Laman

Sabtu, 06 September 2014

Perahu Kesadaran Yang Berlayar di Bulan September

Dari atap lantai 33




"Berputar menjadi sesuatu yang bukan kita demi menjadi diri kita lagi." (Perahu Kertas)

Pagi ini setelah menyelesaikan membaca novel Dee, yang saya pinjam tanpa ijin dari lemari buku Aa', saya merenung panjang. Sepanjang jalan ingatan. Ada kenangan, kerinduan, dan berbagai bentuk rasa tanpa wujud yang membuat cenat-cenut karena saking ramenya berebut tempat di kepala pun dada. Dan saya sama sekali tak berusaha mengusir atau mengabaikannya, saya menikmatinya. Menikmati dengan kesadaran penuh. 

Saya + Kamu = Kita  <=> Kita : Perpisahan = Saya + Kamu < = > (Kita)

Entah dari mana datangnya rumus yang tiba-tiba terpikirkan begitu saja di kepala saya. Membuat saya membaca dan berusaha mencernanya berkali-kali. Hingga saya menyadari akan alur sungai cinta yang tak pernah tak bermuara kepada-Nya. Meski seringkali para pecinta berlomba-lomba mengingkarinya dan mengklaim diri sebagai yang paling mengerti dan memahami apa itu yang bernama cinta. Lima huruf yang semestinya tak henti disebut dalam lima waktu bersujud kepada yang tak berwujud tapi nyata berkuasa, Maha Mewujudkan Segalanya. 

Seperti halnya kehadiran saya di tempat ini, di rumah Aa', adalah salah satu wujud kuasa-Nya yang saya lebih suka menyebutnya: 'miracl3s'. Dalam banyak kesempatan, sejak saya memutuskan untuk tidak percaya adanya 'kebetulan' di dunia ini, saya kerap menyebut semua peristiwa sekecil apapun yang terjadi dalam hidup ini sebagai 'miracles of 3'. Ya, miracles! Meski suatu ketika yang lalu, pernah ada yang mengatakan miracles yang saya percaya datangnya dari setan dan membuat saya sempat ragu pada kejaiban, kini saya tak peduli lagi. Tuhan lebih berkuasa dari setan, biar saja ada yang memilih percaya bahwa setan yang membuat kejaiban, tapi saya tetap percaya bahwa Tuhan lah yang mencipta setan dan segala keajaiban. Begitulah. Bisa tinggal di rumah Aa', menjadi begitu akrab dengan istri dan anak-anaknya, sama sekali tak pernah terbayangkan sebelumnya. Benar-benar cukup untuk menumbuhkan kesadaran di titik paling pelik, its miracl3s! Semua miracle3s itu ada, nyata, dan cukup dengan modal percaya kepada-Nya, setiap manusia bisa mendapati dan menikmatinya. Subhanallah....

September masih dalam hitungan dua kali tiga. Tapi sudah ada tiga kali tiga miracles yang  saya terima, atau bisa jadi lebih karena saya terkadang ketinggalan dalam menghitungnya. Kamu ingin tahu apa saja 9 miracles itu? Baiklah agar kamu nggak penasaran dan mencibir saya, maka ada baiknya akan saya sebutkan 9 miracles itu. ENG ING ENG

1. Hidup kost di tempat asing, di antara orang-orang asing, lalu mendadak kehilangan kamar karena tanpa konfirm tiba-tiba kamarmu disewakan kepada orang asing lainnya. Seberapa bingungnya kamu? Catat baik-baik dan garis bawahi kata asing. Begitulah yang terjadi pada saya. Tapi di saat bersamaan datang tawaran yang bukan sekedar basa-basi. Tawaran yang cenderung berupa paksaan setulus hati untuk tinggal gratis dan bebas menikmati segala fasilitasnya (AC, WIFI dan makanan) di sebuah rumah, rumah loh bukan kamar lagi. What do you think? Miracle kan?

2. Pada sebuah percakapan yang lebih bisa dinamai diskusi serius, tiba-tiba ada yang bertanya: "Kamu lulusan apa? Kalau ada minat melanjutkan S2 di Korea, saya bisa merekomendasikan kamu agar bisa menerima beasiswa. Ini sungguhan, saya sudah punya hak untuk rekomendasi ini. " Ya, Allah... jika kamu yang mendapat tawaran? Ya terlepas kamu bisa tidak dan mau tidak, tawaran yang serius dengan tulus itu bisa disebut miracle kan?

3. Dalam percakapan berdua dengan teman saat mengantarnya ke bandara, ketika sedang asyik saling bercerita dan sharing tentang daerah masing-masing, teman yang seorang warga Jerman, yang sedang penelitian untuk tesis-nya berkata kepadamu: "Ya, nanti kalau kamu launching bukumu yang terbit di Jerman, aku akan mengantarmu keliling Berlin. Aku janji." Aamiin.... Apakah kamu tak akan terharu ketika temanmu itu banyak membagi ilmu, tulus memotivasi dan menjanjikan kepadamu untuk menerjemahkan, mengenalkan serta mempromosikan tulisanmu kepada sahabatnya yang pemilik penerbitan di Jerman? Mimpi saja mungkin nggak pernah. Muracle tho?

Teman saya sedang antri Chek in


4. Ketika begitu inginnya kamu bisa menemukan sunrise an memotretnya. Bahkan kamu sudah pernah bela-belain hiking, berangkat jam di sepertiga malam, mendaki puncak gunung tertinggi hanya demi "ngidam menikmati matahari terbit" tapi ternyata gagal karena terhalang kabut tebal. Kemudian disusul kegagalan-kegagalan rencana pendakian dini hari selanjutnya dan kamu pun nyaris nggak berharap lagi bakalan ketemu sunrise. Eh, dari tempat jemuran di lantai atas tempat kamu tinggal, kamu bisa menemukan sunsrise begitu saja. Tanpa perlu mendaki gunung atau berjalan ke pantai yang cukup jauh. Cukup dengan menata meja dan kursi, menjadikannya tangga darurat, kamu bisa berbaring di atap lantai 33 untuk menikmati angin pagi, embun dan wajah matahari yang baru terjaga dari tidurnya. Apa nggak keren tuh? Miracle?

Kaki saya berhasil berdiri di atap lantai 33 dengan bantuan meja dan kursi hihi

The Sunrise On 33

5. Beberapa bulan memiliki kamera tapi bingung cara menggunakannya untuk memotret foto ala fotografer (tehnik fotografi) padahal sudah belajar dengan membaca-baca berbagai teori tapi tetap bingung. Kemudian tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba ada pesan dari temanmu yang memintamu menemui temannya, yang juga temanmu, yang memang sudah lama tidak bertemu. Lalu dalam pertemuan, temanmu yang memang paham dan cukup senior dalam banyak hal itu memberimu banyak ilmu dan inspirasi,  dari hal serius tentang politik hingga tehnik fotografi dengan praktek secara langsung. Apa kamu akan menganggapnya kebetulan? Ini miracle!

Ini  foto hasil pembelajarann dari teman saya, keren kan? 


6. Kamu melamar seseorang yang diam-diam kamu sayang untuk diajak duet menulis, dan langsung diterima dengan tangan terbuka. Tanpa syarat dan penolakan. Cie cieee apa itu nggak keren? Its miracle for me! 

Duh, sudah 6 ya? Ya sudah yang 3 saya simpan saja (jarinya udah minta istirahat). Setidaknya saya berharap seperti halnya saya yang mulai peka pada tanda-tanda kuasa-Nya, begitu pun kamu yang membaca diari ungu ini. Tolong doakan agar perahu kesadaran yang saya layarkan di bulan ini, bisa melaju dan sampai ke tujuannya dengan selamat. Aamiin Ya robbal alamiin.

Kwai Fong, 6 September 2014








Tidak ada komentar:

Posting Komentar