Laman

Kamis, 22 Maret 2012

Esensi Dialog Adalah Belajar


Esensi Dialog Adalah Belajar
Oleh: Arista Devi
BMI Hong Kong asal Jawa Timur

Beberapa minggu yang lalu (Minggu, 12 Februari 2012), diberitakan bahwa Dialog KJRI dan Organisasi BMI Hong Kong, sempat sedikit panas, dan diakhiri dengan Demo. Karena merasa jawaban untuk pertanyaan dan tuntutannya, tidak sesuai apa yang diinginkan, BMI meninggalkan ruangan dialog sebelum usai waktunya.
Seperti kita ketahui bersama, berbagai macam dialog sudah ditempuh sebagai jalan penyelesaian untuk penguraian benang kusut sehubungan persoalan yang membelit Buruh Migran Indonesia (BMI) di Hong Kong. Tapi sampai dengan hari ini, hampir semua dialog antara perwakilan BMI dan pihak Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) sebagai perwakilan pemerintah di Hong Kong, kalau tidak boleh dikatakan gagal, selalu berakhir dengan hasil yang tidak memuaskan.
Hal ini disebabkan adanya kesalahpahaman pada penyamarataan maksud dan tujuan antara dialog, diskusi dan debat. Sehingga meskipun judulnya dialog, yang sering terjadi adalah sebaliknya, yaitu diskusi dan debat, baik debat terbuka dengan lawan bicara maupun debat intern dalam diri sendiri.
Seharusnya kedua belah pihak sebelum berdialog mengerti tujuan sebenarnya dari dialog, yaitu untuk menyingkap ketidak logisan dalam pemikiran. Dengan melakukan dialog, diharapkan akan ditemukan atau terbangun kembali sebuah kesadaran kolektif akan suatu permasalahan yang original dan kreatif. Jadi bisa dibilang, proses dialog adalah proses penyadaran pemikiran bersama dalam menghadapi atau menyelesaikan persoalan yang dijadikan tema dialog.
Dialog secara etimologi terdiri dari dua kata yang berasl dari bahasa yunani διά (dia) yang artinya jalan batu cara dan λόγος (logos) yang berarti kata, sehingga dialog dapat diartikan sebagai bagimana cara manusia dalam mengunakan sebuah kata. ( sumber:en.wikipedia.org)
Untuk lebih memahami apa itu dialog yang sebenarnya, pemikiran David Bohm (1917-1992), seorang fisikawan yang mengembangkan teori komunikasi yang berbasis pada teori kuantum dan teori relativitas, patut dipertimbangkan. Menurutnya, dialog bukan diskusi. Bahkan, dialog berlawanan dengan diskusi yang punya kecenderungan menuju sebuah goal tertentu, mencapai sebuah persetujuan, memecahkan persoalan atau memenangkan opini seseorang. Dialog bukan sebuah teknik untuk memecahkan persoalan atau sarana resolusi konflik. (sumber:kaosblog.com)
Sedangkan Hans-Georg Gadamer (1979:347)melukiskan dialog sebagai proses dua pihak yang saling memahami satu dengan yang lain, di mana setiap orang membuka dirinya untuk menerima cara pandang orang lain sebagai hal yang layak dipertimbangkan. (sumber: kaosblog.com)
Dialog sebenarnya menyatakan proses berpikir dan perubahan cara berpikir menjadi proses berpikir yang kolektif. Pada proses dialog, saat orang lain berkata sesuatu, pihak lain mendengarkan dan memberikan respon yang menyatakan bahwa ia sependapat dengan orang yang sebelumnya. (sumber : wikipedia.org/bohm_dialogue)
Menurut saya sendiri, dialog adalah proses dua belah pihak yang belajar untuk saling memahami satu dengan yang lain dalam bertukar informasi sesuai tema yang dibicarakan. Dalam sebuah dialog, sekelompok orang dapat mengeksplorasi prasangka-prasangka (apriori, pre-judgments) yang secara halus mengontrol suatu proses komunikasi. Prasangka (ide, keyakinan, perasaan) inilah yang sebenarnya berperan penting dalam menentukan suatu komunikasi sukses atau gagal. Jadi dialog dengan demikian bisa menjadi sarana observasi secara kolektif untuk menyingkap nilai-nilai dan intensi-intensi tersembunyi, yang mengontrol perilaku kita.
Sudah seharusnya sebuah dialog menjadi suatu arena dimana ‘collective learning’ terjadi, memunculkan perasaan harmoni, persahabatan dan kreatifitas demi kebaikan bersama. Karena kondisi alamiah dialog yang eksploratif, maka memang sebenarnya tidak ada suatu metode yang tetap dan aturan yang baku untuk dijadikan sebagai dasar dialog.  
Kembali kepada dialog antara perwakilan BMI dan KJRI di Hong Kong, ada baiknya jika sebelum mengadakan dialog kedua belah pihak mempelajari pemikiran, dorongan dan prasangka yang ada di dalam diri masing-masing, meskipun ini hal yang berat. Karena dalam sebuah dialog, selain harus mendengarkan orang lain, hal yang tak kalah penting dalam dialog adalah mendengarkan diri kita sendiri. Perlu dicatat bahwa kemampuan mendengar sama pentingnya dengan berbicara.
Dalam proses dialog, peserta dialog harus membawa ke permukaan segala reaksi, dorongan, perasaan dan opini sehingga hal-hal tersebut bisa dilihat dan dirasakan dan juga direfleksikan oleh orang lain. Dengan menaruh perhatian pada dorongan dan perasaan yang selama ini begitu kuat mendeterminasi secara bawah sadar bagaimana kita melihat dan bersikap terhadap orang lain maka perasaan itu, layaknya pencuri, akan merasa malu dan melepaskan cengkramannya.
Jika tahapan ini sudah bisa dicapai, maka akan bisa dilihat makna yang lebih dalam yang terbentang dalam proses pemikiran dan merasakan struktur yang tidak koheren dari setiap tindakan yang secara otomatis selalu dilakukan kedua belah pihak, yaitu merasa paling benar dan bertahan keras dengan opininya. Bahasa Jawanya: ‘Menange dhewe’ atau membenarkan diri sendiri.
.Jika dalam berdialog, baik BMI maupun KJRI mampu mengungkap setiap prasangka yang tersembunyi, maka seluruh proses yang mengalir dari pikiran, ke perasaan, ketindakan dapat menyingkapkan sesuatu yang lebih dalam, makna yang lebih halus, yang membawa ke suatu koherensi baru atau dalam istilah Bohm, collective intelligence.
Jika tidak mulai dipahami apa itu dialog mulai sekarang, meskipun mengadakan dialog ribuan kali dan membuang-buang banyak waktu, yang bagi BMI sendiri teramat terbatas, maka dialog sama halnya dengan sekedar judul saja. Dan ketika mendengar kata dialog, akan muncul satu kata: ‘bosan’.
Dimuat Majalah PEDULI, edisi April 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar