Laman

Sabtu, 31 Maret 2012

"HK Permanent Residents"


Keputusan terakhir tentang kesempatan BMI menjadi "HK Permanent Residents" dinyatakan gagal?


Keadilan dan pembebasan diri dari diskriminasi merupakan keinginan setiap orang, tidak terkecuali untuk kami sebagai Buruh Migran / Tenaga Kerja Wanita di negara penempatan seperti Hong Kong. Maka dari itu beberapa bulan yang lalu, kami yang diwakili oleh organisasi dan didukung oleh sebagaian anggota legislatif dan buruh lokal di Hong Kong menuntut hak agar bisa mendapatkan permanent residen atau menjadi warga resmi di Hong Kong.

Mencuatnya berita tentang penuntutan diberlakukannya permanent resident ini banyak menimbulkan sikap pro dan kontra dari berbagai kalangan, tidak terkecuali diantara BMI sendiri. Ada yang mendukung, ada yang menentang dan ada juga yang no reken alias tidak peduli.

Sebenarnya bagi kami yang peduli dan mengerti apa dan mengapa perlu adanya permanent resident itu bukan dikarenakan keinginan untuk berpindah status kewarganegaraan tapi lebih kepada apa yang dinamakan keadilan dan perlawanan terhadap diskriminasi ras.

Dengan adanya permanent resident diharapkan BMI bisa berubah status pekerjaan dari yang selama ini hanya diperbolehkan berkerja di sektor informal bisa berkerja di sektor formal. Dan tentunya tidak lagi menerima perlakuan berbeda dengan warga lokal yang seringkali diskriminatif.

Setelah melewati proses perdebatan dan peradilan pertama yang sempat dikabulkan, kemudian berlanjut pada urusan lain-lain yang rumit, berbelit dan panjang, pada akhirnya tuntutan permanent resident yang sudah sampai di tingkat banding (ketika tuntutan dikabulkan disidang pertama oleh hakim, pihak pemerintahan Hong Kong belum menerima dan mengajukan banding) diberitakan ditolak. (Hong Kong, 23/3)

Eni Lestari, perwakilan BMI dalam sebuah siaran berita di salah satu stasiun teve Hong Kong terkait penolakan tuntutan resident permanent. (fot:YS)


Berikut ini beberapa komentar kawan-kawan sesama BMI di Hong Kong yang saya simak dan temukan di beranda facebook. ^^



"Nggak apa-apa Mbak, orang bulan 7 aku pulkam kok :))" (DV)


"Gpp mulih mulih,,,,:)" (RK)


"Sudah diprediksi... toh juga ga semua pengen jadi HK Permanent Residents." (YG)


"Klu aku blas gak pingi dadi wong hk, Tetap cinta indonesia sampai mati hehe" (UP)

"Setuju dg Mbk UP...cuma oknum Dan orng2 itu itu ae sing ngotot....Herman deh" (FR)

"Aamiin.....keputusanku tepat berarti tahun depan pulang nikah adalah keputusan tepat hahaha" (RM)

"Aku tetap ingin pulang kampung, mulai jenuh dgn kehidupan HK" (MS)

"SEbenarnya hak residen hk bukan berati kita harus tinggal di HK dan ninggalin indonesia selamanya.Tapi karena kita bsa memilih pekerjaan apapun yg kita mau,dan tidak tergantung dengan kontrak. Jadi kalau dbolehkan,ada hikmahnya juga.tp kalo tdk boleh ya udah,aku yora mekso. Itu kalo menurutku.hehe" (MP)

"All : saya(meski pegang PR) tetep Cinta Indonesia, toh pd akhirnya kami akan menghabiskan masa tua di INA. HK utk cari nafkah boleh, tp utk tempat tinggal??? No way !" (YS)


"Ya.. Setuju mbk Yuni... Permanent residen setidaknya mampu membuat Prt migran terbebas Dr aturan 2 Minggu jika Prt di terminit oleh majikan... PR bukan untuk tinggal di Hk selamanya... Untuk mencari nafkah saja" (SA)


"I lope Indonesia" (IM)


"Ane dah duga. kss itu bisa jadi sengaja diangkat jelang pemilu hong kong, untuk membangun sentimen negatif kpd para legislator hk yg selama ini peduli kepada kita para buruh. ane gak begitu memahami latar belakang teman2 filipina kita yg mengajukan review uu ke pengadilan. tapi boleh juga diintip2, sedekat apa mereka dg kelompok2 lawan politiknya politisi yg selama ini turut memperjuangkan nasib buruh dan pekerja. terbukti setelah pengadilan di tingkat pertama memenangkan mereka, politisi2 seperti lee chuk-yan dll yg selama ini berjuang bersama teman2 kehilangan suara sangat signifikan. kelompok anti buruh migran yg ane duga dekat dg RRT tak kuatir, karena toh keputusan akhir ada di daratan sana" (RK)

"Setidaknya masih Ada orang2 Hk Yg Peduli dgn nasib buruh Migran, n dgn isu ini semakin jelas Siapa Yg pendukung buruh Migran n Siapa Yg anti buruh Migran Yg mayoritas adalah pekerja Rumah tangga" (SA)


" Kawan2, Menurut saya berjuang memang perlu ambil langkah maksimal. minimum kita tahu hasilnya. Jika tdk mencoba maka tdk pernah tahu. Ini bukan masalh ingin atau tidaknya jadi residen tp mengikis diskriminasi." (EL)


"Sebenarnya PR itu kalo dibolehkan pasti tdk gampang untuk mendapatkannya. Tapi setidaknya kalo dibolehkan itu berarti tdk ada diskriminasi. Dan kita bebas untuk memilih.
Tetap semangat untuk kwan Eni dan Sring. Berjuang tdk harus mendapakan buahnya. Kadang kita hanya mendapatkan daunnya, rantingnya atau bahkan tak mendapatkan apa2. Yang penting kita sudah berani memperjuangkan." (YA)


"Untk mbk eny n mbk sringatin tetep cemangat.td sy jg sempet leat beritana" (EY)

"Dear All , terimakasih utk semua koment, masukan dan ekspresinya ttg topic pagi tadi. 
Perjuangan memang blm berakhir, namun jgn pernah berhenti bersyukur.bukankah keadaan kita di HK (jauh) lbh baik,aman dan terlindungi drpd temen2 yg merantau dinegara lain? semoga kita bisa lebih menjadi pribadi yang bijaksana dengan lebih banyak mendengar, membaca dan memahami pola pikir yang berbeda.
Salam" (YS)

Colection News about DMW


http://en.wikipedia.org/wiki/Foreign_domestic_helpers_in_Hong_Kong
http://globalspin.blogs.time.com/2012/03/29/in-hong-kong-a-setback-for-domestic-worker-rights-2/
http://www.nytimes.com/2012/03/29/world/asia/hong-kong-court-overturns-ruling-on-domestic-workers.html
http://www.asianews.it/news-en/Government-wins-appeal-in-domestic-worker-residency-case-24363.html
http://www.voanews.com/english/news/asia/Hong-Kong-Court-Rules-in-Favor-of-Domestic-Worker-Residency-Rights-130844413.html
http://www.timeout.com.hk/big-smog/features/44149/the-burning-issue-domestic-helpers.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar