Laman

Sabtu, 10 Maret 2012

CENDOL, 14 DESEMBER 2011




Cerita Anak
“Gampang Dibaca”, bukan berarti “Gampang Ditulis”
Oleh Ali Muakhir

Helen Diehl-Olds, seorang pengarang wanita yang terbiasa menulis untuk bacaan orang dewasa, setelah bersusah payah berusaha menulis cerita anak, akhirnya berhasil membuka pintu penulisan buku anak-anak.

Olds memulai menulis untuk anak-anak di majalah, tidak langsung menulis buku karena penerbit buku sudah pasti banyak perhitungan, terutama dengan mempertimbangkan pasar (market).

Apa kesimpulan Helen setelah berhasil menyelesaikan tulisan-tulisannya? Dia menyimpulkan dua hal: pertama, cerita untuk anak itu harus mengandung suatu ide yang besar, kedua ceritanya harus menyenangkan.

Ide besar misalnya, sesuatu yang mencerminkan kebutuhan anak-anak, memberinya teman, memberinya kemudahan, membantu anak untuk bisa menerima keadaan yang sudah tidak bisa diubah.

Anak, meskipun masih kecil, senang merasa dewasa karena itu mereka ingin selalu belajar sesuatu dari apa yang pernah dibacanya. Oleh karena itu, bacaan yang mengarahkan pada sesuatu yang baik, amat disarankan.

Olds suka membaca buku cerita anak-anak yang sudah diterbitkan dan membandingkan gaya tulisan buku-buku tersebut dengan gaya penulisannya, semata-mata untuk meyakinkan apa tulisannya sudah sesuai untuk anak-anak apa belum sesuai?

Olds akan memperhatikan pembukaannya, bagian tengahnya, dan penutupnya. Dia tidak jarang pula menuliskan temanya, membuat daftar tokohnya, dan mencatat cara si pengarang menampilkan tokohnya dalam adegan.

Olds mempelajari proporsi  antara dialog dan teksnya, panjang kalimat, dan paragrafnya. Kemudian untuk mendapatkan gambaran jelas, Olds tidak segan pula mengutip cerita tersebut dengan mengetiknya kembali hanya untuk mengira-ira berapa banyak halaman yang harus dia tulis untuk sebuah cerita.

Melihat perjalanan Olds sungguh bukan cara yang mudah untuk menerobos dunia kecil itu. Olds bahkan kemudian membuat kesimpulan, bahwa cerita anak itu “Gampang dibaca”, tetapi bukan berarti “Gampang ditulis.”[A]

11.06
Usia berkelana
Bandung, 29 April 2011


T & J

1.Ari Kinoysan Wulandari: "Bagian tengah yg seperti apa biar anak nggak bosen bacanya?"
Kang Ale: Mbak Ary, biar anak nggak bosen, setiap alur harus ada iramanya ... bayangkan kalau anak membaca bacaan anak, wajahnya lurus-lurus aja, nggak pake senyum, atau tawa, pasti alurnya bikin bosen tuh

2.Nisa Salwa: "Cerita anak itu berbeda-beda ya bahasanya...tergantung usia ya ?"
Kang Ale:"Nisa, Bahasa berbeda setiap usia: Balita, SD kelas 1-3, SD kelas 4-6.

3.Prima Sagita: "Dapet inspirasi drmn buat nama TOWET? apa ada artinya?"
Kang Ale:Dapet Inspirasi TOWET dari kisah Nabi Ibrahim

4. Donatus A. Nugroho: "Secara kacamata awam, apa beda prinsip antara bacaan anak dan bacaan remaja/dewasa ?"
Kang Ale: "Donat. Beda yg sangat prinsip pada cerita anak dg dewasa adalah: masage-nya: cerita anak tidak sebebas cerita dewasa."

5.Tantry Adithya: "Gampang di baca itu gimana contoh nya pak guru? contoh nya cerita toto-chan gadis cilik di jendela. bukan?"
Kang Ale:"Gampang dibaca ... contohnya: aku duduk sendirian di pojok kantin ^_*"

6.Anisa Widiyarti: "Dikatakan, anak2 senang dengan merasa dewasa. Apa artinya kita boleh bikin cernak dg tema yg 'agak berat'?"
Kang Ale:Anak-anak sok dewasa, pasti Nisa suka merasakan? Nulis berat boleh aja, asal masih bisa ditakar.

7.Weni Wahyuni: "Dalam penulisan cerita anak itu, gaya bahasanya apakah harus sederhana saja agar mudah dipahami anak atau perlu juga permainan majas?"
Kang Ale: Majas boleh saja, asal tidak bikin anak garuk-garuk dengkul ... maksudnya yg kira2 masih bisa dimengerti. Bahasa sederhana bukan berarti minim kata lho ...

8.Indah Prisilia Joedo: "Kalau nulis cerita anak itu apa harus yang temanya sederhana begitu ya? Tapi bukannya kalau tema sederhana itu malah anak2 bosan bacanya?? Takut aja kalau sampai mereka punya pikiran "ah..udah pernah baca" mungkin gak sih??"
Kang Ale: sederhana, sesuai dg usianya, ya ... anak TK lebih baik kasih tema pengembangan diri, anak sd kelas 1-3 mulai yg berfantasi-fantasi, kelas 4-6 mulai pada kehidupan nyata ... kayak persahabatan, dll

9.Princess KriestaJRs: " Princess KriestaJrs om,... aku suka cerita anak2.. aku juga punya satu cerpen anak2... tapi belum yakin benar atau tidak setelah melihat postingan om ini.... hihihi "
Kang Ale: Belom yakinnya kenapa? Kalau dari ceritanya coba dibandingkan dengan cerpen2 yg ada di majalah anak-anak

10. Nessa MetaKartika: (maaf, gak nemu pertanyaannya apa)
Kang Ale: "Nessa, masing-masing punya tingkat kesulitan, jadi jangan menyerah kata D'Masiv mah!"

11. Zen Horakti Mas Ali Muakhir : Saya punya konsep yang saya pengen buat cerita anak, kisahnya fantasy, tentang seorang anak yang ingin mencari dewa agar bisa mengembalikan kampung halamannya yang terserang tsunami dan tenggelam. Bagaimana ya,agar kisah fantasy agar lebih mudah masuk dalam imajinasi anak? Heee..."
Kang Ale:"Zen, kisah fantasi yang membuat anak percaya adalah kisah fantasi yang didesain sangat meyakinkan ... contoh doraemon; mengapa dia punya kantong ajaib? Itu alasannya jelas, jd klo mau buat kisah fantasi, tidak asal tulis, konsepnya harus jelas

12. Adnan Buchori Sy ingin bikin pic book Tapi rasanya semua ide yg saya punya udah pernah ada dan dibuat oleh penulis yg lain. Saya hrs bagaimana?
Kang Ale:Adnan, jangan takut nulis picbook dg tema yg sudah ada, tinggal cari ide penceritaannya karena pasti setiap penulis punya cara yg unik saat menyampaikan ide-idenya, jadi lanjut aja


Tidak ada komentar:

Posting Komentar