Laman

Kamis, 04 September 2014

About: INSYA ALLAH YOU’LL FIND YOUR WAY

INSYA ALLAH YOU’LL FIND YOUR WAY
Membincang Novel Ke-3 Hengki Kumayandi


Sebagai usaha saya untuk mewujudkan ambisi pribadi agar bisa disebut blogger beneran, tentunya saya harus mulai lebih rajin berdoa, berjuang melawan kemalasan dan nggak malas membuka blog ungu saya agar nampak update beneran. Bener gitu kan? Yah, bener nggak bener yang penting beneran nih sepertinya doa saya terkabul hari ini dengan adanya: 1. Wifi gratis anti lelet di rumah Aa’, 2. Aktifnya Aplikasi Anti Malas dalam diri saya dan 3. Adanya seorang penulis yang rela menjadi korban untuk dikepoin via BBM. Its amazing!

Baiklah, saya rasa kita tidak perlu membahas ambisi saya yang usil ini agar postingan di blog saya ini tidak terbaca imbisil. Oke, abaikan paragraf pertama saya di atas dan kita fokus pada apa yang dihasilkan 3 poin yang telah saya tuliskan dalam paragraf pertama di atas. Eh?

Hengki Kumayandi
Oh ya sebelumnya kalian sudah kenal belum dengan penulis muda bernama Hengki Kumayandi yang telah bersedia menjadi korban pertama saya (direncanakan saya akan mencari penulis lain yang bersedia untuk dijadikan korban berikutnya *tertawa evil)? Kalau belum kenal mari berkenalan dengannya melalui FB dan FP-nya dengan nama yang sama, tapi sebelumnya simak wawancara kami via BBM berikut ini.


Arista Devi : Ehem ehem *tes microphon* Pertanyaan 1: Mas penulis *uhuk-uhuk jomblo atau berpasangan nih statusnya? #status yang ini penting juga buat dipromoin. 2: Gimana rasanya mau lahiran buku baru? Ini sudah buku ke berapa ya? 

Hengki Kumayandi: Haha bentar jawab satu-satu dulu 

Hengki Kumayandi: 1. Statusnya masih misterius. :D 2. Rasa deg-degan, bagaimanapun peperangan sesungguhnya bagi penulis adalah di saat bukunya terpampang di toko buku. Ini novel ke tiga.

Arista Devi : 3. Ngomong-ngomong nih ide novel ini dari mana ya Mas Penulis? 4. Wah udah yang ketiga? #angkamiracle Yang satu dan dua apa judulnya, Mas? 

Hengki Kumayandi : 3. Idenya dari true story sewaktu zaman ngajar dulu. Hihi 4. Yang pertama judulnya Van Loon (dalam versi digital) yang kedua ; Tell Your Father, I am Moslem

Arista Devi : 5. Aih, jadi novel ini idenya dari kisah nyata, mmm bisa bagi tips nggak buat kami, gimana cara menyiasati agar tulisan yang idenya dari kisah nyata (penulis) nggak terkesan curhat banget gitu?

Hengki Kumayandi : 5. Intinya tetap harus di-mix menjadi cerita utuh seperti dalam novel-novel. Wajib ada unsur ; awal masalah - pertengahan- klimaks dan ending. Jika dalam kisah nyatanya tidak ada dari elemen itu, kita wajib memberi bumbu agar lebih menarik. :D

Arista Devi : 6. Bumbu ya? #bayangin sambal eh? Bumbunya itu misalnya kayak apa Mas? =)) 7. Untuk proses penemuan ide, menulis sampai membumbui sendiri, prosesnya berapa lama Mas? #kepo

Hengki Kumayandi : 6. Hahaha! Maksudnya penambahan dramatisasi agar konfliknya lebih greget.

Hengki Kumayandi : 7. Proses nulis novel Insya Allah You'll Find Your Way ini cukup lama. Dimulai dari iseng nulis cerbung di note facebook selama 3 bulanan posting, lalu dikumpulin. Selama dua tahun didiemin, akhirnya tergerak untuk mengeditnya menjadi draft novel. Novel ini ditulis sepenuhnya melalui HP.

Arista Devi : Wah keren, ditulis via hape! *tepuktangan 8. Bisa diceritakan nggak Mas, gimana cara atau proses pengiriman novel ke penerbit? Soalnya asli nih masih banyak yang bingung gimana cara kirim tulisan ke penerbit. Kirim sinopsis aja, outline aja, atau kirim semua barengan (sinopsis, outline dan isi novel lengkap). #pertanyaan penulis pemula

Hengki Kumayandi : 8. Cara kirimnya, pertama kita harus cari penerbit yang naskahnya bisa sesuai dengan visi-misi mereka. Untuk novel ini, saya kirimkan berikut sinopsisnya.

Arista Devi : 9. Nah ini 3 x 3 = 9, bisa tidak bisa harus ngasih jawaban! Hahaha pertanyaan paling jleb nih: Apa kira-kira alasan atau bagian terkeren dari novel Mas Hengki yang sekiranya bisa membuat/menarik kami sebagai pembaca untuk membeli novel ini? Beli loh, nggak cuma pinjam teman atau ngintip doang dari reviu teman hihi

Hengki Kumayandi : 9. Novel ini menyuguhkan kisah yang banyak dialami oleh orang-orang. Kamu akan merasa bahwa sebagian kisah ini adalah kisahmu juga. Kamu juga akan menemukan banyak kejutan tak terduga dari kisah ini dan saya berharap setelah selesai membacanya, ada sesuatu yang bisa kamu dapatkan untuk mengubah hidupmu menjadi lebih positif. :D #jawaban buat kamu iya kamu itu : pembaca maksudnya hahaha

Arista Devi : Asyik, berarti novel inspiratif nih

Hengki Kumayandi: Inspiratif juga islami. :D

Arista Devi : Terima kasih Mas Penulis Misterius #nggak tahu apanya yang misterius =)) 


Hengki Kumayandi : Hahaha
ditunggu tulisan hasil wawancaranya ya Bibi Peri!

*** 

Oke, sebenarnya tentang buku ke-3 Hengki Kumayandi ini, saya termasuk  sebagai orang yang beruntung karena mendapat kesempatan membacanya sebelum tulisan ini menemukan jalan kepastian kapan akan diterbitkan dan dipajang di toko buku.
Pada awal membacanya, jujur saja saya sempat berhenti di bab-bab awal yang terasa datar, tapi sebagaimana novel Hengki sebelumnya, saya percaya aka ada sesuatu yang mengejutkan di bagian berikutnya. Dan benar saja, seperti halnya hiking yang menjadi hobi saya, rupanya Hengki juga tipe penulis yang menulis dengan gaya hiking! Terasa biasa pada permulaan, mulai menarik di pertengahan dan menakjubkan di puncak serta membuncahkan rasa serta tak mudah dilupakan di akhir cerita. Dan uniknya lagi, rasa yang buncah itu bisa merupa tawa dan airmata sekaligus.
Penasaran ya seperti apa cerita perjalanan hidup Hengki eh Bram ding? Tenang, rasa penasaran kalian akan segera terobati dengan kehadiran buku keren ini di toko-toko buku terdekat di kotamu. Jadi silakan menabung dulu agar bisa membaca kisah Bram, Sang Guru Muda yang meniti jalan berliku dalam pencarian cita dan cintanya, yang dijamin akan penuh pesan dan kesan terutama untuk pembaca yang merasa muda. Eh?

Coming soon: Novel ke-3 Hengki Kumayandi


PROLOG

Suasana café di bilangan Ciputat terasa ramai oleh pengunjung yang memadati diskusi novelku ini. Gerimis yang turun seakan mempercantik malam yang remang oleh temaram rembulan. Aku duduk di sebuah kursi, tepat di tengah panggung kayu berukuran sedang. Beberapa orang sibuk melihatku, sebagian mengambil gambar, sebagian lagi seakan sudah tak sabar untuk bertanya. Namun, hanya ada satu yang menarik perhatianku di tempat ini. Sesosok gadis muda berjilbab yang duduk jauh di sudut café.

Wajah gadis itu mengingatkanku pada sosok orang yang pernah dan selalu hadir dalam hatiku, sosok yang membuatku bisa berdiri tegar sampai saat ini, sosok yang membuatku terus bersemangat untuk menjadi seorang lelaki tangguh, apapun yang terjadi.

Namun, perlahan sosok itu menghilang dari pandangan mataku, tak ada siapa pun di sudut café itu. Aku tahu ini semua hanya perasaanku saja, atau mungkin aku memang merindukannya.

Kini, tiga tahun sudah berlalu, aku kembali ke kota ini, Ciputat. Di
sinilah kisah itu terjadi, kisah yang mengantarku menjadi seorang penulis seperti saat ini. Di tempat ini, akan aku ceritakan pada kalian apa yang pernah terjadi dalam hidupku, tiga tahun yang lalu, tentang persahabatan, juga cinta.

“Untuk seseorang yang sangat berarti dalam hidupku, Fajrin. Dan untuk
seseorang yang mengajariku arti mencintai, arti dicintai, arti memiliki yang sejati, Elis. Kalianlah alasan kenapa aku masih ada, hingga kini,” ucapku perlahan, dan kini lampu sedikit meredup menyisakan sebuah penerangan tepat di atasku.

Sebait puisi yang kugubah dari surat terakhir Elis mengalun merdu dari
bibirku. Aku tahu dia melihatku, aku tahu dia tersenyum padaku, saat ini.

Hong Kong, 4 September 2014



Tidak ada komentar:

Posting Komentar