Laman

Jumat, 30 Maret 2012

SERIBU PEREMPUAN, SATU SUARA!


SERIBU PEREMPUAN, SATU SUARA!



Banner berisi tuntutan BMI HK


Kunjungan dua hari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta rombongan ke Hong Kong (24-25/3) yang sebelumnya seperti dilansir banyak media baik cetak maupun online, mengagendakan pertemuan dan dialog bersama pekerja Indonesia di Hong Kong senyatanya hanya hisapan jempol. Sampai dengan hari kedatangan hingga kunjungannya berakhir, tak ada satu pun dari perwakilan organisasi yang vocal dalam menyuarakan tuntutan massa mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan aspirasinya.


“SBY budak Amerika, SBY budak Amerika, SBY budak Amerika, budaknyaaaa Ameeerikaaa ….”

Suara yel-yel yang diteriakkan oleh seribuan lebih Buruh Migran Indonesia di Hong Kong yang kesemuanya adalah perempuan tersebut disertai dengan gerakan tangan kiri mengepal ke atas dan lompatan-lompatan kecil secara bersamaan. Sungguh suatu pemandangan yang menarik perhatian sekaligus mengharukan, betapa semangatnya BMI yang sedang berada di perantauan dalam memperjuangkan hak-hak mereka sebagai bagaian dari anak-anak negeri.

Aksi massa yang digelar di depan gedung Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI-HK) selama satu jam tersebut merupakan bagaian dari serangkaian acara penyambutan khusus untuk kunjungan Presiden dan rombongan. Aksi yang digelar hari itu tidak seperti biasanya, terlihat nyaris tanpa pengawasan dari pihak kepolisian. Namun meskipun tanpa pengawasan, aksi berjalan sukses tanpa sedikitpun adanya tindakan anarkis.

Aksi massa BMI di depan gedung KJRI-HK tidak seperti biasanya, terlihat tanpa pengawasan polisi (25/3)

Tidak adanya pengawasan dari polisi disebabkan pihak kepolisian sudah percaya bahwa BMI HK tidak akan melakukan hal-hal yang membahayakan dan melakukan demonstrasi sesuai peraturan seperti aksi-aksi sebelumnya. Selain itu pihak kepolisian Hong Kong juga diharuskan berkonsentrasi menjaga dua titik rawan lainnya, yaitu di Cause Way Bay dimana berlangsung pertandingan Rubby dan di Central Government Office dimana sedang berlangsung pemilihan umum untuk memilih Chief Executive Hong Kong yang baru.

Aksi massa sebelum aksi puncak di depan gedung KJRI tersebut, sudah dilaksanakan sejak hari Sabtu. Dimana pada hari Sabtu sekitar 50-an orang lebih BMI melakukan aksi massa di daerah Central dengan pengawalan ketat dari pihak kepolisian. Hal tersebut dikarenakan sebelum kedatangannya, SBY sudah melapor dan meminta pengawalan khusus kepada pihak kepolisian Hong Kong dengan alasan merasa terancam keselamatannya.

Pengawalan ketat  oleh puluhan polisi ketika BMI melakukan aksi massa di kawasan Central, dimana Sangrila Hotel tempat SBY dan rombongan menginap. (24/3)

Tak ada kata lain buat SBY selain kata PENGECUT!!! SBY - Budiono budak setia Amerika. Hari ini aksi Solidaritas untuk Indonesia di hadang puluhan Polisi, tapi kami tidak akan menyerah. Sampai jumpa besok di depan Shangri-la Hotel.” Salah satu dari kawan BMI menunjukkan kekesalan dan semangat beraksi melalui status facebooknya.


Karena ketakutan SBY yang  mengaku terancam keselamatannya, BMI dalam aksi massanya per 1 orang dijaga oleh 3 orang polisi. (24/3)

Seperti diketahui bersama, selama dua periode kepemimpinan pemerintahannya di Indonesia, SBY telah terbukti lebih melayani kepentingan investasi asing dengan mengorbankan 250 juta rakyat Indonesia, memotong subsidi pelayanan publik, menaikan BBM dan harga-harga kebutuhan pokok, serta mengintensifkan perampasan tanah, menekan upah buruh, melakukan berbagai pelanggaran hak asasi manusia.

SBY juga meningkatkan ekspor tenaga kerja hingga 2 juta orang per-tahun dan baru akan menghentikan pengiriman pekerja rumah tangga di tahun 2017. Disisi lain, tingkat pengangguran kian meningkat dan kemiskinan makin memburuk akibat dari berbagai kebijakan anti rakyat yang dibuat SBY. Bahkan isu yang terbaru pemerintah Indonesia berencana untuk menaikkan harga BBM sebesar 30-40% per-tanggal 1 April 2012 yang tentu saja melahirkan perlawanan rakyat Indonesia secara nasional dan internasional. Termasuk BMI yang pasti ikut terbebani oleh bertambahnya beban keluarga yang mesti ditanggung.

Maka dari itulah, aksi massa yang dimotori oleh Aliansi BMI-HK Cabut UUPPTKILN No. 39/2004, Front Perjuangan Rakyat (FPR), International Migrants Alliance (IMA) dan League of International People Struggle (ILPS) tersebut membawa 6 tuntutan , yaitu:
1. Tolak Kenaikan Harga BBM
2. Cabut UU Migas no. 22/2001, UU no. 11/1967 dan UU Penanaman Modal no. 25/2007 yang mengabdi pada imperialis!
3. Turunkan Harga-harga Kebutuhan Pokok Rakyat
4. Naikkan Upah Buruh
5. Perlindungan Sejati Bagi BMI
6. Laksanakan Reforma Agraria Sejati

Sudah seharusnya SBY dan pemerintah Indonesia menyadari bahwa sebanyak 150.000 buruh migran dari Indonesia di HK merupakan bagian dari rakyat mereka juga yang sudah menjadi korban kebijakan anti-rakyat dan anti-migran dari semua kebijakan pemerintah. Lebih buruk lagi, BMI diekspor dan diabaikan di luar negeri tanpa perlindungan layak. Dan jangan salahkan jika para buruh migran tersebut jika kemudian kesadarannya membuatnya menjadi perempuan-perempuan demonstran yang bersatu, bergerak dan berjuang menuntut hak-haknya.

Bravo BMI!




Hong Kong, 26 Maret 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar