Laman

Sabtu, 10 Maret 2012

CENDOL, 14 DESEMBER 2011



TAK TIK TEENLIT

Oleh: Triani Retno A


Sesuai namanya yang berunsur “teen”, sasaran pembaca teenlit adalah remaja SMP, SMA, sampai awal kuliah. Penulisnya bisa siapa saja.

Bahasa yang digunakan dalam teenlit umumnya santai, apalagi dalam dialog-dialognya. Tapi bukan berarti boleh menulis teenlit dalam bahasa yang acakadut. Jangan pula menulis teenlit dengan bahasa sms, apalagi bahasa alay. Meski santai, menulis teenlit juga memerlukan EYD, tata bahasa, dan logika. Kalau naskah teenlit-mu acakadut, jangan ngamuk kalau naskahmu langsung ditolak (Sst… naskah yang cepat dapat jawaban dari penerbit adalah naskah yang BAGUS BANGET dan naskah yangJELEK BANGET).

Tema apa sih yang bisa digarap dalam teenlit? Cinta?

Kebanyakan teenlit memang bicara tentang cinta. Taksir-taksiran, pedekate, dsb. Tapi, teenlit juga bisa bicara tentang masalah lain yang ada dalam kehidupan remaja. Hidup remaja nggak cuma pedekate, kan? Dicampur-campur saja seperti cendol. Kalau cendol ijo diminum/dimakan gitu aja pasti nggak karuan deh. Coba dicampur santan, gula merah, es, sedikit potongan nangka… slruup… enak banget.

Begitu juga teenlit. Tema cinta-cintaan remaja bisa diperkaya dengan banyak hal, misalnya demonstrasi, korupsi, kerusuhan, belajar cari duit, kesetiakawanan sosial, lingkungan hidup, dll. Kalau sepanjang 100 halaman A4 ketik 1,5 spasi cuma bicara tentang pedekate, bosan kali yaaa…

Nah, Cendolers, yuk kita sharing….




Eleanor Rigby :Bu guru, apa sih yg membedakan teenlit dan novel?
Triani Retno A :itu salah satu jenis novel. Yang membedakan dengan novel lain pada segmen pembaca yang dituju. Dari segmen pembaca, bisa diterjemahkan ke gimana gaya bahasanya, mau nyeritain apa, dst


Eleanor Rigby Oh, jadi yg mbedakan hnya sasaran n temanya aja yah Bu Guru?
Hmm, oke deh..
Triani Retno A: Iya. bahasanya juga jadi beda. Lebih free, tapi nggak alay.


Putu Felisia: Mau nanya, Bu Guru Eno... saya kan lagi bikin cerita gelap, tapi pengen dibikin teenlit, ada kiat-kiatnya nggak? dicobain berapa kali, gagal melulu... padahal gak peke katana. tolong dijawab ya, Bu... thanks banyak :)
Triani Retno A: ‎Putu Felisia : kiat pertama biasa teenlit nggak gelap adalah, jangan menulis di dalam gua bawah tanah pas tengah malam..... hihihi.... bukan apa2, selain nggak keliatan, bawaannya jadi horor, bo. Kalo mau bikin teenlit, persiapannya: pasang teenlit mode on dalam mood. Baca novel teenlit, majalah remaja, atau nangkring di depan SMA terdekat.


Princess Shakilaraya: keren, , ,
ngolah masalah2 remaja agak sulit mba. Terkesan monotoon. . . . . .
Triani Retno A: ‎Princess Shakilaraya : Hahay, dikau kan masih remaja, Laaan..... Buat apa susah...buat apa susah.....susah itu tak ada gunanyaaaa....


Princess Kriesta:
- Jrs huray...
trus nih,mbak..
kan penulis punya gaya
bahasa sendiri2...
apa EYD nya harus benar2 baku
...
atau hanya penempatan titik,koma, atau bahasa sapaan dan panggilan...
klu nama,bulan hari kan memang harus pake huruf kapital...

- my twin,
ejaan yang disempurnakan itu kajiannya luas. . . . . .
Soal gaya bahasa memang beda2 tp tetep aja kalo eyd.a ga campleng dibcanya kurang enak.

- Jrs nah...
makanya itu...
q sering dibilang EYD nya dong...
waduh...
makin gk ngerti aku..
hiks....

Triani Retno A: Sesuai EYD, nggak berarti harus baku suraku. Sesuai EYD juga bisa funky tapi tetap enak dibaca. Nggak usah jauh-jauh deh, baca novelku.... hehehe... atau bahasa yang kupakai di materi di atas, atau bahasa yang sedangkupakai untuk menjawab pertanyaan ini. 

Buku tata bahasa, hoho....kalau serius mau jadi penulis, jangan malas belajar tata bahasa, ya. Jujur, saya paling ilfil kalau dapat naskah yang EYD dan tata bahasanya ancur lebur seperti baru kena tsunami. Coba Kris, mana penulisan yang benar: a
1. jaman atau zaman? 
2. "Ada apa, pak?" atau "Ada
apa, Pak?"
3. kriesta tinggal di malang atau Kriesta tinggal di Malang?



Selvy Erline: opening yg bagus untuk novel teenlit gmn ya bu guru?

Triani Retno A: ‎Selvy Erline : yang nggak klise, nggak jadul... secara ini teenlit gitu lho, Jeng. Jiaaah.....dikau juga udah jago padahal mah ya....
Opening seperti:
- Pada suatu hari, ketika Selvy sedang menunggu bus kota
....
- Kriiiing.... kriiing.... Jam weker di kamarku berbunyi kencang.
halah, ke-enter. Opening kayak gitu kayaknya enggak banget ya untuk teenlit.....



Mayoko Aiko ‎|:
Mau nanya juga Bu...
Apakah faktor usia penting dalam menulis teenlit?
Misalnya sudah setua Pak Donatus? Masih mungkin ga nulis teenlit...
(Jawaaaaab ya buuuu...y
Triani Retno A: Mas Mayoko Aiko : hahaha.... aku nggak berani jawaaab...nanti Mas Donatus A. Nugroho pasti akan langsung memenuhi wall-ku dengan foto berkeranjang-keranjang cabe. Dia tau aku nggak suka pedaaas.... Boleh aja lah, Mas.... aku malah pengen kayak Mas Donat, teteup nulis tentang remaja walau rambut mulai memutih.... hhihihi...



Dinar Atfa Cholifah: Bu eno. gimana waktu penggarapan teenlit itu idenya macet gaada mood. kalo sudah begitu nulis jadi males dan garapan pun nggantung gitu aja :( Princess Shakilaraya kata mas fahri asiza, , ga ada kata mood dalam menuliiiiis. . . . . Buang soal mood, sebagai penulis yg baik, harusnya ada trik sendri untk mengatasinxa. Kamu bisaaaaaa.
Triani Retno A: ‎Dinar Atfa Cholifah : Mood, ya? Tiap orang punya cara masing2, ya. Kalo aku sih biasanya tidur, fesbukan, jalan, baca majalah, bongkar-bongkar buku harian dan surat-surat lama..... heuheu.... cuma abis itu biasanya besin-bersin karena aku nggak tahan debu.
mood harus dikelola. Jangan menyerah pada mood. Kalo lagi nggak mood, coba lawan rasa nggak mood itu... *pinjam katana Putu Felisia* Caranya ya spt yang tadi lah... emh... tiap penulis pasti punya cara sendiri. 

Sharing aja, dulu aku moody banget kalau nulis. Kalau lagi malas, nggak bakal nulis saelama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Tapi ternyata itu jelek banget. Terlalu larut dalam "nggak mood" bisa bikin kita kagok ketika akan mulai menulis lagi.



Ali Muakhir Full: saya malah cinta hanya sekadar bumbu saja, porsi terbesar lebih pada masalah social
Yessica Edi Daryanto: mas Ali Muakhir Full: iya, biarpun buat teenlit, ada cinta-cintaan tapi lebih bagus mengandung masalah-masalah sosial yang bisa dijadikan pelajaran dan nilai yang baik, ya.. :)


Glenn Alexei: Kalau 100 halaman A4 spasi 1,5 kira2 kalau dibukuin jd brp halaman ya?
Triani Retno A : Glenn Alexei : sekitar 130-150 halaman. Tapi tergantung juga pada jenis + ukuran huruf, spasi, ukuran buku, dan layout si novel itu nantinya. Juga apa bakal ada ilustrasi atau nggak di dalamnya. Kalo di layout nya nanti pakai font size TNR 12, tentu akan jadi lebih tebal dibanding pakai font size TNR 11.


Yessica Edi Daryanto: bu guru Triani Retno: kalo kita buat cerita teenlit tapi mengangkat masalah keluarga seperti konflik dengan orangtua atau orang dewasa lainnya tapi tetap dari sudut pandang dan gaya bercerita remaja. itu tetep di sebut teenlit atau bukan?
Triani Retno A: ‎Yessica Edi Daryanto : teteup, Cin. Seperti di awal tadi, hidup remaja kan nggak melulu tentang cinta, pedekate, naksir gebetan....


Bella Vlinder: tp kadang tema2 selain cinta sulit dterima mba,, gmn ya?
Triani Retno A :
‎Bella Vlinder : yang laku itu sih, ya? Hehehe.... Nggak ada salahnya menulis tentang cinta. Tapi banyak hal di sekitar kita yang bisa membuat kisah cinta itu bukan sekadar cinta. SepertiYessica Edi Daryanto tadi, bisa masukin konflik dengan ortu, misalnya. Atau Kang Ali Muakhir Full yang mengemas cinta dalam tema sosial.

Novel teenlitku yang jadi salah satu pemenang di GPU thn 2008 kemarin (gpp yaaa.....ngambil contoh novelku sendiriiii.... kali aja abis itu ada yang mau langsung pesan... hehehe...) juga bicara tentang cinta. Tapi di dalamnya juga ada persahabatan, kesetiakawanan, sampai ke masalah lingkungan hidup.


Zen Horakti: Nulis teenlit memang berbeda, cenderung menggunakan bahasa sehari-hari, dan mudah dicerna. Aku pernah membaca teenlit luar, yang bahasanya bener-bener membingungkan dan juga, yah, gimana sih remaja orang barat, ini mengganggu. Kalau teenlit, aku suka punya Indonesia, g cuma cinta aja yang main, tapi banyak. Bahkan kisah-kisah aksi yang keren ada juga untuk Teenlit. Coba liat karya Luna. Hehe
Triani Retno A:  
‎Zen Horakti : Asiiik....ayo borong teenlit Indonesiaaa.... jangan lupa masukkan dalam daftar belanja buku, bulan depan teenlitku terbit.... Kalo baca teenlit Indonesia
, ada perasaan dekat dan "gue banget" ya. Kata dosenku dulu (lupa matakuliah apa), kalo ada unsur kedekatan (proximity) suatu berita (di sini jadi cerita, ya) akan lebih mudah diterima....
Kalo baca teenlit luar, beberapa kali aku merinding, kyaaa....! Serem amat pergaulannyaaah....! Eh, tapi yang bagus juga gak sedkit.


Alvi Syahrin: Aku suka membaca dan menulis Teenlit. Tapi aku lebih suka kalo ada 'pesan rahasia' di dalamnya.
Aku pernah buat cerpen teenlit (tapi kacau balau), tapi agak sedikit lega ketika aku Alhamdulillah bisa kasih moral di dalamnya: sekolah untuk cari ilmu, bukan cari pacar...
Triani Retno A: ‎Alvi Syahrin : iyaaa...pesan rahasia. Yang baru keliatan kalo naskah itu ditetesi cairan asam.... hehehe.... Alvi ini rajin nanya, tapi juga rajin nulis. Dulu cerpen kita pernah dimuat bareng di majalah Say, ya, Vi? 
Itulah enaknya nulis fiksi, kita bisa menyampaikan suatu pesan dengan cara yang halus. Zaman dulu, karya sastra seperti cerpen juga dijadikan media perjuangan, kan? *nyetel lagu Halo-Halo Bandung*


Eny-chan Mimegumi: Brtahun2 saia bca teenlit.klo teenlit luar biasa'y wlw tema'y brat tp dkemas'y asyik.humor'y bda*mgkn krna pngaruh budaya*klo teenlit indo ada yg bgus ada yg biasa aja heee*plak*
Btw saia lbh ska yg tipe2 primadona angela ato esti kinasih ato ken terate.selera'y lbih kstu*curhat*
Triani Retno A: ‎Shinra Morinozuka : kalo bicara bagus atau jelek, sebenarnya sama aja ya. Dari luar ada yang bagus, ada yang jelek. Dari dalam negeri juga sama. Ada yang bagus, ada yang jelek. Satu lagi, penilaian bagus dan jelek itu relatif....


Wendy Fermana: Apa yg mmbuat sorg pnulis bsa konsisten nulis smpe 100hal? Bgaimanakh cra agar sorg pemula bsa mnylsaikn novelnya? Tips ny yg lngkap ya buk...
Triani Retno A : 
‎Wendy Fermana : supaya bisa konsisten sampai 100 halaman? Pertama: Niat. Serius. Kalo niatnya aja nggak ada, gimana bakal sanggup nulis?

Kedua. Motivasi. Motivasi kamu nulis apaan? Nyari tambahan uang jajan? Numpahin uneg-uneg? Whuaa.... aku banget tuh waktu kuliah. Hehehe...

Ketiga. Outline. Kalo nulis cerpen yang sekitar 6-10 halaman atau sekitar 8 rb - 12rb karakter, outline nggak terlalu perlu, ya. Tapi kalau mau buat juga gpp. Lain kali mau menulis novel. 100 halaman, bo! Kalau nggak ditulis dulu garis besarnya (secara keseluruhan dan per bab), konfliknya, dll, bukan nggak mungkin di tengah-tengah cerita kita bakal bingung sendiri. *Mau dibawaaaa ke manaaa...novel gueee....*

Outline ini juga akan sangat membantu kalau karena sesuatu hal kita terpaksa berhenti. Jadi pas nanti mau meneruskan, kita masih punya gambaran tentang apa yang akan kita tulis selanjutnya.
jangan lupaaa..... banyak membaca, banyak berjalan, banyak melihat (kalo gak bisa semua, salah satu juga gpp) biar ide kagak ada matinye....



Reiikha Reiiyanthii': Mau tanya Bu Guru, apa bedanya teenlit sama novel yg..contohnya saja novel Twilight? bukankah yang menjadi tokoh pertamanya seorang remaja pula. beda tidak itu? itu teenlit bukan?
Triani Retno A: ‎Reiikha Reiiyanthii' : menurutku sih, teenlit itu novel remaja, TAPI, nggak semua novel remaja itu teenlit. Teenlit biasanya lebih ringan, lebih ngepop, lebih sehari-hari.



Rizky Noviyanti :
mau nanya juga, Bu Guru!

* Panjang cerita teenlit n novel itu sama ga?
* Kira" kalo crita teenlit di kertas A4 spasi 1,5 mesti jadi brapa lembar?
* Trz kalo dalam cerita itu ada sms-annya bole ga kata2 sms-nya itu disingkat2 kaya' yang biasanya kita sms-an shari2 ?
Trims,..
^_^
Triani Retno A : 
‎Itnayivon Ikzir :
1 dan 2) Panjang cerita, biasanya sih kalo teenlit sekitar 100-150 halaman ketik A4 TNR 12, spasi 1,5. Kalo novel yang masuk kategori metropop bisa 200-250 halaman ketik. Kalo novel anak sekitar 80 halaman ketik. Tapi beda penerbit sering beda aturan teknis. Jadi bagusnya, kenali dulu penerbit yang kamu incar, ya.

3) sms? Kalo adegannya memang sms-an ya gpp, tapi jangan terlalu banyak yaaa.... kamu bukan lagi bikin kamus bahasa sms, kan? Nah, kalau dalam narasi atau dialog, JANGAN pakai bahasa sms, ya. 

Kebayang nggak, naskah 100 halaman, ada bahasa ala sms (alay pula!) total sekitar -katakanlah- 25 halaman, atau dalam satu halaman ada sekitar 50 kata yang ditulis ala sms? Seandainya tulisan ala sms itu sudah bertaburan di halaman-halaman awal, siap-siap aja menerima penolakan, ya.



Edelwise Ayyesha Tsurayya: Waaaa telad telad. Maaf bu...
Mw tanyaa.. Kalo teenlit itu bs jg gak, yg mengandung unsur kearifan lokal? Hiks bingung ngemasnya gt
Triani Retno A:  
‎Edelwise Ayyesha Tsurayya : Boleeeeh.... kenapa enggak? Seperti kata Alvi Syahrin kalo teenlit bisa bikin remaja yang semula cuma doyan shopping, mejeng, dll jadi suka baca, begitu juga dgn kearifan lokal. Kalo bukan kita sendiri yang mengenalkan budaya kita -termasuk kearifan lokal- siapa lagi? Masa mau nunggu sampai diembat negara lain? Mengemasnya? Bisa aja masukin satu tokoh (nggak harus tokoh utama) yang punya ketertarikan tentang hal tsb.


Kus Calvin: Sipp deh.... Sptnya, dlm tiap cerita, genre apapun, cinta itu lbh enak sbg bumbu2 nikmatnya, dan yg penting unsur pesan moral, trmasuk segi2 sosial yg membangun, memberi pencerahan. Mgkn bgitu.... Srupuuut...srrrrrrup....
Triani Retno A: ‎Kus Calvin : iyaaa....seperti masak soto tapi gak pake bumbu....


Nafilah Nurdin: biar pun teenlit, perlu juga ngadain survei ke teensnya biar soulnya dapet (palagi untuk sy yg masa remajanya datar bgt, sulit bgt bikin alur cerita yang dalam mengenai dunia remaja). kadang udah 5
Triani Retno A: ‎Nafilah Nurdin : beneeer.... bisa ikutan tuh samaPutu Felisia. Katanya dia bakal rajin nangkring di SMA.... Kalo aku, paling suka kalo lagi naik angkot barengan serombongan anak SMA yang baru pulang sekolah. Whuaaa....! Seruuu....!!! Tapi nggak enaknya kalo lagi seangkot dgn mrk trus hp ku bunyi. Soalnya mereka jadi ngeliatin aku, takjub ngeliat ibu2 pake ringtone yang abegeh banget.


Jang SyauQie OK:. Naskah --misal-- sudah ada. Keren pula :). Tp masih ada nggak penerbit yang mau nerima teenlit. Soalnya beberapa penerbit katanya lagi vakum nerbitin teenlit.
Triani Retno A: ‎Jang SyauQie : Masih. Nggak semua penerbit vakum nerbitin teenlit, kok. Gramedia masih nerima, Lingkar Pena Publishing House (LPPH) juga terima. Andi Publisher juga. Emh... soalnya ada 2 teenlitku yang akan terbit, satu di LPPH, satu di Andi. GPU, yaa....sempat ngobrol aja sama editornya...


Donald Sitompul: mbak Triani Retno ..apakah kelompok usia awal kuliah dapat masuk kategori pembaca "teen"?
*sambil nyari cincau...
Triani Retno A: ‎Donald Sitompul : Masih, Bang. Awal kuliah ini....setelah lulus SMA, kan? Bukan awal kuliah S3? hehehe.....
Reni Teratai Air pembaca teen itu sebenarnya bisa siapa aja, bang Donald Pitompul... begitu pun menulis teen, bisa siapa saja. yg penting itu adalah tulisan teen : tulisan yg mencerminkan kehidupan atau sisi remaja.


Glenn Alexei: Ibu dosen Triani Retno, kalau untuk teenlit, setelah menyelesaikan ketikan 1 bab, utk bab berikutnya ganti halaman atau tidak? Atau langsung sambung saja di bawahnya? Sorry nanya masalah teknis
Triani Retno A: ‎Glenn Alexei : halaman baru. 


Lina Wijaya: Kalo nulis yg sering buat aku bingung tuh penempatan tanda baca,huruf besar,kecil gitu.. 
Triani Retno A: ‎Lina Wijaya : harus dibiasakan, ya. Caranya: 
1) Kurangi pemakaian bahasa alay. Terbiasa berbahasa alay membuat kita jadi terbiasa SALAH MENULIS.
2) Baca buku tentang EYD, ya.... Kalau pas lagi online, bisa coba klik link ini: http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Pedoman_penulisan_huruf_kapital


Princess Kriesta Jrs: Zaman,"Ada
apa, Pak?" sama Kriesta tinggal di Malang...
hehehehe....
Triani Retno A: ‎Princess KriestaJrs: bener...! Awal yang bagus, Kries. Tapi EYD nggak cuma itu lho, ya. Tanda baca juga perlu. Kemarin aku bete banget ngeliat naskah yang tiap akhir kalimat diakhiri dengan tanda seru. Kalimat tanya pakai tanda seru, berdoa pakai tanda seru... Sampai kujadikan status FB saking betenya....
  


Tyarra Putry: maw tny
kalo nulis naskah cerpen or novel gt,byaza na font na brp,spasi na brp,dll pkk na yg berhubungan dng nulis cerpen or novel gt
jwb ya jwb ya :
Triani Retno A:
‎Tyarra Putry : onlen dari hape, ya? Penuh singkatan gitu. Iya, bener kata Zen. Biasanya Times New Roman (TNR) 12. Spasi 1,5 atau 1 untuk novel, dan 2 spasi (double) untuk cerpen. Tapi ada juga yang agak beda. Majalah Story, misalnya. Lebih ke jumlah karakter. Tiap majalah yang punya rubrik fiksi pasti mencantumkan persyaratannya. Kalau penerbit... hoho.... kenapa nggak baca bukuku yang 25 Curhat Calon Penulis Beken? Ada tuh di sana.


Nimas Aksan: 
bu guru Triani Retno, untuk idealnya nih ya, kalo kita bikin cerita tentang remaja yang mulai cenat-cenut merasakan sesuatu...supaya cerita itu tidak terkesan 'mengajarkan pacaran' kepada remaja dibawah umur, kita bikin tokohnya usia berapa ya kira-kira? aku suka bingung sama batasan ini, kita kan ingin membuat cerita yang mendidik, gak mendorong ke hal negatif, misalnya udh berani pacaran di usia muda...dan batasan romantisme dalam teenlit itu seperti apa?
Zen Horakti: Nimas Aksan : Hm, pemilihan umur memang perlu diperhatikan dalam nulis kisah teenlit romantis. Mbak Triani Retno. Jawab ya.


Reiikha Reiiyanthii': Bu Guru Triani Retno : kalau di novel teenlit itu kan ada sekolah, tempat tinggal dan lokasi2nya. apa perlu jawab jujur? maksudnya, misalkan bersekolah di SMAN 2 Denpasar.. Sekolahnya harus bener2 ada di daerah di Denpasar begitu?
Zen Horakti: Reiikha Reiiyanthii' : Hm, ini memang perlu, Rika. Abisnya kalau kisahnya memang bertaut dengan realitas. maka harus realitas juga. setting tempat mesti bener. hehe. aku aja begitu, sampe search digoogle biar mastikan nggak ngarang nama sekolahnya.

Eny-chan Mimegumi: Oh iya saia mw tnya.dr dlu kpkiran dg pnggunaan 'aku, lo, gue, kau, kamu' d novel teenlit indo.klo teenlit luar pke 'kau' uda biasa c tp klo d indo bkn'y aneh y bu guru?hare gene emg ada gt yg gmg pke kau klo bkn bwt lucu2an? O.o mhon pnjlasan'y hrus pke yg mdel gmna.jujur saia bingung.
Zen Horakti: Shunra Morinozuka : saya rasa sih boleh. asalkan di saat yang tepat,seperti di percakapan, atau ungkapan hati karakter yang digunakan dalam narasi. misalnya. Enak aja lo, lo pikir gue ini apaan. itulah isi hati Shinra. gitu. bener g, Mbak Teera?


Erry Sofid 
Menulis teenlit, sesungguhnya, tantangan berat, karena musti menyelami lebih dalam, detil, dan kompleks bagaimana kepribadian dan visi para teenager menghadapi berbagai persoalan hidup beserta pernak-perniknya. Tapi, ini mengasyikkan. 


Reiikha Reiiyanthii':  Endorse itu apa???
Triani Retno A: ‎Reiikha Reiiyanthii' dan Shinra Morinozuka : endors alias endorsment alias testimoni, pernyataan seseorang ttg sebuah buku. Karena tujuannya untuk menjual, kalimat endors tentu HARUS MENDUKUNG novel/buku yang diendors. Nah, kalimat endors ini biasanya diletakkan di cover buku (belakang dan depan). Kalo banyaaaak banget, bisa dalam buku, di halaman-halaman awal.


Erry Sofid 
Kesederhanaan tata bahasa serta seleksi konflik yang dibangun pun bukan lantas menjadikan perjalanan cerita itu jadi dangkal, tetap diberikan kekuatan yang membuat cerita dan tabrakan antar karakter menjadi menarik. Rumit tapi masih bisa dicerna. Ringan tapi seru. Mendidik tanpa harus menguliahi. Peace ...


Princess Shakilaraya :Teelit politik sosial,
rumit om erry. . . . . .
Mungkin kalo persoalan sosialnya masih bisa masuk, tp kalo politik? Aku belum tau. . . . . Kira2 novel teen siapa yg gt?

Erry Sofid Siapapun bisa menulis teenlit ... bahkan kakek-kakek dan nenek-nenek sekalipun. Bukankah sebuah karya sastra tidak mengenal rambu-rambu usia? Bukankah semakin rajin menulis semakin membuat hidup lebih cerah, sehat, dan memperkaya batin layaknya Dalai Lama ...

Ina Inong: Bu Guru, aku pernah ngobrol sm salah satu editor, katanya teenlit sudah mati suri... gimana tuh Bu? atau kita hidupkan lagi aja gitu? Hehe
Triani Retno A: ‎Ina Inong : mati suri masih ada harapan hidup lagi, Teh, bahkan yang udah dikubur pun bisa bangkit lagi.... *Film bangkit dari kubur. hehehe....* Tapi tetap ada penerbit yang mau nerbitin teenlit kok, Teh, walau mungkin udah gak segila bbrp tahun lalu ya. Remaja tetap butuh bacaan kok... *baca jampe-jampe....hihihi....*
Erry Sofid Mati suri kan bukan mati total ... masih ada peluang hidup lagi ...


Erry Sofid Lalu ... kenapa kamu ingin menulis novel teenlit ... atau kisah-kisah teenlit? Apa penyebab ketertarikan kamu menulis teenlit? Dan, apakah tujuannya menulis teenlit? Teenlit yang bertanggung jawab, rasanya, patut mempertimbangkan pertanyaan ini ...


Eny-chan Mimegumi: Anu mw tnya pelabelan teenlit itu dr pnerbit ato reader?yah msal'y pnerbit'y gak nyantumin kata teenlit gt*emg ada pnerbit kek gn?prtnyaan ngawur*
Triani Retno A: ‎iya, biasanya penerbit ngasih label teenlit.


Nadia Maulana: bu guru Triani Retno, tanya dong, kalo bikin teenlit gitu kan pasti ada sekian bab, apa ada aturan tiap bab harus terdiri dari berapa halaman?
Triani Retno A: ‎Nadia Maulana : nggak, kok. nggak ada batasan harus berapa halaman per bab nya. Bebas aja.

Reiikha Reiiyanthii': Bu Guru Triani Retno : saat membuat naskah/novel/apalah itu. Halaman dan daftar isi harus diisi atau nanti editor yang mengisi halaman dan daftar isi?
Triani Retno A: ‎Reiikha Reiiyanthii' : nanya daftar isi ya? baru keliatan. Bikin aja, Ka. Emang sih kalo nanti naskah itu diterima dan akan terbit, urutan halamannya bakal beda. Tapi kalo kita bikin daftar isi di naskah yg kita kirim, itu akan sangat membantu editor "meraba" cerita kamu. Tentu aja kalo di daftar isi itu ada judul-judul bab yang bukan sekadar bertuliskan:
Satu, Bab Dua, Ban Tiga, dst.


Shii Auchisuya: numpang nimbrung..
pertanyaannya adalah: kenapa biasanya novel teenlit tokoh utamanya kebanyakan pakai tokoh utama cewek? dan kalaupun cowok, pakai sudut pandang orang ketiga?
Zen Horakti: Shii : Mungkin karena kebanyakan Cewek yang mengalami masalah remaja lebih banyak dan perasaannya lebih enak di eksplor. jadinya kebanyakan cewek yang diceritakan.



Triani Retno A:tadi kayaknya ada yg nanya tentang nulis dari pengalaman. siapa ya? *nyari lagi*

Erry Sofid: Meskipun teenlit bisa dijabani semua umurm tapi alangkah kerennya jika lahir dari jari jemari lentik kaum teenagers itu sendiri. Dunia mereka imajinasi mereka. Akan terasa bedanya mana kisah teenlit yang ditulis teenliters dengan teenlit yang ditulis mereka yang sudah di atas umur. Sensasinya akan kerasa. Bahasa-bahasn dri teenliters lebih fleksibel, nggak baku, lincah, centil, gemesin tapi asyik.
Kearifan lokal dalam teenlit boleh-boleh saja selama itu masih bisa ditangkap dan dicerna oleh tingkat pemahaman kaum teenlit. Ingat yah, fiksi teenlit adalah untuk pembaca teenlit/ABG. Fiksi teenlit tempat kaum teenlit mencari jawaban-jawaban hati atas problem mereka sehari-hari. Fiksi teenlit adalah tempat kaum teenlit berwisata hati, rasa, dan fantasi yang entertaining. Peace ... Telor dadar gulung enak banget ...



Triani Retno A Intinya, teenlit itu untuk remaja, bertema remaja, berbahasa remaja (namun tetap sesuai kaidah bahasa dan tidak alay). teenlit berbicara tentang keseharian remaja,, tapi nggak masalah kalau mau memasukkan unsur yang lebih berat seperti sosial, politik, sejarah, sains, dsb. Tema yang berat kalau disampaikan secara ngepop akan terasa renyah. remaja nggak cuma tau pacaran, kan?

Happy writing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar