Laman

Kamis, 08 Desember 2011

Sajak Terakhir



Sajak Terakhir
:Emak

di angan, Mak,. hanya di angan,
sulur yang kutanam layu sebelum berkembang
tandus tanah kerontang hatiku, merindu

kau pergi

rindu ini begitu ungu. mengalahkan warna senja
yang membias indah di langit barat
menanti
janji malam

dingin negeri beton masih membekukan tulang
me
nggigilkanku dalam ngilu yang panjang
cinta ini
masih angkuh, meski penuh sungguh
tak ada
lagi gelas kosong untukku menuangnya
dalam paruh perjalananku

kau pergi

RUH, 8/12/2011

Sedih. Entahlah apakah ini yang bernama kesedihan? Aku sudah lupa berapa lama tidak bersedih, karena terbiasa oleh rasa ini begitu tidak pentingnya nama dari ‘sedih’.

Bagaimana mungkin seseorang yang terbuang merasa kehilangan? Pantaskah? Ah, kenyataan membuktikan seberapa benci ditanam, cinta tak pernah benar-benar tercabut akarnya. Masih menghunjam di bumi hati.

Seringkali kusebut namanya dalam doa, kupertanyakan kabarnya melalui angin. Lalu terhempasku dalam dinding kemelut kalut yang meliput akut. Siapa aku? Apa pentingnya? Apa pentingku?

Argghhh!! Aku memang tak ingin lagi mengemis sebuah pengakuan, yang sebenarnya kudamba dalam setiap tangisku. Tapi aku masih mengakuinya, mengakui mereka, mengakui yang tidak mengakuiku sebagai bagaian dari ceritaku.

Dan hari ini, ketika salah satu dari mereka pergi. Aku meratap sendiri. taka da tempat berbagi. Tidak sesiapa apalagi mereka. Hampa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar