Laman

Senin, 05 Maret 2012

Negosiasi sebagai ‘Jalan Terang’ untuk KJRI dan BMI Hong Kong




Negosiasi sebagai ‘Jalan Terang’ untuk KJRI dan BMI Hong Kong
*Arista Devi*

Dialog antara Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) dan Organisasi Buruh Migran Indonesia (BMI) Hong Kong untuk kesekian kalinya menemui ‘jalan buntu’. Bahkan sempat memanas dan diakhiri dengan demo (Minggu, 12/02/2012).
Sebagai bagaian dari BMI, saya merasa prihatin dengan apa yang terjadi. Meskipun berbagai jalan sudah ditempuh oleh perwakilan kami (baca: Organisasi BMI), pada kenyataannya persoalan yang kami dapati semakin rumit dan membelit. Dan yang menambah rasa prihatin adalah tidak adanya kepastian atau solusi dari perwakilan pemerintah (baca: KJRI) yang seharusnya bertanggungjawab. Diakui atau tidak, KJRI adalah salah satu penyebab baik secara langsung atau tidak langsung persoalan BMI, terutama dengan segala peraturan dan keputusan yang merugikan BMI.
Sudah ratusan kali aksi massa (demonstrasi) digelar dan puluhan kali dialog dilaksanakan, hasil akhirnya lagi-lagi hanya menambah barisan panjang dari penyebab hilangnya ‘respek’ BMI kepada perwakilan pemerintahnya. Sedang bagi KJRI sendiri pun tentunya bertambah kesal dan menganggap BMI hanya mempermalukan mereka saja. Jika keadaan seperti ini terus berlanjut, maka kemungkinan untuk terjadinya kekerasan di antara dua pihak besar kemungkinan akan terjadi, kecuali keduanya masih memiliki kesabaran unlimited.
Jika demo maupun dialog terus menerus menemukan jalan buntu, mungkin ada baiknya sebagai alternative berikutnya, bisa diadakan negosiasi antara kedua belah pihak agar menemukan ‘jalan terang’ (baca: solusi).
Negosiasi merupakan kosakata yang sudah sering terdengar. Karena negosiasi merupakan proses yang sering sekali dilakukan dalam hidup dan sering pula secara tidak sengaja dilakukan dalam pergaulan sehari-hari. Misalkan pada saat melakukan transaksi di pasar, interviu pekerjaan dan lain-lain. Sebagaimana namanya, pengertian dari negosiasi berbeda dengan demo ataupun dialog.
Negosiasi adalah sebuah bentuk interaksi sosial saat pihak-pihak yang terlibat dalam persoalan yang sama berusaha untuk saling menyelesaikan tujuan masing-masing yang berbeda dan bertentangan. Menurut kamus Oxford, negosiasi adalah suatu cara untuk mencapai suatu kesepakatan melalui diskusi formal.
Bisa dikatakan negosiasi merupakan suatu proses saat dua pihak ingin mencapai kesepakatan/perjanjian yang dapat memenuhi kepuasan semua pihak yang berkepentingan dengan elemen-elemen kerjasama dan kompetisi termasuk di dalamnya, tindakan yang dilakukan ketika berkomunikasi, kerjasama atau memengaruhi orang lain dengan tujuan tertentu.
Negosiasi menurut Suyud Margono adalah: “Proses konsensus yang digunakan para pihak untuk memperoleh kesepakatan di antara mereka.” Negosiasi menurut H. Priyatna Abdurrasyid adalah: “Suatu cara di mana individu berkomunikasi satu sama lain mengatur hubungan mereka dalam bisnis dan kehidupan sehari-harihnya” atau “Proses yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan kita ketika ada pihak lain yang menguasai apa yang kita inginkan”.
Berdasarkan beberapa pengertian negosiasi yang saya kutip di atas, negosiasi bisa dipahami sebagai sebuah proses yang kompleks, dimana para pihak yang ingin menyelesaikan permasalahan, melakukan suatu persetujuan untuk melakukan suatu perbuatan, melakukan penawaran untuk mendapatkan suatu keuntungan tertentu, dan atau berusaha menyelesaikan permasalahan untuk keuntungan bersama (win-win solution).
Dengan adanya negosiasi di antara KJRI dan Organisasi BMI sebagai perwakilan dari kedua pihak, pemerintah Indonesia dan warganya, tentunya diharapkan ada cara bagi dua pihak untuk mempertemukan kepentingan, baik berupa pendapat, pendirian, maksud, dan tujuan yang berbeda untuk mencari kesepahaman dan mendapatkan kesepakatan.
Mungkin menjadikan negosiasi sebagai pilihan ‘jalan terang’, tidak semudah seperti saya menuliskannya. Tetapi perlu disadari bersama, diterima atau tidak, bahwa negosiasi sering kali diperlukan dalam kehidupan manusia karena sifatnya yang begitu erat dengan filosofi kehidupan manusia. Dimana setiap manusia memiliki sifat dasar untuk mempertahankan kepentingannya, di satu sisi, manusia lain juga memiliki kepentingan yang akan tetap dipertahankan, sehingga, benturan kepentingan terjadi. Padahal, kedua pihak tersebut memiliki suatu tujuan yang sama, yaitu memenuhi kepentingan dan kebutuhannya.
Sebagai BMI saya menyayangkan terjadinya benturan kepentingan antara KJRI dan BMI. Semua itu sebenarnya tidak perlu terjadi, andai saja KJRI sebagai perwakilan pemerintah Indonesia mengaplikasikan fungsinya dengan membuat kebijakan yang bijaksana, khususnya terhadap persoalan yang dihadapi BMI. Dan tidak lagi berkilah menunggu keputusan atau jawaban dari Jakarta, atau yang lebih miris lagi mengatakan bahwa mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah keputusan dari pusat.
Sebagai catatan penting yang perlu diingat, jika dijabarkan fungsinya, dipahami dan diaplikasikan, antara KJRI dan BMI bukanlah rekan atau saingan bisnis. Tetapi keduanya memiliki hubungan satu pihak sebagai pelindung dan pihak lain sebagai yang seharusnya mendapatkan perlindungan. Untuk penjabaran hubungan keduanya, mungkn bisa saya tuliskan lain kali.
Kembali kepada negosiasi, meskipun negosiasi merupakan proses yang kompleks, tidak ada salahnya untuk dijadikan pilihan. Apalagi ketika dialog menemukan jalan buntu dan kesia-siaan. Memang tidak ada jaminan akan sukses tidaknya suatu negosiasi, tapi semua kembali kepada kedua pihak yang bersangkutan. Jika mau sedikit menepis ego dan mengesampingkan emosi, pasti keduanya bisa menemukan kemudahan dalam menjalaninya. Semoga.

Hong Kong, 28/02/2012
*Penulis adalah BMI Hong Kong asal Jember, Jawa Timur.
Dimuat Koran Berita Indonesia, Edisi 3 Maret 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar