Laman

Sabtu, 07 Maret 2015

Fifty Shades of BangRoll #HirawlingFamilyStories

Fokus pada dasi merah ya gaes! Pfft...


"Jadi Machan ini masih di bawah umur ya? Kelahiran tahun berapa kamu Dek Machan?" Mutchu yang biasanya pendiam mendadak terjangkit penyakit kepo.

"Fatmadesu-Kun itu paling muda di sini. Pertumbuhannya terhenti di umur 16." Pangee mewakili Machan yang sedang sibuk mewarnai gambar milik temannya. "Dialah yang akan membawa neverland kepada mereka yang ingin forever young."

"Apa? Terhenti?" Tanpa berusaha meralat ocehan Pangee, Machan pun menimpali asal sambil tetap mantengin gambar kartun setengah jadi di layar laptopnya . "Kata ayah saya, kalo saya terus terusan nambah tinggi entar susah nyari cowoknya. Gitu."

"Sebenarnya Fatma adalah agen neverland yang mencari anak muda lekas tua atau bocah yang cepat dewasa untuk direkrut sebagai penghuni neverland." Ekspresi Pangee sok serius malah membuat Mbum melemparkan bantal, ngakak sampai terjungkal-jungkal.

"Yah saya forever 17 tahun dah pokoknya." Machan memasang ekspresi cool.

"Walaupun Fatma terhenti di umur 16, kedewasaan pola pikirnya setara dengan BangRoll yang umurnya udah seperempat abad." Pangee melirik BangRoll yang asyik mengelus jenggotnya.

"AISH! KOK BANGROLL SIH?!!!" Machan tidak terima nama musuh bebuyutannya disangkut pautkan dengan obrolan tentang umurnya.

"Aku sudah bisa menebak umur BangRoll sekarang..." Mbum menjentikkan jarinya.


Titik penghitungan umur BangRoll

"Iya. Tanpa kalian berdua sadar, umur kedewasaan kalian setara." Pangee sengaja memancing reaksi BangRoll yang tumben-tumbenan sok pendiam. Entah apa yang sedang dipikirkan manusia berkepribadian multi gender itu.

"WOY!" BangRoll mulai bereaksi. "Bangrol jalan 21!"

"Lho? Jadi kedewasaan Fatma udah ngebalap BangRoll?" Pangee terkejut mendengar pengakuan Abangnya.

"Bangrol jangan bohong!" Mbum tak percaya.

"Jalan ke mana Bang? 21 dihitung mundur?" Mutchu bertanya polos.

"Tua banget gue?" Machan buru-buru bercermin. Ia membayangkan jika usia kedewasaanya setara BangRoll yang mengaku masih umur 21 tapi udah kelihatan tua, artinya?

"Bangrol udah mau kepala tiga, gaes." Mbum melanjutkan dengan penuh keyakinan," BangRoll adalah generasi tua yang sudah memanipulasi umurnya agar terlihat muda."

"Eh? Pfft mau kepala tiga aja sok muda." Machan menjulurkan lidah, mencibir. Buru-buru disimpannya kembali cermin ajaibnya.

"Bangrol sudah berkonspirasi." Mbum dan Machan mengadu tangan tanda sepakat.

"Maksudku tua pola pikirnya. Gak perlu ngaca pun. Kamu kan masih semuda Haibara, Fat." Pangee tertawa.

"Seriusan BangRoll mau kepala tiga?" Mutchu semakin kepo.

"Serius kak Mut. Aku nggak pernah seserius ini kalau nyangkut soal BangRoll" Mbum mengacungkan dua jari tanda swear.

"BangRoll seangkatan sama Bang Dikung ya?" Pangee pun turut kepo.

"KEPALA TIGA PALE LO RETAK FAT!" Sebelum kekepoan makin menjadi, BangRoll bersiap membully Machan, musuh bebocahannya.

"Ups BangRoll si Kepala Tiga beraksi." Mbum dan Machan nyaris terjengkang dari kursi saking kagetnya mendengar teriakan cempreng BangRoll.

"Tapi, tapi Pangee...." Mutchu berbisik. "Bang Dika masih imut gak keliatan tuwirnya. Nah BangRoll? Dari namanya aja keliatan."

"Njir. Bibi lebih tua kali dari abang...." BangRoll melirik Bibi yang sedang asyik membaca komik Detektif Conan.

"Jangan samain BangRoll ama bibi!" Mbum melotot.

"BangRoll masih keliatan muda kok. Apalagi kalau liat nama blognya. Pedoeli Boemi. Muda banget kan?" Pangee menahan tawa.

"Anjay!! Kok saya bahagia ya bisa ngebully BangRoll?" Mutchu ikutan tertawa bahagia.

"Peduli amat kalo Bangroll Pedoeli Boemi." Machan sewot.

"Awas loh Fat, kamu jatuh cinta kayak di FTV9." Pangee mengingatkan Machan.

"Aduh Pangee, saya udah punya cowok yang caem lagi!"

"Pedoeli Boemi?" Mutchu kurang ngeh. "Ngetiknya aja mataku kenut-kenut."

"TERUS AJA!SAMPE PAGI!"BangRoll teriak frustasi. Sebenarnya ia bisa saja melawan seperti biasanya tapi karena ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, ia memilih mojok di beranda.

"Ayo teruskan teman teman! BangRoll merestui!" Mutchu memberi aba-aba sebagai pertanda ‪#‎gerakanbullybangroll‬ bisa segera dilaksanakan.

"Jadi gini," Mbum menunjuk layar laptopnya, "setelah aku melacak di fesbuk bangrol. Dia nggak nyantumin tahun kelahiran, gaes. Kekepoanku pun timbul untuk mengungkap tahun kelahiran Bangroll."

"Mbum, mudah kok caranya. Klik aja profil teman-teman BangRoll dan lihat tahun kelahiran mereka." Bibi memberi solusi.

"Nah, aku sudah menemukannya Bi. Hasil perhitunganku nggak akan salah." Mbum menunjukkan selembar kertas yang sudah penuh coretan angka.

"WOY!"

"Iya Bi. Cara paling mudah yang bibi tawarkan itu." Mbum pura-pura tak mendengar teriakan BangRoll.

"Udah deh, Bangroll kalo tua ya tua aja, gak usah pakai teriak gitu!" Machan menghentikan kegiatannya mewarnai gambar.

"Sini bibi bantu investigasi." Bibi pun langsung membuka akun facebook-nya. Bibi dan Mbum sibuk stalking dinding FB BangRoll.

"Kok Fatma udah punya cowok aja sih? Ini Aomine atau Hidenori versi live action?"

"Hidenori dong karena yang berkacamata itu lebih kewrenz!! Aaaaaaak!!!!" Machan yang asli bocah korban anime, bisa mendadak histeris jika membayangkan wajah-wajah cowok anime favoritnya.

"BangRoll yang tabah ya, nggak perlu lari meski dibully." Pangee menepuk-nepuk bahu abangnya.

"Lari pun percuma. Abang nggak bisa lari dari kenyataan, Ris. Kalo abang itu rupawan..." BangRoll mengelus jenggotnya, "Oh iya. Jumawa juga... Anyone. Ada yang mau nambahin?"

"Fangirling mulu lo, Fat. Ngegiling padinya kapan?" Tangan Pangee yang awalnya cuma puk-puk bahu jadi berpindah ke kepala BangRoll. Satu keplakan sukses mendarat di kepala yang minim rambut.

"Giling padi siapa? Sawah aja kaga ada!" Machan bersungut-sungut.

Hening. Semua sibuk dengan gatget masing-masing.

"Eh lihat! Ini adalah cara kedua yang lumayan sulit untuk menentukan berapa umur Bangrol sekarang. Kalau bangrol nggak pernah tinggal kelas atau eksel, cara ini lumayan sukses." Mbum menunjukkan salah satu postingan riwayat pendidikan di dinding fb BangRoll.

"Eh saya tahun 2003 masih SD." Pangee nampak keheranan.

"Tahun 2003, aku baru masuk SD." Machan menghitung mundur tahun sekolahnya.

"Eh korban komik juga dia rupanya." Bibi menunjukkan postingan pengakuan BangRoll.


Abaikan foto galaunya ya gaes hihi

"BangRoll lebih duluan mengenyam bangku sekolah ya, pantesan kita nggak kebagian?"

"Oh ya, bangroll sempet pake red tie gitu. Jadi semua gelap, red tie doang yang berwarna."

"Rollie with magical red tie. Pfft."

"Gak tau kenapa gue selalu seneng kalau BangRoll dibully. Sori bang. Sori...." Ntang yang baru datang langsung nimbrung. Tost dengan Mbum dan Machan.

Ri***** Adisastro maksudnya apa ni? sebelumjadiPNS? 

Like· More· Jan 10, 2010

Muhammad Roliansyah As-Sajidina YeaH,,,, Kadang2 idDUp itu ga Bs diTebak,,, Katanya U jd PNS bagIan DAPur umUm atO gMn?.. 

Like · More · Jan 11, 2010


"Alay-nya. Pffft."

"Nah itu pasti temen bangrol, Bi. Yuk kita selidikin." Mbum antusias.

"Kalian gak punya kerjaan yang lebih bermanfaedah apa?" BangRoll menggerutu. "Bumi kita rusak gaes. Lapisan ozon kita bolong."

"Peduli amat sama bumi, Bang." Pangee mencibir ocehan BangRoll yang udah kayak mantri kehutanan aja.

"Tahun 1998 Bang Roll mulai belajar naik sepeda." Bibi menemukan jejak ban sepeda di dinding fb BangRoll.

"Jika tahun 2003 lulus SMA kira kira umur 17 tahun. Sekarang tahun 2015. Yes! 29 tahun pffft.' Machan menganalisa temuan yang ada.

"Waduh Bi, Ri**** Adisastro yang menjadi target kita bubarkan aja Bi, ngga bisa kita curi informasi profilenya pfft."

"Tahun 98 saya umur setahun pffft." Machan menggambar bayi bertanduk. Bayi kambing?

"Oke Mbum, kita ganti target."

"Bagus Bi, kita semakin dekat."

"Eh tapi BangRoll berhenti ngerokok lho. Cool. Tengkyus infonya." Pangee tersenyum geje.

"Cool? Dingiiiiin!"

"Iya Kak Ris. Itu patut diacungi kelingking."

"Patut diacungi arit, Mbum."

"Mbum, ada Brika Dragon jadi target selanjutnya. Ada pengakuan kalau dia teman BangRoll."

Sementara yang lain sibuk dengan aktivitas gatget-nya, BangRoll hanya ketar-ketir mengamati dari pojok kamar.

"Brika Dragon sapenya Bika Ambon?" Pangee ikutan mengintip profil Brika.

"BangRoll pernah pacaran gak sih?" Ntang langsung mengetik: Pacar BangRoll siapa namanya? di laman search geogle.

"BangRoll nggak pernah pacaran, Tang. Taaruf sering." Pangee menjawab sotoy.

"Berarti cuma berani naksir tok?" Kening Mbum berkerut.

"Dan datangi orangtuanya, Mbum."

"Tapi ditolak sama orang tuanya si Cewek Kak?"

Menyimak obrolan polos yang geje dari para senpainya, Machan pun ngakak sampe mata berair. Dasar senpai-senpai geje, batinnya.

"Brika Dragon sudah tak tampak lagi Bi, sepertinya kita harus ganti target." Mbum membaca ulang catatan. "Tahun 2003 lulus SMA kira kira umur 17 tahun. Sekarang 2015 = 29 tahun. Ini kalkulasi Fatma bener, Bi. Kita asumsikan saja BangRoll normal. Gak aksel dan gak tinggal kelas."

"Udah sampe mana nih penyelidikannya?" Mutchu yang barusan menyelesaikan ritual wajib memberi makan cacing pita di perutnya langsung nimbrung.

"Oke, Mbum. Teman-teman BangRoll yang jadi target, semua menyembunyikan tahun kelahirannya, Mutchu."

"Pasti konspirasi, Bi!" Mbum dan Mutchu menjawab bebarengan.

"Sepertinya Bangroll melakukan konspirasi dengan teman-temannya." Pangee mulai curiga.

"Kongkalingkong!" Mutchu menambahkan.

"Aku jadi serem bayangin kalian mendadak lumuran dosa gegara kualat gaes." Ntang ngakak nggak jelas sambil ngelanjutin draft cerpen horor-nya yang tak pernah lebih serem dari mukanya sendiri.

"Mungkin BangRoll juga mendatangi TU sekolahnya untuk menghilangkan data-datanya."

" Tahun 1998 udah belajar naik sepeda, tahun 2003 udah lulus SMA. Hmm bisa jadi, Pangee."

"Kak Ntang serem banget dah." Mbum cemberut.

"Ntang, di saat kami berlumuran dosa,pala kamu udah berlumuran belatung gemuk. Huh!" Pangee melempar kacang yang langsung disambut dengan mulut menganga oleh Ntang.

"Biarlah BangRoll menghapus data-datanya, tapi ia nggak akan bisa menghapus umur yang telah dilewatinya, Kak."

Muhammad Roliansyah As-Sajidina in Kandangan, Kalimantan Selatan, Indonesia May 11, 2014 at 9:40am · Kandangan, Indonesia ·
Learned to Swim November 2012
Gak pernah belajar sih. Capek teori mulu, malah gak bisa bisa. Langsung praktek ajah. Nyemplung ke aer dan langsung bisa begitu aja. Ternyata gue ada bakat jadi Kecebong.

"Lihat ini! BangRoll belajar renang? buat apa? buat ambil koin di pelabuhan?" Bibi berpikir keras.


Kira-kira BangRoll pakai baju renang nggak ya?


"Ini ada apa sih kok sepi-sepi aja?" BangRoll mendelik lesu, memperhatikan keseriusan keluarganya beraksi untuk menyelidiki riwayat hidupnya di dunia maya.

"Di profil bloggernya BangRoll ngaku cupu ya kalau gak salah. Ini ada yang pernah menilik?"

"Tanda-tanda penuaan dini, BangRoll salah mengartikan keadaan. Masa lagi heboh bin sibuk gini dibilang sepi." Mutchu melirik BangRoll yang mondar-mandir seperti setrikaan di pojok ruangan.

"Ok. Tahun 1998 udah belajar naik sepeda, tahun 2003 udah lulus SMA, tahun 2012 belajar renang." Mbum menambah catatan fakta temuan.

"Eh, bumi kita sedang sakit loh. Apa di sini cuma BangRoll yang peduli sama bumi? So, stop smoking."

"Aku nggak smoking kok Kak Ris." Mbum melengos.

"Mungkin waktu itu saking gak ada yg dipeduliin, BangRoll sampe peduli sama bumi."

"Emangnya bumi peduli sama BangRoll?"

"Mungkin bumi juga bakal menolak BangRoll."

"Tahun 1988 BangRoll sudah mampu mengeluarkan kata-kata pertamanya."


Coba tebak apa kata-kata pertama yang diucapkan bangRoll!


"Jadi kesimpulannya BangRoll lahir tahun 1988? Ga mungkin umurnya 27. Coba lagi Dek Mbum."

"Nah iya Kak Mut. Kita sudah mendekati umur BangRoll yang sesungguhnya."

Mendadak terdengar instrument musik sebagai efek dramatisasi. Semua mata menoleh ke arah pemilik ringtone.

"Semangat gaes!" Musik berhenti. BangRoll memulai percakapan di telpon dengan someone.

"Tahun 88 bisa ngomong gaes? Bukan taun lahir tuh. Masa baru lahir bisa ngomong sih." Ntang ikutan mikir.

"Ngomongnya berbentuk tangisan?"

"Abang lahir udah dalam keadaan terkhitan." BangRoll menyahut bangga.


Hewan apa ya?

"Fakta apa lagi ini? Tahun 92 saya lahir. Bangroll udah dapet topi aja. Topi itu pet kan?" Pangee geje.

"Pet itu hewan piaraan, Kak! Jadi BangRoll memelihara hewan, entah ayam atau kucing. Atau jangan-jangan ulat? hiiii...." 

"Lama-lama Bibi ngepens beneran ini. Terus yang ngepens sama kita siapa gais?" Ntang mulai cemburu melihat bibinya yang serius stalking akun BangRoll.

"WOY!"

"Weks ada fakta baru ini. Ijazah D3 BangRoll dipakai bungkus kacang" Bibi menunjukkan bukti-bukti yang ditemukannya.

"Ya Allah." Pangee diikutin yang lainnya ngelus dada Pussy yang hasilnya berbonus cakaran di tangan.

"Ya salam." BangRoll ikut-ikutan ngelus jenggot.

"Busetdaaah. Ijazaah coy, buat bungkus kacang?" Mbum berdecak miris.

"Terus waktu ngelamar kerja, dia nyantumin bungkus kacang dong?" Pangee melirik BangRoll.

"Wew Bibi pantes jadi agen investigasi." Mbum memuji bibinya yang berhasil menemukan foto-foto sebagai bukti.


Unyu-unyu!

"Hahaha. Kecilnya lucu. Pengen jitak. Bentuk wajahnya segitiga.Kayak saya waktu SD." Pangee mengomentari foto BangRoll.


Imut-imut!


Amat-amat!

"Metamorfosis wajah BangRol dari SLTP ke SLTA jauh banget, njiiir." 


Amit-amit!

"Iya Mbum. SMA-nya keliatan tua banget." Ntang setuju.

"SMA lebih berisi. Dan sekarang makin tua." Machan komen tanpa melihat foto sedikit pun.

"W Yudha Pratama memanggil Mas pada BangRoll. Bisa dipastikan BangRoll bukan kelahiran tahun1988.Yes!" Mbum menambah catatan.

"Alasan berhenti merokok. Bukannya sadar kesehatan tapi karena gak punya modal."

"Tapi sadar keuangan ya Bi? Sadar kesehatan, setelah mulai pedoeli boemi."

"Teori sadar ekonomi. Kalian gak diajarkan pas SMP. Hih. Kampungan!" BangRoll membela diri.


Bah!

"Jadi tahun 2006 ikutan pemilu. Tapi kenapa bawa-bawa ungu? Jadi pernah dapat job jurkam? Ckckck."

"Fix BangRoll lahir tahun1980-an, Bi. Entah 80 berapa tepatnya, hanya BangRoll, Ibu BangRoll dan Tuhan yang tahu." Mbum menandatangani buku catatan. "Sudah terungkap semuanya."

"Njir. Tahun 88, sumpah!"

"Akhirnya BangRoll ngaku sendiri." Mbum menuliskan besar-besar angka 88 di buku catatannnya.

"Oke. 88 ya?" Pangee memastikan sebelum ikut menandatangani buku catatan Mbum.

"Bi, kita berhasil mengelupas seluk beluk kehidupan BangRoll. " Mbum menyodorkan buku yang sudah berisi dua tanda tangan persis cakaran Pussy kepada bibinya.

"Fix 88. Angka ajaib."

"Bilang dong. Kalo mau nanya tahun lahir. Huft. Udahan yah. Udahan." BangRoll memelas. Merasa tak ada pembelaan. Satu-satunya harapan untuk keselamatannya dari tim bullying adalah kepulangan Unik. Tapi cewek cantik itu sudah menelepon, mengabarkan kalau becak yang ditumpanginya terjebak kemacetan. 

"Infinity 88 berkah Bang. Aamiin. Semoga tahun ini nikah yaa. Kalau gak bilang aamiin, ngeblur jodohnya pakai lama loh."

"Eh iya, Abang nanti mau ngerjaen PR bareng unik. Ada yang mau gabung?" BangRoll berusaha mengalihkan topik perbincangan.

"Tunggu, ada fakta tambahan. BangRoll pernah jadi penerjemah orang Pakistan."

Muhammad Roliansyah As-Sajidina 

Gue gak punya blog, Tres. Ya, elo kan tau gue gimana. Gue pan orangnya angin-anginan. Sebenernya catatan gue masih banyak yang berupa draf, belum sempet dipublish. Klo elo mau, silakan aja. Sekarang gue lagi sibuk jadi Transletter orang-orang Pakistan nih.


"Yah, ketahuan deh kekerenan yang selama ini abang sembunyikan dari khalayak ramai." BangRoll menggunakan buku catatan Mbum untuk kipas-kipas.

Hening.

"Ada lagi nih:
Biasanya curhat masalah pribadi sama siapa? ‪#‎JawabJUJUR‬ BangRoll menjawab: Biasanya sih, pada Semut merah yg berbaris di dinding yang menatapku curiga ato Rumput yang bergoyang ato Pagar makan taneman ato Rumput tetangga lebih hijau.
Jadi begitulah jones." Bibi menepuk bahu BangRoll, prihatin.



"Udah abis kan acaranya? Penutupannya aku nyanyi ya?" Ntang nggak tega melihat tampang melas BangRoll.

"Hidup adalah masalah survivadibilitas. Ketika ada masalah, manusia berusaha bertahan dan menanggulanginya." Bibi membacakan kutipan ala BangRoll.

"Njir. Gue suka keren kalo gak sadar." BangRoll tersapu malu.

"Fakta yang emang ga bisa dihilangkan dari Bangrol adalah : Keren secara tidak sadar." Mbum manggut-manggut.

"Sering-sering gak sadarkan diri Bang, biar kerenmu abadi." Pangee memotivasi.

"Udah ah. Aku cabut. Mangat BangRoll."

"Lah katanya mau nyanyi Kak Ntaaang." Mbum menarik baju Ntang yang berniat berangkat ngamen. "Tuh Kak Vichan udah datang, kita latihan untuk konser tahun depan yuk?"

Susah.. Senang.. Trgantung gmn Kau mnyikapinya. Hidup penuh Ini dan Itu. Gak usah pikirin Anu dan Anu.
Like
Muhammad Roliansyah As-Sajidina and 6 others likethis.
Muhammad Roliansyah As-Sajidina Bayangin klo saya ngucapin ginian trus backsoundx Kita Selamanya-Bondan Winarmo ft fade2black..
Manteps!


"Ok, kabulkan request BangRoll. Investigasi malam ini ditutup dengan lagu Bondan. Siapa yang mau nyanyi?" Bibi menawarkan mic yang langsung saja menjadi rebutan TrioVoiceNote; Ntang, Vichan & Mbum.



HK, 2015

8 komentar:

  1. Haha, keren Bi... huaaaah, nggak nyangka deh tulisanny ajadi sebagus ini hihi, berasa beneran yak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah bibi kita emang keren, Dekmbum.

      Hapus
  2. BOIKOT! SANGAT TIDAK BERPERIKEMANUSIAAN! HUH!

    BalasHapus
  3. APAAN INIH! BLUR SEMUA!

    *jemput unik pulang*

    BalasHapus
  4. Bibi, super duper keren bi!!! Ga nyangka bisa jadi cerita yang indah begini. Bibi memang keren. Sering aja bi buat beginian, mengobati rasa rindu pada keluarga HK ku :)

    Maaf itu STUPID_ANGEL siapa ya? Pernah liat deh fotonya.

    BalasHapus