Laman

Sabtu, 07 Maret 2015

Fifty Shades of BangRoll #HirawlingFamilyStories

Fokus pada dasi merah ya gaes! Pfft...


"Jadi Machan ini masih di bawah umur ya? Kelahiran tahun berapa kamu Dek Machan?" Mutchu yang biasanya pendiam mendadak terjangkit penyakit kepo.

"Fatmadesu-Kun itu paling muda di sini. Pertumbuhannya terhenti di umur 16." Pangee mewakili Machan yang sedang sibuk mewarnai gambar milik temannya. "Dialah yang akan membawa neverland kepada mereka yang ingin forever young."

"Apa? Terhenti?" Tanpa berusaha meralat ocehan Pangee, Machan pun menimpali asal sambil tetap mantengin gambar kartun setengah jadi di layar laptopnya . "Kata ayah saya, kalo saya terus terusan nambah tinggi entar susah nyari cowoknya. Gitu."

Jumat, 06 Maret 2015

Catatan Hati Seorang Introvert #2


"Ada apa denganmu?"

Bagi saya dan orang-orang introvert lainnya, kalimat tanya yang jawabannya identik dengan "baik-baik saja" tersebut sudah tidak. Pertanyaan biasa yang ada karena 'sisi biasa' kami yang kerap dianggap 'tidak bisa dipahami' oleh orang lain. Begitulah. Dan ketika pertanyaan yang sama diulang atau datang berulang-ulang di waktu yang nyaris bersamaan tak jarang membuat saya malah badmood dan ingin teriak: 

"Saya ini kan seorang introvert! Kenapa kalian tidak bisa memahaminya? Ketika saya bermuka masam, ketika saya diam, ketika saya mendadak 'hilang', tidak bisakah kalian ingat kalau saya ini seorang introvert?! Kalian tak bisa memaksa saya bicara! Tidak!"

Aih! Tapi selagi waras, nggak mungkinlah kalimat di atas saya suarakan, paling-paling ya dibatin aja.


Sebenarnya saya sadar sesadar-sadarnya kalau orang-orang introvert seperti saya, bisa jadi menjengkelkan plus plus plus pakai banget. Hiks! Bukan hanya hasil bercermin tapi juga hasil pengalaman berinteraksi dengan sesama introvert sekaligus berdiskusi dengan orang-orang dekat saya, ada 3 point paling menjengkelkan yang saya catat dan ingin berusaha mengubahnya atau minimal meminimalisir-nya karena benar-benar bisa merugikan diri saya sendiri juga orang lain.

1. Merasa enjoy hidup di dalam lingkaran hingga mengabaikan dunia lain di luar lingkaran. Jujur saja point ini kerap menimbulkan frustrasi tidak hanya pada orang lain di sekitar saya tapi juga diri saya sendiri. Setidaknya saya harus belajar keras untuk tertarik pada dunia di luar lingkaran saya atau sekurangnya saya harus sanggup berpura-pura tertarik agar saya mampu menjadi mahluk sosial yang bisa bersosialisasi. ‪#‎sulit‬

2. Memilih bungkam seribu kata jika ada sesuatu yang mengganggu/salah. Saya tahu point ini kesalahan terbesar yang membuat makin banyak orang yang salah paham pada orang-orang seperti saya. Saya butuh waktu untuk memikirkan segala hal ketika terjadi konflik. Tapi bukan berarti saya harus meninggalkan orang lain dalam keadaan bertanya-tanya, menduga, berprasangka. Ah harusnya saya bisa memulai pembicaraan untuk menjelaskan bla bla bla tapi lagi-lagi perlu belajar dan memaksakan diri. Pe-er besar untuk kaum eh diri saya!

3. Sulit berekspresi. Nah ini point yang mungkin menyebalkan orang lain, terutama yang mengharap pujian atau sanjungan. 'Kaum songong' seperti saya eh? pelit pujian dan sanjungan. Bukan pelit ding hanya pilih-pilih. Orang introvert memang terkadang merasa inferior, jadi gak suka orang yang superior berada di sekitarnya. Saya lebih terkagum-kagum dan rela mengakui kehebatan orang yang sederhana, rendah hati dan humble dibanding 'sosok wah yang diidolakan orang pada umumnya'.

Tiga point yang saya curhatkan di atas, bisa dibilang sebagian dari pagar baja kasat mata milik seorang introvert. Masih banyak pagar lainnya yang pastinya tiap orang berbeda-beda meski mungkin kalau pun berbeda, bedanya tipis saja.

Sebenarnya jika kalian punya minat untuk memahami saya atau orang-orang introvert di sekitar kalian, ada banyak materi yang bisa ditemukan dengan mudah di rumah Mbah Geogle. Secara garis besar -yang banyak dimuat dalam artikel-artikel yang membahas introvert- disebutkan ciri-ciri introvert adalah tidak banyak bicara (menurut saya bukan tidak banyak bicara tapi suka bicara hanya pada orang yang 'klik' saja), lebih suka bekerja sendiri (nggak juga, biasanya orang introvert bisa jadi angota tim yang keren termasuk saya, uhuk!), tidak suka menjadi pusat perhatian (yes!), berhati-hati (pakai banget, apalagi kalau urusan hati), lebih suka berfokus pada satu hal (yoi), sulit bergaul (hmmm nggak juga, mudah bergaul kok tapi juga sama yang 'klik'), lebih sering mendengarkan daripada bercerita (plus juga mengamati, menyimpulkan dan riuh berdiskusi di dalam kepalanya sehingga ketika tiba waktu bercerita atau komen, ya kata-katanya jadi jleb!).

Kembali kepada pertanyaan pembuka untuk saya, "ada apa denganmu?"
Ada apa ya? Hmm dari curhatan geje di atas sebenarnya saya hanya ingin menjawab "saya baik-baik saja".


Ketika saya menghabiskan waktu terlalu banyak untuk bersosialisasi dengan orang-orang di sekitar saya, saya akan merasa kosong dan kelelahan. Agar bisa merasa segar kembali saya harus bisa menyendiri (berdiam dalam lingkaran) selama beberapa waktu. Setiap orang punya cara sendiri untuk mengisi ulang (recharge) energinya. Dan begitulah cara saya, yang mudah-mudahan tak akan membuat kalian bertanya-tanya lagi. Aamiin


Maret, 2015