Laman

Kamis, 05 Januari 2012

04012012


04012012
Cemburu


Cemburu hadir merancu, menyamarkan setiap ‘rasa’. Ada rindu, amarah, ketakutan sekaligus pertanyaan. Aku jarang sekali terjebak dalam jala cemburu, secara aku terbiasa tak menghiraukan sesuatu yang bernama cemburu. Atau mungkin karena terbiasa cemburu, atau tidak pantas cemburu, atau memang tidak ada yang bisa dicemburui, sehingga cemburu pun menjadi bukan cemburu, atau apalah. Atau karena aku pencemburu yang selalu mengingkari kecemburuanku sendiri. Bingung!

Hari ini, kubaca sebuah kalimat pengakuan. Seseorang mengaku cemburu padaku.

“Ah, ketika rindu itu merajammu, bak tumpahan air bah… hal kecil dan sepele pun bisa membuatmu cemburu buta.”

Sebuah kalimat yang dikirim oleh seseorang yang juga pernah mengirim janji padaku. Janji seorang saudara.

“Jika yang lain tidak peduli, Kakakmu ini akan tetap bersamamu
Jika yang lain melupakanmu, Kakak tetap setia.
Jika yang lain menjauhimu, Kakak akan tetap ada di dekatmu (di hati ini).”

Jujur membaca kalimat janji atau pun kalimat penghiburan yang dikirimkannya padaku, membuatku ‘kesal’. Kesal karena kemudian aku terjebak pada pertanyaan, “Sungguhkah?”

Aku sadari, sebentuk kecil perhatian untukku mampu membuatku semakin terpuruk atau bisa saja membuatku bangkit dari keterpurukan. Aku rindu sekaligus benci kepada perhatian. Karena ‘sebentuk perhatian’ adalah impianku sekaligus sesuatu yang membuatku takut bermimpi.

Aku katakan padanya, “ Jika Kakak takut kehilangan seorang Adik, Adik justru takut seorang Kakak ingkar janji.”

Kalimat terakhir dari balasan sepucuk surat ungu yang kukirim, membuatku tertegun. Perlahan gerimis merimbun. Ah, air mata haru membasuh wajahku.

“Sungguh setelah Ibu dan Kakak/Adik perempuan Kakak, dirimulah yang Kakak sayang karena-Nya.”

Aku ragu. “Fiksikah?”
Ah, aku hanya ingin mengamini. Kata adalah doa. Aku ingin kata-kata itu sebuah doa kebaikan untukku.

Alhamdulillahirabbil Alamin….
Amin… Amin… Ya Rabbal Alamin.

RUH, 00:00Pm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar