Laman

Rabu, 03 Juni 2015

7 Modus Penipuan Yang Mengganggu Traveling

Ada banyak alasan mengapa orang-orang (termasuk saya) menjadikan traveling atau jalan-jalan sebagai hobby.
Bagi saya pribadi traveling bisa diibaratkan dengan petualangan. Sebuah petualangan untuk mencari dan menemukan 'sesuatu' di luar lingkaran dunia yang saya huni tiap hari.

Travellers sejati mencintai traveling bukan hanya sekedar untuk menjadikannya moment jalan-jalan atau hanya untuk menjauh dari kesibukan kehidupan sehari-hari saja. Selalu ada banyak hal yang bisa memicu adrenaline, mengasah kepekaan rasa dan memberi kepuasan batin tersendiri kepada seorang traveller ketika bisa melakukan perjalanannya, terutama jika ke tempat-tempat yang belum diketahui atau belum pernah dikunjungi, yang semuanya masih serba asing. Asing dalam tanda kutip tidak harus luar negeri, bisa luar propinsi, luar pulau, luar kota, luar kabupaten, luar kecematan atau luar kampung sekalipun.
Selama melakukan perjalanan banyak pengalaman yang bisa didapati oleh travellers, tak terkecuali pengalaman buruk bertemu penipu yang menebar modus di jalanan. Tetapi seburuk apapun pengalaman yang kita alami ketika travelling pastinya tetap bisa menjadi pelajaran yang berharga. Bagi saya sendiri pengalaman bertemu beragam modus penipuan di jalan membuat saya belajar untuk bisa memisahkan antara rasa simpati dan hati-hati, tega dan berjaga-jaga. Karena tak jarang modus penipuan sengaja menguji sisi kelembutan seseorang dan membangkitkan rasa iba dan kasihan.

Berikut ini 7 modus penipuan yang pernah saya temui (juga dialami teman-teman saya) dalam perjalanan.
1. Modus Jual Jam Berlapis Emas
Modus ini biasanya dilakukan di jalan-jalan raya di perkotaan, di stasiun dan di terminal bus. Untuk yang di jalanan perkotaan biasanya pelaku menggunakan mobil dan tiba-tiba menghampiri calon korban (target) yang berada di pinggir jalan (yang mungkin sudah mereka prediksi kalau target memiliki uang lebih). Penipu itu biasanya menghampiri target dengan berpura-pura menanyakan arah pom bensin dan ujung-ujungnya malah curhat kalau kehabisan uang untuk pulang dan meminta tolong kepada target untuk memberi uang dengan cara menjual jam yang sedang dipakainya. 
Biasanya penipu memperlihatkan jam yang berlapis emas (berwarna kuning keemasan) atau yang ber-merk dan meyakinkan target dengan memperlihatkan bon pembelian. Kalau misal target kelihatan tertarik pada jam yang ditawarkan maka penipu akan memelas dan menurunkan harga jam dengan alasan; yang penting cukup untuk membeli bensin dan bayar tol. Maka jika apes, target akan memberi uang karena tergiur pada jam sekaligus hasrat tulus menolong orang. Biasanya target baru akan sadar kalau sudah tertipu ketika mengetahui jam yang dibelinya ternyata kawe alias palsu.

Sedangkan praktek di terminal bus beda lagi, biasanya penipu punya komplotan (berdua atau bertiga). Penipu akan menyamar sebagai penumpang yang kebingungan, lalu temannya akan menyamar sebagai awak bus atau pegawai terminal yang bertanya-tanya simpati gitu lalu berdialog keras menggugah hati penumpang lainnya.
A. "Tadi siapa yang tas-nya hilang?"
B. "Saya, Pak." Ditambah ekspresi memelas. "Tapi saya sudah lapor ke kantor."
A. "Kok bisa sembrono kamu itu. Trus apa isi tas kamu?"
B. "Uang, alat-alat pertukangan dan baju,  Pak."
A. "Beuh, berapa uangnya? "
B. "Semua Pak, satu juta lima ratus ribu. Ongkos jalan dan makan,  Pak."
A. "Kamu mau kemana?"
B. "Saya dari Lampung mau ke Sitibondo, Pak. Sekarang nggak punya ongkos, saya mau jual jam saya." Sambil nunjukin jam dengan muka melas.
A. "Wah, jam bagus. Berlapis emas. Mau dijual berapa ini?"
B. "Ini jam mahal Pak, dibelikan istri saya yang bekerja di Arab Saudi. Saya gak rela jual, tapi mau gimana lagi, saya butuh ongkos jalan."
A. "Mau dijual harga berapa?"
B. "Satu juta lima ratus ribu saja, Pak."
A. "Wah murah juga, sayangnya saya gak punya uang. Ada yang bisa bantu yang lainnya?" Menatap ke arah penumpang lainnya.
C. "Wah sini saja lihat ini cantik jamnya, murah lagi. Kasihan kamu Mas, lain kali hati-hati."
Saya yang memang hobby mengamati, memperhatikan mimik wajah sekaligus detail dialog.
C. "Mbak, tolong dibantu Mbak. Kasihan Masnya." Si C rupanya tahu kalau sayang memperhatikan mereka.
Saya: "Maaf saya tidak punya uang segitu. Lagian lebih baik Mas-nya segera turun aja, ini bus mau ke Banyuwangi bukan Situbondo loh."
B. "Mbak punya uang berapa? Kasih uang seikhlas Mbak ajalah asal saya punya ongkos jalan, Mbak."
A. "Namanya juga bingung Mbak, wajar to kalau salah naik bus." Si A membela B dan mulai curiga atas kekritisan saya.
Saya. "Jangan kasihan Mas-nya, jam emas dan mahal kok dijual sembarangan, apalagi pemberian istri. Eman banget. Lebih baik Mas minta pegawai terminal dan awak bus mengusut hilangnya tas dan uang dan meminta mereka tanggung jawabannya karena membiarkan barang penumpang terbawa bus lain."
Hening. Tak ada jawaban. Dan tanpa pamit ketiga orang ; A, B dan C turun dari bus yang akan segera berangkat. 
Begitulah. Sebenarnya awalnya saya tidak tega memandang wajah memelas Si B tapi karena saya ingat in modus penipuan maka tega tidak tega saya harus tegas.

2. Modus Meminta Ongkos
Modus ini biasanya dilakukan oleh penipu yang menyamar sebagai ibu-ibu paruh baya berpenampilan dekil yang membawa anak kecil. Biasanya penipu akan menghampiri target yang diprediksi sebagai orang baik dan memiliki uang lebih.
Penipu akan memasang wajah mengiba dan meminta sumbangan uang dengan alasan ingin pulang tapi keburu kehabisan ongkos di tengah jalan.

3. Modus Jualan Dengan Gaya Mengemis
Modus ini biasa dilakukan oleh penipu yang menyamar orang yang sedang berjualan keliling atau semacam asongan. Biasanya awalnya mendekati target dengan cara menawarkan barang dagangannya, kemudian dengan tampang memelas setengah mengemis memohon agar barangnya dibeli dibumbui dengan alasan akan pulang tapi belum punya ongkos dan lapar karena belum makan seharian sebab barang dagangannya belum laku.
4. Modus Bocah Yang Tersesat
Modus ini dilakukan oleh komplotan penipu dengan menggunakan umpan seorang bocah yang  mengaku tersesat, yang meminta calon korbannya untuk mengantarkannya pulang ke suatu alamat tertentu. Kemudian  komplotan penipu yang sengaja mengikuti bocah dan calon korban akan menghadang di tengah jalan yang sepi dan membuat target terjebak. Seterusnya bisa dibayangkan apa yang bisa terjadi.
Nah sebaiknya jika menemukan bocah seperti tersebut, kita laporkan kepada aparat atau pos polisi terdekat demi keamanan dan kenyamanan bersama. Karena pihak berwajib yang punya wewenang untuk memeriksa dan  menyelidiki lebih lanjut.
5. Modus SKSD
Modus sok kenal sok dekat ini biasanya dilakukan oleh komplotan penipu yng membawa mobil. Cara kerjanya salah satu atas dua orang dari mereka akan mendekati target incaran kemudian menegur sekaligus mengaku keluarga. 
"Kamu kemana saja, Ayah mencarimu. Ayo pulang!" Atau bisa dengan kalimat lainnya, lalu dengan setengah memaksa menyeret kita ke arah mobil. Akibat akting SKSD penipu, orang-orang di sekitar calon korban tidak akan terlalu perhatian meski melihat calon korban meronta-ronta karena mengira itu adalah urusan masalah keluarga. 
Jika berhasil membawa korban masuk ke mobil maka penipu akan mengambil barang-barang korban dan meninggalkan korbannya di tepi jalan yang sepi.

Nah untuk menghindari modus ini sebagai travellers kita usahakan jangan pernah menunjukkan wajah bingung meski di tempat asing sekalipun. Jika menemui hal seperti ini segera tepis tangan pelaku yang biasanya memegang bahu atau tangan, kita chuekin atau hindari mereka dengan berjalan ke arah pos polisi terdekat atau jika terpaksa kita bisa berteriak. Jangan tunjukkan wajah ketakutan. Yakinkan orang di sekitar kita kalau kita benar-benar tidak mengenal pelaku.
6. Modus Dompet Hilang
Modus ini dilakukan dengan cara penipu akan mendatangi calon korban dan menuduh bahwa calon korban telah mengambil dompetnya. Dan saat calon korban berusaha meyakinkan penipu dengan mengeluarkan dan menunjukkan dompet miliknya, maka dompet itu akan langsung diambil dan dibawa lari penipu. Jika menemukan modus seperti ini sebaiknya chuek saja atau tinggal pergi. Jangan diladeni.
7. Modus Hipnotis
Biasanya penipu melakukan modus ini dengan menepuk bahu untuk menyapa korban. Kemudian korban diajak ngobrol bla bla bla yang berujung ketika sadar entah barang, dompet atau uang korban raib dibawa lari penipu. Atau bisa juga penipu melakukannya dengan menawarkan makanan dan minuman pada targetnya.
Untuk menghindari modus ini travelers harus berhati-hati pada siapapun yang menyapa dengan menepuk bahu serta menghindari bertatap mata secara intens dengan orang asing, apalagi menerima serta mencicipi sembarang makanan orang asing demi menghindari bahaya hipnotis.
Demikianlah beberapa modus yang saya ketahui yang sering ditemui travellers. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat dan membuat kita semua lebih berhati-hati dalam melakukan perjalanan baik dengan rombongan ataupun sendirian. Saya pribadi percaya meski banyak orang yang memanfaatkan kebaikan dengan penipuan bukan berarti kita harus berhenti menebar kebaikan di sepanjang jalan kehidupan kita. Happy Travelling!
HK, 3 Juni 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar