pada akhirnya sebagian lainnya berhasil meyakinkan teman-temannya bahwa mereka bisa merehabilitasi Pepe dan mengabaikan anggapan buruk yang ada jika dengan itu berarti dunia Internasional bisa lebih memperhatikan gerakan dan perjuangan untuk demokrasi mereka.

Pada sebuah Forum maya di LIHKG, para demonstran muda anti-ekstradisi Hong Kong menyatakan bahwa mereka harus merebut kembali Pepe yang dianggap cocok menjadi simbol rakyat dan menjadi bagian dari revolusi mereka untuk melawan Popo yang merupakan simbol aparat dan pemerintah Hong Kong dan China. 

Furie dalam sebuah balasan surat elektronik kepada seorang pengunjuk rasa Hong Kong selain mengatakan terkejut sekaligus bahagia juga menunjukkan dukungannya terhadap Pepe. "Ini adalah berita bagus! Pepe untuk Rakyat!"

Kemunculan Pepe di tengah lautan demonstran berbaju hitam yang mengenakan masker, kacamata keselamatan dan topi kuning secara konsisten sejak berlangsungnya demonstrasi musim panas di Hong Kong sebenarnya tidak instan atau mendadak. Jauh sebelum gerakan anti ekstradisi dimulai pada tanggal 9 Juni 2019, sosok Pepe sudah dikenal dan akrab di kalangan anak muda Hong Kong berkat serangkaian stiker WhatsApp yang menggambarkan Pepe dalam berbagai bentuk dan ekspresi serta aktivitas sehari-hari. Meski bukan termasuk seni tinggi, rangkaian luas stiker mikro-emosi Pepe membuatnya menjadi alternatif yang menyenangkan dan ekspresif bagi emoji.

Ketika gerakan pro-demokrasi di Hong Kong memanas, proliferasi stiker Pepe juga turut memanas dan hadir dalam bentuk yang semakin lengkap. Selain bisa menjadi sosok demonstran garis depan, seorang reporter dan fotografer pemberani, seorang perwira polisi anti huru hara, Pepe juga bisa menjadi sosok pejabat pemerintah seperti Kepala Eksekutif Carrie Lam Cheng Yuet-ngor.



Tidak hanya dalam bentuk sticker dan gambar, Pepe yang sudah terlahir kembali dan secara resmi menjadi warga Hong Kong tersebut bisa ditemui dalam bentuk boneka, mainan dan boneka tas pada setiap demonstrasi, baik itu demonstrasi yang 'panas' pun yang damai semacam 'Human Chain' atau aksi membentuk rantai manusia. 


Dalam sebuah wawancara dengan AFP, seorang demonstran Hong Kong mengatakan Pepe di Amerika dan Pepe yang telah menjadi warga Hong Kong adalah Pepe yang berbeda. Pepe Hong Kong adalah Pepe yang baik, penyayang dan pemberontak seperti gambaran para pemuda Hong Kong. Bagi para demonstran anti-ekstradisi, selain bisa menjadi hiburan dan motivasi, Pepe juga menjadi alat untuk menunjukkan ekspresi perasaan para demonstran yang karena ancaman keselamatan dirinya harus menyembunyikan wajah di balik masker. 

“Bahkan dalam situasi yang sangat sulit, kami masih ingin merasakan harapan dan bahagia. Jika kami dapat mempertahankan pikiran dengan cara yang positif (bersama Pepe), maka kami akan bisa terus melanjutkan demontrasi dan menemukan cara untuk kemenangan demokrasi." ~Demonstran HK~ (2019) 






Sabtu, 02 November 2019

145 Hari Demonstrasi, Warga Hong Kong Menjadi Air yang Mengalirkan Kreativitas Tanpa Batas



Terhitung sejak 9 Juni, seratus empat puluh lima hari sudah gerakan demonstrasi pro-demokrasi berlangsung di Hong Kong. Selama lima bulan ini, saya melihat para aktivis dan demonstran Hong Kong telah mengadopsi sejumlah cara dan menunjukkan kreativitas tanpa batas untuk mempertahankan kelangsungan aksi unjuk rasa mereka. Dari pertunjukan laser pena, flash mob, hingga rantai manusia, yang membuat gerakan massa tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda pada waktu dekat. 

Be Water atau 'Menjadi air' 

Inventifitas telah menjadi prinsip inti dari demonstrasi yang berlangsung di Hong Kong. Terinspirasi dan merujuk pada filosofi ketidakpastian yang dianut legenda kung-fu Hong Kong, Bruce Lee,  para demonstran dalam setiap aksinya "Menjadi Air", cair, fleksibel, dan bergerak cepat seperti gelombang tsunami. 

Para demonstran terus bergerak, mengalir seperti air dalam setiap kesempatan aksi untuk menghindari penangkapan massal oleh polisi. 

Bukan hanya dalam gerakan, dalam ide dan kreativitasnya para pengunjuk rasa juga seperti air yang selalu menemukan celah dan cara-cara kreatif untuk mengadakan aksi massa jenis baru. Misalnya dengan melakukan belanja bersama di mall tanpa mengeluarkan uang sepeser pun, mengadakan piknik bersama, mengadakan pertandingan olah raga dari lari bersama ahingga sepakbola, juga berkumpul untuk pertemuan keagamaan dan doa bersama. 


Lennon Wall atau Tembok Lennon 

Terinspirasi Lennon Wall di Prague, tembok grafiti publik di Praha yang muncul setelah pembunuhan John Lennon pada 1980, warga Hong Kong membuat Lennon Wall Hong Kong pertama kalinya pada gerakan payung atau umbrella movement 2014.

Berbeda dengan Lennon Wall sebelumya, pada gerakan anti-ekstradisi 2019, sejak awal Juli, tembok yang dipampang dengan kertas tempel berwarna-warni, poster dan slogan tersebut bermunculan di lebih dari seratus lokasi di seluruh kota, dengan mengambil titik publik di area terowongan pejalan kaki dan di dekat stasiun kereta bawah tanah.

Tembok Lennon mulai bermunculan seperti jamur mekar di mana-mana, setelah para pendukung pemerintah merobohkan Tembok Lennon utama yang berada di luar parlemen kota pada awal protes musim panas. Para aktivis demokrasi menciptakan Lennon Wall yang baru di lingkungan lokal mereka.

Area dinding yang berisi tuntutan warga pro-demokrasi tersebut hingga saat ini sudah menjadi dinding perang dingin, tak jarang diruntuhkan dan diobrak-abrik oleh lawan tetapi Lennon Wall akan muncul kembali dalam beberapa jam kemudian. Dihapus, muncul lagi. Dibersihkan, penuh kembali. Malam dihancurkan, siang sudah berdiri kembali. Begitu seterusnya. 

Flash Mob Glory To Hong Kong 

Flash Mob dapat diartikan sebagai sekelompok orang yang berkumpul pada waktu dan tempat yang telah ditetapkan berdasarkan undangan atau imbauan melalui media sosial atau jaringan Internet untuk melakukan suatu hal misalnya berteriak selama 30 detik, berjalan, bernyanyi, menari dan lain-lain dan cepat menyebar sebelum polisi atau petugas keamanan tiba. 

Para demonstran Hong Kong yang telah lama menggunakan musik dan lagu dalam tahun-tahun demonstrasi demokrasi Hong Kong awalnya dalam gerakan anti-ekstradisi mereka menyanyikan lagu  "Sing Hallelujah to the Lord" dan "Do you hear the people sing?" Namun, sejak memiliki lagu "Glory to Hong Kong" yang ditulis oleh seorang komposer anonim, para demonstran melakukan konser malam kilat di mal-mal kota dan bahkan di pertandingan sepak bola.

Ratusan hingga ribuan orang bisa berkumpul beberapa menit hanya untuk menyanyikan lagu istimewa tersebut tiap malam di banyak tempat. Hingga bisa dibilang sejak dipublikasikan, Glory to Hong Kong menjadi lagu paling populer dan paling banyak dinyanyikan oleh warga Hong Kong. 

Pertunjukan Pena Laser 

Laser pointer pada awalnya digunakan oleh pengunjuk rasa yang berada di garis depan untuk menunjukkan posisi polisi, mengalihkan perhatian polisi dan menghentikan orang dari mengambil foto atau video aksi mereka.

Namun sejak 7 Agustus, setelah sehari sebelumnya Ketua Serikat Mahasiswa Baptist University, Keith Fong, ditangkap dengan tuduhan kepemilikan barang berbahaya karena telah membeli 10 buah pena laser di area Sham Shui Po, para demonstran mulai mengadopsi laser pena secara massal. 

Para demonstran mulai  mengadakan "pertunjukan cahaya" di luar kantor polisi dan pada sebagian besar pertemuan publik. 

Hong Kong Human Chain atau Rantai manusia 

Rantai manusia pertama kali diadopsi para demonstran pada 23 Agustus, bertepatan dengan hari peringatan 30 tahun Jalan Baltik, ketika lebih dari satu juta orang bergandengan tangan dalam demonstrasi besar anti-Soviet.

Puluhan ribu warga telah mengambil bagian dalam aksi rantai manusia di seluruh kota pada malam tersebut, beberapa rantai manusia bahkan terbentuk di atas bukit-bukit terkenal seperti The Peak dan Lion Rock. 

Sampai saat ini, para pelajar sekolah menengah juga selalu melakukan aksi membentuk rantai manusia setiap pagi sebelum jam masuk kelas.

Sejuta Jeritan Malam atau Million Scream

Terinspirasi oleh cacerolazos, suatu bentuk protes yang muncul di Chili yang otoriter selama tahun 1970-an dan sejak itu telah diadopsi oleh berbagai gerakan di pelbagai penjuru dunia. Di kota yang terkenal dengan konsentrasi gedung pencakar langit tertinggi di dunia, pada tiap pukul 10 malam akan terdengar suara jeritan yang meneriakkan slogan-slogan populer demonstran seperti "Bebaskan Hong Kong, revolusi sekarang" dan "Tidak ada perusuh, hanya tirani" yang memantul dan bergema di mana-mana.

Para pengunjuk rasa memulai gerakan meneriakkan slogan-slogan dari jendela apartemen mereka pada malam hari sejak 19 Agustus. Menurut warga Hong Kong, mereka menjerit bersahut-sahutan tiap malam di jendela rumah mereka bukan karena gila. Tetapi sebaliknya, cara itu diyakini sebagai cara efektif untuk menolak kegilaan dan menyalurkan emosi warga yang hingga saat ini kelima tuntutan utamanya belum dipenuhi pemerintah Hong Kong. 

Demonstrasi dengan Seni 

Selama gerakan anti-ekstradisi berlangsung, para seniman yang menghasilkan lukisan, kaligrafi, komik, patung dan selebaran-selebaran menakjubkan telah bekerja sepanjang waktu untuk memberikan latar belakang artistik demonstrasi mereka.

Sebagian besar karya seni tersebut didistribusikan dengan cara yang sangat modern, dibagikan di forum online atau di-ping ke ponsel orang menggunakan Bluetooth dan Airdrop.

Sudah lazim bagi telepon seseorang untuk menerima beberapa selebaran dan poster digital setiap hari, terutama saat berada di kereta bawah tanah.

Segera karya seni yang sama akan dicetak dan ditempatkan di Lennon Wall kota, yang telah menjadi kanvas perbedaan pendapat yang terus berkembang atau digunakan dalam aksi massa. 

Bendera 

Kelompok-kelompok kecil pengunjuk rasa terlihat mengibarkan bendera Inggris, era kolonial Hong Kong dan Amerika Serikat.

Namun sejauh ini bendera yang paling umum dan banyak digunakan adalah "bauhinia layu", twist pada bendera resmi Hong Kong, bunga bauhinia putih yang sebenarnya berlatar belakang merah, latar belakangnya diubah jadi hitam, untuk mencerminkan suasana jalanan, dan bunga bauhinia layu yang berlumuran darah.

Seniman pemberontak Tiongkok yang berbasis di Australia, Badiucao, yang menggambar kartun harian untuk gerakan demonstrasi yang berlangsung di Hong Kong, juga telah membuat bendera kotak berwarna pelangi, yang dimaksudkan untuk melambangkan Lennon Wall Hong Kong.

Lambang populer lain yang saat ini banyak digunakan adalah julukan untuk Beijing yaitu "Chinazi", bendera merah dengan bintang kuning berbentuk swastika.

Selain beberapa krestivitas di atas, para demonstran anti-ekstradisi di Hong Kong juga melakukan blokade atau pengepungan kantor polisi di berbagai distrik, melakukan boikot terhadap merk barang, toko, restoran dan berbagai hal yang dianggap menolak dan tidak mendukung gerakan mereka atau anti demokrasi.

Aksi kampanye petisi dan pengumpulan dana juga mengambil peran penting dalam gerakan, karena dana yang terkumpul selain digunakan untuk memasang iklan agar mendapatkan perhatian dunia Internasional juga digunakan untuk membuat karya seni dan membantu para demonstran yang harus berurusan dengan pengadilan karena tertangkap polisi.

Jumat, 01 November 2019

Membuka dan Mengisi Ruang yang Sudah Lama Tak Dihuni

Pagi ini, mendadak saya ingat ruang ini, ruang yang sudah lama tidak saya huni. Beruntungnya saya masih bisa menemukan kuncinya. 

Baiklah, sepertinya saya akan mengisi ruang ini dengan catatan dan uneg-uneg saya soal gerakan anti ekstradisi yang sudah menjadi gerakan tolak pelarangan penggunaan masker di Hong Kong. 


Bismillah

Kamis, 28 Desember 2017

Menikmati Pemandangan Hong Kong dari Balik Jendela Bianglala Raksasa

Narsis bareng sebelum meninggalkan HKOW (doc.pri)


Hari Senin masih pagi, tapi matahari musim dingin yang lumayan menyengat membuat kami berkeringat. Terpaksa saya dan teman-teman menanggalkan baju hangat.  

"Selamat pagi, maaf saya sudah memesan tiket Bianglala untuk jam 12,  saya ingin tahu kapan dan di mana saya harus mengantre?"

Kebiasaan saya setiap kali ingin kejelasan tentang suatu hal pasti langsung bertanya kepada petugas yang berjaga. Dengan ramah petugas menunjukkan tempat di mana saya bisa mengambil antrean, saya boleh mulai berbaris 15 menit lebih awal dari jam yang sudah dijadwalkan.

Lanskap Bianglala Raksasa dari kejauhan (doc.pri)

Bianglala Raksasa Nomor 4 di Dunia

Bianglala raksasa hadir di Hong Kong setelah lebih dulu hadir di London, Singapura dan Bangkok. Lokasinya yang berada di bibir Victoria Harbor membuat HKOW menjadi daya tarik tersendiri baik bagi warga setempat ataupun wisatawan asing  yang ingin menikmati pemandangan dari ketinggian di kota bekas jajahan Inggris ini.

Ketika HKOW mulai dibuka untuk publik pada awal Desember 2014, saya sebenarnya sudah tertarik untuk menikmati pemandangan istimewa HK dengan cara berbeda. Tapi harga tiketnya yang lumayan mahal membuat saya menunda-nunda keinginan yang hampir membuat saya menyesal ketika mengetahui berita tentang Bianglala Raksasa yang akan ditutup dan dibongkar karena pemilik dan pengelolanya bersengketa.

HKWO Ganti Pengelola, Ganti Harga Ticket!

Pada awal September 2017, saya membaca berita tentang pergantian pengelola Bianglala Raksasa dan harga tiket yang rencananya akan turun dari HK$100 menjadi HK$20 untuk dewasa, separuh harga untuk lansia dan gratis untuk anak-anak berusia dibawah 3 tahun. Huaaaaa! Saya speechless dan berjanji dalam hati untuk memanfaatkan kesempatan kedua ini begitu HKWO dibuka kembali.


Pengunjung antre di loket untuk beli tiket (doc.pri)


Sebagaimana berita yang ditulis di berbagai media yang mengkhawatirkan panjangnya antrean pengunjung karena tiket masuk yang murah meriah, saya pun sempat khawatir jika harus terjebak di tengah barisan orang-orang, kemudian saya kelelahan, hingga kehilangan minat untuk bersenang-senang. Halah!

Dengan membawa print tiket ini,
saya dan teman-teman tidak perlu berlama-lama mengantre (doc.pri)

Beruntung saya mempunyai teman yang mau membantu saya untuk memesan ticket secara online melalui website resmi HKWO. Meski harganya selisih HK$1,20 (jika membeli langsung di loket antrean HK$20, pesan via website HK$21,20), bagi saya itu masih sangat menguntungkan karena saya bisa menghemat waktu dan tenaga. Tiket yang dibeli secara online dikirim ke alamat email, dan untuk menggunakannya cukup menunjukkan bukti tiket di email atau di kertas hasil print.


Setelah antre membeli tiket di loket,
pengunjung masih harus antre untuk naik bianglala  (doc.pri)

Sensasi Pemandangan dari Kabin Bianglala

Setelah menunggu selama kurang lebih 15 menit, kami mendapatkan giliran untuk masuk bianglala dari pintu nomor lima. Oh ya, saya sempat menghitung total dari jumlah gondola Bianglala ada 42 kabin. Karena rombongan saya sudah berjumlah enam orang, maka kami tidak perlu berbagi kabin dengan orang asing. Tentu saja hal ini sangat menguntungkan, kami mendapatkan kebebasan untuk  mengambil gambar sambil bercanda tanpa perlu mengganggu dan terganggu oleh orang lain.


Cekrek! Teman-teman saya tidak ingin melewatkan moment (doc.pri)

Atraksi Bianglala membawa saya dan pengunjung lainnya berputar selama 20 menit atau 3 kali putaran untuk menikmati pemandangan Hong Kong dari sudut 360 derajat dengan ketinggian mencapai 60 meter. Sssssstttt beberapa teman saya wajahnya terlihat sedikit pucat karena ternyata takut ketinggian.

Dari dalam kabin saya bisa melemparkan pandangan jauh ke arah sebelah utara HK atau lebih tepatnya ke arah seberang Victoria Harbor yang menyuguhkan pemandangan perairan Hong Kong yang dilalui berbagai jenis kapal, dari feri bergaya tradisional hingga kapal kargo. Selain itu saya juga bisa melihat distrik Tsim Sha Tsui dari ketinggian yang nampak kontras oleh pemandangan gedung-gedung tua dan baru.

Lanskap yang saya ambil dengan hape xiaomi (doc.pri)

Ketika menoleh ke kawasan Central, saya bisa menikmati kemegahan gedung-gedung pencakar langit dengan keunikan arsitekurnya dari dekat. Tidak ketinggalan juga pemandangan perbukitan nan elok yang menjadi latar belakang dari hutan beton bauhinia, terlihat mempesona.

Seperti suasana pasar malam di Indonesia ya? (doc.pri)

Saya bisa membayangkan pengunjung yang menaiki HKOW pada malam hari pasti akan menemukan pemandangan yang lebih keren, sensasi lampu-lampu kota juga  atraksi A Symphony of Lights atau pertunjukan lampu laser dan lampu sorot penuh warna yang dipancarkan di lebih dari 40 gedung pencakar langit di kawasan Central pasti terlihat lebih dekat dan lebih memukau. Biasanya, para wisatawan menikmati pertunjukan lampu laser dari kawasan Tsim Sha Tsui. Ah, semoga saja lain kali saya bisa mencoba naik bianglala di malam hari.

Tips untuk Anda!

Jika Anda ingin menikmati keseruan atraksi Bianglala Raksasa atau Observation Wheel di Hong Kong, saya sarankan untuk datang bersama teman-teman dan membeli tiket secara online.
Eit, tapi kalau Anda memang ingin datang sendiri juga punya banyak waktu dan tipe orang yang punya kesabaran dalam mengantre, ya silakan saja. Silakan datang untuk antre membeli tiket di loket sebelum antre untuk naik bianglala.

HKOW beroperasi setiap hari pada pukul 11.00 - 23.00. Jika membeli tiket secara on-line Anda bisa memilih dan menentukan waktu sendiri, tapi jika membeli tiket di tempat, cepat dan lambatnya tergantung banyaknya pengunjung.

Lokasi HKOW mudah ditemukan. Bisa dicapai dengan menggunakan MTR (kereta bawah tanah), turun di stasiun MTR Central lalu keluar dari Pintu A, berjalan sebentar menuju Central Piers. Atau bisa pula turun di Stasiun MTR Hong Kong, lalu keluar dari Pintu A2, jalan menuju Central Piers. Jika Anda tidak ingin naik MTR, Anda bisa naik bus dan atau taxi, turun di Central Pier. Sebab Bianglala Raksasa lokasinya memang dikawasan Central Pier.

Apakah Harga Tiket Murah HK$20 itu Promo?

Tidak! Harga Tiket Murah Itu berlaku hingga 3 tahun, sampai kontrak HKWO dan pihak pengelolanya berakhir.




HK, 28 December 2017

Rabu, 27 Desember 2017

Dramatisasi Penolakan Ustaz Abdul Somad di Hong Kong


Berita Abdul Somad ditolak untuk masuk Hong Kong ketika akan mengisi sebuah acara dakwah yang rencananya berlangsung pada hari Minggu (24/12) melintas di beranda Facebook saya. Kabarnya Ustaz tersebut langsung dideportasi oleh pihak Imigrasi HK tidak lama setelah tiba di Bandara. Media sosial menjadi ramai, postingan Abdul Somad yang viral, berhasil mengundang reaksi dan komentar dari para netizen.


Di berbagai media daring muncul beragam berita sehubungan penolakan Somad oleh Hong Kong, yang rata-rata berisi kutipan klarifikasi kejadian oleh Somad sendiri, pernyataan pengacara Somad, tanggapan kementerian luar negeri, kutipan komentar Fahri Hamzah, opini orang-orang dan lain sebagainya. Sebagian besar berita yang hanya sepotong-sepotong tersebut mengandung dramatisasi, mengundang netizen yang pro dan kontra untuk semakin berprasangka dan berkomentar kemana-mana tidak fokus pada duduk pokok permasalahan yang sebenarnya.

Apa Somad Satu-satunya Orang yang Mengalami Penolakan oleh Hong Kong?

Jika kita menyimak berita-berita sebelumnya, sudah ribuan orang yang ditolak masuk ke Hong Kong sejak tahun 2013. Menurut data Departemen Imigrasi Hong Kong yang pernah dikutip SCMP, Asia Pasifik adalah wilayah terbanyak kedua yang warganya kerap ditolak memasuki Hong Kong. Sedangkan jumlah terbanyak pertama yang ditolak memasuki wilayah HK adalah Warga China daratan! Jadi jika muncul isu di Indonesia, penolakan Somad itu adalah campur tangan pemerintah Indonesia dan Tiongkok, sepertinya terlalu mengada-ada. Warga Tiongkok sendiri loh sering dan bisa mengalami penolakan oleh HK.

Dan lagi, kasus penolakan terhadap kedatangan aktivis dakwah asal Indonesia di Hong Kong sebenarnya bukan yang pertama kalinya terjadi. Somad bukan satu-satunya orang yang pernah ditolak pihak Imigrasi HK. Sebelumnya pada Maret 2015, juga pernah ada dua orang ustaz asal Indonesia yang ditolak dan tidak bisa memasuki Hong Kong untuk mengisi acara dakwah dan rukiyah. Sama halnya dengan Somad, keduanya juga tidak sempat keluar dari Bandara dan langsung dideportasi ke tanah air. Sampai saat ini tidak pernah ada penjelasan dan tidak ada jawaban memuaskan dari pihak imigrasi Hong Kong ihwal larangan masuk tersebut.

Sebagai konselor BMI, kasus penolakan visa, deportasi dan tidak adanya penjelasan sama sekali dari pihak Imigrasi HK bukan hanya kepada orang asing yang akan memasuki Hong Kong, tapi saya ketahui juga sudah dialami beberapa teman BMI yang sedang berada dan bekerja di Hong Kong.

Apa ini Akibat Isu Radikalisasi?

Publikasi hasil Studi think tank Institute for Policy Analysis of Conflict Agustus lalu yang menyebutkan adanya 43 pekerja domestik asal Indonesia yang teradikalisasi di Hong Kong memang otomatis membuat pemerintah Hong Kong waspada terhadap WNI.

Menurut kutipan media HK, SCMP, pada tahun 2012, hanya 5.833 orang yang berasal dari kawasan Asia Pasifik yang ditolak visanya dan tidak bisa memasuki Hong Kong. Kemudian jumlah ini meningkat pesat antara 2014 dan 2015, dari 6.164 menjadi 11.491 orang. Jumlah orang yang dideportasi ketika baru menginjakkan kaki di Hong kong mencapai antara 42.177 hingga 56.855 orang.

Menurut konsultan keamanan dan mantan kepala polisi Hong Kong Clement Lai Ka-chi kepada SCMP, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang bisa ditolak untuk memamasuki Hong Kong. Di antara faktor-faktor tersebut, adalah adanya ancaman tindak kejahatan internasional, latar belakang seseorang, kebangsaannya, dan riwayat perjalanannya.

Sampai saat ini, tingkat ancaman teroris di Hong Kong tidak terlalu besar, berada di level "menengah", artinya belum ada info intelijen yang mengatakan HK menjadi target serangan teroris. Tetapi Hong Kong memang sudah memasang sinyal waspada karena nenyadari wilayahnya menjadi tempat tinggal beberapa simpatisan ISIS yang bertugas membantu penyaluran dana dan perjalanan anggota ISIS ke Suriah.

Apa Hong Kong Menolak Orang-orang Tertentu Hanya Karena Termakan Isu Radikalisasi?

Tidak! Bisa jadi dan tidak menutup kemungkinan Hong Kong menolak para ustaz karena isu radikalisasi atau Isu ISIS. Tapi Oktober 2017 kemarin, Hong Kong juga sempat dikecam dunia internasional karena menolak kedatangan aktivis hak asasi manusia asal Inggris, Benedict Roger.

Jadi yang dianggap ancaman bagi Hong Kong bukan hanya isu radikalisme, tapi juga isu Demokrasi dan HAM atau orang-orang yang dianggap menyuarakan demokrasi dan hak asasi manusia. Hal ini berhubungan dengan masalah sistem pemerintahan dan politik China atas HK yang berada di bawah pengawasan Partai Komunis yang anti terhadap reformasi dan demokratisasi yang saat ini menjadi tuntutan sebagian besar warga HK. China menggunakan tangan politiknya untuk melarang dan mengusir orang-orang yang berpotensi mengganggu kendali pemerintahannya di Hong Kong.

Apa yang Bisa Dilakukan Pemerintah Indonesia atas Kejadian Ini?

Netizer ribut, menghubungkan dan menyambungkan apa yang dialami Somad dengan Jokowi, intelligent, orang yang benci Somad dan lain-lain. Apa yang terjadi terhadap WNI di wilayah kekuasaan penuh negara lain seolah-olah adalah salah pemerintah Indonesia. Semua salah Indonesia dan yang nyalah-nyalahin ya orang Indonesia. Miris.

Kecewa dan menyesalkan atau sekadar bersimpati pada apa yang dialami Somad sih boleh saja. Tapi jangan sampai perasaan-perasaan dan prasangka-prasangka membutakan mata kita semua. Minimal kita mesti memahami bahwa dalam praktik di dunia internasional, penolakan suatu negara terhadap warga negara asing merupakan hak berdaulat masing-masing negara. Dan negara tersebut berhak untuk tidak memberikan penjelasan kepada siapapun (baik kepada orang asing ataupun kepada pemerintah negara asal orang asing tersebut)
.
Aktivitas Dakwah Membutuhkan Visa & Dokumen Pendukung lainnya.

Terlepas dari isu-isu yang berat, berdasarkan pengalaman pribadi saya yang kerap menangani permasalahan BMI dan kasus seputar Imigrasi, saya melihat ada hal penting yang terlewatkan untuk dibahas dalam kasus Somad. Yakni urusan visa dan kelengkapan dokumen Somad. Untuk melakukan aktivitas dakwah/ kegiatan pendidikan, menghadiri atau mengikuti seminar dan kegiatan resmi lainnya dibutuhkan 'visa khusus' (tidak bisa dengan menggunakan visa wisata) dan dokumen tambahan dari pihak yang mengundang. Sudahkah Somad dan panitia yang mengundang memenuhi semua syarat tersebut? Jika belum, maka penolakan dan deportasi adalah hal yang wajar dan bisa diterima.

Secara pihak Imigrasi manapun tidak akan membiarkan orang asing memasuki negaranya untuk berbisnis tanpa ijin. Dakwah? Bagi teman-teman yang berada atau pernah di Hong Kong, pasti sudah paham bahwa kegiatan dakwah di HK dengan mengundang Ustaz kondang dari Indonesia tidak ada bedanya dengan seminar bisnis atau workshop lainnya yang "tidak gratis".  Dan tanpa perlu ada yang melapor ke Imigrasi, kegiatan seseorang yang sudah terkenal dan viral bisa diketahui dari jejak digitalnya di internet. Jadi sebenarnya bukan hal yang mengherankan andai Somad memang tidak bisa memenuhi syarat dokumen yang dibutuhkan kemudian menghasilkan penolakan. Tidak semestinya didramatisasi, apalagi menjadi bahan perdebatan yang hanya menghasilkan permusuhan di antara saudara sesama Muslim Indonesia.

HK, 26/12/ 2017