Laman

Selasa, 24 Januari 2012

“Who am I ?”






“Who am I ?”

 “ANEH! Manusia aneh!
Semakin dekat denganmu, aku semakin tak mengerti tentangmu. Abstrak…”
(gila bener emang aku bayangan? Abstrak.)

“PERI UNGU! Tak ada kabarmu… baik-baikkah kau di sana? Tolong kabari aku tentangmu. Aku merindumu dan megkhawatirkanmu… selalu.”
(hohoho asli kepalaku membesar, untung saja tertutup jilbab.)

“Jangan bertanya padaku tentang dia! Dia adalah dia dengan segala keanehannya. Sama sepertimu, aku bingung. Mungkin dia emang hanya bisa mengerti orang lain tanpa bisa dimengerti.”
(halah! Aku jadi ikutan bingung)

“Jangan kau kejar dia! Karena dia akan berlari. Bila dia menjauh jangan dekati, karena hanya akan membuat keadaan semakin keruh. Tapi jika kau membiarkannya menjauh dan kau menjauhinya, kalian tak akan pernah menyatu lagi. Karena dia akan menghilang.”
(Asli tambah mumet akunya.)

“Diamnya Ungu penuh misteri.”
(ah, bagus tuh bisa jadi cerpen horor)

“Tidakkah kau tahu kami merindumu? Unguku menghilang dalam kebiruannya.”
(Sesakti itukah aku? Punya ajian ngilang nggak bia balik hihi)

“UNGU! Kamu itu pribadi tangguh. Tapi ada yang buatku sering bingung untuk memahamimu, kamu itu konsisten inkonsisten.”
(Apa lagi ini?)

“Peri Ungu, kamu itu orangnya tulus bangets. Aku bisa merasakan ketulusan hatimu. Senang mengenalmu. Oh ya kamu gokil banget, lucu! Aku merasa terhibur olehmu.”
(Walah, aku dianggap pelawak.)

Beberapa kalimat yang kutulis di atas, hanya kutipan beberapa dari banyak kalimat yang tertulis untukku dari orang-orang yang mengenalku. Banggakah aku membacanya? Tentu saja tidak. Aku justru merasa semakin asing dengan diriku sendiri. Ingin kubertanya: Siapa aku? aku? aku? Who am I? (maunya mengubah lagu ‘siapa kau?’)

Pertanyaan siapa aku tentunya bukan pertanyaan lucu atau kuis yang menarik dengan hadiah menggiurkan jika jawabannya benar. Justru sebuah pertanyaan yang miris dan terkesan menyedihkan. Hihihi nggak segitunya juga sih.

“Ok. Lets me talking about my self to you friend.“
“What for?”
“I hope no missunderstanding between us, you and me.”
(Jiah mendadak keminggris nih akunya.)

Aku memang aneh. Jangankan kamu, aku sendiri sering merasakan keanehan pada diriku sendiri. Jadi ingat julukan teman-temanku sewaktu sekolah, “The Alient Girl.” Dahulu aku cuma tertawa tanpa membalas ejekan teman-temanku yang bagiku lucu. Orang lain menganggapku aneh, tapi aku sendiri menganggap anggapan tersebut lucu. Apa nggak lebih aneh? Seaneh apa sih aku?

“Ok. One by one..”

Aku seperti samudera, nampak tenang di permukaan tapi menyimpan selaksa misteri di dalamnya. Kadang aku bergelombang, tapi lebih sering tanpa reaksi. Pribadi yang aneh. Mysterious?

Kesan awal orang berkenalan denganku, mereka takut, karena aku nampak ‘dingin’ (padahal aslinya memang chueks pull). Tapi begitu mengenalku seratus persen kesan berubah, mereka akan bilang aku hangat. Bersahabat dan menyenangkan. Uhuk uhuk. Frendly?

Aku berada pada titik balik antara panas dan dingin. Bisa seketika terbakar dan membakar apa saja, tapi bisa juga tiba-tiba bisu membeku. Jiah!

Aku aslinya memang penyayang dan lembut hati. Jangankan kepada sesama manusia, kepada semut pun aku tak ingin menyakiti. Halah! Its me.

Tapi selain banyak hal di atas, ada satu keterbatasanku yang teramat sangat menggangguku. Minder! Ya, aku orang yang minderan. Uh.

Minder menjadi salah sau tembok penghalang menuju kesuksesanku. Aku harus menjebolnya! Bantu aku… *wajah melas, penuh peluh, nafas ngos-ngosan >_<
Kenapa minta bantuan? Ya, kata dari buku yang kubaca, monder bisa hilang dengan hipnoterapi atau dengan menceritakannya serta meminta bantuan orang lain. Begitulah.

Minder, gugup, takut atau tidak percaya diri adalah perasaan alami manusia yang diberikan Tuhan agar tidak terlalu percaya diri dan akhirnya menjadi sombong. Selain orang gila dan orang mabok, setiap orang waras memiliki rasa minder hanya saja konteks dan kadarnya berbeda-beda. Walah berrati aku waras, tapi berbedanya itu loh! Hiks.

Sebenarnya minderku berasal dari berbagai sebab, terutama trauma masa kecilku. Tapi abaikan saja. Akibat dari minderku ini yang berbahaya banget bukan hanya buatku tapi juga buat orang-orang terdekatku. Di antaranya, aku jadi merasa diri rendah, bodoh, tidak mampu, tidak pantas untuk disayangi dan menyayangi. Jadi lebih suka menyendiri dan merasa sendiri. Nah, loh?! Dan ini membuatku, so weaks!

Januari 2012

Rabu, 18 Januari 2012

18012012


18012012
Amnesia


Ketika kesadaranku mengalahkan lelap dan menyingkirkan nyenyak yang ada, terjaga dan kembali terjaga. Tanpa pejam sejenak pun. Sudah 1 malam terlewatkan, akankah malam ini juga terlewatkan begitu saja? Entahlah… semoga saja ada sesuatu dari alam mimpiku yang memelukku agar kuterlena.


RUH, 21:21Pm 

‘Re’


‘Re’

Ketika tanpa sengaja kubuka file record di HP, kutemukan satu suara. Suara seseorang yang pernah hadir mengisi sisi kekosongan hatiku. Namanya Rino Ari Sofa, sebuah nama yang begitu manis dan membanggakan pemiliknya. Tapi aku lebih suka memanggilnya ‘Re’.
“Tahu nggak Mbak, apa arti namaku?”
“Apa ya? Mmm pasti nggak jauh-jauh dari nama penjual kursi atau sofa.”
“Yeee bukanlah. Rino dalam bahasa jawa artinya terang. Ari itu nama Ayah. Sofa itu nama Ibu. Jadi aku ini anak yang terlahir sebagai penerang/harapan Ayah dan Ibuku.”
“Hadeuh, berarti Ayah dan Ibu kecewa karena nama anaknya tidak sesuai yang diharapkan waktu membuatnya?”
“Hmmm Mbaaakkk… Janji deh, Re pasti berubah lebih baik. Aku ingin menjadi Anak, Kakak dan Adik yang baik bagi Mbakku yang paling baik sedunia.”
“Amin…”
Re selalu bilang beruntung terlahir lebih muda dariku, meski hanya selisih dua hari. Kalau tidak, ia akan kehilangan kesempatan menjadi seorang adik untukku. Aku hanya mentertawakan ucapannya tanpa serius menanggapinya.
Pertama kali kumengenal sosok Re, kami sempat tak saling menghiraukan, kalau saja bukan untuk menuruti kemauan pacarnya (adik angkatku). Semua yang ada pada Re termasuk kriteria manusia yang kuhindari kedekatannya denganku. Lelaki pemabuk, perayu dan pede tingkat dewa serta chuek super akut. Menyebalkan.
Bahkan pada awal perkenalan, kami sempat bertengkar hebat. Re tersinggung dan merasa kuhina dengan sikapku yang acuh serta sinis luar biasa, sedangkan aku sendiri sungguh membenci dan muak dengan kekasaran Re. Sampai suatu ketika, entah bagaimana mulanya, ternyata anjing dan kucing bisa berdamai menjadi sahabat. Hingga kemudian mengikrarkan diri menjadi saudara, saling berbagi cerita dan semuanya. Sungguh Tuhan Maha membolak-balikkan hati hamba-Nya.
Re benar-benar memenuhi janjinya, hari demi hari dia berubah. Bahkan perubahannya sempat mebuat orang-orang yang mengenalnya juga keluarganya shock. Mereka heran dengan perubahan tiba-tiba dan nyaris sebagai sebuah totalitas transisi kepribadian. Dan semua itu karena janjinya padaku. Aku baru mempercayainya ketika Ibu dan Adiknya memberitahuku. Subhanallah! Aku terharu.
Setelah mengenal dekat Re, aku temukan segala kebaikan dirinya yang telah lama tersembunyi dibalik dinding kengkuhannya. Ada sesuatu yang membuatnya mengubah dirinya menjadi buruk, jadi ketika bertemu denganku, aku bukannya merubah dirinya menjadi baik, tapi hanya membantunya kembali menjadi dirinya sendiri. Re return be Re!
Masih kuingat jelas kapan aku merekam lagu yang dinyanyikan Re yang masih tersimpan dalam HP-ku saat ini. Waktu itu musim dingin, aku sedang sakit lumayan parah, radang tenggorokan akut dan anemiaku berkompilasi, sehingga aku harus menginap 3 hari di RS. Ketika kembali ke Rumah Majikan dan mengabari Re, ia segera meneleponku. Dia sedih dan bertanya apa yang bisa dilakukannya agar sedikit meringankan sakitku. Aku hanya bilang, nyanyikan saja sebuah lagu sendu yang mengungkapkan semua tentangmu. Re kebingungan. Namun beberapa saat kemudian, dengan iringan gitar kawan-kawannya Re menyanyikan sebuah lagu yang untuk pertama kalinya kudengar. Dan aku benar-benar menangis meresapi syairnya.

Pada Syurga di Wajahmu

Tuhan sengaja menduga kita
Dimana kesabaran manusia
Engkau *kakak yang kusanjungi
Lambang semangat cinta dunia

Pasti engkau terkenangkan
Peristiwa semalam
Saat kumenggadaikan cinta
Pada onak dan duri asmara

Entah dimana akal fikiran
Hingga sesat di jalan yang terang
Ini suratan yang diberikan
Menguji kekuatan jiwa

Waktu engkau kulupakan
Dalam kemarau panjang
Betapa hatimu rela
Demi melihatku bahagia

Kau menahan segala siksa
Di hati hanya berdoa
Mengharapkan aku kan pulang
Agar terang cahaya

Kau yang hanyut di arus dosa
Di laut rebut melanda
Dan berenang ke pelabuhan
Kasih sayang sebenar

Air mata cinta darimu
Ku menjadi rindu
Pada syurga di wajahmu
Tiada tanda kau berdosa

Biar aku cium tanganmu
Membasuh lumpur di muka
Ku yang berarus dosa
Di laut rebut melanda

Kau menahan segala siksa
Di hati hanya berdoa
Kuberenang ke pelabuhan
Mencari cinta sebenar

Kan kutahan apa hukuman
Di hati hanya berdoa
Biar aku cium tanganmu
Sekali lagi bersama

Bukan sekali jalan berduri
Hanya Tuhan yang pasti
Mengerti…

(*kakak, pada versi lagu aslinya tertulis istri, Re sengaja mengubahnya karena ia menyanyikan lugu itu untukku.)

“Ah, Re, sampai hari ini, Mbak masih mengingatmu… meski kuhanya bisa melangitkan doa untukmu.”

RUH, Januari 2012

Jumat, 13 Januari 2012

120120112


 120120112
ULTAH CINTA

Dalam luasnya samudra, kita pernah merasakan terombang-ambing dalam ombak dan riak gelombang. Hingga bahtera kita nyaris karam. Namun karena kemaafan yang engkau tebarkan, menjadikanku nyaman menjadi pendampingmu. Dan tak pernah ingin berlalu dari sampingmu, bersandar di bahumu.

Sungguh, aku tersadar… tak mudah untuk menjadi Khodijah, Fatimah ataupun Aisyah. Terlalu mahal! Dan, aku tak memiliki cukup lembar keikhlasan untuk membeli kesempurnaan seperti yang mereka punya.
Aku hanya perempuan biasa dan tiada istimewa. Bahkan, aku hanya wanita penuntut yang tak penurut, yang seringkali membuatmu berkerut, kerut kecewa dan kelelahan untuk memahami segala keinginan perempuan yang kau cintai.
Tapi ketahuilah wahai kekasihku, sungguh… jauh di lubuk hatiku, aku ingin seperti perempuan hebat yang salehah itu, mengabdi pada Allah dan juga suamiku.

Ya, Allah…
Limpahkanlah rasa cinta kepada kami…
Seperti cinta yang Engkau jadikan pengikat rindu Rasulullah dan Khadijah
Ya, Allah…
Jika layak bagi kami…
Cukupkanlah kami dengan ridho-Mu
Jadikanlah kami suami istri yang saling mencinta kala dekat
Saling menjaga kehormatan kala berjauhan
Saling menghibur dikala duka dan mengingatkan kala bahagia
Saling mendoakan dan menyempurnakan kebaikan di jalan-Mu
Ya, Allah…Jadikanlah pernikahan kami sebagai ibadah kepada-Mu
Ya, Allah… jadikanlah keturunan kami sebagai teladan kebaikan yang membesarkan asma-Mu
Amin…


RUH, 23:23Pm

Rabu, 11 Januari 2012

11012012


11012012
Gonna be ok!

Bertahan dalam setiap keadaan. Belajar tegar dalam sabar!
Selalu ada pagi ketika malam terlewati. Selalu ada terang, ketika hujan menghilang. Dengan sekuat asa berusaha mengumpulkan puing-puing kepercayaan diri. Semua akan bak-baik saja dan indah pada akhirnya. Semoga.

Rerangkulan klawan sepi
Ing tepising wengi-wengi
Dak coba mbusak impen kang mblerengi
Bali marang kasunyatan kang sejati

Bebarengan udan
Dak coba mlaku sak isa-isaku
Bebasan siniram madu sak tumbu
Datan ilang pepahiting lakon uripku

Ananging wus ora ana rangu jroning atiku
Percaya Gusti ora bakal cidra janji
Ana isuk sak wuse wengi
Mesti.


RUH, 22:28

Sabtu, 07 Januari 2012

07012012


07012012
Tentang Cinta


Ketika komplikasi sakit mendera, rasa nikmat akan sehat begitu kurindukan. Dalam baring, di sela nyeri dan pedih, ada begitu banyak rindu menghimpitku. Menyesakkan dada hingga kuterpaksa mengeja cinta dengan nafas tersengal oleh isakan.

Malam ini aku hanya ingin menulis Cinta untuk Cinta

:Yank

Senandung rindu yang kau lantunkan
Sampai padaku bersama angin malam
Meski bisik tak kau titip pada rembulan
Kudengar kurasakan…

Usah kita genapi rintih

Ketika jingga terusir saga
Kita akan kembali mengeja rasa
Bersama menjemput fajar
Yang akan pijarkan binar benar

Benar sebenar cinta
Setia

:Bintangku

Setiap detik waktuku
Aku terhanyut dalam kesunyian
Yang diselundupkan angan
Membasah dalam hujan
Menggenang
Menenggelamkanku ke lautan ilusi

Dalam hening
Kuteringat selalu bening matamu
Karena di sanalah kolam sajak
Dari segala kata bermakna cinta
Dalam bahasa kalbuku.
Bahasa Ibu.


:Adikku

Aku tahu…
Angin tak pernah mempertemukan kasih pun sayang di antara kita
tapi kita yang meminta dan Tuhan memberinya.
Lalu
Mengapa aku harus takut kehilangan indah pelangi
Ketika kau yang terindah, Ia anugerahkan padaku


:Ndhukku

Dan ketika hujan menyembunyikan semua jejak
Aku berteduh dirimbun dedaunan rindu
Membiarkan gerimis menetes
Membasah dalam puisiku untukmu


RUH,22:22Pm

Jumat, 06 Januari 2012

06012012



06012012
Double Sakit

“A’uzu bi’izzatillahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaaziru. Allahumma Robbannaas azhibil ba’sa isyfihi wa antasy syafiaa’an illa syifaa’uka syifaa’an yaa yughoodiru saqoman. Antasy Saafii… laasyifa’a illaa Syifaa’uka… Amin…”

:Aku berlindung dengan kemuliaan dan kekuasaan Allah dari bencana penyakit yang kurasakan dan kucemaskan ini. Ya Allah Rabb sekalian manusia, hilangkanlah kesengsaraan ini dan sembuhkanlah ia. Karena sesungguhnya Engkau Maha Penyembuh dan tak ada kesembuhan melainkan hanya dari-Mu yaitu kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit lagi. Engkaulah Maha Penyembuh… tiada kesembuhan sejati kecuali yang datang karena-Mu. Amin…

Aku percaya sakit yang ada dan terasa bisa menjadi penggugur dosa-dosa.
Tapi sungguh, aku tak pernah rela orang yang kusayangi sakit, disakiti atau pun tersakiti. Bukan karena aku tak mau ikut merasakan sakitnya tapi karena sayangku. Andai kubisa, ingin kurampas segala sakit orang-orang yang kusayangi. Agar hanya ada senyum bahagia di bingkai wajah mereka. Karena bahagia mereka, menjadi bahagiaku juga.  

Beberapa hari ini ketika sakit makin menjadi… sakitku, sakitnya… double sakit! Hanya Allah tempat kami bersandar dan memasrahkan segalanya…

“Ya, Allah, Engkau yang Maha Penyayang, aku menyayanginya karena-Mu…
Jika Engkau ijinkan, limpahkan sakitnya padaku, agar tak ada lagi kesakitan untuknya… “

RUH,22:51Pm 

Kamis, 05 Januari 2012

05012012


05012012
Badai (Ber)Lalu 


Ketika badai menerpaku, membuatku terpelanting dari perahuku, seringkali kumerasa semua ‘berakhir’ untukku. Tak ada lagi sempat, apalagi harap. Gelap. Seolah aku telah kehilangan semuanya, semua yang kumiliki. Tanpa sisa. Sia-sia.

Sepanjang hidup yang sudah kujalani, badai datang menyapaku berkali-kali. Hingga aku lupa untuk menghitungnya dan tak tahu sudah hitungan keberapa. Jatuh. Bangun. Tenggelam. Berulang, berkali-kali sehingga aku menjadi terbiasa dan mempercayai bahwa aku terlahir ke bumi untuk bersahabat dengan badai kehidupan.

Hari ini, ketika kudapati satu badai yang di tahun lalu pernah menerpaku, membuatku tenggelam, berlalu. Aku benar tersadar. Ah! Ternyata… Betapa aku telah melupakan banyak hal yang seharusnya kuingat selalu. Bukan, bukan melupakan sepenuhnya, tapi jarang mengingatnya dan teramat sering mengabaikannya.

Kenapa aku bisa lupa bahwa aku bukan siapa-siapa dan tak memiliki apa-apa, sedangkan diriku sendiri saja nyata-nyata bukan milikku? Astaghfirullah….


Badai Berlalu
by: GMB

Tak slalu Kau janjikan pelangi
Kan menghiasi
Hidup yang damai di bumi
Tak slalu Kau janjikan di hati
Jawaban pasti
Saat ku doa menanti

Reff:
Kau besertaku
Badai berlalu
Takluhkan gelombang hidupku
Genggam erat tanganku selalu
Jangan pernah Kau lepaskan
Sertaiku
Selamanya

Di kala arti hidup kucari
Ku menyesali
Kesalahan yang terjadi
Tetapi slalu Kau memahami
Dan Kau berjanji
Membuat hidupku berarti

(bridge)
Tak lagi kucari
Jawaban hidup yang lain


Betapa selama ini, di saat aku tak dapat melakukan apapun untuk diriku sendiri, aku masih dapat menyerahkan segala sesuatunya pada-Nya? Dan Ia memberiku ketrentaman hati? Bagaimana bisa aku menganggapnya kecil? Astaghfirullah…

Aku sudah semestinya mulai belajar pasrah sesungguhnya pasrah dalam keadaan sadarku. Berusaha semaksimal mungkin mendapatkan keinginanku dan menyerahkan hasilnya kepada kehendak-Nya. Sekarang juga! Sebelum terlambat dan hilang kesempatan dan waktu untukku.


“Ya, Allah…, berikanlah kepadaku yang terbaik menurut kehendak-Mu. Amin…”

RUH, 22:45Pm

04012012


04012012
Cemburu


Cemburu hadir merancu, menyamarkan setiap ‘rasa’. Ada rindu, amarah, ketakutan sekaligus pertanyaan. Aku jarang sekali terjebak dalam jala cemburu, secara aku terbiasa tak menghiraukan sesuatu yang bernama cemburu. Atau mungkin karena terbiasa cemburu, atau tidak pantas cemburu, atau memang tidak ada yang bisa dicemburui, sehingga cemburu pun menjadi bukan cemburu, atau apalah. Atau karena aku pencemburu yang selalu mengingkari kecemburuanku sendiri. Bingung!

Hari ini, kubaca sebuah kalimat pengakuan. Seseorang mengaku cemburu padaku.

“Ah, ketika rindu itu merajammu, bak tumpahan air bah… hal kecil dan sepele pun bisa membuatmu cemburu buta.”

Sebuah kalimat yang dikirim oleh seseorang yang juga pernah mengirim janji padaku. Janji seorang saudara.

“Jika yang lain tidak peduli, Kakakmu ini akan tetap bersamamu
Jika yang lain melupakanmu, Kakak tetap setia.
Jika yang lain menjauhimu, Kakak akan tetap ada di dekatmu (di hati ini).”

Jujur membaca kalimat janji atau pun kalimat penghiburan yang dikirimkannya padaku, membuatku ‘kesal’. Kesal karena kemudian aku terjebak pada pertanyaan, “Sungguhkah?”

Aku sadari, sebentuk kecil perhatian untukku mampu membuatku semakin terpuruk atau bisa saja membuatku bangkit dari keterpurukan. Aku rindu sekaligus benci kepada perhatian. Karena ‘sebentuk perhatian’ adalah impianku sekaligus sesuatu yang membuatku takut bermimpi.

Aku katakan padanya, “ Jika Kakak takut kehilangan seorang Adik, Adik justru takut seorang Kakak ingkar janji.”

Kalimat terakhir dari balasan sepucuk surat ungu yang kukirim, membuatku tertegun. Perlahan gerimis merimbun. Ah, air mata haru membasuh wajahku.

“Sungguh setelah Ibu dan Kakak/Adik perempuan Kakak, dirimulah yang Kakak sayang karena-Nya.”

Aku ragu. “Fiksikah?”
Ah, aku hanya ingin mengamini. Kata adalah doa. Aku ingin kata-kata itu sebuah doa kebaikan untukku.

Alhamdulillahirabbil Alamin….
Amin… Amin… Ya Rabbal Alamin.

RUH, 00:00Pm

Selasa, 03 Januari 2012

03012012


03012012
Di Atas Normal

Saat rasa menggumpal dalam dada, berubah sebentuk bola. Bola yang memantul di tiap dinding hati, tanpa henti. Sesaat berasa bukan diri sendiri. Semua berbeda! Aku menyebutnya pertanda di atas normal.

Aku memang seringkali berada di atas normal (up normal), terutama ketika terjadi tarik menarik antara gelombang negatif dan positif dalam alam pikiranku. Dan keadaan itu semakin menjadi parah, ketika bola rasa turut pula menyesakkan dada. seperti hari-hari ini, aku benar-benar tidak biasa.

Kehilangan pelukan hangat mimpi, jauh dari kata lelap pada tiap mata terpejam. Entah, sampai kapan aku bisa bertahan. Ada kalanya, aku benar-benar merasa luluh dalam rapuh. Jenuh. Rusuh. Aku ingin mengeluh… tapi kebiasaanku menggunung tak pernah benar-benar hilang. Kembali dan kembali membuatku terkurung dalam ruang bisu tanpa batas.





 
"Wahai orang yang beriman! Bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara yang berkebajikan), dan kuatkanlah kesabaran kamu (lebih daripada kesabaran musuh, di medan perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan pertahanan di daerah-daerah sempadan) serta bertakwalah kamu kepada Allah, supaya kamu berjaya (mencapai kemenangan)."




InsyaAllah, dengan berbekal semangka, aku akan kembali normal. Amin.


Ruh,23:23Pm

Senin, 02 Januari 2012

02012012


02012012
Keputusanku

Alhamdulillah, hari ini aku telah mengambil sebuah keputusan, jika petualanganku usai, aku akan kembali ke Istana Kecilku. Istana mungil yang telah kubangun bersama orang-orang terkasih.
Meski masih ada rasa sakit, ketika ingat pernah terusir dari Istana yang menyimpan selaksa rasa kenangan hidupku. Kesadaran betapa di Istana itu aku Cinderella kecil tumbuh dan terasuh menjadi gadis tangguh, mampu mengalahkan rasa egoku. Aku sudah pun mengalami sakit yang berlebih, lalu apalagi yang mesti kutakutkan?

Apalah artinya sakit jika tak kuterima sebagai siksa. Aku percaya Dia mengasihiku, memberiku sakit bukan untuk mengujiku, tapi untuk menyadarkanku akan nikmat sehat dan syukur. Insya Allah

Ya, apa pun yang terjadi aku akan kembali ke Istana kecilku. Meski kutahu kini ada lukisan luka dan kehilangan yang terpampang di dinding-dindingnya. Istana kecil itu tak akan pernah sama dengan yang dulu, tapi tetap saja Istanaku. Apa pun adanya, ada yang berharga lebih dari segalanya di sana. Ksatriaku. Ya, Dua ksatriaku menungguku.

RUH, 22:22Pm