Laman

Jumat, 23 Maret 2012

CENDOL 23 MARET 2012




TENTANG PUISI DAN PUITIS
oleh: Farick Ziat


Apa bedanya puisi dan puitis?
Pertanyaan ini sering terlontar dan kerap dengan nada menggugat. Terutama oleh seseorang penulis yang mencoba menulis puisi, namun saat memamerkan karyanya dikomentari dengan singkat saja: Ini bukan puisi, tapi hanya sekumpulan kata-kata puitis. Dan inilah puisi yang ditulisnya…

GELORA RINDU

wahai sang rembulan
aku rindu belaian
cintaku yang tersimpan
pada sang pujaan

andai saja ia tahu
betapa hati ini merindu
menggelora di dalam kalbu
yang telah lama membeku

Mengapa hanya dinilai puitis dan tak diakui sebagai puisi? Secara bentuk ini sudah mutlak benar sebagai puisi. Lihat, betapa bagus bentuknya. Tiap bait terdiri dari empat larik. Bait pertama rapi menggunakan akhiran “an” dan baik kedua “u”.
Masalahnya, puisi tak hanya dinilai dari bentuk yang bisa saja terdiri dari tiga atau empat larik dan
persamaan bunyi pada akhiran. Tapi, banyak unsur lain yang menjadi penilaian. Ada unsur IMAJI yang membuat larut seusai membacanya dan menjadi pintu gerbang untuk memasuki ruang pencarian makna yang tersirat dalam lariknya . Ada DIKSI yang harus terasa personal dan menghindari kesan klise, juga cerdas dalam menggunakan metafora. Ada MAJAS ( gaya bahasa ungkap) yang merangsang pembaca untuk merenung. Ada PESAN yang tersurat sekaligus tersirat . Ada RIMA / NADA yang indah saat dibaca.
Maka, wajarlah jika GELORA RINDU itu hanya mendapat label puitis. Dia tak merangsang pembacanya untuk berimajinasi. Diksinya “pasaran”. Majasnya seperti anak sekolah yang mendapat tugas dari guru bahasa.
Jadi, apa bedanya puisi dan puitis?
Kalian pasti bisa merasakan dan membedakannya. Bisa saja, jangan-jangan, menurut kalian tak ada bedanya. Itu sah-sah saja.
Maka, jangan ragu, ungkapkan jawabanmu.

Salam
Kaefzet



DISKUSI SUKER & CENDOLERS:


Hylla Shane Gerhana
Puisi itu : 1. Ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra dan rima serta penyusunan larik dan bait. 2. Gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat. Sehingga mempersadar seseorang akan pengalaman hidup dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama dan makna khusus. 3. Sajak sebagai bentuk puisi yang lebih bebas dari pakem.
Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan –poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Definisi puisi yang pada umumnya dikemukakan oleh para penyair romantik Inggris sebagai berikut. (1) Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat berhubungannya, dan sebagainya.  (2) Carlyle mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Penyair menciptakan puisi itu memikirkan bunyi-bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya, kata-kata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti musik, yaitu dengan mempergunakan orkestra bunyi.  (3) Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Adapun Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur.  Dari definisi-definisi di atas memang seolah terdapat perbedaan pemikiran, namun tetap terdapat benang merah. Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 1993:7) menyimpulkan bahwa pengertian puisi di atas terdapat garis-garis besar tentang puisi itu sebenarnya. Unsur-unsur itu berupa emosi, imajinas, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur.
Puitik: Yang berhubungan dengan tanda-tanda Semiotik Semiotik sendiri berasal dari kata Yunani “semeion”, yang berarti tanda. Semiotik adalah cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistam tanda dan proses yang berlaku bagi penggunaan tanda (van Zoest, 1993: 1). Lebih lanjut Preminger (Pradopo, 2003: 19) semiotik itu mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti. Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain yang dapat berupa pengalaman, pikiran, perasaan, gagasan, dan sebagainya (Nurgiyantoro, 2002: 40).
Apa yang dikatakan Hylla Shane Gerhana itu benar. " Gelora rindu, untuk puisi kamar atau curahan hati sudah bisa dibilang puisi." Namun, itu hanya secara bentuk. Dia tanpa isi dan kita yang membacanya tak mendapat rangsangan apa-apa seusai membacanya. Puisi yang baik haruslah menyiratkan kesan dan pesan dalam, Majas dan diksinya diperhitungkan dengan matang.

Ayu Ira Kurnia M 
Hadir menyimak  Om
Suker menurut saya yang dimaksud puisi itu ialah yang memiliki unsur-unsur puisi yang sudah kita ketahui. Sedangkan Puitis kata-kata yang terlihat romantis, tanpa ada unsur-unsur yang mengikatnya. Benar nggak om FarickZiat
Farick Ziat
Yah, secara umum, puitis bisa dikatakan rangkaian kata-kata indah, tapi tak mengandung isi.

Adhiet's Ritonga
Um, menurutku. Puisi itu ialah kata - kata yang telah tersusun rapi, indah dan bermakna. Sedang puitis ialah, kata yang telah menjadi puisi memiliki metafora yang romantis. Artinya keromantisan suatu diksi. Demikian semoga membantu.

Pilo Poly Cendolers ‎|
Apalagi untuk sekarang, seseorang dengan bebas bisa mengapresiasi segala sesuatunya dalam tulisan. Entah nanti tulisan tersebut dibilang apa. Mau puisi atau pun bukan. Yang penting larik bagus, ada rima, ada majas dan ada bait. seperti contoh puisi ini. Aku tuliskan untuk seseorang :

Setangkup Ucap


Kau tak harum lagi
Lantaran busa alkohol
mengawal sajakmu:
dalam kelap malam aku tertipu
"Ah, apa perduliku." sanggahan badan.
Menetralkan pikir. Namun, secara jejak yang ingin kubuang, ada setangkup salah yang tak termaafkan. Tentang membiarkanmu larut sempoyongan. Mungkin sebentar mati di trotar.
"Aku harus berbalik." cibir kelam hati menelangsa. Mengubah jarak berpintu harap. Agar ia kembali membuka bibir, bukan untuk meneguk barang haram. Tapi kembali ke jalan sajak yang pernah ia janjikan pada malam pun alam.

Pilo Poly
22/03/2012

Dan :

Dik
Tidus bernaung gerah
menelusur undur
tentang kasih
mengasih

di musim dingin
engkau berkabar kabung
di neger ilmu
dia gugur

Dik, Tidus
usah pupus
kasih di sini masih
Dengan cara lain, welas asih

Pilo
23/03/2012

Bagaimana menurutmu Mas Farick Ziat?

 Wow. Kini semakin tahu bedanya puisi dengan "kumpulan kata-kata puitis". Kata-kata puitis tak mesti berbentuk puisi, disusun secara teori ke bawah, misalnya, ia bisa berbentuk paragraf dalam cerpen.
Tapi jika puisi, sudah tentu ia memiliki 'keterikatan' dengan beberapa aturan : unsur imaji, diksi yang personal, majas, ada rima, ada pesan.
Noted! Kereen!

Nah, itu dia, Om, yang kadang bikin saya bingung. Pernah saya baca satu buku kumpulan puisi (Om Don juga baca buku yang sama) isinya luar biasa galau, tapi gak ada satupun isinya yang bisa saya kupas. kalau saya ibaratkan, puisi itu mirip kacang kulit, akan lebih nikmat kalo kita kupas kulitnya dulu. dalam buku itu hanya menyuguhkan 'biji kacang' tanpa 'kulitnya'. jadi kalimat-kalimatnya berasa hambar.

menurut Acep Zamzam Noor. Puisi yang baik adalah puisi yang menggetarkan bulu kuduk. tapi menurut saya puisi yang baik tidak bertele-tele.
Apa yang dikatakan Jacob Julian juga benar "menurut Acep Zamzam Noor. Puisi yang baik adalah puisi yang menggetarkan bulu kuduk. tapi menurut saya puisi yang baik tidak bertele-tele." Dan puisi yang tidak bertele-tele itu kekuatannya pada opini dan sasarannya jelas. Ini bisa dilihat dari Sajak-Sajak Pamflrt Rendra. Tujuan sajak itu jelas bobotnya. Jadi kekuatannya pada bobot, faktualisasi, kritikannya dan datanya.

Hmm... Maaf
Jadi menurut saya puisi itu kata-kata puitis dengan tingkat lebih tinggi. Membuat pembaca menghayal dengan diksi-diksi yang tepat. Tanpa melupakan unsur-unsur puisi tersebut.

Tentang Puisi Dan puitis, kita menulis puisi sebagai bahasa dan kita pun, membaca puisi dengan membayangkan orangnya - penyair yang menulis puisi itu. dengan yang terakhir imaji imaji dalam puisi membuat bahasa mengundang kita untuk merenungkan manusia dalam hidupnya yang nyata. kita pun termenung oleh sebuah bayangan yang bergerak ke bawah ranjang. kita dari diterobosnya bahasa oleh segenap hidup nyata juga, yang konvensional. bahwa tak ada kata tanpa bendanya. dan kata dalam puisi membuat kita menghidup bendanya yang, benda itu, dalam hal ini aku-lirik - oleh pengetahuan kita akan penulisnya - penyair yang membuat puisi itu menjadi puitis - maka benda yang kita bayangkan pun bergerak ke arah penyair dan oleh itu pula kita lalu membayangkan kata puitis seolah sang kita fakta itu, kini kelihatan dengan jelas telah - entah bagaimana caranya dia masuk itu, atau kita menyisakan ruang mungkin, untuk sebuah pengimajinasian. Bentuk-bentuk isi puisi bergerak menjadi penyebut dan puitis.
Maaf jika lancang, Tp itu pandangan awam.
Salam.

ada yang mensyen aku ya?? aku setuju banget dengan pendapat di atas..
namun yang perlu kita garis bawahi, bahwa definisi (karya) sastra juga udah berubah, jika mengacu pada apa yang telah dijelaskan diatas... tidak hanya berlaku pada puisi, tapi juga menjalar pada cerpen, novel, sampai flash fiction.. jujur, aku sendiri juga enggan membaca novel atau cerpen yang menurutku tak "bernilai", dalam bahasa di atas "puisi yang cuma puitis" setidaknya memiliki makna yang sama... dan, saya dapat menganalisis, bahwa (karya) sastra yang saat ini sedang booming kebanyakan adalah apa yang telah disebutkan dalam pengertian di atas; sekadar puitis. pengertian "sekadar puitis" ini bisa dilekatkan dalam semua genre karya sastra, namun dalam kacamata yang berbeda...
bagiku sendiri, yang benar-benar masuk kategori (karya) sastra adalah ia yang memiliki nilai edukatif. namun kenyataan yang terjadi dalam dunia kesusasteraan kita akhir-akhir ini cenderung mengabaikan nilai edukatif, lebih menekankan aspek hiburan semata. maka buyarlah hakikat (karya) sastra yg melekat padanya...
hanya sedikit sekali yang benar-benar memenuhi hakikat (karya) sastra...
tapi, semua itu sih bersifat relatif. tergantung subyektifitas pembaca. pendapatku sudah pasti berbeda dengan yang lain. jadi sah-sah saja jika ada yang tak sependapat denganku, tinggal bagaimana kita menyikapi perbedaan itu...

 Gus Mus juga membuat kesimpulan-kesimpulan puisi kecil dan pendek yang menggugah. Mudah-mudahan menginspirasi...

Semula dengkurnya menggangu tidurku. Kini tak lagi.
(Nurani)

Jika terbit disini
Aku tak peduli akan tenggelam dimana
(Matahari)

Laut,
Aku ingin meminum habis airmu
Tapi untuk apa?
(Laut)

Bulan,
Ayo berpandang-pandangan
Siapa yang lebih dahulu berkedip
Menemukan atau kehilangan pesona wajahNya
(Bulan)
Ki Sentanu, aku sangat tergoda dengan puisi-puisi pendek Gus Mus itu. Puisi itu menyodorkan imaji yang begitu luas. Aku yakin, membaca hari ini dan membaca besok, kita bisa beda mengartikannya. Itulah yang dikatakan multi tafsir.
TANYA: Kadangkala kata-kata biasa yang puitis pun seringkali disebut puisi. Sebab yang diorientasikan menurut mereka adalah diksi dan maknanya yang terpenting. Nah apakah dengan menyekat-nyekat ruang ini yang puitis dan ini yang puisi, apa tidak memperkosa hak kebebasan itu sendiri (dalam membuat puisi)?
Om Farick Ziat!
Setiap puisi pastilah bisa dikatakan puitis. Tapi puitis belum tentu puisi.

TANYA : ini apakah puisi atau puitis :
ada banyak cara melacurkan diri
salah satunya menjadi politisi
ada banyak cara menjadi kyai
salah satunya pakai sorban dan kopiah haji
ada banyak cara disebut orang sakti
salah satunya tahan terhadap caci maki
 AD Rusmianto sesungguhnya kau sudah banyak mengerti. Kenapa ruang ini tak kau gunakan untuk berbagi? Tak perlulah kita saling menguji.
astagfirulloh, saya saja salah. dan masih perlu belajar. intinya om Farick Ziat jangan hanya bertumpu pada puisi lama. dengan mengandalkan unsur bunyi dan pola rima. tapi di samping itu masih ada banyak puisi modern, kontemporer, mbeling, cobalah untuk tidka menyimak dari satu sisi jenis puisi saja. untuk apa ada puisi baru atau puisi kontemporer jika kita terus-terusan berkutat di wilayah puisi lama.
maaf, bukan mengetes atau menguji, cuma ingin mendengar pendapat om farick tentang puisi yang lain. tidak hanya puisi lama. jikalau itu dianggap menguji, ampun seribu ampun. tak ada niat, kembalikan kepada diri dan niat kita belajar. 
salam takzim
 AD Rusmianto, aku menikmati semua jenis puisi. Bagiku, tak ada istilah puisi lama, puisi baru, puisi mbeling, puisi gelap, puisi kamar, puisi apalah. Itu tak lagi penting dalam penciptaan. Yang ada hanya puisi yang baik dan bisa menyampaikan makna buat jiwa kita.
oke om Farick Ziat, bertolak dari : aku menikmati semua jenis puisi. Bagiku, tak ada istilah puisi lama, puisi baru, puisi mbeling, puisi gelap, puisi kamar, puisi apalah. Itu tak lagi penting dalam penciptaan. Yang ada hanya puisi yang baik dan bisa menyampaikan makna buat jiwa kita. makanya saya tanya, tadi sebab ketika anda merubah puisi saya men jadi seperti itu, dan menyamakan persepsi dengan Ari Kelingyang ada a-b-a-b nya, makanya saya tanya tentang puisi : ada banyak cara untuk melacurkan diri
salah satunya menjadi politisi
itu merupakan sebuah puisi pamflet dan puisi mimbar bagi saya. kenapa saya bertanya puisi itu termasuk puisi atau puitis, karena perbedaan itu, yang menurut om farick tak ada istilah. makanya saya tanya itu. silakan dijawab.
Betapa senangnya aku andai AD Rusmianto mau menerangkan dengan jelas tentang definisi yang tepat tentang puisi dan puitis. Aku percaya padamu. Ayo, ditunggu.
Kalau semua menyodorkan dengan pertanyaan sama, apakah ini puisi ataukah bukan? Apakah ini puitis ataukah bukan? Hmm, kayaknya perlu ditempelkan dulu dalam diri kita sendiri. Bahwa apa yang kita tulis kan niatnya memang nulis PUISI, ya tho?
Ki Sentanu, sebab dari setiap komentar itu tak ada definisi tepat apa itu puitis dan apa itu puisi, yang ada hasil copas dari sebuah web tentang puisi. wajar kalo yang koment bertanya, dan kebertanyaannya itu karena ketidaktahuan dan rasa ingin tahu.
setuju dengan Aby Santika II : apa yang penyair cari saat menulis(kan) puisinya?

Om Farick Ziat: Setiap puisi pastilah bisa dikatakan puitis. Tapi puitis belum tentu puisi.
Kayaknya pernyataan ini yang perlu dikupas!
Dan jawabannya om Farick: Sederhananya, puisi bisa mengandung banyak arti. Tapi puitis jelas terirat maknanya yang tersurat.
Gimana...
Beuh, puisi-puisi... :)
Puisi adalah kehidupan. Dalam puisi, penyair dengan berbagai pertimbangan, kata mana yang harus digunakan dari sekian juta kata yang tersedia: pilihan diksi. Begitu juga dengan sebuah kehidupan, jalan mana harus digunakan untuk mencapai yang sebenar-benarnya sebuah kehidupan. Hasil pertimbangan dalam mencapai sebenar-benarnya sebuah kehidupan disebut sebagai puisi. Semakin banyak jalan yang ditempuh, maka akan semakin banyak pertimbangan yang dihadapinya. Tetapi dalam puisi, semakin banyak pertimbangan-pertimbangan yang dipergunakan, maka akan semakin matang pula serat-serat puisi dan penyairnya.
Maaf, Om Farick Ziat
Makasih, Ki Sentanu. tapi, itu menurutmu. kalau menurut AD Rusmianto, bagaimana ya?
bagi saya puisi mencipta dunia kata. kalo puitis, saya nggak tahu, sebab bagi saya yang namanya puitis itu lebih ke bahasa dari kata-kata puisi. entah bagi orang lain. tapi bagi saya puitis itu ya adalah puisi. kata yang puitis mungkin ada unsur imajinasi atau ada majas yang bermain di dalamnya. kalo memang ada definisi lain tentang puisi, sudah jelas dipaparkan sama mbakHylla Shane Gerhana yang copas tadi di atas.
silakan dijawab pertanyaan saya tadi :
termasuk puisi atau puitis :
ada banyak cara melacurkan diri
salah satunya menjadi politisi
ada banyak cara disebut kyai
salah satunya pakai sorban dan kopiah haji
ada banyak cara disebut orang sakti
salah satunya tahan terhadap caci maki
silakan dijawab om, jika mau diskusi, bertanya, dan komentar harus ada unsur pembanding, tidak hanya satu saja.
AD Rusmianto  itu jelas puisi. masuk jajaran puisi auditorium. Hmm, susunan berbentuk pantun itu kan termasuk gaya lama juga. Meski puisimu itu baru dibuat. tapi majasnya kok gaya lama juga, ya? Aku tak menemukan gaya puisi baru di sini. Ini juga bisa digolongkan puisi satire. tapi, tetap saja tak ada unsur barunya. Ternyata, diam-diam kau menyimpan banyak kenangan tentang puisi gaya lama.
hmm....itu penggalan dari puisi Acep Zamzam Noor yang judulnya Ada Banyak Cara, pernah saya dan kawan-kawan pentaskan dalam qasidah modern. 
terima kasih om jawabannya. ^_^. Manstap




Titis Nariyah
Suker, mau tanya tentang puisi sarkatis dan contohnya, terimakasih sebelumnya^^


Bintang Kirana
TANYA : Om suker, jadi puisi yang sebenarnya seperti apa?

Titik Srikandi Darma Aloena
tanya suker, kalau saya bilang puisi pasti puitis tapi puitis belum tentu puisi, benar tidak ya?

Kasma Maret 
*duduk samping Bintang* TANYA Berarti puisi tidak harus mengandung suatu majas, ya, mas

Alisia Adella Meilisia
Tanya : yang dimaksud ruang IMAJI itu maksudnya, dari kata-kata puitis, tersirat sesuatu yang biasa terjadi ya? Contoh, Dewa sudah mati dikuilnya. Maksudnya, Sudah tak ada kebenaran di tempatnya. seperti itu kah?


Alisia Adella Meilisia
Tanya : yang dimaksud ruang IMAJI itu maksudnya, dari kata-kata puitis, tersirat sesuatu yang biasa terjadi ya? Contoh, Dewa sudah mati dikuilnya. Maksudnya, Sudah tak ada kebenaran di tempatnya. seperti itu kah?
TANYA SUKER :
bagaimana bisa membuat puisi yang bagus? :D
TANYA : Merujuk kepada komen Kak Hylla Shane Gerhana, Ada istilah puisi kamar atau curahan hati? Bagaimana ini, Suker Farick Ziat? Lalu ada istilah puisi apalagi?
TANYA : Jadi bagaimana cara yang tepat membuat puisi tapi bukan puitis. Kadang kita sering terkecoh dalam menentukan diksi dan pemilihan katanya Om.
TANYA : unsur-unsur yang ada kalo dalm menulis kan banyak sekali. Ada nada, irama, diksi, dan lainnya. Kalo dalam sebuah puisi, ada yang tidak memenuhi 1 saja unsur itu. Apakah disebut PUISI?
Selamat sore all cendolers..
TANYA : apakah puisi itu harus puitis? aku juga kalau membuat puisi masih miskin majas T.T
TANYA : Om Farick Ziat, contoh di atas kan baru puitis, bisa dicontohkan yang layak dikatakan puisi seperti apa? Trus, kalo itu termasuk puitis apakah masih bisa diperbaiki agar layak dikatakan jadi puisi dari tulisan puitis itu?
Aku jawab untuk semua, ya. Banyak jenis puisi yang sesungguhnya kita tak perlu memikirkan itu. Ada istilah puisi kamar. Biasanya puisi ini cenderung bersifat personal dan butuh perenungan. Butuh, pengendapan saat dibaca dan (biasanya) tidak asyik jika dibaca di panggung. Ada puisi auditorium, ini puisi yang enak untuk dibaca di panggung. Isinya transparan, jelas tertuju untuk apa.
TANYA : Contohnya seperti apa ya kak yang puisi auditirium.
Puisi yang baik memang memang bisa multi tafsir dan itu menjadi keistimewaannya.

TANYA : Bagaimana sih caranya membedakan puisi dengan puitis. Soalnya dalam berpuisi menurutku juga menggunakan kata -kata indah seperti puitis. Terkadang karna kalimat-kalimata indah itu, saya sendiri kadang bingung mengambil nada dan amanat yang disampaikan.
TANYA: Maaf om Farick, apakah setiap puisi harus puitis?
Puisi yang tegas atau unsur puitisnya lebih sedikit, ada kan?

TANYA : ini puisi atau puitis:
pegangi wajahku dalam ingatanmu
sebelum detak makin cepat
tinggalkan detik
yang tak mau melambat
menurutku itu puisi. Tapi, akan lebih baik jika kata “pegangi” diganti “pegang” saja dan dan kata “Detik” diubah “waktu agar bentuk dan nadanya terasa lebih indah . Jdinya seperti ini
pegang wajahku dalam ingatanmu
sebelum detak makin cepat
tinggalkan waktu
yang tak mau melambat
Apakah terasa perubahannya AD rusmianto?


TANYA: Bagaimana memasukkan ruh dalam kata-kata puitis supaya menjadi puisi?
Tanya: Bolehkah saya mengirimkan satu puisi untuk dinilai, apakah puisi tersebut itu adalah puisi atau puitis?

Kau tak harum lagi
Lantaran busa alkohol
mengawal sajakmu:
dalam kelap malam aku tertipu
Apa yang kukutip dari puisi Pilo itu, jelas kalimat yang mengandung imaji. Sayang, di bagian selanjutnya dia tercecer dan gelagapan sendiri karena belum matang menggodok idenya sendiri.

Tanya : Hanya setetes embun yang dimiliki kerdil.
Di teriknya pancaran gemerlap
Raksasa meneguk embun itu
dari mulutnya dia meneguk *ini puisi atau puitis ya om Farick Ziat


Puitis: Aku sangat merindukanmu, kembalilah kekasihku, agar pupus semua kelabu.
Puisi: Tengoklah ruang kosong di sana, makin sepi dan renta, sejak tak ada kau di dalamnya.
gini, Om?
atau,
Puitis: Wajahmu sungguh cantik, bagai bidadari surga.
Puisi: Seperti ribuan kunang-kunang, hadirmu adalah surga untuk malam jalang.
*makin linglung
Suhe Herman dengan cerdas menggambarkan beda puitis dan puisi
Puitis: Aku sangat merindukanmu, kembalilah kekasihku, agar pupus semua kelabu.
Puisi: Tengoklah ruang kosong di sana, makin sepi dan renta, sejak tak ada kau di dalamnya.
atau,
Puitis: Wajahmu sungguh cantik, bagai bidadari surga.
Puisi: Seperti ribuan kunang-kunang, hadirmu adalah surga untuk malam jalang.


TANYA : Apakah membuat puisi itu bisa dilatih layaknya membuat cerpen? Semakin sering latihan menulis maka semakin bisa lah kita menulis. Atau untuk menulis puisi tidak bisa seperti itu? Perlu perasaan peka seperti yang disebut suhe dikomen atas? Aku termasuk orang yang kesulitan membuat puisi om..rasanya masih sulit menuangkan perasaan, ide, dalam bentuk puisi.
 ada yang pengen dipanggil, pa Dosen Tatang Pahat, silakan masuk
Apakah menulis puisi itu bisa dilatih seperti menulis cerpen? Tentu saja bisa. caranya juga tak berbeda. Banyak membaca buku puisi. Coba mencari persamaan kata, rajin mencari metafora, lambang atau simbol untuk suatu rasa. Kata ganti "sepi" yang paling kusuka kutemukan pada puisi Afrizal Malna. Dia mengganti "Sepi" dengan "Pasar kehilangan orang". Melambangkan jiwa yang beku dengan kata "salju" saat ini sudah terlalu umum. Kita harus mencari metafora yang lebih unik dan segar.

Tanya: Om Farick dan kawan cendoler mohon ilmunya :)
Ketika hidup tak lagi hidup
Nyata mulai menyeret maya
Yang tak pernah memungut derita
Namun pasti acuh terasa mengerak di jiwa

KOMEN : satu lagi pemahamanku, puisi dibuat dengan tujuan yang jelas. Bukan hanya untuk dinikmati dari bahasanya yang indah tapi dari tujuan ditulisnya puisi tersebut.

Tanya: "Kalau ada orang mengatakan puisi sudah pasti puitis, namun kata-kata puitis belum tentu puisi." Menurut guru Farick Ziat, apakah pernyataan ini benar atau salah?
tanya : berarti intinya bagaimana kita meramu kosakata yang ada agar memiliki makna ?

Komentar: berarti kesimpulannya puitis masih bisa diubah agar bisa dikatakan puisi.
*manggut-manggut
Salah langkahnya adalah pada diksi yaitu dengan cara mengganti kata-kata yang klise dengan kata-kata yang tidak biasa.
Tanya: Selain itu apalagi Om Farick Ziat?
Komentar: Kata multi tafsir sering muncul dari tadi. Aku jadi berimajinasi tentang sebuah lukisan, terutama lukisan abstrak seperti lukisannya Afandi. Maaf jika di luar koridor, hanya mencoba menganalogikan dari imajinasiku.
KOMEN : mba Wergu analogi sederhana tapi benar-benar tepat menurutku. Satu puisi ketika dibaca oleh orang berbeda maka akan memiliki makna yang berbeda. Bahkan walau dibaca oleh orang yang sama, tapi diwaktu yang berbeda maka maknanya pun akan berbeda. 
Benar tidak kesimpulanku ini, mas Farick Ziat
Kesimpulanmu benar Kasma Maret. Kita pasti berbeda mengartikan puisi pendek Gus Mus itu. Tapi, kita bisa merasakan makna yang tersirat. Dan itulah keistimewaan puisi.

Contohnya Pak, kalau diksi prosa yang puitis seperti apa?
Biasanya media mana yang menyediakan prosa-prosa puitis?
Hardia Rayya kau bisa menemukan puisi yang menggunakan bahasa prosa dalam puisinya Sapardi Djoko Damono.
Farick Ziat Aku lupa judulnya dan bentuk penyusunannya. Namun puisi karya Isma Sawitri ini membekas dalam diriku. Aku tak pernah lupa lariknya. Dan betapa nikmat imaji yang ditawarkannya.
Sebab usil tanganmulah
Yang mengusik sarang lebah
Hinga dia berdengung ngung ngung ngung
Mencari tempat berlindung

yang udah pinter, mari berbagi dengan teman-temannya. yang belum terus menyimak. Aku mau tanya : puisi panggung, apa ya tadi istilah kerennya, sebaiknya ditulis seperti apa? puisi pamflet juga sebaiknya ditulis seperti apa? sebab 2 macam puisi ini harus pas ketika dibacakan. aku suka kesulitan menentukan jeda yang pas kalau tidak mempelajari dengan cermat makna puisi jenis itu. setidaknya ketika dibacakan penonton paham apa yang ingin disampaikan dalam puisi itu.
puisi panggung: puisi auditorium
*kalau nggak salah baca tadi
Nita Tjindarbumi puisi panggung diistilahkan dengan puisi auditorium. puisi pamflet seperi yangbbelakangan ini sering ditulis Adhie Massardi.

Komen: Saya sangat suka puisi. Baik membaca atau menulisnya. Tapi saat menulis saya tidak mau terpasung apakah yang saya tulis itu puisi atau sekedar puitis. Saya menulis puisi karena ada dorongan kuat dari hati untuk menuliskanya. Dan lega bila sudah tertulis. Saya serahkan penilaian kepada yang membaca. Kagum atau kritik takkan pengaruhi kelegaan hati saya. Jadi menulis puisi itu saya rasakan seperti kebutuhan yang harus segera terpenuhi begitu dorongan hati itu mendesak-desak.

Ilham Anugrah kata dibatasi dengan sekat antara puitis dan puisi nampaknya kurang pas. Sebab tak ada sekat. yang ada hanya perbedaan. Sederhananya, puisi bisa mengandung banyak arti. Tapi puitis jelas terirat maknanya yang tersurat.

anya: Nah om Farick kalau memfrasekan puisi gimana? *pertanyaanku ini ada hubungannya nggak ya
mba Djami, memparafrasekan puisi adalah membuat puisi menjadi sebuah cerita, dengan menambahkan kata-kata yang akan membuat puisi tersebut diartikan. Ini menurutku .
Contoh parafrase puisi
aku duduk sendiri
menatap rembulan
berusaha mengartikan ketidakhadiranmu
Parafrase puisi diatas
akududuk sendiri, menatap rembulan yang ada di langit dan berusaha mengartikan ketidakhadiranmu disisiku. (lagi-lagi ini menurutku)

 tanya: kalau perbedaan antara puisi dan syair itu apa,Om?

Kalau puisi kamarnya sekeren ini, aku suka membaca dan terinspirasi banget: Puisi Kamar dan Puisi Auditorium
Istilah puisi kamar dan puisi auditorium dipopulerkan oleh Leon Agusta dalam buku kumpulan puisinya, Hukla. Puisi kamar ialah puisi yang cocok dibaca sendirian atau dengan satu atau dua pendengar saja. Puisi kamar lebih berisi perenungan sehingga pemaknaannya bisa dicapai lewat pemikiran yang tenang. Kebanyakan puisi Sapardi Djoko Damono bisa dikategorikan dalam jenis puisi kamar. Salah satu contoh untuk disebutkan adalah puisi berjudul Aku Ingin.

Aku Ingin
Aku ngin mencintaimu dengan sederhana :
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ngin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.


Parafrase Puisi
Contoh:
Perhatikan puisi Chairil Anwar berikut ini:
HAMPA
kepada Sri
Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti. Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.
Dengan teknik parafrase ini kita tambah beberapa
kata agar lebih mudah dipahami.
HAMPA
kepada Sri
(keadaan amat) Sepi di luar (sana).
(Keadaan) Sepi (itu) menekan-(dan) mendesak.
Lurus kaku pohon(-pohon)an (disana).
(pohonan itu) Tak bergerak
Sampai ke puncak (nya). Sepi (itu) memagut(ku),
Tak satu kuasa (pun dapat) melepas-(dan me)renggut(nya
dariku)
Segala(nya hanya) menanti. Menanti. (dan) Menanti (lagi).
(menanti dalam) Sepi.
(di) Tambah (lagi dengan keadaan saat) ini (,) menanti jadi
mencekik (malah)
Memberat(kan dan)-mencekung (kan) punda (kku)
Sampai binasa segala(-galanya). (itu pun) Belum apa-apa
(bahkan) Udara (pun telah) bertuba. Setan (pun) bertempik
(sorak)
Ini (,) (peraan) sepi (ini) terus (saja) ada.
Dan (aku masih tetap) menanti.
NB: Teknik parafrase ini hanya diperlukan bagi puisi-puisi yang
amat minim kata-katanya. Bila suatu puisi telah tersusun dalam
kata-kata yang mudah dipahami, maka tidak diperlukan lagi membuat
parafrase.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar