Laman

Senin, 05 Maret 2012

Perempuan dan Sebuah Pengakuan


Perempuan dan Sebuah Pengakuan
*Arista Devi*


Dalam bulan-bulan ini sebagai kaum perempuan saya merasa bangga. Karena pada tanggal 08 Maret dan 21 april, adalah hari spesial yang menunjukkan eksistensi perempuan sesungguhnya. Yakni Hari Perempuan Sedunia atau International Woman Day dan Hari Kartini.

Hari Perempuan Sedunia di cetuskannya pada tahun 1910 oleh Clara Zetkin, seorang aktivis demokrasi sosial dari Jerman, pada sebuah konferensi perempuan sosial kedua yang digelar di Kopenhagen, Denmark. Dan terwujud pada tahun 1911 setelah terjadinya demonstrasi di berbagai negara di Eropa dan Rusia, yang menuntut persamaan hak perempuan dalam bidang politik, sosial dan ekonomi. Sedangkan Hari Kartini sendiri diperingati sebagai pengakuan terhadap adanya emansipasi perempuan di Indonesia.

Hari Perempuan Internasional dijadikan hari libur resmi serta diperingati oleh segenap penjuru negara di dunia. Sedangkan Hari Kartini juga dijadikan hari libur nasional dan dirayakan oleh segenap kaum perempuan Indonesia. Keduanya sepertinya di jadikan sebagai sebuah momentum untuk menunjukkan bahwa kaum perempuan telah diakui memiliki persamaan hak dengan kaum laki-laki.

Namun, kenyatannya sangat memprihatinkan, masalah kesetaraan atau keadilan gender yang telah diperjuangkan dan diakui sejak ratusan dan puluhan tahun lalu. Masih menjadi bahan perdebatan karena munculnya pro dan kontra dari masyarakat bagaimana mereka berpendapat tentang perempuan dan peranannya.

Bukan rahasia lagi jika menurut mitos, perempuan hanya memiliki peran dalam urusan sumur, dapur dan kasur. Perempuan masih sering dianggap sebagai mahluk lemah yang dijadikan subordinasi dari laki-laki, yakni peletakan perempuan sebagai abdi. Eksistensi perempuan kerap kali hanya sekedar pusat reproduksi, dimana perempuan menjalankan tugas rumah tangga yaitu mengandung, melahirkan, mengasuh anak, serta memasak.

Pandangan tersebutlah yang menjadi penyebab penindasan terhadap perempuan berawal dan mengakar menjadi budaya patriarki. Budaya yang menetapkan kaum laki-laki lebih tinggi dan dominan dalam hal politik, ekonomi, sosial dan budaya maupun pendidikan di banding perempuan hingga jaman sekarang ini.

Fenomena eksploitasi dan penindasan terhadap perempuan dalam berbagai sendi kehidupan masih sering terjadi dan berlipat ganda. Semua itu di  sebabkan pendidikan yang tidak memadai, keadaan ekonomi negeri yang semrawut, juga kehiduan sosial politik yang semakin amburadul.

Contoh nyata bisa di lihat dengan adanya pekerja rumah tangga. Di Indonesia yang meskipun katanya negara merdeka, perlindungan terhadap pekerja rumah tangga sangat minim, kalau tidak boleh di katakan tidak ada sama sekali. Banyak sekali pekerja rumah tangga diperlakukan sebagai jongos, dengan jam kerja yang panjang dan upah murah atau terkadang ada juga yang tanpa upah samasekali.

Bahkan dalam berbagai kasus pada perempuan yang diakibatkan menjadi korban perdangan manusia (trafficking) atau di sebabkan kekalahan ekonomi seperti terjerumus dalam pelacuran. Masih sering dinilai sebagai kesalahan sosial yang semua di bebankan pada bahu perempuan. Padahal, seharusnya itu bukan kesalahan mereka semata.

Dalam bidang industri, perempuan yang menempati posisi sebagai buruh sangat rentan terdiskriminasi akibat pembangunan industri yang tdak bertujuan untuk kepentingan rakyat. Hal ini terbukti dengan adanya upah murah dan tidak terpenuhinya hak-hak perempuan sebagai buruh oleh majikan, dan kondisi ini sudah mencapai tahap memprihatinkan.

Proses pengiriman buruh migrant ke luar negeri yang di dominasi oleh kaum perempuan, juga merupakan bukti nyata eksploitasi terhadap kaum hawa. Eksploitasi yang memihak kepada kapitalisme (sistem dimana keuntungan hanya ditangan segelintir orang), menjadikan kaum perempuan sebagai bahan komoditas, sebagai barang dagangan, tanpa di perhatikan tingkat kesejahteraan maupun perlindungannya.

Ketika semakin memahami dan menyimpulkan, rasa bangga saya berubah menjadi suatu keprihatinan yang mendalam dari seorang perempuan terhadap nasib kaumnya. Pengakuan ataupun emansipasi yang telah di perjuangkan dan di rayakan setiap tahun, masih hanya sekedar bayang impian yang belum terwujud dalam kenyataan kehidupan.

Belum lagi pendapat sebagaian masyarakat yang masih mengatakan bahwa emansipasi adalah perjuangan perempuan yang menyalahi kodrat, dan pemahaman serta kesadaran perempuan tentang emansipasi itu sendiri di anggap sebagai hasil jajahan kapitalisme yang berupa feminisme (faham yang menekankan pada pengalaman perempuan). Sungguh hal tersebut adalah pendapat yang menyudutkan kaum perempuan, seolah mereka tidak patut untuk berjuang melawan penindasan yang secara nyata menjadikan mereka sebagai korban.
Muncul pertanyaan dalam benak saya, haruskah perempuan selalu menjadi “konco wingking” (teman yang selalu di posisi belakang) dalam kehidupan? Sampai kapan perempuan di batasi atau pun di larang untuk berkarya dan mengekspresikan diri? Apa artinya bermacam peringatan pada hari-hari tertentu jika pada kesehariannya sendiri perempuan masih jauh dari kata yang bernama pengakuan?

Emansipasi perempuan hanyalah wujud pembebasan dari kaum hawa agar bisa berperan aktif dalam segala aspek kehidupan, tetapi bukan feminisme atau emansipasi yang salah kaprah dan berujung pada hal-hal yang keblabasan seperti anggapan orang. Melainkan sebagai usaha penegakan hak asasi demokrasi yang tidak membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan secara berdasarkan jenis kelamin. Yang pasti emansipasi menurut saya adalah sebuah pengakuan akan hakikat perempuan, bagaimana dengan pendapat pembaca sekalian?*

*Penulis adalah seorang BMI-HK asal Jember, Jawa Timur
(Tulisan ini telah dimuat dalam Majalah PEDULI, EDISI 60/April 2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar