Laman

Sabtu, 10 Maret 2012

CENDOL, 14 DESEMBER 2011



Menovelkan Sejarah : Antara Fiksi dan Kisah Nyata

Oleh: Putra Gara

Ehem-ehem (berdehem sambil membetulkan kacamata di depan kelas cendol)

PIDATO DULU (dengan wajah serius) : aku sebenarnya guru di kelas cendol yang paling rajin ngajak bolos anak-anak cendol ke kantin. Karena belajar sambil santai menurutku lebih keren. Tapi tadi di depan sumur ketemu Kepsek yang selalu ngaku keren memohon dengan gaya Punggawa menghadap Raja, untuk memintaku memberikan materi pelajaran tentang menulis novel sejarah. Aku sebenarnya malas, tapi karena rasa cintaku kepada anak-anak cendol yang stress semua. Ya sudah, makanya sekarang aku masuk kelas untuk memberikan materi pelajaran sesuai dengan tema judul di atas.

Bagi yang berminat silahkan duduk dengan tertib. Yang nggak minat silahkan tutup pintu kelas dari luar.

Oke, pelajaran kita mulai (kembali membetulkan kacamata)


Jangan Lupakan Sejarah
Mungkin bagi yang senang membaca sering mendengar kata-kata; “Jangan Pernah Melupakan Sejarah”. Kalimat ini pernah dikemukakan presiden pertama kita, Bung Karno puluhan tahun lalu. Dan kalimat ini pun akhirnya dikenal dengan sebutan “Jasmerah”

Ya, sejarah, kehidupan kita pun masuk dalam bagian sejarah. Baik secara pribadi, ataupun umum. Sejarah bisa dilihat dari peristiwa yang pernah terjadi. Baik yang telah terjadi bulan lalu, tahun lalu, puluhan tahun, atau bahkan berabad-abad silam. Dan apa pun yang telah terjadi hari ini, akan menjadi sejarah di kemudian hari. Begitu terus, kehidupan ini berjalan.

Tentu, apa yang telah terjadi hari ini, seratus tahun kemudian orang-orang yang hidup pada masa itu tidak tahu apa yang terjadi pada hari ini kalau mereka telah melupakan sejarah. Begitu pun kita, yang hidup pada masa ini, tentu tidak pernah akan tahu apa yang telah terjadi puluhan tahun atau ratusan tahun lalu kalau kita pun melupakan sejarah.

Karena itulah, seperti yang Bung Karno pernah bilang; “Jangan Pernah Melupakan Sejarah”. Kalimat Bung Karno ini tentu bukan hanya sekadar kata-kata. Karena dalam sejarah, banyak sekali yang dapat diambil pelajarannya. Baik dan buruknya peristiwa yang telah mensejarah, bisa dijadikan pelajaran buat kita.


Menulis Sejarah
Sejarah diketahui melalui tutut lisan atau pun prasasti yang kemudian ditemukan. Seorang penulis, adalah salah satu yang memiliki peran penting dalam mendokumentasikan sejarah melalui tulisan.

Tetapi, kalau mempelajari sejarah melalui pelajaran tekstual begitu saja, memang banyak yang kurang berminat. Kecuali sejarawan atau seorang arkeolog. Karena kelas cendol adalah kelas menulis dan mendiskusikan fiksi, jadi yang kita bicarakan bagaimana menulis sejarah dalam cerita. Lalu dikemas semenarik mungkin, agar orang mau membaca dan tidak bosan dalam bentuk novel misalnya.

Antara Fiksi dan Kisah Nyata
Tidak mudah memadukan fakta sejarah dengan fiksi dan tak banyak penulis yang mampu melakukannya dengan baik. Di Indonesia, salah satu yang terbaik adalah Pramoedya Ananta Toer. Lihat saja bagaiman ia dengan piawainya menghaturkan sejarah kerajaan Singasari lewat novel Arok-Dedes. Kisah kerajaan Mataram melalui tuturan memikat dalam buku gemuk Arus Balik. Dan tentu masterpiece-nya Bumi Manusia, episode awal tetraloginya itu, yang menyoal riwayat hidup Raden Mas Adi Suryo, tokoh pers pertama Indonesia.

Di belakang Pram, ada banyak lagi penulis fiksi sejarah yang cukup rajin dan konsisten dengan jalur yang dipilihnya, antara lain: Remy Sylado, Langit Kresna dengan serial Gajah Mada-nya serta Hermawan Aksan.

Lalu dua tahun belakangan ini, muncul sastrawan muda yang juga konsen menulis novel dengan latar belakang sejarah. Penulis itu siapa lagi kalau bukan guru gaul di kelas cendol, yaitu saya sendiri; PUTRA GARA. (ehem-ehem,)

Dan menulis novel berlatar belakang sejarah, tentu tidaklah semudah menulis cerita fiksi bebas seperti umumnya. Karena semuanya berkaitan dengan fakta. Tetapi, bagaimanakah meramu fakta itu biar menjadi kisah yang menarik.
Dalam novel Samudra Pasai yang saya tulis (terbit tahun 2010. Mizan grup), merupakan novel sejarah kerajaan Islam pertama di bumi Nusantara, yang kegemilangannya hingga sampai Asia Tenggara di abad 13 silam. Fakta dan data tentang kerajaan Samudra Pasai hingga kini masih dalam penggalian. Novel yang tebalnya 465 halaman itu berkisah tentang raja pertama Samudra Pasai hingga kekuasaan di raja ke-2 Pasai.
Lalu novel berlatar belakang sejarah selanjutnya; Kesatria Khatulistiwa (Terbit 2011) adalah novel sejarah berdirinya kerajaan Pontianak di abad 18 silam.
Semua novel itu berdasarkan fakta. Karena ada peristiwa nyata. Tanggal, tahun, dan kejadian yang melingkupi peristiwa itu sendiri.
Lalu novel Susuk Susi yang akan segera terbit, yang kami tulis bareng mayokO aikO dan Reni Erina, itu pun ada sentuhan fakta. Karena Susi adalah sejarah lisan yang telah kami selidiki bertiga. Lalu berkumpullah kami untuk menulis novel itu. Dengan pembagian tugas, aku bagian penggalian data, Reni pembagian karakter, lalu mayokO pembagian plot.
Lalu, dimanakah fiksinya?
Ya mari kita bicarakan sama-sama. Karena kalau didiamkan, saya adalah guru gaul yang paling suka bicara. Jadi nggak akan nada habisnya.
Yuk mulai.

Salam : guru gaul Putra Gara


Cahya Darmayanti: Kalo biografi beliau2 itu, masuk sejarah gak sih? kayaknya -mungkin- ada rekayasa cerita juga
Pak Guru Gara: biografi masuk dalam sub sejarah. tetapi dia hanyalah bagian dari sejarah. misal cerita serangan fajar, itu sebenarnya menceritakan perjuangan pak harto waktu masih jadi serdadu di yogya, tapi dikemas melalui kisah serangan fajar

Kaspul Darmawi: mengulang PERTANYAAN buat guru Putra Gara (saat diluar kelas tadi): dalam menulis novel sejarah apakah penulis harus observasi dan mengali seluruh informasi sejarah sebenarnya? bagaimana membelokkan sejarah jadi novel... apa tidak menyimpangkan sejarah???.....sejauh mana bumbu fiksi boleh diselipkan dalam novel sejarah?
Pak Guru Gara:fakta dan fiksi dalam novel berlatarbelakang sejarah pada intinya saling menguatkan.Karena ini novel sejarah, jadi jadi observasi dan penggalian data memang diperlukan. tujuannya untuk menguatkan berbagai hal. misalnya seting, karakter orang, dan aroma yang ada di lingkungan sekitar. kita memang bisa menulis indahnya bali dari balik jendela rumah, tetapi akan lebih kuat ketika kita dapat merasakan hijaunya lumutpura di pinggir pantai panida misalnya. dll

Mayoko Aiko ‎| Nanya Mas Guru...
Kenapa begitu sedikitnya penulis fiksi sejarah? Apakah karena costnya yang muahal karena melalui proses riset dulu? Atau memang novel jenis ini memiliki keunikan tersendiri!
Jawab!
Nanti sama PHK kalo ga dijawab.
Pak Guru Gara:PAK KEPSEK YANG KEREN : kalau penulis novel sejarah memang masih langka, mungkin karena beberapa hal. pertama: perlu konsentrasi yang ekstra, karena berkaitan dengan literatur yang harus pahami dulu. masalah anggaran... heheh ini juga salah... satunya. karena untuk observasi, diperlukan dana. dan tentu, semua itu untuk mendukung kekuatan dalam seting, karakter sosial budaya yang terjadi di masa itu ditempat yang kini tersisa. pendek kata, kita akan membuat novel itu bukan sekadar kisahnya, tetapi aroma lumpur sawahnya pun dapat kita gali dalam untaian kata.

Dela BungaVenus Jika ingin mengetahui sejarah kerajaan di jateng th 1625. Sebaiknya drmn sj kt menelusuri literaturnya? Bahasa saat itu? Kebiasaan2 raja Dan rakyatnya? Hal2 semcm itu deh...jg ritual agama mrk? Krn saat kt menulis kan kita sgt peril tabu secr detail kebiasaan org2 dijaman yg di maksudnya toh? Gmn mas gara?
Pak Guru Gara:sangat manusiawi. hitam putih manusia selalu ada sejak dulu dan sekarang. menulis novel sejarah kita mau melihat dari sudut pandang yang mana. misal tentang gajah mada. kalo kita ceritakan tokoh gajah madanya, tentunya si penulis akan menulis sisi gajah mada yang subyektif

Putu Felisia kemarin sempat nanya, kalau buat kerajaan fiktif gitu bisa ndak? misalnya kerajaan kecil di bali yang dibuat sama penerus kerajaan majapahit waktu kerajaan itu hancur beberapa abad silam...kalau Da Vinci Code itu termasuk apa*murid yang bawel*
Pak Guru Gara:kalau novel sejarah, harus ada fakta sejarahnya juga. kalau kerajaan fiktif ya itu sudah novel fiktif.

Nayottama Bekti Cakradhara kalau cerita Mahabarata dan Ramayana itu sejarah bukan?bagaimana cara kita mengeksplorasi sumber sejarah yang kadang sangat minim?
Pak Guru Gara:mahabarata adalah idiologi, sebuah turur pelajaran dari kisah baik buruk hidup yang dapat diambil hikmahnya

Ria Rahmatika tanya: cara memfiksikan sejarah itu bagaimana pak guru dan bagaimana cara menulis novel sejarah agar pembacanya gak bosen? *ketahuan, gak suka sejarah
Pak Guru Gara:untuk membaca novel sejarah agar gak bosen, ya kembali pada pembacanya. dia minat atau tidak. tetapi kalau menulis novel sejarah agar enak dibaca dan perlu hehehe, harus kembali kepada penulisnya. nah kemampuan seorang penulis inilah yang harusbisa membuat kisah berlatarbelakang sejarah ini biar enak dinikmati. satu, bawa pembaca pada khayalan hidup yang terjadi pada masa lalu seolah2 di depan mata. karena itulah perlu observasi. dua, buat dramatis tanpa menghilangkan unsur faktanya. tiga banyak membaca tulisan atau buku lain sebagai pembanding bagaimana agar mengemas novel sejarah yang sudah ada, tetapi gak bosen untuk yang akan kita bu

Nimas Aksan: Pa guru gaul Putra Gara, mau tanyaa...bolehkah kita menovelkan sejarah dengan gaya kita sendiri...dan bolehkah kita memberikan sentuhan-sentuhan dramatik yang belum pernah diangkat dalam sejarah itu sendiri, misalnya sejarah Dyah Pitaloka-Gajah Mada, yang ternyata dibalik urusan sumpah palapa atau perang bubat, memendam romantisme tersendiri...atau menovelkan karakternya dengan sangat jelas, misalnya bagaimana keseharian Dyah pitaloka itu....suka ke salon, negrumpiin hayam wuruk, dll...Bolehkah paak? Paaakkk...bolehkah Paaakkk...???
Pak Guru Gara: ada novel berlatarbelakang sejarah yang ditulis hermawan aksan, dyah pitaloka, novel itu mencerikanan bagaimana justru gajahmada jadi musuhnya (Ini buat jawaban pertanyaan mana ya? *Mulai Puyeng*)

Ambia Mursalin Iskandar II Kalau ada hal Negatif yang kita ketahui dari beberapa narasumber, tentang Tokoh seseorang yang ingin kita jadikan Tokoh dalam tulisin kita , sedangkan Tokoh tersebut diketahui banyak orang adalah bukan orang yang punya kesalahan/hal negatif seperti yang kita dengar dari narasumber terpercaya tersebut. itu bagaimana pak?Sebelumnya, bagaimana kita bisa tahu Informasi Sejarah yang kita dapat itu benar adanya atau tidak? kepada siapa kita bertanya? bagaimana cara kita bertanya?
Pak Guru Gara:gak papa. kan tinggal dilihat dari sudut pandangnya. semuanya tergantung kita bagaimana mengemasnya. justru pembaca akan semakin gregetan di permukaan dia tampak baik, ternyata dilalamnya malah ancur

Dyani T. Wardhyni: Pak guru Putra Gara. 1) kalau memang benar menulis sejarah harus sama seperti aslinya dan gak boleh ngarang, saya mau tanya, misalnya pada beberapa adegan yang menjadi kebiasaan yang berbeda dengan kenyataan, misalnya saya mengambil contoh kec...il dari kejadian nyata yang difilmkan (film Marsinah, saat ditangkap, ada polisi yang merokok, padahal kenyataannya polisi yang menangkapnya bukan perokok), nah andai membuat novel tentang sejarah, apa betul harus sedetail itu tahu kebiasaan para masing2 tokohnya??? 2) kalau begitu dari situ bermain dengan fiksi dalam menulis sejarah yang harus fakta??? tapi kalau tokoh utamanya harus tetap nyata dan sebenarnya??? baik itu waktu, tempat, suasana yang terjadi??? oia kalau untuk menutupi karakter yang tidak sesungguhnya??? misalnya menganti nama, bolehkah pak guru??
Pak Guru Gara:gak juga kaku seperti itu. masalah karakter tokoh sentral, harus fokus pada karakter personal. pendukungnya kadang pelengkap dalam cerita. disitulah sisi fiksinya

Gurita Sahzou ‎1)ramuan apa yg manjur untuk melahirkan nove sejarah tidak hanya kuat disegi fiksi tapì juga makna sejarahnya dapat diperlihatkan dg real,shg pembaca seolah-olah berada pada periode tsb!2)apa tidak terlalu banyak mengada2 kita menulis novel sejarah hny dg sumber bk& tempat yg sudah jelas bnyk mengalami perubahan?
‎3)porprosinya antara fakta dan fiktif berapa persen?untuk dinyatakan novel itu sudah dikategorikan dlm novel sjrh? Atau bebaskah?
Pak Guru Gara:sumber buku diperlukan, tetapi observasi juga sangat diperlukan. karena itu berkaitan sesuatu yang belum dituliskan

Divin Nahb: Opa Guru saya mau tanya;
1. Sampai sejauh manakah batasan riset sebuah kisah yang akan kita angkat melalui sejarah.
2. Kira-kira dalam satu kisah sejarah, waktu yang kita perlukan untuk menggali sejarah tersebut berapa lama? Ini berdasarkan ...pengalaman Opa guru aja yaaa...
3. Bagaimana kita mengetahui kadar karakter tokoh yang kita tulis itu pas atau tidak. Karena jangan sampai ada kesan karakter A mengapa jadi lebay. Bagaimana mensiasatinya Opa guru?
Pak Guru Gara:1. tidak ada batasan risetnya. semakin kita banyak mendapatkan data, semakin bagus untuk bahan novel kita.waktu yangperlukan untuk menulis novel sejarah tidak ada batasannya juga. itu tergantung penulisnya. ada yang cepat, ada juga yang lambat. aku sendiri ada yang aku tulis cepat, ada yang aku tulis lambat. tanya kenapa, ya terkantung situasinya

Cahaya Terang Tanya, gmana cara membedakan isi dalam novel sejarah. Mana yang fiksi dan mana yang non-fiksi (yang berdasar dari sumber sejarahnya). Terimakasih.
pak Guru Gara: yang membedakanfiksi dan no fiksi adalah : misal novel gajahmada, tokoh gajah mada itu non fiksi. lalu misal tahun peristiwa, misal tahun 1350, majapahit menyerang samudra pasai. itu juga non fiksi. yang fiksinya, gajahmada begitu geram, ketika didapati kabar, diujung barat nusantara ada kerajaan yang gemilangnya melebihi dari majapahit. lalu ia pun mengerahkan pasukannya untuk menyerang pasai.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar