Laman

Senin, 05 Maret 2012

Indonesiaku Tersenyum


Indonesiaku Tersenyum
*Arista Devi*

Aku adalah bagaian dari anak-anak negeri yang tersingkir dari negeri sendiri karena keadaan yang tidak memberi pilihan. Pendidikan yang lebih mahal dari emas, pekerjaan yang langka bagai benda peninggalan jaman purba. Dan tuntutan biaya hidup yang tidak mempedulikan logika, semakin melengkapi menu makanan sehari-hari yang memaksaku bermigrasi. Tetapi biar bagaimanapun semua tidak menumbuhkan benciku pada Ibu Pertiwi. Dari negeri pengasingan diri, aku masih bisa bermimpi. Memimpikan Indonesiaku tercinta, mengharapkan mimpi indah tentang negeriku menjadi nyata.
Setiap hari aku menyaksikan keadaan negeriku yang carut marut, terpampang jelas di layar kaca dan surat kabar, bak sebuah drama tragedi berepisode unlimited. Masih ditambah lagi dengan berita yang terdengar dari radio dan telepon, suaranya memiriskan nyali, bagai sandirawa berlakon ratapan anak tiri. Menimbulkan ketegangan, menumbuhkan emosi dan menguras airmata. Yang tersisa untukku atau mungkin juga untuk yang lain adalah nelangsa dan keprihatinan.
Mimpiku tentang Indonesia raya menghias hari-hariku, kulukiskan tanpa kanvas. Namun terpatri dalam dinding nurani yang tersimpan rapi dalam ruang hati. Lukisan wajah Indonesiaku Tersenyum. Negeri subur zamrud khatulistiwa kembali ceria dengan rona warna pelangi di wajahnya. Anak-anak negeri yang tidur terbangun, yang terbuang pun kembali pulang, bersatu dalam laskar cinta membangun puing-puing menjadi istana. Bukan istana mewah nan megah tanpa penghuni, melainkan istana indah berisi kedamaian.
Pemimpin negeriku adalah sang Alimin yang amanah, punggawanya berseragam kejujuran dan dilengkapi senjata pedang bermata kebenaran. Undang-undang negeriku tidak hanya menjadi bahan bacaan tetapi menjadi teori wajib praktek untuk seluruh penghuni negeriku tanpa terkecuali. Pendidikan dikemas rapi dan dibagikan merata pada seluruh warga. Lapangan pekerjaan diperluas hingga menampung sesuai kapasitas. Dan harga-harga yang berterbangan tak terjangkau tangan ditangkap dan diturunkan sedemikian rupa.
Subhahanallah … membayangkan mimpiku, membayangkan “Senyum Indonesiaku” ada rasa syukur tak terhingga sepanjang waktu kepada-NYA. Aku percaya mimpi itu bukan sekedar mimpi, jika aku dan segenap anak-anak negeriku mau berdoa dan berusaha, tiada hal yang tak mungkin jika DIA menghendakinya. Yah, tentunya tak semudah membalik telapak tangan, butuh kerja keras. Tetapi bukankah sesuatu itu akan indah pada waktunya?

***
*Naskah terfavorit dalam event MuMu Writing Contest 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar