Laman

Jumat, 28 Januari 2011

SURAT CINTA PERTAMA

Just For UNSA

Unsa…
Sebelumnya maafkan aku jika surat yang kamu baca ini terlihat lusuh, itu karena banyak kata kutuliskan, ku hapus lagi, ku tulis lagi dan begitulah berkali-kali. Aku hampir putus asa ketika tak ku temukan kata-kata yang tepat untuk menyampaikan apa yang aku rasakan padamu. Tapi aku berusaha dan terus berusaha hingga akhirnya, inilah surat cinta pertamaku untukmu.

Unsa sayang…
Awal juni 2010, aku masih ingat ketika aku pertama kali masuk dunia maya yang masih begitu asing bagiku dan bagaimana aku bertemu denganmu. Tanpa banyak bertanya kamu menggandengku dan membawaku ke istana persahabatan yang kamu punya. Kamu memperkenalkanku pada saudara-saudaraku di sana dan membiarkan kami tumbuh bersama, berbagi cerita, berbagi cinta dan berlomba-lomba mencipta karya.  “Satukan warna dunia dalam satu warna persahabatan” itu nasehatmu.

Unsa…
Tahukah kamu apa yang aku rasakan saat itu? Aku benar-benar terharu sekaligus bersyukur. Aku berjanji dalam hati untuk memanfaatkan kebaikanmu untuk mencipta kebaikan dalam hidupku. Meski jujur ada juga perasaan ragu, mampukah aku? Apalagi ketika aku melihat saudara-saudaraku yang aku temui di istanamu begitu memukau. Mereka bertalenta, besemangat, hebat dan telah menunjukkan banyak bintang untukmu. Tapi melihatmu tak meragukanku dan memberiku kesempatan yang sama dengan saudara-saudaraku tanpa membedakan kami, aku pun berusaha untuk bisa.

Unsa sayang…
Pertamanya meskipun aku masih malu-malu aku mengikuti lomba membuat slogan dan puisi untukmu, melihat bagusnya slogan dan puisi saudara-saudaraku yang lain aku bertambah malu. Ternyata slogan dan puisiku tidak seindah milik mereka, tapi ku lihat kamu tak perduli itu dan terus memberiku kesempatan lagi. Tapi aku sedih sekali karena tak bisa membuat logo dan belum berani membuat cerpen untukmu, meskipun dalam hatiku aku menginginkannya. Bertambah sedih lagi karena aku tak bisa ikut lomba best friend story, karena aku belum genap sebulan mengenal dunia maya maka aku belum punya teman FB dan kesan yang bisa aku ceritakan. Tapi karena itulah aku berusaha menambah lagi temanku, agar tak kan melewatkannya jika suatu hari kamu mengadakan lomba yang sama lagi. Ha ha lucu ya? Tapi begitulah adanya, meskipun bersedih aku tetap mengikuti jalannya lomba dan duduk dibangku penonton sebagai jempoler aktif.

Unsa…
Aku masih ingat juga untuk mnyambut hari kemerdekaan negara kita, kamu pun mengadakan lomba puisi bertemakan kemerdekaan. Aku bersemangat dan berusaha memberi yang terbaik untukmu, sampai aku mengirim beberapa puisi. Tapi puisi itu ketika ku baca lagi ternyata adalah curhat pertamaku padamu. He he.. aku tersenyum sendiri ketika menyadarinya. Meski tak memenangkan lomba tapi aku senang sekali karena merasa semakin dekat dan sayang padamu. Kamu telah berhasil memerdekakan hatiku dari minder dan malu.

Unsa…
Bersamamu selangkah demi selangkah aku berani maju menggapai citaku yang tertunda dan membawa mimpiku ke alam nyata. Satu persatu aku mulai mengenal lebih dekat saudara-saudaraku di istanamu dan banyak belajar dari mereka semua. Entahlah yang pasti tak cukup kata untukku mengungkapkan rasa terima kasihku padamu dan juga saudara-saudaraku semuanya tentunya.

Unsa sayang…
Aku tahu hari ini adalah hari ulang tahun pertamamu. Tapi maafkan aku karena aku tak mampu memberi kado yang indah untukmu. Hanya kata-kata yang tak puitis dan doa setulus hati yang bisa ku persembahkan padamu. Aku berharap kamu mau menerima dan  tak kecewa membacanya.

“Happy Birth Day UNSA  
Best Whises For you
I Love You so much!”

To Kwa Wan, 27 January 2011

Kamis, 06 Januari 2011

LOMBA KREASI CIPTA PUISI "KADO UNTUK INDONESIA"

“MANTRA PEMBEBASAN”
 Oleh : Yully Riswati


 Agenda sejarah berwarna merah
 Bertorehkan selaksa kisah
 Meski telah terbaca salah kaprah
 Semua sudah ku kunyah mentah

 Adegan demi adegan berlaga
 Mempertontonkan sandiwara
 Lakon berepisode tanpa jeda
 Skenario dalam genggam sutradara

 Sabda alam kehilangan makna
 Diartikan sekedar bencana
 Meski dalam kitab pujangga
 Bermakna petuah pencerah dari maha Esa

 Aku sebagai anak negeri
 Terpaksa berkaca cermin retak
 Membuka setiap lembar nurani
 Mencari makna berontak

 Terbaca olehku narasi pilu
 Di akhiri kalimat tercetak tebal
 “Kamu masih anak negerimu,
 meski dari kaum marginal”

 Kalimat itu seumpama bara
 Membakar semangat nan basah di sudut pengap
 Menghadirkan kembali inspirasi pengelana
 Membebaskan suara yang sekian lama tersekap

 Padamu Indonesiaku!
 Yang merdeka dalam belenggu
 Garuda ku sematkan didada
 Sebagai tanda cinta pada nusa bangsa

 Meski bengis kapitalis memburu
 Mengoyak paru-paru dan jantungmu
 Tak kan aku biarkan barang sejenak
 Apa lagi sampai berkerak

 Selangkah maju berani berkalang
 Nadi terpasang berselang
 Mengalir beku darah juang
 Mengeras seumpama karang lautan

 Akan aku persembahkan padamu
 Sebuah arti kemerdekaan hakiki
 Bersama pandu kebanggaanmu
 Akan aku nyalakan suluh pijar sebelum pagi

 Kini aku masih setia
 Mengurai makna demi makna perlawanan
 Agar menjadi rangkaian kata
 Mantra-mantra pembebasan

 Untukmu indonesiaku!

 To Kwa Wan, 5 January 2011