Laman

Minggu, 14 Oktober 2012

3 Puisi Yang Dimuat di Sumut Post


Surat Buat Dimas : Lelaki di antara Logika dan Rasa

Bila lembar surat yang basah embun ini sampai di beranda rumahmu, harapku logika dan rasa milikmu masih belum terjaga, agar hanya ada kamu sendiri yang membaca kertas lusuh yang tak mampu menampung segenap perhatianku padamu.

Dim,
masih kuingat perbincangan kita semalam. Tentang logika dan perasaan. Ada banyak tanya yang belum tersampaikan padamu, tersimpan rapat di dalam saku. Beku.

Dim,
semua yang kau katakan padaku, tentang logika dan perasaan, tentang lelaki dan perempuan, tentang harapan dan kebisuan, semua menunjukkan kedewasaanmu di usia mudamu. Aku terharu. Betapa adikku yang unyu memenuhi dunia kecilnya dengan segudang ilmu.

Tapi, Dim
rasa yang mengharu biru dan sempat menjelma hujan di langitku itu. Adalah pertanyaan tentang sesuatu yang aku tahu sengaja engkau sembunyikan dariku pun dari mereka yang lainnya. Di laci hatimu yang terkunci.

Dim,
ini bukan hanya tentang sebatas logika dan rasa, tapi juga tentang cinta yang menembus batas keduanya. Bisakah sejenak kau ijinkan ia singgah untuk membasuh resahmu? Biarkan hangatnya mengusir gigil ngilumu karena lama membeku.

Dim,
biarkan rindumu yang lindap menggigilkan harap.
Abaikan takut, rahasiamu bukan selimut yang mudah tersingkap.
Rindu itu untuk dinikmati, tak semestinya dihukum mati.
Bukankah engkau lelaki yang percaya rindu bisa menuliskan takdirnya, sendiri?

Ruang Ungu Hati, 23082012



Pada Tangisan Pagi Itu

sungguh aku terharu :
menemukan sisa air mata yang menggantung di dagu itu
kubiarkan bersarang di dadaku
membasah sebentuk cinta di hatiku

pada tangisan di pagi itu
kudengar suaramu bergumam sahdu
engkau bersyukur atas indahnya pagimu

sungguh, ijinkan aku menangis bersamamu
turut memungut biji-biji rindu
yang berjatuhan dari pohon kebisuan menahun
tanpa engkau dan aku perlu mengadu tanya
: siapa yang lebih rindu?

Ruang Ungu Hati, 1 Syawal 2012

EVAAIR in Love

seperti deru mesin pesawatku
dadaku dan debardebar rindu itu
pun sudah kukirimkan utuh kepadamu
melalui angin yang paling desau
untuk kau ramu
entah menjadi jamu
atau sekedar penawar dahagamu
kita pernah terpisah
pun kita pernah serumah
menikmati suatu perjamuan cinta
kita : bersama

sebelum kupergi, sayangku
mari kita nyanyikan sebuah lagu
tentang
engkau dan aku

" Oh, kiss me and smile for me
Tell me that you’ll wait for me
Hold me like you’ll never let me go
"

Bandara Juanda, 2012



*Puisi-puisi di atas telah dimuat di Rubrik Budaya Sumut Post, 07 Oktober 2012
 ket: Foto diambil dari Grup Cendol

Tidak ada komentar:

Posting Komentar