Laman

Senin, 05 Maret 2012

Buanglah ‘Budaya Sampah’ Pada Tempatnya


Buanglah ‘Budaya Sampah’ Pada Tempatnya
*Arista Devi*

Akhir-akhir ini setiap kali berlibur di Victoria Park, saya merasa prihatin melihat sampah berserakan di mana-mana. Sehingga terbersit rasa malu dan kesal dengan budaya sampah (baca; budaya jelek) yang masih dilestarikan oleh kawan-kawan sesama Buruh Migran Indonesia (BMI) di Hong Kong.
Kebersihan bukan hanya syarat untuk sehat, namun juga salah satu faktor penunjang keindahan. Maka sudah sewajarnya, jika menjaga kebersihan menjadi hal terpenting dalam kehidupan manusia sehari-hari, selain dari manifestasi keteguhan iman seseorang kepada Tuhan, juga sebagai bagaian dari budaya hidup sehat manusia.
Kita semua pasti mengenal slogan, “Kebersihan pangkal kesehatan,” dan “Kebersihan sebagaian dari Iman.” Namun pada kenyatannya kita masih seringkali melihat dan merasakan ketidak nyamanan dari lingkungan yang kotor karena sampah. Dan hal ini terjadi tidak hanya di Indonesia, tapi juga di Negara Hong Kong, negeri yang benar-benar mengutamakan kebersihan. Hal ini bisa dilihat dari undang-undangnya, Hong Kong menetapkan denda HK$1.500 untuk siapa saja yang tertangkap membuang sampah sembarangan.
Kebersihan dari sampah memang sulit diterapkan jika setiap individu tidak membiasakan hidup sehat yang muncul dari dalam dirinya. Kebersihan lingkungan adalah tanggung jawab semua orang. Budaya bersih dan hidup sehat akan mendatangkan banyak keuntungan bagi manusia dan mahluk hidup lainnya, boleh dibilang kebersihan bagaian dari kesejahteraan umum.
Sebagai orang Indonesia, kita pasti mengenal peribahasa: ‘Di Mana Bumi Dipijak, Di Situ Langit Dijunjung.’ Yang berarti dalam kehidupan sehari-hari kita harus menghormati dan mematuhi adat-istiadat atau peraturan di mana tempat kita tinggal. Hal ini tentunya bukan berarti kita melupakan budaya asal, justru kita memiliki kewajiban memperkenalkan budaya kita sendiri tentunya dengan catatan budaya yang baik.
Hidup di negeri rantau, mau tidak mau membuat kita menanggung beban dan bertanggung jawab untuk menjaga nama baik minimal pribadi juga negeri asal kita. Tapi dengan melihat kebiasaan buruk sesama kawan Indonesia yang membuang sampah sembarangan, sehingga merusak keindahan tempat sarana umum di Hong Kong, saya ragu apakah kawan-kawan menyadari secara sengaja atau tidak telah merusak citra negeri asalnya.
“Orang-orang Indonesia jorok. Karena ulah mereka, bukan hanya Victoria park, tapi Mei Foo Garden juga menjadi rusak dan kotor. Mungkin itu kebiasaan mereka yang terbawa dari negeri asalnya.”
Mendengar komentar dan percakapan orang-orang Hong Kong yang kebetulan melintasi Victoria Park pada hari Minggu, membuat saya tidak terima sekaligus merasa malu. Mungkin jika saya di posisi mereka pun akan berkata sama, karena tempat umum yang dijadikan sarana wisata dirusak oleh orang-orang yang notabene pendatang asing.
Keprihatinan warga lokal Hong Kong ini bukan hanya sampai pada obrolan kecil di antara mereka, namun sudah sampai pada tahapan serius. Hingga mereka merasa perlu membagi-bagikan plastik tempat sampah kepada kawan-kawan BMI yang berlibur di kawasan Victoria Park.
Sebenarnya kita semua dapat menghindari dan memperbaiki semuanya sebelum terlambat. Karena bisa saja pada akhirnya, jika tidak ada perbaikan dari ‘budaya sampah’ ini, akan ada larangan untuk BMI berlibur dan menggunakan tempat-tempat tertentu di Hong Kong. Dan pada saat itu terjadi, tentunya lucu jika kita kemudian menganggapnya sebagai suatu bentuk diskriminasi, sedangkan pada dasarnya semua sebagai akibat dari perbuatan kita sendiri.
Jika dilihat dan disimpulkan penyebab semua ‘budaya sampah’ adalah kurangnya budaya malu, sehingga orang tidak segan-segan membuang sampah dimana saja, kapan saja dan di depan siapa saja. Kurangnya pemahamana tentang bahaya kesehatan akibat sampah dan kurangnya pengetahuan tentang pemanfaatan sampah.
Saya sengaja menyebutnya kurang, karena percaya bahwa sebenarnya semua kawan-kawan BMI telah mengetahuinya. Sampah bisa berguna jika dilakukan proses daur ulang dengan memisahkan jenis sampah. Maka dari itu, pemerintah Hong Kong telah menyediakan banyak tong sampah di tempat-tempat tertentu sesuai dengan sampah yang semestinya dimasukkan kedalamnya. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya.
Marilah kita sama-sama mendisiplinkan diri, menjaga nama baik sebagai orang Islam juga sebagai orang Indonesia dengan membuang ‘budaya sampah’ dan juga sampah pada tempatnya. Memulainya dari diri masing-masing kemudian saling mengingatkan dan nasehat-menasehati sesama teman demi kebaikan bersama. Jangan sampai karena ulah kawan-kawan yang membuang sampah sembarangan dan sikap kita yang tidak peduli, menjadikan kita merugi bersama. Salam.

Penulis: BMI HK Asal Jember, Jawa Timur
Dimuat dalam Majalah Peduli, Edisi Februari 2012


           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar