Laman

Selasa, 03 April 2012

Selaksa Rindu Dalam Limaratus Kata


Selaksa Rindu Dalam Limaratus Kata

Oleh: Arista Devi

Mungkin bagi orang lain yang mengenalmu, tak ada yang istimewa pada sosokmu, selain hanya seorang pribadi kolot peninggalan jaman baheula. Tapi apapun adanya dirimu, bagi anak yatim piatu ini engkau adalah seorang pahlawan. Engkau adalah segalanya bagiku ….

“Mbok, maafkan, Riris …, sejak kecil engkau telah merawatku, membesarkanku, namun belum bisa aku membalas semuanya, kini Mbok masih harus repot merawat anakku juga …”
“Sudah, jangan banyak pikiran, yang terpenting ingat-ingat semua apa yang sudah Mbok pesankan padamu, ya, Ndhuk ….”

Mbok di antara kita belum pernah ada kata mesra yang terucap, tapi aku percaya di dalam hati kita masing-masing ada cinta yang tak terkira besarnya. Cinta seorang nenek yang menjadi ayah sekaligus ibu untuk cucunya, juga cinta seorang cucu kepada nenek yang menjadi pengganti kedua orangtuanya.

***

Mbok, aku selalu mengagumimu. Engkau seorang perempuan petani yang tangguh, seorang janda yang membesarkan keempat anak gadisnya seorang diri, hingga masing-masing bersuami. Lalu masih ditambah lagi beban untuk membesarkan dan merawatku hingga aku dewasa.

Tak pernah ada keluh kesah terdengar dari bibirmu atau kulihat airmata yang menggenang di pipimu. Engkau mampu menahan derita dan menyimpan segala beban dalam kehidupan. Layaknya Srikandi di padang Kuru Setra, engkau tak pernah menunjukkan rasa takut dan lelah untuk berjuang.

“Jadi perempuan itu harus kuat. Kalau tidak kuat dan tabah hanya akan menjadi perempuan-perempuan terjajah. Baik terjajah perasaan sendiri ataupun terjajah oleh orang lain.”

Dahulu, aku belum memahami kata-katamu, Mbok. Tapi kini, aku sudah membuktikan sendiri kebenaran nasehatmu tersebut.

***

Mbok, masih kuingat betapa berat aku harus melepaskan genggaman erat tanganmu setahun yang lalu. Sebuah genggaman yang membuatku berjanji untuk pergi dan kembali secepatnya dari perantauan. Seperti biasanya, tak ada kata mesra, tapi pesan cinta tersirat dalam tatapan mata kita.

Hingga suatu hari kudengar kabar bahwa engkau sedang sakit. Betapa aku sangat khawatir, meski aku sadari kematian setiap orang sudah menjadi ketentuanNya. Aku takut, Mbok. Ketakutan yang teramat sangat. Aku tak ingin kehilanganmu. Aku belum siap.

“Aku sayang Mbok. Tunggu Ris pulang ya, Mbok?”

“Iya, Mbok juga sayang kamu. Sudah lah … jangan khawatir, namanya saja sudah tua ya sakit-sakitan begini, wajar.”

Percakapan hari itu ternyata untuk terakhir kalinya. Aku tahu engkau bukan sekedar ingin menghiburku atau membohongiku Mbok, tapi semua keinginan memang tak mungkin selalu terpenuhi.

***

Mbok, seperti malam-malam yang lalu, malam ini pun aku teramat sangat merindukanmu. Aku rindu akan semua tentangmu.

Dan ketika aku tergugu di atas sajadah unguku, lamat-lamat terngiang di telingaku suara tembang yang biasanya engkau lantunkan sebagai pengantar tidurku sewaktu kecil.

“Sekar gambuh ping catur/ Kang cinatur polah kang kalantur/ Tanpa tutur katula tula katali/ Kadaluwarsa katutuh/ Kapatuh pan dadi awon.

Engkau pasti marah jika melihatku menangis seperti ini, tapi aku benar-benar tak bisa membendungnya, Mbok.

“Maafkan Riris, Mbok … karena tak berada di sisimu, mengantar kepergianmu untuk memenuhi janjimu padaNya. Aku rindu padamu, Mbok … rinduuu ....”

Dalam dekapan dingin malam 

Kularutkan rasa ke dalam telaga air mata
Kugenggam erat segenggam rindu
Rinduku yang tak bermuara...

Ruang Ungu Hati, 3/4/2012
00:30 Am

1 komentar:

  1. A very well-written post. I read and liked the post and have also bookmarked you. All the best for future endeavors
    IT Company India

    BalasHapus