Laman

Kamis, 08 Desember 2011

Sajak Terakhir



Sajak Terakhir
:Emak

di angan, Mak,. hanya di angan,
sulur yang kutanam layu sebelum berkembang
tandus tanah kerontang hatiku, merindu

kau pergi

rindu ini begitu ungu. mengalahkan warna senja
yang membias indah di langit barat
menanti
janji malam

dingin negeri beton masih membekukan tulang
me
nggigilkanku dalam ngilu yang panjang
cinta ini
masih angkuh, meski penuh sungguh
tak ada
lagi gelas kosong untukku menuangnya
dalam paruh perjalananku

kau pergi

RUH, 8/12/2011

Sedih. Entahlah apakah ini yang bernama kesedihan? Aku sudah lupa berapa lama tidak bersedih, karena terbiasa oleh rasa ini begitu tidak pentingnya nama dari ‘sedih’.

Bagaimana mungkin seseorang yang terbuang merasa kehilangan? Pantaskah? Ah, kenyataan membuktikan seberapa benci ditanam, cinta tak pernah benar-benar tercabut akarnya. Masih menghunjam di bumi hati.

Seringkali kusebut namanya dalam doa, kupertanyakan kabarnya melalui angin. Lalu terhempasku dalam dinding kemelut kalut yang meliput akut. Siapa aku? Apa pentingnya? Apa pentingku?

Argghhh!! Aku memang tak ingin lagi mengemis sebuah pengakuan, yang sebenarnya kudamba dalam setiap tangisku. Tapi aku masih mengakuinya, mengakui mereka, mengakui yang tidak mengakuiku sebagai bagaian dari ceritaku.

Dan hari ini, ketika salah satu dari mereka pergi. Aku meratap sendiri. taka da tempat berbagi. Tidak sesiapa apalagi mereka. Hampa.


Kamis, 01 Desember 2011

Episode Cinta Sebuah Guci


Episode Cinta Sebuah Guci

Cinta itu sungguh menguatkan sekaligus melemahkan. Kata siapa? Kataku.
Seperti yang saat ini terjadi dan kualami sendiri. Begitu banyak impian dan harapan tumbuh subur karena cinta yang kumiliki, tapi sekaligus secara bersamaan begitu banyak pula nelangsaku bersebab cinta.
Sebagai sebuah guci, aku memiliki banyak cinta, di dalam diriku. Menggelembung.

Dan dengan lubang kecil yang ada, aku tak mudah mengeluarkan atau memasukkan cinta kedalam diriku. Tepatnya mudah untuk mengeluarkannya, tapi sulit untuk memasukkannya. Terus? Ya, begitulah aku. Sesungguhnya aku memiliki cinta yang begitu besar yang tersimpan dalam diriku yang membuatku bisa menumpahkan kasih sayang kepada siapa saja (asal aku mau), tapi sebaliknya aku tak mudah menerima cinta dari orang lain, atau tepatnya aku tak mudah percaya begitu saja cinta orang lain itu ada untukku. Tragis!
Sebagaimana guci yang ©antik, aku dengan segala bedaku dengan orang lain ternyata membuatku istimewa. Mudah sekali membuat orang jatuh cinta padaku dengan aura cinta kasih sayang yang kumiliki. Tapi keistimewaan itu justru membuatku miris, aku sama seperti sang kolektor yang ingin mengoleksiku karena keunikanku, aku pun ingin menjadi kolektor. Dan ingin mengoleksi bentuk-bentuk cinta yang ada untukku, untuk kumiliki. Tapi …
Ah, sudahlah. Aku mesti sadar diri, aku hanya GUCI! Ya! GUCI! Sekali lagi GUCI! Sebesar apapun gelembungku yang berisi cinta, se©antic apapun diriku, aku hanya sebuah guci. Dengan posisi sebagai hiasan atau sekedar koleksi. Menunggu waktu terjatuh kelantai, lalu pecah berderai. Terbuang. Sia-sia.

Long Ping, 1/12/11
10:30Am



Minggu, 27 November 2011

COOLSESAK PURPLE


COOLSESAK PURPLE


Aku dingin yang membenci dingin. Meski terbiasa beku dan bertahan dalam kebekuan ketika terpanggang panas api sekalipun, aku tetap membenci dingin. Dingin angin, dingin musim sampai dengan dinginnya sikap (tentunya hanya sikap dari orang yang kupedulikan).

Semalaman aku menggigil kedinginan dan sampai kutuliskan coretan pagi ini, aku masih kedinginan. Dingin karena demam, dingin karena angin musim dingin ditambah dingin sikap seseorang padaku. Ah, lengkapnya dingin yang merasuk dan menyesakkan dadaku. Coolsesak full.

Aku benci dengan nyeri yang terasa, aku benci dengan nelangsa. Aku benci dengan sesak yang membuat nafasku tersengal satu dua. Aku benci dengan benci! Aku ingin berdamai dengan dingin. Ya, mungkin aku harus sadar jika dingin itu milikku. Dingin itu aku. Lalu kenapa mesti membenci diri sendiri? Bosan.

Aku ingin menyatu dengan dingin ini. Membeku di dalamnya. Kalau perlu membatu sekalian. Agar tak ada lagi gigil ngilu, nyeri pilu dan nelangsa yang mengharu biru. Biar dingin menjadi dingin … dingin… semakin dingin … bertambah dingin … hingga sampai pada titik satu pada warna ungu kesendirianku.

RUH,27.11.2011 (10:00Am) 

Jumat, 11 November 2011

GEBYAR 100 PUISI GELORA API PAHLAWAN


PESAN KEPADA BUNGA MIGRAN
0leh: Arista Devi

Engkau bunga-bunga berwarna merah dan putih yang tumbuh di taman pertiwi. Sebelum akar-akarmu tercabut paksa oleh tangan kapitalisme. Lalu tercampakkan dalam penjara belukar kekar tanah penguasa asing. Tanah orang tempatmu menanamkan benih harapan akan masa depan yang lebih baik. Impianmu.

Daunmu yang tersiram embun cinta, merindang. Memberi sejuk hingga ke seberang, kepada sulur bunga-bunga belum berwarna yang berakar serabut dan terenggut dari pelukmu. Harummu pun tercium, semerbak merebak. Lalu dengan angkuhnya penguasa taman pertiwi menamaimu bunga devisa. Membuatmu tersenyum hambar menahan segala rasa. Jengahmu.

Ah.. jika saja mereka tahu, nasibmu hanya sekedar menjadi hiasan jambangan murah. Lalu tersimpan pada ruang-ruang sempit menghimpit. Mekarmu terhalang tembok-tembok kekar kuasa. Di mana tergantung catatan peraturan tak beraturan. Alangkah malangnya.

Duhai bunga migran …
Jika kini engkau terpasung, terkurung dalam keserakahan. Berontaklah! Hunjamkan akarmu dan tumbuhlah meliar. Engkau bunga dengan selaksa madu, jangan biarkan kumbang-kumbang kuasa menghisapmu. Tancapkan duri-durimu, julurkan sulurmu menembus batas ruang. Dan kita tunjukan pada mata dunia akan adamu.

Duhai bunga migran …
Yang engkau butuhkan hanya keberanian. Atau engkau akan melayu dan tumbang. Hingga kembalimu bukan ke taman pertiwi dengan membawa warna merah putihmu lagi, tapi terkubur di tanah merah dengan balutan warna putih. Seperti bunga-bunga sebelummu dan sesudahmu. Mau?

Wahai bungaku …
Berhentilah berpasrah, cukupkanlah berserah. Keringkan semua basah dan tautkan julur-julur sulurmu semuanya. Bersama dengan bunga-bunga lainnya, bersatu! Bangkitlah! Berjuanglah! Merdekakan dirimu untuk tumbuh, bersemi dan berbunga. Selayaknya bunga merah putih di taman pertiwi, di taman mana pun engkau berada. Engkau adalah Bunga kebanggaan Indonesia.

Long Ping, 11/11/2011
11:00Am

:dedikasi untuk TKW/Perempuan Migran Indonesia di mana pun berada. Bagiku sebutan ‘Pahlawan Devisa’ bukan hanya untuk uang yang kalian hasilkan, tapi juga cinta, kasih dan pengorbanan rasa yang ada.







Biodata penulis:
Arista Devi adalah nama pena dari Yuli Riswati. Pecinta warana ungu yang sedang bekerja di Hong Kong ini dengan segala keterbatasannya, dia bercita-cita ingin menjadi penulis inspiratif. Cerpen true storinya yang berjudul: Sepenggal Catatan Perempuan Migran menjadi Juara 1 dalam lomba yang diadakan ATKI & PILAR-HK 2011.


Info:

Sabtu, 05 November 2011

Belajar Nulis Jawa

Kapisan : Hanacaraka
(sumber saka doc. SJGA)


Aksara Hancaraka iku sawijining aksara sing kaanggo ing Tanah Jawa lan saubengé kaya ing Madura, Bali, Lombok, lan uga Tatar Sundha. Aksara Hanacaraka iku uga diarani aksara Jawa, nanging sajatiné ukara iki kurang sreg amarga aksara Jawa iku warnané akèh saliyané iku aksara iki ora mung dienggo nulis basa Jawa waé. Aksara iki uga dienggo nulis basa Sangsekreta, basa Arab, basa Bali, basa Sundha, basa Sasak, lan uga basa Melayu.

Nanging ing artikel iki ukara Hanacaraka lan aksara Jawa dienggo loro-loroné lan yèn ana ukara aksara Jawa sing dirujuk iku aksara Hanacaraka.

Aksara Hanacaraka kagolong aksara jinis abugida utawa hibridha antara aksara silabik lan aksara alfabèt. Aksara silabik iki tegesé yèn saben aksara uga nyandhang sawijining swara. Hanacaraka kalebu kulawarga aksara Brahmi sing asalé saka Tanah Hindhustan. Déné wujude, aksara Hanacaraka anané wiskaya saiki wiwit sa-ora-orané abad kaping 17. Aksara Hanacaraka iki jenenge dijupuk saka limang aksara wiwitané.

Aksara Hanacaraka jenenge dijupuk saka urutan limang aksara wiwitan iki sing uniné "hana caraka". Urutn dhasar aksara Jawa nglegena iki cacahé ana rongpuluh lan nglambangaké kabèh foném basa Jawa. Urutan aksara iki kaya mengkéné:

Jumat, 04 November 2011

FTS Spesial Ultah WR - Berkebun Semangka di Kampung WR

Berkebun Semangka di Kampung WR

Aku bergabung dengan WR bukan untuk mengikuti perlombaan terhebohnya yaitu LMCR. Aku mengenalnya karena sekedar ingin tahu saja. (Terbukti sampai sekarang belum pernah ikut berlomba hehe)

Apa sih WR itu? Sepertinya namanya keren banget, Writing Revolution. Menulis dengan otak kanan? Gimana itu caranya? Menginspirasi dunia? Mau banget, itu kan cita-citaku.

Tanpa menunda lagi, akhirnya aku resmi menjadi warga WR. Dan menerima tanda bukti berupa sertifikat dan kartu tanda anggota beserta modul untuk belajar menulis cerpen. Jujur saja aku masih bingung, buat apa semua ini? Secara aku memang masih nol besar dalam dunia yang bernama tulis menulis, atau lebih kerennya dunia literasi.

Bulan-bulan pertama mengikuti sistem belajar secara online di WR, aku masih bingung. Waktu itu warganya baru beberapa dan masih belum saling mengenal, namun Kampung WR tak pernah terlihat sepi. Ada saja acara diskusi mereka (aku cuma mengintip) yang bagiku sangat menarik, dari sebuah canda atau lelucon  iseng bisa jadi bahan diskusi dan belajar serius. Misalnya saja dari acara curhat, bisa menjadi Flash True Story (FTS).

Ketika warga WR semakin bertambah dibentuklah kelompok diskusi yang dibagi persuku, berdasarkan nomor keanggotaan. Dan tak kusangka aku terpilih menjadi salah satu ketua suku (kasuk). Bisa dibayangkan bagaimana bingungnya aku? Kok bisa sih? Aku kan belum bisa apa-apa dan bukan siapa-siapa? (asli minder)

Berawal dari rasa terpaksa dan membiasakan diri untuk bisa. Akhirnya aku memiliki kebun semangka (semangat karena Allah) di Kampung WR. Bersama keluarga semangka dan warga WR lainnya, kami saling berbagi, saling mengingatkan dan memotivasi. Di Kampung WR bukan hanya belajar dan prestasi yang menjadi kebanggan bersama, tapi juga semangat kekeluargaan dan saling memiliki yang membuat kami semakin cinta.

Tak terasa usia Kampung WR sebentar lagi genap satu tahun. Aku sebagai warganya merasa belum bisa membanggakannya, tapi dalam hati aku berjanji akan terus berkebun semangka di Kampung WR. Dengan semangka (semangat karena Allah) semua pasti akan lebih baik dan bisa menjadi yang terbaik. Dan segala kebaikan, apa pun bentuknya pasti bisa menginspirasi sesama.

“Happy First BirthDay to Writing Revolution, hope you will be inspiration on the world. We are love you so much.”

Long Ping, 4/11/2011

Kamis, 03 November 2011

Guritku

Mangsa Ketiga
(Arista Devi)


tansah tuwuh pitakon
kapan mangsa ketiga iki purna?
paceklik toya,
paceklik tresna
ah,
aku amung bisa ngronce sisa rasa


rasa ati kang kapang
rasa ati kang sumelang
tansah ngarep tibane udan
anggawa tetesing toya, tetesing tresna
kanggo nyiram bumi atiku kang nela


>>>
Long Ping, 20/10/11
22.00 PM 

Jumat, 21 Oktober 2011

Guritku

Pitakon
(Arista Devi)

ana pitakon saka bocah-bocah
kang padha ora sekolah
reshuffle kabinet iku panganan apa?
apa bisa dipangan kaya sega?

ana pitakon saka wong ndesa
kang padha urip saka tetanen
reshuffle kabinet iku apa?
apa bisa kanggo ngusir wereng lan ama?

ana pitakon saka sabrang
kang padha
lunga menyang manca golek pangan
reshuffle kabinet iku kanggo apa?
apa bisa kanggo ngowah kahanan?

pranyata sepira akehe pitakon
amung bisa dadi pitakon
ora bakal ngowahi lelakon
lelakone lelakon kang wus kelakon

>>>
Long Ping, 21/10/2011

Jumat, 10 Juni 2011

About Purple

About Purple

Bulan berlalu
Rasa tertinggal
Cerita terpenggal

1 Juni 2011

Semalaman rinai hujan yang kukira telah berlalu seiring bergantinya waktu, kembali bertandang. Membanjir bandang seolah ingin meluruhkan bendungan segara hati. Membuatku terapung-apung di pucuk gelombang.

Subuh ini ketika kuterjaga, entah dari pingsan sejenak atau lelap sekejap. Tubuhku bersimbah peluh, antara panas dan dingin. Aku terjepit tanpa bisa menjerit. Sakit!

Aku yang ungu semakin ungu!

Entah berapa lama, sudah kusimpan unguku dalam bisu dan beku. Bersembunyi dibalik kilau matahari, menyendiri di punggung gunung atau menyepi ke tepi pantai. Aku nikmati keunguanku tanpa berbagi dengan siapa pun. Bukan karena tak ingin, tapi aku tak tahu kepada siapa aku harus berbagi ungu.

Seringkali aku merasa tak rela unguku membias dan mengaburkan warna keunguannya dengan sia-sia. Bahkan aku bertahan dalam egoku yang ungu, ketika unguku mengaku butuh warna lainnya. Aku takut salah warna.

Bukan sekali aku menyapa warna lainnya, ada kuning, hitam dan putih. Berharap unguku menemukan kolaborasi warna yang apik dan menarik. Setidaknya tak berlebih jika sebagi ungu, aku juga ingin berbagi unguku dan menikmati warna lainnya.

Kuning yang begitu dekat membuatku penat. Silaunya tak memberiku tempat. Hitam meninggalkanku, sibuk dengan pekat. Putih menjauh tak ingin ternodai sucinya oleh keunguanku.

Lalu? Dalam lelah dan penat kembaraku, kutemukan hijau dan biru.

Hijau dari rimbun dedaunan, hijau dari telaga di rimba belantara. Hijau dari rerumputan, hijau dari pemilik hijau. Hijau dan unguku tak menyatu tapi mampu berkolaborasi. Bersama menari dalam nyanyian alam.

Biru hadir bersama tiupan bayu. Biru langit, biru pemilik biru. Biru menggenapi dan menaungi. Biru yang sederhana mebingkai lukisan alam. Biru dengan birunya, membuat ungu dan hijau utuh dalam warna.

Hari ini, ketika unguku semakin ungu. Lebat hujan dan badai yang membandang, tak menghanyutkanku atau membuat ungu tenggelam. Ungu yang semakin ungu bertahan dan tetap berpijar, karena hijau yang membagi hijaunya dan biru yang merelakan birunya menghias langit asa.

Ungu
Hijau
Biru
PA/31/5/2011

Kamis, 02 Juni 2011

Ungu & Bulan Jingga

Ungu

Ungu adalah aku
Aku yang terlahir dari rahim senja
Ketika merah menikahi biru
Rupaku menjelma

Ungu adalah aku
Aku yang bersembunyi di lautan malam
Ketika bulan tak lagi merindu
Bidukku tenggelam

Ungu adalah aku
Aku yang menghilang dalam terang
Ketika unguku semakin ungu
Aku hanya ingin terbang


PA, 1/6/2011
Arista Devi in Purple Room



Bulan Jingga

Pengakuanku:
Ketika senja menyapa malamku
Perahu bintangku penuh muatan rindu
Rindu pada kerinduan yang merindu
Bertalu-talu memilu membiru

Tanyaku:
Apa arti airmata jika kedalamannya tak sanggup kuselami
Apa arti kata-kata jika setiap ucapannya tak kupahami
Apa arti suara jika yang terdengar hanya rintih sunyi
Apa arti yang berarti jika yang berarti telah mati

Jawabmu:
Pandanglah langit yang menaungi bumi dengan setia
Ketika kau temukan bulan berwarna jingga
Itulah bias warna cinta dari hatiku dan hatimu
Semua masih sama, yang berbeda hanya waktu

PA, 1/6/2011
TiTu love Bulan Jingga

Minggu, 29 Mei 2011

Antara Maya dan Nyata

Siang ini, aku membaca cinta di sepasang mata jendela jiwanya.
Dia yang tersembunyi dalam keterbukaannya
Dia yang asing dalam keakrabannya
Dia yang kutemukan dalam maya


Siang ini, aku mengukir kata di dinding dunia
Agar semua mengenalinya
Dia bayangan yang hadir karena cahaya
Namun bagiku rasanya terasa dalam nyata

Siang ini, antara nyata dan maya
Antara ada dan tiada
Ada cerita tentang kita
Cerita indah tentang cita dan cinta

Prince Edward, Mei 2011

Selasa, 03 Mei 2011

2/5/2011

"Happy Adi Day"


Meski dalam maya aku menemukanmu
Tetapi menjelma nyata hadirmu kurasa
Menghuni ruang cerita lembaran kisah persaudaraan


Aku dan mereka yang mengenalmu kagum akan sinarmu
Kilau mutiara yang terlahir dari kesederhanaan kulit kerang
Ah, biarlah tak kutuliskan panjang kalimat sanjungan untukmu
Karena hanya akan membuatmu tersipu malu


Hari ini,
Aku menemuimu tanpa ekspresi rupa
Tak ada kado istimewa untuk kau buka
Hanya ada tetesan tinta yang melukis rasa
Dalam bingkai bait-bait doa kebaikan


Kucukupkan dalam goresan
Ada yang lebih tulus dari sekedar yang terbaca
Dan kutahu, kau pun mengerti




To Kwa Wan, 2/5/2011
(Kanggo Adiku lanang)

Senin, 02 Mei 2011

Gugatan di bulan Mei

Gugatan di bulan Mei

Arista Devi

Aku bertanya kepada rona senja dalam hatimu
Kata berkelindan merajut kalimat-kalimatku
Senja merah telah raib ditelan waktu
Namun hatimu belum juga memfajarkan tanyaku

Aku bertanya kepada langitmu berulang-ulang
Kau membiarkan pertanyaan ini tanpa jawaban
Sibuk berebut menghisap tetes-tetes darahku
Berbagi dagingku untuk dijadikan menu santapan

Ketika bulan Mei kembali datang
Biarlah kuingatkan kau pada tanyaku yang menunggu balasan
Aku mempertanyakan tentang ibu pertiwiku yang kau gadaikan
Aku bertanya tentang tanah dan airku yang kau sewakan

Setelah aku tersuruk kau marginalkan
Mengapa masih juga kau cacah remah rasa-rasaku
Bukankah pergiku telah membuatmu senang dan kenyang?
Kenapa pulangku masih pula kau ganyang?

Uang-uang, uang dan uang!
Perlindungan! Jaminan!
Keamanan!
Persetan!

Biar kuajarkan padamu tentang sebuah jawaban
Biar kutunjukkan padamu tentang sebuah pelajaran
Aku yang lemah ini bisa mengajukan gugatan
Karena dari lelah raga ini tersimpan jiwa perlawanan.


To Kwa Wan, 1/5/2011

Minggu, 01 Mei 2011

Catatan Perempuan Migran

Catatan Perempuan Migran
Arista Devi

Pada senja bulan mei yang berwarna jingga
Aku tuliskan catatan diatas langit segala hati
Hatiku, hatimu, hati segenap anak negeriku
Agar buncah sejarah menyalinnya sebagai prasasti

Aku terlahir dari rahim ibu pertiwi
Terusir pergi oleh carut marut ekonomi
Mengais tangis mengunyah resah
Meraup secuil cita yang berdarah-darah

Dari balik dinding penjara tanpa jendela
Aku membaca dan terhenyak akan fakta
Negeriku telah berubah menjadi negeri drakula
Dipimpin zambie penghisap darah rakyatnya


Penguasa membangun istana tikus untuk persembunyian
Sibuk berstudi banding, membandingkan kebodohan
Ke Spanyol, China, India, Somalia, Australia
Berkeliling mencari topeng penambal muka

Pergiku dipaksa keadaan sebagai bahan perasan
Terpenjara berbulan-bulan, bekerja bakti ribuan hari
Caci maki dan air mata menuku setiap hari
Kutelan mentah demi puing cita-citaku

Kini ketika aku ingin kembali
Membawa sekeping hati sisa kemarau panjang
Aku masih harus ketakutan dan bimbang
Bingung akan segala macam peraturan

Peraturan-peraturan tanpa aturan.
Catatan-catatan penuh cacatan
Cacat oleh lumuran tinta berwarna merah
Merah darah perempuan migran


To Kwa Wan, 1/5/2011
0:36

30/04/2011

Kanggo: Gendhukku

Hadirmu bagiku

Kau hadir atas nama cinta, menjelma begitu nyata
Tak pernah kuhitung waktu, atau pun kulukis wajahmu
Karena semua tentangmu tersimpan dalam kotak hatiku
Terkunci rapat dalam bilik-bilik doaku

Tanpa cerita atau pun tanya, jawaban terbawa desir angin
Lembut menyusup, menggetarkan sukma
Mengajari dua insan berbeda dunia membagi cuilan rasa
Dan atas nama apapun tak kuijinkan semua berakhir

Malam ini ketika bulan berwarna jingga
Dan April mencukupkan hari-harinya
Ku ingin kau pejamkan mata
Dengarlah bisikku yang kutitipkan pada sang bayu

“Selamat ulang tahun ndhukku…
Barakallahu fii umrik…
Semoga Tuhan selalu memberi yang terbaik untukmu…
Amin Ya Rabbal Alamin….

Soko: Mamakmu
To Kwa Wan. 30 April 29, 2011

"Ya Allah... Ijinkanlah kami bertemu dalam ridho-MU serta menjadikan pelukan ini nyata adanya. Amin..."

Rabu, 09 Maret 2011

"SELAMAT HARI PEREMPUAN SEDUNIA!"


seratus tahun bukan satu babak, kumpulan berjuta episode

seratus tahun menjejak tapak, menyusur jalan dekade

berserakan lukisan perempuan sepanjang dinding sejarah, berkafan putih berurai darah

yang masih sering kali terjual di butik nelangsa, tersimpan di gerai air mata.

hingga kapan? bila waktu?

Bangkitlah Perempuan!

Acungkan tanganmu! Kepalkan tinjumu!

gubah lukisan itu menjadi warna warni pelangi

Bicaralah Perempuan!

Perdengarkan suara keadilan!

senandungkan lagu pembebasan untuk negeri

"SELAMAT HARI PEREMPUAN SEDUNIA!"

To Kwa Wan, 08 Maret 2011

Jumat, 28 Januari 2011

SURAT CINTA PERTAMA

Just For UNSA

Unsa…
Sebelumnya maafkan aku jika surat yang kamu baca ini terlihat lusuh, itu karena banyak kata kutuliskan, ku hapus lagi, ku tulis lagi dan begitulah berkali-kali. Aku hampir putus asa ketika tak ku temukan kata-kata yang tepat untuk menyampaikan apa yang aku rasakan padamu. Tapi aku berusaha dan terus berusaha hingga akhirnya, inilah surat cinta pertamaku untukmu.

Unsa sayang…
Awal juni 2010, aku masih ingat ketika aku pertama kali masuk dunia maya yang masih begitu asing bagiku dan bagaimana aku bertemu denganmu. Tanpa banyak bertanya kamu menggandengku dan membawaku ke istana persahabatan yang kamu punya. Kamu memperkenalkanku pada saudara-saudaraku di sana dan membiarkan kami tumbuh bersama, berbagi cerita, berbagi cinta dan berlomba-lomba mencipta karya.  “Satukan warna dunia dalam satu warna persahabatan” itu nasehatmu.

Unsa…
Tahukah kamu apa yang aku rasakan saat itu? Aku benar-benar terharu sekaligus bersyukur. Aku berjanji dalam hati untuk memanfaatkan kebaikanmu untuk mencipta kebaikan dalam hidupku. Meski jujur ada juga perasaan ragu, mampukah aku? Apalagi ketika aku melihat saudara-saudaraku yang aku temui di istanamu begitu memukau. Mereka bertalenta, besemangat, hebat dan telah menunjukkan banyak bintang untukmu. Tapi melihatmu tak meragukanku dan memberiku kesempatan yang sama dengan saudara-saudaraku tanpa membedakan kami, aku pun berusaha untuk bisa.

Unsa sayang…
Pertamanya meskipun aku masih malu-malu aku mengikuti lomba membuat slogan dan puisi untukmu, melihat bagusnya slogan dan puisi saudara-saudaraku yang lain aku bertambah malu. Ternyata slogan dan puisiku tidak seindah milik mereka, tapi ku lihat kamu tak perduli itu dan terus memberiku kesempatan lagi. Tapi aku sedih sekali karena tak bisa membuat logo dan belum berani membuat cerpen untukmu, meskipun dalam hatiku aku menginginkannya. Bertambah sedih lagi karena aku tak bisa ikut lomba best friend story, karena aku belum genap sebulan mengenal dunia maya maka aku belum punya teman FB dan kesan yang bisa aku ceritakan. Tapi karena itulah aku berusaha menambah lagi temanku, agar tak kan melewatkannya jika suatu hari kamu mengadakan lomba yang sama lagi. Ha ha lucu ya? Tapi begitulah adanya, meskipun bersedih aku tetap mengikuti jalannya lomba dan duduk dibangku penonton sebagai jempoler aktif.

Unsa…
Aku masih ingat juga untuk mnyambut hari kemerdekaan negara kita, kamu pun mengadakan lomba puisi bertemakan kemerdekaan. Aku bersemangat dan berusaha memberi yang terbaik untukmu, sampai aku mengirim beberapa puisi. Tapi puisi itu ketika ku baca lagi ternyata adalah curhat pertamaku padamu. He he.. aku tersenyum sendiri ketika menyadarinya. Meski tak memenangkan lomba tapi aku senang sekali karena merasa semakin dekat dan sayang padamu. Kamu telah berhasil memerdekakan hatiku dari minder dan malu.

Unsa…
Bersamamu selangkah demi selangkah aku berani maju menggapai citaku yang tertunda dan membawa mimpiku ke alam nyata. Satu persatu aku mulai mengenal lebih dekat saudara-saudaraku di istanamu dan banyak belajar dari mereka semua. Entahlah yang pasti tak cukup kata untukku mengungkapkan rasa terima kasihku padamu dan juga saudara-saudaraku semuanya tentunya.

Unsa sayang…
Aku tahu hari ini adalah hari ulang tahun pertamamu. Tapi maafkan aku karena aku tak mampu memberi kado yang indah untukmu. Hanya kata-kata yang tak puitis dan doa setulus hati yang bisa ku persembahkan padamu. Aku berharap kamu mau menerima dan  tak kecewa membacanya.

“Happy Birth Day UNSA  
Best Whises For you
I Love You so much!”

To Kwa Wan, 27 January 2011

Kamis, 06 Januari 2011

LOMBA KREASI CIPTA PUISI "KADO UNTUK INDONESIA"

“MANTRA PEMBEBASAN”
 Oleh : Yully Riswati


 Agenda sejarah berwarna merah
 Bertorehkan selaksa kisah
 Meski telah terbaca salah kaprah
 Semua sudah ku kunyah mentah

 Adegan demi adegan berlaga
 Mempertontonkan sandiwara
 Lakon berepisode tanpa jeda
 Skenario dalam genggam sutradara

 Sabda alam kehilangan makna
 Diartikan sekedar bencana
 Meski dalam kitab pujangga
 Bermakna petuah pencerah dari maha Esa

 Aku sebagai anak negeri
 Terpaksa berkaca cermin retak
 Membuka setiap lembar nurani
 Mencari makna berontak

 Terbaca olehku narasi pilu
 Di akhiri kalimat tercetak tebal
 “Kamu masih anak negerimu,
 meski dari kaum marginal”

 Kalimat itu seumpama bara
 Membakar semangat nan basah di sudut pengap
 Menghadirkan kembali inspirasi pengelana
 Membebaskan suara yang sekian lama tersekap

 Padamu Indonesiaku!
 Yang merdeka dalam belenggu
 Garuda ku sematkan didada
 Sebagai tanda cinta pada nusa bangsa

 Meski bengis kapitalis memburu
 Mengoyak paru-paru dan jantungmu
 Tak kan aku biarkan barang sejenak
 Apa lagi sampai berkerak

 Selangkah maju berani berkalang
 Nadi terpasang berselang
 Mengalir beku darah juang
 Mengeras seumpama karang lautan

 Akan aku persembahkan padamu
 Sebuah arti kemerdekaan hakiki
 Bersama pandu kebanggaanmu
 Akan aku nyalakan suluh pijar sebelum pagi

 Kini aku masih setia
 Mengurai makna demi makna perlawanan
 Agar menjadi rangkaian kata
 Mantra-mantra pembebasan

 Untukmu indonesiaku!

 To Kwa Wan, 5 January 2011