Laman

Rabu, 18 Januari 2012

‘Re’


‘Re’

Ketika tanpa sengaja kubuka file record di HP, kutemukan satu suara. Suara seseorang yang pernah hadir mengisi sisi kekosongan hatiku. Namanya Rino Ari Sofa, sebuah nama yang begitu manis dan membanggakan pemiliknya. Tapi aku lebih suka memanggilnya ‘Re’.
“Tahu nggak Mbak, apa arti namaku?”
“Apa ya? Mmm pasti nggak jauh-jauh dari nama penjual kursi atau sofa.”
“Yeee bukanlah. Rino dalam bahasa jawa artinya terang. Ari itu nama Ayah. Sofa itu nama Ibu. Jadi aku ini anak yang terlahir sebagai penerang/harapan Ayah dan Ibuku.”
“Hadeuh, berarti Ayah dan Ibu kecewa karena nama anaknya tidak sesuai yang diharapkan waktu membuatnya?”
“Hmmm Mbaaakkk… Janji deh, Re pasti berubah lebih baik. Aku ingin menjadi Anak, Kakak dan Adik yang baik bagi Mbakku yang paling baik sedunia.”
“Amin…”
Re selalu bilang beruntung terlahir lebih muda dariku, meski hanya selisih dua hari. Kalau tidak, ia akan kehilangan kesempatan menjadi seorang adik untukku. Aku hanya mentertawakan ucapannya tanpa serius menanggapinya.
Pertama kali kumengenal sosok Re, kami sempat tak saling menghiraukan, kalau saja bukan untuk menuruti kemauan pacarnya (adik angkatku). Semua yang ada pada Re termasuk kriteria manusia yang kuhindari kedekatannya denganku. Lelaki pemabuk, perayu dan pede tingkat dewa serta chuek super akut. Menyebalkan.
Bahkan pada awal perkenalan, kami sempat bertengkar hebat. Re tersinggung dan merasa kuhina dengan sikapku yang acuh serta sinis luar biasa, sedangkan aku sendiri sungguh membenci dan muak dengan kekasaran Re. Sampai suatu ketika, entah bagaimana mulanya, ternyata anjing dan kucing bisa berdamai menjadi sahabat. Hingga kemudian mengikrarkan diri menjadi saudara, saling berbagi cerita dan semuanya. Sungguh Tuhan Maha membolak-balikkan hati hamba-Nya.
Re benar-benar memenuhi janjinya, hari demi hari dia berubah. Bahkan perubahannya sempat mebuat orang-orang yang mengenalnya juga keluarganya shock. Mereka heran dengan perubahan tiba-tiba dan nyaris sebagai sebuah totalitas transisi kepribadian. Dan semua itu karena janjinya padaku. Aku baru mempercayainya ketika Ibu dan Adiknya memberitahuku. Subhanallah! Aku terharu.
Setelah mengenal dekat Re, aku temukan segala kebaikan dirinya yang telah lama tersembunyi dibalik dinding kengkuhannya. Ada sesuatu yang membuatnya mengubah dirinya menjadi buruk, jadi ketika bertemu denganku, aku bukannya merubah dirinya menjadi baik, tapi hanya membantunya kembali menjadi dirinya sendiri. Re return be Re!
Masih kuingat jelas kapan aku merekam lagu yang dinyanyikan Re yang masih tersimpan dalam HP-ku saat ini. Waktu itu musim dingin, aku sedang sakit lumayan parah, radang tenggorokan akut dan anemiaku berkompilasi, sehingga aku harus menginap 3 hari di RS. Ketika kembali ke Rumah Majikan dan mengabari Re, ia segera meneleponku. Dia sedih dan bertanya apa yang bisa dilakukannya agar sedikit meringankan sakitku. Aku hanya bilang, nyanyikan saja sebuah lagu sendu yang mengungkapkan semua tentangmu. Re kebingungan. Namun beberapa saat kemudian, dengan iringan gitar kawan-kawannya Re menyanyikan sebuah lagu yang untuk pertama kalinya kudengar. Dan aku benar-benar menangis meresapi syairnya.

Pada Syurga di Wajahmu

Tuhan sengaja menduga kita
Dimana kesabaran manusia
Engkau *kakak yang kusanjungi
Lambang semangat cinta dunia

Pasti engkau terkenangkan
Peristiwa semalam
Saat kumenggadaikan cinta
Pada onak dan duri asmara

Entah dimana akal fikiran
Hingga sesat di jalan yang terang
Ini suratan yang diberikan
Menguji kekuatan jiwa

Waktu engkau kulupakan
Dalam kemarau panjang
Betapa hatimu rela
Demi melihatku bahagia

Kau menahan segala siksa
Di hati hanya berdoa
Mengharapkan aku kan pulang
Agar terang cahaya

Kau yang hanyut di arus dosa
Di laut rebut melanda
Dan berenang ke pelabuhan
Kasih sayang sebenar

Air mata cinta darimu
Ku menjadi rindu
Pada syurga di wajahmu
Tiada tanda kau berdosa

Biar aku cium tanganmu
Membasuh lumpur di muka
Ku yang berarus dosa
Di laut rebut melanda

Kau menahan segala siksa
Di hati hanya berdoa
Kuberenang ke pelabuhan
Mencari cinta sebenar

Kan kutahan apa hukuman
Di hati hanya berdoa
Biar aku cium tanganmu
Sekali lagi bersama

Bukan sekali jalan berduri
Hanya Tuhan yang pasti
Mengerti…

(*kakak, pada versi lagu aslinya tertulis istri, Re sengaja mengubahnya karena ia menyanyikan lugu itu untukku.)

“Ah, Re, sampai hari ini, Mbak masih mengingatmu… meski kuhanya bisa melangitkan doa untukmu.”

RUH, Januari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar