Laman

Minggu, 16 Agustus 2015

Cerita Antara Saya, Masuk Angin dan Tolak Angin


Sejak kecil badan saya gampang sekali 'masuk angin', entah kenapa kalau udah masuk si angin kerasan banget tinggal di badan saya, kayak malas keluar gitu. Alhasil segala ritual sebagai usaha penangkalan sampai pengusiran angin agar tidak suka lagi bersarang di badan saya, dari penggunaan metode kerok, metode oles, sampai metode-metode lainnya pun sudah sering dilakukan oleh nenek dan saya sendiri. Yah, biar dikata hanya angin kalau udah masuk di badan, emangnya mana tahan rasanya. Hiks!

Menurut teori kesehatan sih masuk angin merupakan tanda adanya penurunan daya tahan tubuh pada seseorang, biasanya disertai dengan gejala antara lain berupa mual, perut kembung, sakit kepala, tenggorokan kering, badan meriang dan demam. Sedang penyebab masuk angin itu sendiri bisa terjadi akibat kurang tidur, kelelahan atau bisa juga diakibatkan oleh stress. Lha kalau saya sudah berusaha menghindari semua sebab dan menjaga diri dari angin tapi masih juga kebobolan trus, saya mesti gimana coba?

Bukan hanya di masa kecil, ternyata masuk angin masih terus menghantui kehidupan saya sampai saat ini, bahkan ketika saya sedang hiking di puncak gunung bareng teman-teman pun ketika saya sedang backpacker sendirian ke tempat asing. Untungnya sih saya sekarang sudah pinter. *uhuk! Saya sudah bisa melakukan usaha penolakan terhadap angin yang selalu ingin bersarang di badan saya dengan modal resep wasiat nenek saya; yakni untuk sedia dan meminum ramuan herbal seperti yang pernah direbusnya untuk saya.

Namanya juga saya sudah berani mengaku sebagai orang pinter, berarti saya nggak mungkin dong mau repot-repot haiking atau bacpacker dengan bawa panci dan kompor plus sekantong herbal untuk direbus jika saya atau teman-teman saya mendadak masuk angin gitu. Membayangkannya saja sudah rempong bingit coy. Saya sudah menemukan Tolak Angin yang terbuat dari bahan-bahan ramuan herbal (antara lain : madu, jahe, daun mint, cengkeh dan buah adas). Yang tentu saja resepnya  sama dengan resep wasiat dari nenek saya. *tepuk jidat* Tahu gini dari dulu ngapain juga nenek dan saya masih sempat pakai ritual dengan berbagai metode ya? Padahal menurut info yang saya dapatkan, Tolak Angin ini ternyata sudah diresepkan sejak tahun 1930 dan mulai diproduksi dalam skala pabrik modern pada tahun 1951. *Glek! Alamak, berarti Tolak Angin ini sudah 100 tahun diminum turun temurun!

Makanya meski saat ini saya masih tinggal di perantauan, kemana saya pergi pasti masih ada persediaan Tolak Angin di tas ransel saya. Pernah nih saya dan teman-teman hiking di Qing Tian George -salah satu rute pendakian yang cukup berat di Hongkong- dan  mendadak masuk angin berjamaah karena cuaca yang awalnya panas sekali mendadak diselimuti kabut basah. Kami terjebak dalam kabut. Saat itu saya sempat panik ketika persediaan Tolak Angin rasa jahe yang saya bawa tidak mencukupi untuk dibagi rata, rasanya nggak adil gitu nyisain beberapa teman agar tetap tersiksa oleh angin. Tapi untungnya ternyata ada salah satu teman yang juga membawa Tolak Angin cair meski dengan pilihan rasa yang berbeda; rasa madu. Alhamdulillah, berkat obat herbal tersebut saya dan teman-teman akhirnya bisa tetap bugar sampai di titik akhir pendakian meski sedikit kemalaman dan mesti merangkak di lereng curam.

Nggak nyangka juga, biar pun tinggal di luar negeri, saya dan teman-teman ternyata masih bisa bangga dan tidak lupa pada produk negeri sendiri semacam Tolak Angin Sidomuncul ini.

Kamis, 11 Juni 2015

Ruang Chatting


: 4sr

sepi yang meraja ingatan
memaksa jemarimu berkirim pesan
hanya sepatah, tak berbantah

ia yang membaca kiriman pesanmu terdiam
berusaha memahami apa yang sedang kau rasakan

di ruang chating
tak ada bising yang menjadikan asing
sebab sesungguhnya rasa tak butuh suara untuk diperdengarkan
hanya butuh sebentuk ruang untuk ditumpahkan

HK, Juni 2015

Mencari Jawab Atas Isu Poligami


Judul: Surga Yang Tak Dirindukan
Penulis: Asma Nadia
Penerbit: AsmaNadia Publishing House
Cetakan: Juni 2014
ISBN: 978 602 9055 21 4

Blurb

Apa artinya rumah jika tak lagi menjadi pelabuhan yang ramah bagi hati seorang suami? Apa jadinya surga jika ia tak lagi dirindukan? Benarkah dongeng seorang perempuan harus mati agar dongeng perempuan lain mendapatkan kehidupan?

Ah. Surga yang retak-retak.

Peristiwa tragis dan e-mail aneh dari gadis bernama Bulan.

Pertanyaan yang terus mendera: “Jika cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak cukup membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?

Sementara seseorang berjuang melawan Tuhan, waktu dengan sabar menyusun keping-keping puzzle kehidupan yang terserak, lewat skenario yang rumit namun menakjubkan.

***
Review

Isu poligami yang masih menjadi perdebatan hingga hari ini memang cukup menarik untuk diangkat dan disajikan dari sisi agama dan kultural di Indonesia. Apalagi jika diceritakan dari  berbagai sisi: sisi suami, sisi "korban" (baca: istri pertama) dan sisi perempuan kedua. Hal inilah yang menjadi garis besar jalan cerita dari novel karya Asma Nadia ini.

Novel Surga Yang Tak Dirindukan  menceritakan tentang kehidupan dua perempuan yang sama-sama mengkhayalkan kehidupannya akan seperti dalam cerita dongeng, yang pada akhir cerita selalu hidup berbahagia. Tetapi dalam kehidupan nyata justru keduanya menemukan kenyataan yang berbanding terbalik dengan khayalannya tersebut.

Kisah dalam novel inspiratif ini diawali dengan konflik pembuka cerita yang mengalir pada ingatan Arini akan pertemuannya dengan Andika hingga ke jenjang pernikahan dan kebahagiaan di tahun-tahun awal pernikahannya. Kehidupan rumah tangga Arini yang berprofesi sebagai penulis dan Andika yang berprofesi sebagai dosen mulai renggang dan kurang komunikasi intim akibat kesibukan masing-masing.
Selanjutnya kehidupan rumah tangga keduanya pun berubah menjadi dingin setelah satu kejadian yang membuat Arini menyadari kalau Andika ternyata diam-diam telah menyembunyikan suatu rahasia tentang keberadaan perempuan lain (Mei Rose) dalam kehidupannya.

Membaca pergolakan batin tiap tokoh cerita memberikan pelajaran tersendiri bagi pembaca. Apalagi ending terbuka dari novel ini yang merupakan kesempatan sekaligus kebebasan yang sengaja diberikan penulis kepada pembacanya agar bisa mengimajinasikan sendiri sekaligus menentukan sikap dan mencari jawab atas isu poligami. Biar bagaimana pun berbicara tentang isu poligami memang cukup rumit karena akan bersikap pro atau kontra logika pemikiran masyarakat pada umumnya, hal ini tetap saja berbicara tentang urusan perasaan dari para pemilik hati yang terluka dan hal-hal lainnya.

Meski gaya bercerita dari novel ini berganti-ganti sudut penceritaan pada tiap bab-nya tapi bahasa sederhana sebagai ciri khas Asma Nadia tetap membuat SYTD recommended bagi pembaca di semua usia. Oh ya untuk kamu yang belum sempat menikmati versi novel,  bisa menikmati versi film-nya yang akan segera tayang. Chekidot aja guys ^^

HK,  Juni 2015

Rabu, 10 Juni 2015

Membaca Bulan, Mengenal Matahari


Documen Pribadi
Judul : Bulan
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia
Tahun Terbit : 2015
Halaman : 400 hlm
Blurb
Namanya Seli, usianya 15 tahun, kelas sepuluh. Dia sama seperti remaja yang lain. Menyukai hal yang sama, mendengarkan lagu-lagu yang sama, pergi ke gerai fast food, menonton serial drama, film, dan hal-hal yang disukai remaja. Tetapi ada sebuah rahasia kecil Seli yang tidak pernah diketahui siapa pun. Sesuatu yang dia simpan sendiri sejak kecil. Sesuatu yang menakjubkan dengan tangannya.
Namanya Seli. Dan tangannya bisa mengeluarkan petir.
***
Review
Seperti halnya ketika membaca Bumi yang ternyata saya diajak berkelana ke tempat Klan Bulan, ketika membaca Bulan saya justru diajak mengenal dan bertualang di tempat Klan Matahari berada.
Cerita Bulan diawali dengan kegelisahan Raib, Seli dan Ali serta kemunculan kembali Miss Selina. Kemunculan Miss Selena ternyata membawa pesan dari Av kalau Ra harus pergi ke tempat Klan Matahari sebagai utusan dari Klan Bulan. Dan sesuai pertimbangan kalau trio tokoh dalam cerita sudah tidak bisa dipisahkan sejak perjalanan enam bulan sebelumnya, maka Miss Shelina mengijinkan  Seli dan Ali  turut serta dalam perjalanan diplomasi Ra yang tujuannya untuk menawarkan persekutuan antara Klan Bulan dan Klan Matahari demi mencegah sekaligus melindungi kedua klan tersebut dari ancaman kembalinya Timus dan Si Tanpa Mahkota.
Raib, Seli dan Ali pergi ke tempat Klan Matahari bersama Av, Miss Selena dan Ily. Rombongan Raib tiba tepat saat pembukaan Festival Bunga Matahari yakni perlombaan untuk mencari dan menemukan Bunga Matahari yang pertama mekar di Negeri Klan Matahari. Perlombaan yang biasanya hanya diikuti kontingen dari fraksi-fraksi penguasa negeri tersebut dengan terpaksa harus diikuti pula oleh Raib, Seli, Ali dan Ily meski Av yang sempat merasa terkejut serta sangat kesal sudah berusaha menolak keputusan semena-mena dari pemimpin Klan Matahari yang diumumkan oleh Saba-tara-taba sebagai pemandu acara pembukaan festival.
Hampir keseluruhan bagian dari Bulan menceritakan tentang petualangan sembilan hari dari kontingen Klan Bulan (Ra, Seli, Ali dan Ily) selama menjadi peserta Festival Bunga Matahari di Klan Matahari. Petualangan seru yang penuh bahaya tersebut sama sekali tak disadari baik oleh mereka pun Av, Miss Selena dan orang-orang Klan Matahari lainnya kalau semua merupakan bagian dari rencana jahat Fala-tara-tana IV selaku ketua konsil Klan Matahari untuk mendapatkan kekuasaan mahabesar dengan cara membebaskan Si Tanpa Mahkota dari penjara bayangan di bawah bayangan.
Bulan memang merupakan buku kedua, lanjutan dari Bumi tapi untuk pembaca yang belum baca Bumi pun tetap bisa mengikuti jalan ceritanya. Karena ada beberapa detail penting cerita Bumi yang diselipkan kembali dalam Bulan. Sebagaimana buku-buku Tere Liye lainnya, Bulan recommended karena selain penuh bertaburan quote menarik juga berisi nasehat kebaikan yang mengajarkan kebijaksanaan kepada pembacanya tanpa kesan menggurui sedikit pun.
"Sungguh ada banyak hal di dunia ini yang bisa jadi kita susah payah menggapainya, memaksa ingin memilikinya, ternyata kuncinya dekat sekali : cukup dilepaskan, maka dia datang sendiri. Ada banyak masalah di dunia ini yang bisa jadi kita mati-matian menyelesaikannya, susah sekali jalan keluarnya, ternyata cukup diselesaikan dengan ketulusan, dan jalan keluar atas masalah itu hadir seketika" -Hal:209 Quote favourite saya ^^
Membaca Bulan membuat saya speechless dan makin ngefans Bang Tere beserta sandal jepit dan kupluknya eh? Novel yang bergenre sama dengan sequels pertamanya Bumi ini, meski pure fantasy dan membuat pembacanya berimajinasi liar (serasa berada di Jurassic Park) tapi ceritanya tetap detail dan logis bahkan berisi banyak celotehan teori Fisika sebagai ciri khas tokoh Ali.
Meski menurut saya alur cerita agak lambat dan mengulang banyak adegan yang berkutat di gunung, hutan, perjalanan, istirahat, makan, melanjutkan perjalanan, istirahat, makan lagi pffft Tapi konflik yang dibangun sangat menarik dan bisa membuat pembaca mengabaikan rasa bosan dan tenggelam dalam usaha Ra dan kawan-kawannya dalam menemukan petunjuk dari alam, memecahkan teka-teki dan melewati berbagai rintangan yang merupakan tiga hal yang membuat jalan cerita menjadi seru badai. Pokoknya keren deh meski endingnya agak bikin nyesek gitu.
Oh ya bukan hanya hanya endingnya yang bikin saya sedikit merasa apalah-apalah gitu, setelah menyadari kalau semua orang dari Klan Matahari nama tengahnya adalah Tara membuat saya agak cemburu sekaligus lucu karena Bulan yang saya baca adalah novel hasil usaha saya meminjam dari teman saya yang bernama 'Tara' juga. Hihi miracle kan? Begitulah saya jadi penasaran dan sabar nggak sabar untuk menunggu buku ketiga; Matahari. Semoga ada miracle untuk saya di dalamnya. Aamiin
HK, Juni 2015

Gaifong, Aplikasi Bertetangga Untuk Membangun 'Smart City'

dari Goole

Kehadiran dan makin maraknya berbagai macam aplikasi sosial yang bisa diakses dengan mudah dan dimanfaatkan sesuai fungsinya sudah menjadi hal penting bagi setiap orang.

Bahkan bisa dibilang sudah menjadi kebutuhan umum karena di mana pun orang-orang berada untuk saat ini memerlukan penggunaan layanan data dalam aktivitas sehari-harinya. Jika awalnya penggunaan media sosial hanya sebagai sarana komunikasi dan refreshing sekarang aplikasi sosial sudah menjadi sarana jual beli dari lagu, tiket film, baju, barang-barang elektronik sampai dengan rumah dan lain sebagainya yang sanggup memupuk subur sifat konsumerisme masyarakat. 

Berbagai macam fitur dan fungsi dalam aplikasi sosial sebagai sarana yang bisa memicu sifat konsumerisme serta makin menipisnya ruang kosong untuk menyimpan barang dan menumbuhkan sifat sosial untuk berbagi dalam masyarakat di negeri Andi Lau inilah yang menjadi salah satu sebab Elliot dan kawan-kawannya menciptakan sebuah aplikasi yang diberi nama: Gaifong. Gaifong dalam bahasa Cantonis berarti 'tetangga'.

Aplikasi Gaifong hampir serupa dengan aplikasi sosial lainnya yng dilengkapi dengan fungsi GPS untuk mencari tempat atau untuk menemukan item yang dibutuhkan penggunanya. Hanya bedanya dengan aplikasi lainnya, fungsi dari Gaifong ini adalah khusus untuk sarana pinjam meminjam dan sewa barang dari lingkungan terdekat, semacam kehidupan bertetangga di Indonesia. Jenis atau kategori barang-barang yang dipinjamkan pun beragam dari buku-buku, kaset CD/ DVD, baju sampai barang elektronik. Dari yang gratis sampai yang berbayar.



Doc Pribadi


Caranya pun cukup mudah, pengguna yang sudah memiliki aplikasi Gaifong yang bisa didownload gratis via Geogle Play S, kemudian bisa langsung login dengan akun Fb dan memasukkan alamat wilayah domisilinya kemudian search untuk menemukan tempat terdekat untuk barang yang dicari dan bisa mengajukan permintaan untuk meminjam/ menyewa dengan mengirimkan permintaan langsung kepada pemiliknya (pemilik akun di Gaifong yang sudah mengupload gambar barang yang akan dipinjamkan/disewakan) kemudian menunggu jawaban yang akan dikirim melalui pesan bersama rincian kesepakatan dan lain-lainnya (misal: mau ketemuan di mana?). 

Jadi Gaifong sebenarnya hampir sama dengan tweeter dan instagram serta aplikasi sosial lainnya yang berfungsi untuk membangun jaringan sekaligus rasa komunitas di Hong Kong. Meskipun Hong Kong adalah tempat yang sangat kecil, masih ada jarak yang membentang rasa kebersamaan antar warganya. Gaifong membantu penggunanya agar merasa lebih terhubung dengan masyarakat di sekitar mereka. Hanya sayangnya bahasanya baru terbatas pada Bahasa Inggris dan Cantonis. Jadi untuk minoritas Indonesia yang tidak menguasai dengan baik bahasa tulis kedua bahasa tersebut tentunya kurang bisa maksimal menggunakannya.

Menurut Elliott, CEO Gaifong, aplikasinya ini ia rancang pada akhir 2014 dan baru resmi diluncurkan pada bulan Maret 2015. "Kami berharap melalui teknologi informasi, aplikasi yang kami luncurkan bisa untuk membuat masyarakat lebih efisien dalam penggunaan sumber daya yang terbatas. Dan bersama-sama menjadikan Hongkong sebagai smart city."

Saya mengetahui tentang Gaifong ini ketika mengikuti workshop potografi (Minggu, 7/6)dan bertemu Elliot yang saat itu diundang panitia workshop untuk membantu mereka mendapatkan pinjaman kamera untuk peserta workshop yang belum memiliki kamera sendiri. Hal ini surprise bagi saya, apalagi ketika tahu bahkan ada kamera DSLR yang disewakan gratis setelah tahu kamera-kamera tersebut akan digunakan untuk kepentingan belajar potografi gratis yang diadakan We Care.

Pribadi

HK, Juni 2015

Senin, 08 Juni 2015

The Empress of China: Cerita Wanita, Tahta dan Cinta


Dalam sejarah, baik di China pun wilayah lain di dunia, wanita jarang sekali berpartisipasi dalam pemerintahan apalagi sampai menduduki takhta kekaisaran. Penobatan Wu Zetian sebagai kaisar wanita Dinasti Zhou merupakan pengecualian yang menjadi kisah legendaris. Wu Zetian sebagai satu-satunya kaisar wanita dalam sejarah China masih menjadi kontroversi tersendiri yang mengakibatkan penilaian yang diberikan generasi ke generasi kemudian berbeda-beda. Penilaian ini tentunya berkembang sehubungan dengan kepentingan yang ada



Ngambil di gooogle

Sabtu, 06 Juni 2015

Kisah Galau di Hati Minggu



Doc: Arista Devi

Judul: LONG DISTANCE RELATIONSICK
Penulis: Hadi Kurniawan
Penerbit: Ragam Media
Editor: Fatimah Azzahrah
Cet: I, Mei 2015
Tebal: 190 hal 13x19 cm
Harga: Rp. 38.000

Blurb
Gue pikir, menjalin hubungan LDR itu sama aja kayak air kopi tanpa gula. Pahit. Banyak sekali cobaan.
Gue seringkali ngalamin yang namanya galau. Kalau setiap Sabtu malam orang-orang nge-date sama pacarnya, sedangkan gue, ya, Tuhaaaan! Gue hanya bengong doang, nungguin anak ayam turun seribu yang mati satu tinggal sembilan ratus sembilan puluh sembilan. Giliran anak ayam tinggal dua dan gue melihat ayam itu gandengan, gue pasti bakalan envy abis. Anak ayam aja gandengan, masa gue enggak?
***

Ini bukan kisah sedih di hari Minggu. Ini kisah sedih yang dialami Minggu (iya, nama orang bukan nama hari). Semenjak terpisahkan oleh jarak dengan pacarnya, cowok itu sering gonta-ganti nada dering yang bikin bermuram durja. Kadang pake lagu Jaga Selalu Hatimu-nya Seventeen, kadang pasang Lagu Rindu-nya Kerispatih.

Semuanya masih baik-baik saja asalkan stok pulsa terjamin atau operator nggak iseng-iseng nyapa doi: “Nomor yang Anda tuju sedang sibuk.” Kalau kedua hal itu udah kejadian, prasangka buruk pun dateng dan seharian bakal annoying. Dia lagi apa? Lagi pergi sama siapa? Udah makan belum? Udah poop belum? *abaikan pertanyaan terakhir*

Dih, ngerasa senasib sepenanggungan? Daripada lo nangis senderan di dalam kamar mandi sambil shower-an, mending lo meratapi nasib bareng Minggu aja deh!

Review
Salah satu jenis tulisan yang sekarang mulai marak adalah personal literature atau disingkat pelit. Sebuah jenis tulisan yang termasuk jenis non-fiksi. Jadi cerita dalam naskah pelit adalah kisah nyata yang benar-benar dialami oleh penulis atau kharakter yang ada di dalam cerita. Terlepas kita mengenal penulisnya atau tidak, jika membaca novel debut Hadi Kurniawan yang ia  tulis dengan sudut POV1 (gue atau Minggu)  maka serta merta kita akan mengira kalau Hadi eh novel-nya ini benar-benar pelit. Tapi untuk kebenarannya silakan tanya pada @Had1k

Dalam novel yang baik cover dan juga layout-nya sungguh sangat menarik ini, diceritakan sosok seorang Minggu Mahardika. Tokoh utama yang berkharater centil dan pe'a yang sepanjang cerita mengalami kegalauan demi kegalauan yang pada akhirnya malah bisa membuatnya semakin dewasa dan bijaksana. Curhat Minggu tentang LDR-nya dengan Ciska kepada pembaca mengalir sampai jauh (kayak Bengawan Solo aja hihi), enak dinikmati dan bisa mengaduk-aduk rasa. Membuat pembaca larut antara meringis terhibur sekaligus geregetan ingin menjitak penulisnya eh Si Minggu ding.

Novel yang menurut saya termasuk kategori young adult ini ( baca: tidak direkomendasikan untuk pembaca di bawah umur tanpa pendampingan orang dewasa #tsaaah) selain berisi tulisan gaya ngocol sesuai kharakter pe'a  Si Minggu juga ditaburi analogi-analogi yang keren. Dialog-dialognya cukup bernas dan narasinya tergolong tidak membosankan.

"... Hidup ini layaknya kubus yang memiliki enam buah sisi. Jika kemarin atau beberapa waktu lalu gue merasa sedih, itu artinya gue sedang melihat dari sisi terbawah dari kubus itu. Kenapa gue selalu galau? Karena gue nggak pernah mau berpikir dari sisi yang lain." (hal: 165)
Documen Pribadi
Meski ada beberapa typo untuk beberapa kata dan tanda baca yang juga sempat membuat sebutan 'gue' mendadak berubah jadi 'aku'. Novel ini tetap recommended untuk dijadikan koleksi karena kisah galau di hati Minggu dijamin bisa menjadi obat galau bagi pembacanya, khususnya bagi yang sedang menjalin hubungan jarak jauh. Sarat pesan kebajikan baik yang tersurat maupun tersirat, tentang bagaimana agar hubungan percintaan baik dengan kekasih ataupun sahabat tetap bisa berjalan dalam proses kebaikan dan perbaikan diri.
***

NB: Bibi salut dan bangga padamu, Ntang, meski pe'a kamu itu sering bikin bibi geregetan. Pokoknya Ntang emang keren!

HK, Juni 2015

Jumat, 05 Juni 2015

Berdakwah dengan Kocak

Document Pribadi
Judul Buku: 3 Koplak Mengejar Cinta
Penulis: Haris Firmansyah
Penerbit: Wahyu Qolbu
Tahun: 2015
ISBN: 979-795-946-5
Blurb

Kalo demi ngedapetin cewek, elo ditantang suruh kerja nyikatin gigi buaya tiap hari, mau nggak?? Orang normal pasti bilang, “TIDAAAK!!” Tapi buat 3 KOPLAK, jawabannya, “KENAPA TIDAAAK??” Yang penting bisa melepas status JOMBLO AKUT yang melekat pada mereka.

Tiga sahabat: Ardan, Ibam, dan Pasai sedang dalam misi mencari cinta sejati. Ardan: lebay dan labil, Ibam: pemuda ber-IQ jongkok dan over pede dan Pasai: SANG PENCERAH JALAN KESESATAN. Ketiganya bersaing ngelepas status jomblo. Celakanya, mereka mengincar cewek yang SAMA. Hadeuuh… *Nepuk jidat!!

Belum beres masalah persaingan cinta, eh datang masalah baru. Mereka punya wali kelas baru yang STRICT dan udah bikin daftar siswa “BANDEL” yang terancam bakal nggak naik kelas. Lalu, gimana nasib 3 Koplak selanjutnya? Gimana dengan persahabatan mereka? Apakah mereka akan naik kelas? Gimana pula dengan masa depan kejombloan mereka? Buruan baca deh!!

Kamis, 04 Juni 2015

Mitos Kedua Yang Sengaja Kuceritakan

"Ini tidak mungkin! Tidak mungkin.... Dengan air sungai ini aku sirami mimpi-mimpiku, bagaimana mungkin di sungai ini pula cintaku yang menjadi impianku terlarung begitu saja?"
Kubiarkan Aditya berbicara pada dirinya sendiri, bertanya-tanya sekaligus menjawab pertanyaannya sendiri. Aku ingin sekali tak peduli, andai pun lelaki yang berdiri di sebelahku bisa dianggap gila karena kelakuannya sendiri. Ya, buat apa coba aku mesti peduli? Sedangkan Aditya sendiri tak pernah peduli padaku, pada perasaanku, pada mimpi-mimpiku, pada cintaku!

Rabu, 03 Juni 2015

7 Modus Penipuan Yang Mengganggu Traveling

Ada banyak alasan mengapa orang-orang (termasuk saya) menjadikan traveling atau jalan-jalan sebagai hobby.
Bagi saya pribadi traveling bisa diibaratkan dengan petualangan. Sebuah petualangan untuk mencari dan menemukan 'sesuatu' di luar lingkaran dunia yang saya huni tiap hari.

Travellers sejati mencintai traveling bukan hanya sekedar untuk menjadikannya moment jalan-jalan atau hanya untuk menjauh dari kesibukan kehidupan sehari-hari saja. Selalu ada banyak hal yang bisa memicu adrenaline, mengasah kepekaan rasa dan memberi kepuasan batin tersendiri kepada seorang traveller ketika bisa melakukan perjalanannya, terutama jika ke tempat-tempat yang belum diketahui atau belum pernah dikunjungi, yang semuanya masih serba asing. Asing dalam tanda kutip tidak harus luar negeri, bisa luar propinsi, luar pulau, luar kota, luar kabupaten, luar kecematan atau luar kampung sekalipun.
Selama melakukan perjalanan banyak pengalaman yang bisa didapati oleh travellers, tak terkecuali pengalaman buruk bertemu penipu yang menebar modus di jalanan. Tetapi seburuk apapun pengalaman yang kita alami ketika travelling pastinya tetap bisa menjadi pelajaran yang berharga. Bagi saya sendiri pengalaman bertemu beragam modus penipuan di jalan membuat saya belajar untuk bisa memisahkan antara rasa simpati dan hati-hati, tega dan berjaga-jaga. Karena tak jarang modus penipuan sengaja menguji sisi kelembutan seseorang dan membangkitkan rasa iba dan kasihan.

Selasa, 02 Juni 2015

Obat Asma itu Bekicot Bakar

Sewaktu masih kecil saya pernah punya musuh yang jahat bernama 'Asma'. Saking jahatnya, Si Asma rajin banget membuat saya mengi (batuk dan sesak napas diiringi suara mencuit-cuit atau kata kerennya disebut sebagai wheezing). Dan tentunya kalau sudah begitu saya jadi tidak bisa tidur nyenyak. Hiks padahal apa dosa saya coba?  Saya kan hanya sedikit kecapekan dan sedikit melanggar pantangan dengan minum sedikit es saja.  Sedikit, sungguh!  Tapi efeknya ya gitu deh jadi bikin repot keluarga dan saya kena omelan juga.
Si Asma yang ternyata adalah jenis penyakit menahun/kronis, menurut ilmu kedokteran modern tidak bisa disembuhkan dan hanya gejalanya saja yang bisa dikurangi. Menakutkan bukan?  Karenanya segala upaya pengobatan dari ke dokter sampai pengobatan tradisional dilakukan keluarga untuk saya. Iya saya yang tidak sengaja bermusuhan sama Asma. PLAK!
Untuk tahu lebih banyak tentang Asma, kamu bisa mencari info dari buku tentang kesehatan atau tanya-tanya ke rumah Mbah Geogle yang serba tahu. Karena di sini saya hanya akan membahas 'obat ajaib', yang kalau tidak bisa dibilang menyembuhkan total setidaknya sudah meredakan gejala asma saya dengan total. Obat ajaib tersebut bernama: Bekicot Bakar.

Senin, 01 Juni 2015

Hirawling Family, Sebuah Keluarga Tanpa Ikatan Darah


Dunia ini dipenuhi kepingan puzzle yang jika terangkai akan membentuk jalinan cerita kehidupan yang mempengaruhi hidup masing-masing manusia. Termasuk sosok manusia lain yang belum pernah kita temui secara nyata sekalipun. Sosok orang-orang yang terkadang dengan sekedar mengingat namanya saja bisa menghadirkan 'rasa' karena keberadaannya cukup berpengaruh dalam alur cerita kehidupan kita.


Sebagai bagian dari keping puzzle kehidupan begitulah adanya Hirawling Family (Sebutan untuk anggota Grup Hirawling Kingdom) bagi saya, sebuah keluarga maya yang pada 31 Mei 2015 sudah berusia genap 4 tahun. Dalam usia yang tak bisa disebut singkat juga belum bisa dibilang lama,  Hirawling Kingdom mengalami banyak hal termasuk pergantian anggotanya. Ada yang menghilang, ada yang datang dan ada juga yang diam-diam tetap memperhatikan serta merindukan kebersamaan tapi ada juga yang makin merasa asing dan terasing. Suatu dinamika warna dalam perhubungan  manusia.

Minggu, 31 Mei 2015

Mei, Hujan dan Cerita

Tak seperti biasanya, Mei di Bumi Bauhinia kali ini terasa panas sekali dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Untuk ukuran temperature memang masih dalam hitungan normal tapi mungkin karena disebabkan hujan dan panas yang bergantian hadir hanya berselang hitungan jam bisa membuat tingkat kelembapan meningkat. Entahlah.... Tentang cuaca di Bumi belahan manapun akhir -akhir ini memang sulit untuk diprediksi.

Selama kurang lebih satu bulan tinggal di pelosok (lereng gunung dan tepi pantai)  membuat saya mendadak jadi peka mengamati perubahan cuaca dan semakin tahu bagaimana wajah hujan ketika datang. Dari sebentuk awan hitam, bergulung, kemudian berputar seperti sepasukan prajurit yang mencari titik formasinya sendiri lalu menjatuhkan diri sebagai kawanan jarum menghujam segala yang berada di permukaan bumi. Mengesankan, menakjubkan sekaligus mengerikan. Benar-benar mengingatkan manusia akan kuasa pencipta-Nya.

Sabtu, 07 Maret 2015

Fifty Shades of BangRoll #HirawlingFamilyStories

Fokus pada dasi merah ya gaes! Pfft...


"Jadi Machan ini masih di bawah umur ya? Kelahiran tahun berapa kamu Dek Machan?" Mutchu yang biasanya pendiam mendadak terjangkit penyakit kepo.

"Fatmadesu-Kun itu paling muda di sini. Pertumbuhannya terhenti di umur 16." Pangee mewakili Machan yang sedang sibuk mewarnai gambar milik temannya. "Dialah yang akan membawa neverland kepada mereka yang ingin forever young."

"Apa? Terhenti?" Tanpa berusaha meralat ocehan Pangee, Machan pun menimpali asal sambil tetap mantengin gambar kartun setengah jadi di layar laptopnya . "Kata ayah saya, kalo saya terus terusan nambah tinggi entar susah nyari cowoknya. Gitu."

Jumat, 06 Maret 2015

Catatan Hati Seorang Introvert #2


"Ada apa denganmu?"

Bagi saya dan orang-orang introvert lainnya, kalimat tanya yang jawabannya identik dengan "baik-baik saja" tersebut sudah tidak. Pertanyaan biasa yang ada karena 'sisi biasa' kami yang kerap dianggap 'tidak bisa dipahami' oleh orang lain. Begitulah. Dan ketika pertanyaan yang sama diulang atau datang berulang-ulang di waktu yang nyaris bersamaan tak jarang membuat saya malah badmood dan ingin teriak: 

"Saya ini kan seorang introvert! Kenapa kalian tidak bisa memahaminya? Ketika saya bermuka masam, ketika saya diam, ketika saya mendadak 'hilang', tidak bisakah kalian ingat kalau saya ini seorang introvert?! Kalian tak bisa memaksa saya bicara! Tidak!"

Aih! Tapi selagi waras, nggak mungkinlah kalimat di atas saya suarakan, paling-paling ya dibatin aja.


Sebenarnya saya sadar sesadar-sadarnya kalau orang-orang introvert seperti saya, bisa jadi menjengkelkan plus plus plus pakai banget. Hiks! Bukan hanya hasil bercermin tapi juga hasil pengalaman berinteraksi dengan sesama introvert sekaligus berdiskusi dengan orang-orang dekat saya, ada 3 point paling menjengkelkan yang saya catat dan ingin berusaha mengubahnya atau minimal meminimalisir-nya karena benar-benar bisa merugikan diri saya sendiri juga orang lain.

1. Merasa enjoy hidup di dalam lingkaran hingga mengabaikan dunia lain di luar lingkaran. Jujur saja point ini kerap menimbulkan frustrasi tidak hanya pada orang lain di sekitar saya tapi juga diri saya sendiri. Setidaknya saya harus belajar keras untuk tertarik pada dunia di luar lingkaran saya atau sekurangnya saya harus sanggup berpura-pura tertarik agar saya mampu menjadi mahluk sosial yang bisa bersosialisasi. ‪#‎sulit‬

2. Memilih bungkam seribu kata jika ada sesuatu yang mengganggu/salah. Saya tahu point ini kesalahan terbesar yang membuat makin banyak orang yang salah paham pada orang-orang seperti saya. Saya butuh waktu untuk memikirkan segala hal ketika terjadi konflik. Tapi bukan berarti saya harus meninggalkan orang lain dalam keadaan bertanya-tanya, menduga, berprasangka. Ah harusnya saya bisa memulai pembicaraan untuk menjelaskan bla bla bla tapi lagi-lagi perlu belajar dan memaksakan diri. Pe-er besar untuk kaum eh diri saya!

3. Sulit berekspresi. Nah ini point yang mungkin menyebalkan orang lain, terutama yang mengharap pujian atau sanjungan. 'Kaum songong' seperti saya eh? pelit pujian dan sanjungan. Bukan pelit ding hanya pilih-pilih. Orang introvert memang terkadang merasa inferior, jadi gak suka orang yang superior berada di sekitarnya. Saya lebih terkagum-kagum dan rela mengakui kehebatan orang yang sederhana, rendah hati dan humble dibanding 'sosok wah yang diidolakan orang pada umumnya'.

Tiga point yang saya curhatkan di atas, bisa dibilang sebagian dari pagar baja kasat mata milik seorang introvert. Masih banyak pagar lainnya yang pastinya tiap orang berbeda-beda meski mungkin kalau pun berbeda, bedanya tipis saja.

Sebenarnya jika kalian punya minat untuk memahami saya atau orang-orang introvert di sekitar kalian, ada banyak materi yang bisa ditemukan dengan mudah di rumah Mbah Geogle. Secara garis besar -yang banyak dimuat dalam artikel-artikel yang membahas introvert- disebutkan ciri-ciri introvert adalah tidak banyak bicara (menurut saya bukan tidak banyak bicara tapi suka bicara hanya pada orang yang 'klik' saja), lebih suka bekerja sendiri (nggak juga, biasanya orang introvert bisa jadi angota tim yang keren termasuk saya, uhuk!), tidak suka menjadi pusat perhatian (yes!), berhati-hati (pakai banget, apalagi kalau urusan hati), lebih suka berfokus pada satu hal (yoi), sulit bergaul (hmmm nggak juga, mudah bergaul kok tapi juga sama yang 'klik'), lebih sering mendengarkan daripada bercerita (plus juga mengamati, menyimpulkan dan riuh berdiskusi di dalam kepalanya sehingga ketika tiba waktu bercerita atau komen, ya kata-katanya jadi jleb!).

Kembali kepada pertanyaan pembuka untuk saya, "ada apa denganmu?"
Ada apa ya? Hmm dari curhatan geje di atas sebenarnya saya hanya ingin menjawab "saya baik-baik saja".


Ketika saya menghabiskan waktu terlalu banyak untuk bersosialisasi dengan orang-orang di sekitar saya, saya akan merasa kosong dan kelelahan. Agar bisa merasa segar kembali saya harus bisa menyendiri (berdiam dalam lingkaran) selama beberapa waktu. Setiap orang punya cara sendiri untuk mengisi ulang (recharge) energinya. Dan begitulah cara saya, yang mudah-mudahan tak akan membuat kalian bertanya-tanya lagi. Aamiin


Maret, 2015

Kamis, 12 Februari 2015

Berburu Keindahan 'Sakura Musim Dingin' di Negeri Bauhinia

Sakura Musim Dingin (dokpri)
Merayakan Festival Bunga Sakura pun menikmati indah bunga yang kerap dijadikan metafora untuk ciri-ciri kehidupan yang tidak kekal, yang sedang mekar di reranting ribuan pohon di Jepang dan Taiwan adalah hal biasa. Tetapi tentunya berbeda dan bisa menjadi suatu hal yang istimewa ketika mekar Sakura bisa kita temukan dan dinikmati di Hongkong dan Indonesia.

3 Kawai (dokpri)
Amazing! Kurang lebih begitulah apa yang saya rasakan ketika bisa menjumpai Sakura di halaman
Gedung Chih Hsing di New Asia College CUHK. Sungguh seperti mimpi ketika bisa menatap lekat Sakura nan mekar anggun dengan kelopak merah muda lembut yang tampak halus dan luar biasa cantik. Bahkan kecantikan bunga yang sering dijadikan simbol perempuan tersebut sama sekali tak berkurang meski cuaca sedang mendung dan berkabut.

Sakura for Dimbro & Bee (dokpri)

Ketika baru saja bertemu Sakura, untuk beberapa lama saya sempat tak tergerak mengambil gambar, hanya menyentuh pelan pohon, meraba daun dan menghirup dalam-dalam aroma Sakura. Membiarkan imajinasi saya terbang, melayang ke negeri 3 lelaki yang pernah menghiasi papan daftar nama-nama pujaan hati saya: Kakashi, Conan dan Ichinose. ‪#‎Eh‬?

Pohonnya memang kecil tapi pengunjungnya wew, makin sore makin banyak, terutam,a para fotografer (dokpri)

Mendadak saya merasa lega, tak rugi sama sekali karena sudah berani menempuh perjalanan panjang nan berliku dan menegangkan di antara hantaman rasa dingin dan penasaran untuk bisa melihat dari dekat Si Sakura. Naik turun bus, keluar masuk kereta. ‪#‎lebay‬tongue emoticon (baca: sempat muter-muter ganti bus berkali-kali sebelum menemukan jalur mtr di garis biru) Ya sebenarnya bukannya lebay juga sih karena emang saya datang ke tempat bunga lambang persahabatan itu seorang diri, untuk pertama kali pula. Jadi tak mengherankan jika saya sampai menggunakan option ask audience via whatsapp dan call a friend plus tanya sana sini kepada orang yang ditemui. Bahkan sempat hampir salah naik bus kalau saja tak disemprot sopir karena tak punya kartu khusus untuk karyawan (ternyata bus antarjemput karyawan RS). Untungnya setelah pura-pura beli telur puyuh dan tanya pembelinya, saya baru tahu kalau apa yang saya cari ada di arah lain. Tepatnya ada di University Mtr exit A!

Sesampainya di exit A yang ternyata adalah gerbang Chinese University of Hong Kong (CUHK), saya malah bingung. Celingak-celinguk kayak orang kesasar, karena ratusan orang yang hilir mudik plus beraktivitas di situ adalah wajah mahasiswa(i). Dan saya wajah ... ‪#‎skip‬ Tapi setelah berusaha sok cool, saya bertanya juga, arah yang mana jalan ke tempat Sakura kepada beberapa dari mereka yang sedang berkegiatan mengumpulkan tanda tangan dukungan untuk revolusi payung. Jreng! Akhirnya saya temukan bus berwarna Ungu ‪#‎cieeewarnague‬! dengan nomor urut 2 yang akan mengantar ke ANC tanpa perlu bayar. Gratis!

Amazing Sakura (dokpri)

Dari bus stop ANC saya hanya perlu berjalan beberapa meter agar bisa menemukan Pohon Sakura yang konon adalah salah satu spesies yang terbaik di negeri asalnya. Hadiah pemerintah Jepang untuk ultah ke-20 fakultas sastra dan budaya Jepang di CUHK pada tahun 2012. Sungguh hadiah keren karena hadiah yang bertumbuh dan berbunga di ANC CUHK telah menjadikan kampus biru tersebut sebagai salah satu kampus yang menjadi tempat yang wajib dikunjungi pada tiap tahunnya.‪#‎pingindapathadiahpohonsakuratapimauditanamdimana‬frown emoticon

Setelah kurang lebih 1 jam bercumbu dengan bunga impian saya, muncullah teman saya yang orang Jepang yang menjadi salah satu pengajar di CUHK, yang telah memamerkan album gambar Sakura di dinding FB-nya dan membuat saya mendadak ngidam kembang. ‪#‎hihi‬Pada akhirnya ketika pulang bareng Mr Masao, saya jadi percaya bahwa jalan pulang sering kali rutenya lebih pendek dari jalan pencarian yang sudah saya lewati. grin emoticon
Fokus ke Sakura ya hihi (dokpri)
Bagi teman-teman di Hong Kong yang sengaja ingin bertemu Sakura Unyu (usianya baru 3 tahun loh, unyu kan?) di ANC CUHK, seperti yang saya sebutkan di atas: Dari Exit A University Mtr naik bus ungu no. 2, turun ANC. Begitu juga dengan pulangnya. Bus gratis, hanya mesti antre.
Semisal ternyata datangnya kepagian atau sedang tak ada bus, bisa jalan kaki dengan rute hiking yang naik turun berliku. Tapi jika malas atau takut capek bisa memotong rute dengan mencari jalan naik lift , estafet dari gedung ke gedung (ini berdasarkan pengalaman ‪#‎3SR‬ pfft... B-)) Oh ya misal ternyata sesampainya tempat Sakura, bunganya sudah gugur semua atau kecewa karena ternyata tak seindah harapan, jangan khawatir. Selain Sakura masih ada bonus pemandangan indah yang bisa kalian temukan di sana.
#3SR (dokpri)

Ternyata selain di ANC CUHK, kata teman saya masih ada 3 tempat persembunyian Sakura lainnya di Hong Kong.

1. Kadoorie Farm and Botanic Garden. Sakura di KFBG adalah jenis yang sama dengan Sakura di Taiwan yakni Sakura Gunung. Biasanya berbunga sekitar awal Februari. Untuk ke sana bisa naik bus 64K dari Kam Sheung Road West Mtr, Tai Wo Estate, Tai Po Market Mtr atau dari Yuen Long. Menurut info ada juga bus antar jemput gratis dari KFBG untuk pengunjungnya.

2. Kwan Kung Pavilion di Pulau Cheung Chau. Ada lebih dari 10 Pohon Sakura Gunung di sana. Yang biasanya berbunga di pertengahan Februari hingga pertengahan Maret.
Jika ke Kwan Kung Pavilion dari Cheung Chau Pier Ferry belok ke arah kanan, berjalan dua menit, belok kiri sampai menemukan PARK n SHOP, kemudian jalan di menyusuri trail yang ada selama 10 menit. Sampai!

3. Tai Mo Shan. Di dekat pintu masuk Tai Mo Shan Country Park (di tempat parkir) ada beberapa Pohon Sakura Gunung. Selain itu ketika menyusuri Rotary Park Nature Trail kita juga akan bertemu Sakura yang biasanya berbunga dari bulan Maret sampai April. Untuk ke sana kita bisa naik bus No.51 dari Menara Nina di Tsuen Wan. Turun di halte bus Tai Mo Shan Country Park dan berjalan selama 5 menit.

Semoga catatan saya ini bisa membantu kalian yang ingin berburu keajaiban Sakura dan merasakan sensasi pertemuan dengan bunga kemanusian bagi orang Jepang. Jangan lupa bisikkan pada Sakura agar bersama semesta mendukung impianmu untuk sampai di bumi asalnya. Sebut nama 3 orang yang punya mimpi yang sama denganmu. Seperti aku menyebut nama Unyu Bee, Madesu Chan dan Dimbro grin emoticon


Make A Wish (dokpri)


Tin Shui Wai, Winter 2015

NB:
Bagi yang ingin berburu Sakura di Indonesia, ada dua tempat yang bisa dicoba. Yakni Kebun Raya Cibodas yang berada di Kabupaten Cianjur Propinsi Jawa Barat dan di Bendungan Selorejo, Desa Selorejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Good luck!