Laman

Minggu, 14 Oktober 2012

3 Puisi Yang Dimuat Berita Indonesia

Pada Cinta di Atas Kontrak


Sekuntum bunga harapanku membeku
layu sebelum bertemu kupu-kupu
dari balik kerudung airmata pagi itu
kusaksikan cintaku yang terlukis di atas kontrak
pun sempurna mereka koyak

Aku tak hendak meratap mengiba
meski pengabdianku di siang dan malam
lenyak seketika, sia-sia
tenggelam bersama badai kepercayaan
sebab kuingat
dan harus kucatat
cintaku dan cinta mereka
hanya sebatas yang tertera
pada selembar kontrak kerja

Long Ping, 2012


VICTORY PARK


Telah kutulis puisi-puisi itu
di rerumputanmu yang hijau
sejak pertama kali aku menyapamu
di suatu hari minggu
pada beberapa tahun yang lalu
: sudikah kau membacakannya untukku?

Puisi itu tentang seribu wajah berjuta resah
yang mengadu rindu pada hijau pepohonanmu
dan menitipkan selaksa cerita pada keangkuhanmu
puisi itu juga tentang aku
yang menitipkan sunyi pada belaian lembut anginmu
kembali padamu
kutemukan wajah kampung jawaku 


Cause Way Bay, 2012



Mereka Yang Melawan

dengan tangan kiri mengepal ke atas, suara lantang itu mereka lepas
menggedor-gedor pintu nurani yang terkunci
dengan kata-kata yang mereka runcingkan ujungnya
berusaha menembus batas di antara budak dan penguasa
lihatlah betapa mereka melupa rasa gentar yang pernah terkubur dalam diam
bersama-sama menyalakan dian dan serentak teriakkan : "lawan!"

mereka yang disebut dengan
buruh migran bergelar pahlawan devisa
yang telah lelah menyekap amarah yang berlarian dalam dada
menumpahkan tuntutan layaknya merapi memuntahkan lava
lalu dalam sekejap mereka dicap sebagai demonstran
tidakkah ada yang mendengar mereka berkata
"kami hanya menuntut keadilan yang memaksa kami berenang di sisa air mata."

HK,2012
Puisi-puisi diatas telah dimuat di koran Berita Indonesia, 07 October 2012

3 Puisi Yang Dimuat di Sumut Post


Surat Buat Dimas : Lelaki di antara Logika dan Rasa

Bila lembar surat yang basah embun ini sampai di beranda rumahmu, harapku logika dan rasa milikmu masih belum terjaga, agar hanya ada kamu sendiri yang membaca kertas lusuh yang tak mampu menampung segenap perhatianku padamu.

Dim,
masih kuingat perbincangan kita semalam. Tentang logika dan perasaan. Ada banyak tanya yang belum tersampaikan padamu, tersimpan rapat di dalam saku. Beku.

Dim,
semua yang kau katakan padaku, tentang logika dan perasaan, tentang lelaki dan perempuan, tentang harapan dan kebisuan, semua menunjukkan kedewasaanmu di usia mudamu. Aku terharu. Betapa adikku yang unyu memenuhi dunia kecilnya dengan segudang ilmu.

Tapi, Dim
rasa yang mengharu biru dan sempat menjelma hujan di langitku itu. Adalah pertanyaan tentang sesuatu yang aku tahu sengaja engkau sembunyikan dariku pun dari mereka yang lainnya. Di laci hatimu yang terkunci.

Dim,
ini bukan hanya tentang sebatas logika dan rasa, tapi juga tentang cinta yang menembus batas keduanya. Bisakah sejenak kau ijinkan ia singgah untuk membasuh resahmu? Biarkan hangatnya mengusir gigil ngilumu karena lama membeku.

Dim,
biarkan rindumu yang lindap menggigilkan harap.
Abaikan takut, rahasiamu bukan selimut yang mudah tersingkap.
Rindu itu untuk dinikmati, tak semestinya dihukum mati.
Bukankah engkau lelaki yang percaya rindu bisa menuliskan takdirnya, sendiri?

Ruang Ungu Hati, 23082012



Pada Tangisan Pagi Itu

sungguh aku terharu :
menemukan sisa air mata yang menggantung di dagu itu
kubiarkan bersarang di dadaku
membasah sebentuk cinta di hatiku

pada tangisan di pagi itu
kudengar suaramu bergumam sahdu
engkau bersyukur atas indahnya pagimu

sungguh, ijinkan aku menangis bersamamu
turut memungut biji-biji rindu
yang berjatuhan dari pohon kebisuan menahun
tanpa engkau dan aku perlu mengadu tanya
: siapa yang lebih rindu?

Ruang Ungu Hati, 1 Syawal 2012

EVAAIR in Love

seperti deru mesin pesawatku
dadaku dan debardebar rindu itu
pun sudah kukirimkan utuh kepadamu
melalui angin yang paling desau
untuk kau ramu
entah menjadi jamu
atau sekedar penawar dahagamu
kita pernah terpisah
pun kita pernah serumah
menikmati suatu perjamuan cinta
kita : bersama

sebelum kupergi, sayangku
mari kita nyanyikan sebuah lagu
tentang
engkau dan aku

" Oh, kiss me and smile for me
Tell me that you’ll wait for me
Hold me like you’ll never let me go
"

Bandara Juanda, 2012



*Puisi-puisi di atas telah dimuat di Rubrik Budaya Sumut Post, 07 Oktober 2012
 ket: Foto diambil dari Grup Cendol