Laman

Minggu, 11 Agustus 2013

Catatan Hati Seorang Introvert #1

"Kowe kuwi dadi bocah kok nyleneh dhewe, ora podo karo cah-cah liyane. Ora kena dikumpulke wong! Kaya ngana piye sedulurmu isa rumaket lan sayang karo awakmu?"
Kalimat yang sering kali diucapkan oleh almarhum Mbok ketika marah pada saya, sewaktu saya masih kecil, sampai hari ini kerap terngiang di telinga. Menjadi momok yang menakutkan. Benarkah saya seperti apa yang dikatakan alm. Mbok? Saya aneh. Dan tak akan pernah ada orang yang bisa dekat dan sayang pada saya?

Seiring bertambahnya usia, saya mulai menyadari kebenaran kata-kata Mbok. Saya tumbuh dalam kesendirian dan kesepian. Apa pun yang terpikirkan pun saya lakukan, selalu berbeda, dan dianggap salah oleh orang-orang di sekitar saya. Seakan saya menjadi bocah yang terabaikan. Ah, saat itu saya sempat mengira semua terjadi hanya karena saya seorang yatim piatu yang terlalu menuntut dan haus perhatian, sehingga terlalu membesarkan masalah yang tidak perlu dipermasalahkan.

"Kowe kuwi dadi bocah diopeni ora nrimakke! Ora usah kakehan takon sing ora-ora!"

Jleb! Lagi-lagi kalimat yang berulang kali saya dengar membuat saya belajar bungkam. Diam. Menyimpan semua pertanyaan dan segala rasa ingin tahu saya tentang berbagai hal. Bahkan tentang diri saya sendiri: "Mengapa saya begini?"

Bertahun-tahun, saya masih kerap bingung memahami diri sendiri. Kadang saking bingungnya saya pernah juga merasa takut kalau-kalau telah mengidap penyakit kelainan jiwa. Karena saya sungguh merasa berbeda dengan orang-orang yang pernah saya kenal dan mengenal saya. Sampai suatu ketika, ada seseorang yang mengatakan pada saya kalau saya ini seorang introvert!

Whats? Saya bingung dan bertanya pada beberapa orang lainnya, apa itu yang disebut dengan introvert? Dan jawaban yang saya terima membuat saya agak gimana gitu. Katanya seorang introvert adalah orang yang sombong dan antisosial. Seorang introvert agar menjadi baik, harus bisa berubah dan menyejajarkan diri dengan seorang ekstrovert. Ah, saya makin tidak mengerti.

***

Disebabkan kebingungan dan ketidak mengertian, saya berusaha memahami dan meneliti diriku sendiri, tentunya dengan membaca berbagai teori sebagai referensi juga.  Dan pada akhirnya saya harus mengakui bahwa ternyata saya adalah salah satu pemilik karakter atau kepribadian manusia yang tidak biasa tersebut.

Dari teori psikologi yang saya baca, dunia mengenal dua karakter manusia yang disebut ekstrovert dan introvert. Dua karakter yang sangat bertolak belakang, yang mana diketahui bahwa ekstrovert adalah pribadi yang terbuka sedangkan introvert merupakan pribadi yang cenderung menutup diri.

Pada kenyataannya selama ini orang berkharakter 'introvert' sering mendapat anggapan miring dari orang-orang di sekitarnya. Sebentuk kharakter yang unik, yang mana selama ini menjadikan semua: baik dari lingkungan keluarga, teman-teman, sekolah, dan masyarakat banyak yang menancapkan anak panah berupa anggapan 'aneh' kepada saya. Secara tidak langsung melalu curhat ini, saya ingin membantah semua mitos tentang orang introvert yang selama ini sudah banyak merajalela di masyarakat. Mitos-mitos yang tidak benar, yang timbul karena adanya pemahaman yang salah kaprah terhadap sosok orang-orang introvert. Cieee...

Orang-orang introvert sendiri (yang selanjutnya akan kusebut sebaga─▒: kami) adalah orang yang berpikir ke arah subjektif atau dirinya sendiri. Interaksinya lebih banyak ke dalam, bukan ke luar. Jadi orang introvert adalah sosok yang tampak menyendiri di antara keramaian. Kami berdiam diri dan terkesan chuek meski berada di antara sekelompok orang yang sedang melakukan interaksi. Tapi terkadang juga menunjukkan ekspresi yang berbeda, kami bisa terlihat tegang di saat suasana tenang, dan bisa terlihat tenang di saat suasana tegang. Mengapa bisa seperti itu? Bisa jadi karena perbedaan pemikiran kami dan cara pandang terhadap suatu masalah dengan orang biasa.

Orang introvert memang berbeda dan tak seperti kebanyakan orang. Namun diam atau kesendirian yang kerap ditunjukkan bukanlah bukti sifat pemalu ataupun orang-orang yang tidak suka berbicara (asli pendiam). Kami justru sedang memerhatikan, berpikir, mengamati dengan cermat dan menganalisis keadaan serta menyimpulkan. Jadi bisa dikatakan diamnya seorang introvert adalah riuhnya diskusi di dalam kepalanya. Kewl!

Sebenarnya tidak ada yang salah pada orang introvert, kami sesungguhnya tidak pernah mengharapkan menjadi orang introvert. Dan kami ini bukan orang yang menyalahi kodrat sebagai makhluk sosial, kami juga tidak bisa hidup tanpa orang lain. Kami adalah orang yang tetap butuh bersosialisasi dan membutuhkan bantuan orang lain meski dengan sedikit berbicara. Oh ya hal ini pun bukan karena kami merasa sulit berkomunikasi, tapi karena kami merasa lebih nyaman dengan diri sendiri dengan berbagai alasan yang tidak bisa kami ungkapkan. Orang-orang berkepribadian introvert tidak menyenangi basa-basi dan lebih suka terlibat dalam obrolan-obrolan penuh makna dan filosofis yang memerlukan pemikiran mendalam daripada berbicara panjang tanpa tujuan.

Faktor penyebab orang introvert terkadang sulit dimengerti orang banyak karena memang mungkin jumlah kami adalah termasuk minoritas. Banyak kesalahpahaman yang terjadi atas introvert, termasuk dari kalangan ekstrovert sendiri karena sebuah kebiasaan pandangan dan perbedaan cenderung tidak mudah diterima. Selain itu masyarakat pun mayoritas tidak siap untuk berhadapan dan berusaha memahami bahwa ada orang-orang introvert, yang seperti kami dan menyebabkan kami sebagai minoritas menjadi makin tersudut tanpa pembelaan.

To be continue  hingga waktu tidak tentu :-)