Laman

Kamis, 04 Juni 2015

Mitos Kedua Yang Sengaja Kuceritakan

"Ini tidak mungkin! Tidak mungkin.... Dengan air sungai ini aku sirami mimpi-mimpiku, bagaimana mungkin di sungai ini pula cintaku yang menjadi impianku terlarung begitu saja?"
Kubiarkan Aditya berbicara pada dirinya sendiri, bertanya-tanya sekaligus menjawab pertanyaannya sendiri. Aku ingin sekali tak peduli, andai pun lelaki yang berdiri di sebelahku bisa dianggap gila karena kelakuannya sendiri. Ya, buat apa coba aku mesti peduli? Sedangkan Aditya sendiri tak pernah peduli padaku, pada perasaanku, pada mimpi-mimpiku, pada cintaku!

"Apa mitos itu bohong, An? Apa yang kamu ceritakan dulu itu bohong semuanya?"
Aku gugup. Bukan tak sanggup menjawab. Aku hanya sedang berusaha menenangkan jantungku yang mendadak berdegup lebih kencang dari biasanya. Ya, sentuhan tangan Aditya ketika mengguncang bahuku, membuat otot-ototku menegang karena sesuatu yang terasa menjalar dan merangsang.
"Sakit, Dit!"
Aku menghela napas panjang, menyesali kata-kataku sendiri yang membuat Aditya refleks menarik tangannya. Jujur saja, sebenarnya aku tak merasa tersakiti sedikit pun oleh cengkeraman di bahuku. Yang ada justru hasrat menggebu, ingin memeluk lelaki yang nampak kacau itu atau lebih tepatnya aku sangat mengiginkan Aditya memelukku.
"Maafkan aku, An.... Aku..., aku hanya...," Aditya meremas rambutnya frustasi.
"Tak kusangka kamu sebodoh ini, Dit! Mitos yang kuceritakan dulu itu hanya tradisi lisan, cerita dari mulut ke mulut yang disampaikan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, yang tentu saja kebenarannya belum pasti. Lalu di bagian mana dari ceritaku yang bisa disebut sebagai kebohongan, kalau kenyataannya kamu sendiri yang terlalu naif menelan ceritaku mentah-mentah!"
Aditya menunduk, ia menangis terisak-isak. Isak yang membuat dadaku mendadak sesak. Penuh oleh rasa kesal, menyesal, bercampur rasa cemburu yang sempurna bergumpal-gumpal.
***
"Konon, barang siapa yang mandi atau sekedar mencuci mukanya di Sungai Bedadung kelak akan tinggal di kota ini, Dit. Begitu pun bagi yang jomblo, katanya akan bisa menemukan jodoh dan menetap di Jember loh."
"Sungguhkah, An? Tahu dari mana tuh teori?"
"Teori? Mitos keles!" Aku menertawakan wajah Aditya yang menampakkan mimik penasaran. "Nyaris semua orang Jember juga tahu tentang mitos Sungai Bedadung, Dit. Kenapa? Kelihatannya kamu tertarik gitu."
"Kayaknya perlu kubuktikan mitos itu An. Agar aku bisa dapatin jodohku yang tentunya gadis asli Jember. Lagian aku nggak keberatan kok misal harus menetap di kota ini."
"Hah? Kamu serius, Dit?"
Kedipan mata Aditya dan tawa lepasnya membuatku melayang. Tetiba aku seperti menjelma layang-layang yang ujung benangnya ada di dalam genggaman lelaki yang diam-diam telah menjadi pujaan hatiku.
Aku terbayang ketika pertama kali bertemu sosok Aditya. Saat itu ia dan seorang temannya berdiri kebingungan di luar pagar rumahku. Rupanya keduanya adalah mahasiswa baru yang datang dari luar kota dan sedang mencari tempat kost. Hari itu setelah bertemu ayahku, Aditya dan temannya resmi menempati kamar kost di lantai dua rumah kami. Berbeda dengan anak-anak kost lainnya, aku lebih cepat akrab dengan Aditya karena ternyata kami berdua sekampus, sejurusan pula. Maka tak mengherankan jika kemudian kami sering berangkat dan pulang kuliah berboncengan.
"Kamu dari mana, Dit? Mandi di sungai lagi?"
"Hihi iya, An. Tadi aku dan teman-teman memancing, trus mandi sekalian deh."
"Kok aku nggak diajak? Oh ya kamu ini jangan sering-sering mandi di sungai, Dit. Kotor airnya. Entar malah gatal-gatal loh kulitmu."
"Yes, Madam!" Aditya menjulurkan lidah sambil membuat gerakan menghormat ala militer yang membuatku tertawa lepas.
Ternyata meski baru beberapa bulan tinggal di Jember, Aditya sudah mulai mengadobsi kebiasaan lokal, termasuk sesekali mandi dan memancing di Sungai Bedadung. Menurut Aditya, modus atas mitos yang pernah kuceritakan membuatnya bisa cepat mengakrabi sungai yang jaraknya memang hanya beberapa puluh meter dari rumahku.
Tanpa kusadari pohon rasa yang diam-diam kutanam untuk lelaki asal Kota Tahu itu bertambah hari semakin bertumbuh. Rerantingnya berdaun, merimbun, tak jarang juga dipenuhi bunga-bunga. Sebagai seorang gadis yang paling dekat dan akrab dengan Aditya, tanpa disebut namaku pun, aku berhak merasa bahwa akulah gadis yang diharap dan dimaksud Aditya sebagai Gadis Jember dalam setiap candaannya.
Ah, rupanya aku lupa, kalau aku ini sebenarnya bukan Gadis Jember asli. Orangtuaku seperti halnya mayoritas warga Kota Suwar-suwir lainnya adalah pendatang yang kemudian menetap di kota yang terbelah sungai menjadi dua ini. Saat itu aku masih balita ketika dibawa orangtuaku pindah dari Surabaya ke Jember.
"Aku jatuh cinta pada Laksmi, An. Sejak pertama tatapan mata kami bertemu. Waktu itu aku menanyakan alamat tempat kost yang sedang kucari kepadanya, yang ternyata adalah rumahmu. Dan dia...."
Sore itu, suara riuh bocah-bocah kecil yang berenang, menyelam, berlarian di pinggir sungai dan sesekali saling menciprati air yang terdengar di antara deru kendaraan bermotor yang melintas di atas Jembatan Semanggi seakan menghilang seketika. Menyisakan senyap yang membuatku bagai tersekap di ruang hampa yang lembab. Hingga kelembapannya yang perlahan mencair, menyebabkan mata dan hidungku tergenang air. Dan malam harinya air yang kutahan dengan kekuatan malu itu meluap, membasahi bantal dan berlembar-lembar tissu di kamarku.
Aku menangis entah untuk apa. Untuk menyesali kebodohan atau meratapi ketidak berpihakan Dewa Amor kepadaku.
Sejak mendengar cerita Aditya sore itu, pohon harapanku perlahan layu. Perlahan aku dan Aditya kembali menjadi dua orang asing. Bukan, sebenarnya bukan berdua menjadi kembali asing. Hanya aku. Lebih tepatnya akulah yang mulai menjaga jarak dan berusaha memperlakukan Aditya seperti orang asing. Apalagi setelah Aditya dan Laksmi- sahabat sekaligus tetanggaku- resmi berpacaran. Dengan jarak yang kujaga, aku memang tak bisa mengubah apa-apa. Tapi aku berharap setidaknya dengan jarak yang ada, aku bisa meredam pedih luka yang menganga di dada.
Entah benar-benar tak tahu atau memang tak mau tahu akan sikapku yang mendadak berubah dratis, Aditya dan Laksmi tetap terlihat bersikap manis. Selalu berbaik-baik kepadaku. Keduanya memang tak pernah menunjukkan kemesraan di depanku, tidak perlu. Kenyataannya hanya dengan mengingat hubungan yang sudah terjalin di antara keduanya saja, sudah cukup untuk mencipta satu ruang tersembunyi yang dijejali oleh rasa benci.
***
Tatap mataku menerawang ke arah jembatan yang berbentuk daun semanggi tapi tidak lengkap, yang berada tak jauh di atas tempat aku dan Aditya duduk berjuntai kaki di bebatuan besar yang menghiasi sepanjang sungai. Aku berusaha mengingat detail sebuah kejadian yang pernah kualami.
Hari itu alam masih basah setelah diguyur hujan yang turun deras semalaman. Aku dan Laksmi duduk bersebelahan di atas batu besar yang berada di tepian sungai yang nampak mulai sepi. Laksmi sengaja mengajakku ke tempat favorit kami berdua sewaktu kecil. Katanya ia ingin mengajakku berbincang dari hati ke hati tentang hubungan persahabatan kami. Keruh warna air sungai sama sekali tak nampak mengerikan bagi kami yang sejak kecil sudah terbiasa bermain dan berenang di Sungai Bedadung.
"Apa kamu menyukai Aditya, An?"
"Kenapa menanyakan hal itu, Mi? Kamu cemburu padaku?"
"Tidak. Aku tidak cemburu An, aku hanya tak ingin kita saling menyakiti. Aku tak ingin persahabatan kita jadi rusak hanya karena ego kita."
"Apa maksudmu, Mi?"
"Mumpung Aditya sedang pulang ke Kediri, sebaiknya kita membicarakan tentang kita berdua. Aku tak ingin kita seperti anak kecil yang marahan karena berebut mainan."
"Hmmm...."
"Sejak kecil kita bertumbuh dan bermain bersama. Sebagai sesama anak tunggal kita pernah berjanji untuk saling menjaga karena kita adalah saudara. Aku rela jika harus melepas Adit demi kamu, An...."
Kalimat sahabatku yang sebenarnya terucap dengan lembut dan semestinya membuatku terharu, di telingaku malah terdengar seperti ejekan yang menyakitkan. Aku sama sekali tak dapat berpikir positif atas maksud ucapan Laksmi, selain hanya merasakan gejolak amarah yang menggelegak.
"Aku rela melepas Aditya untukmu, An. Asal kita tetap bisa berbaikan, tetap bersama dalam kebaikan seperti janji kita."
"Cukup, Mi! Cukup! Jangan mentang-mentang Aditya mencintaimu lalu kamu boleh belagu dan sok kasihan padaku! Aku tak butuh belas kasihan! Camkan itu!"
"An, dengar dulu...."
"Aku tidak ingin mendengar apapun dari seseorang yang mengaku sahabat tapi tak bisa jadi sahabat! Jika kamu sudah tahu aku menyukai Aditya, kenapa juga kamu mau jadian dengannya? Cih!"
Aku beranjak dari dudukku. Perasaan muak membuatku ingin meninggalkan Laksmi secepatnya. Tapi tangan Laksmi keburu menarik tanganku, berusaha menahan langkahku.
"Kita belum selesai bicara, An!"
Aku mengibaskan tanganku sekuat-kuatnya dan dengan kasar kuhentakkan tangan Laksmi. Mungkin karena tak siap dengan reaksiku, Laksmi hilang keseimbangan dan langsung jatuh tergelincir ke arah sungai. Alih-alih berniat membantu, aku malah berlari meninggalkan sahabat yang telah menyebabkan hatiku membatu.
"Tolo...o...ong...."
Lamat-lamat kudengar teriakan minta tolong dari arah sungai. Aku gamang antara memilih berbalik arah atau segera pulang ke rumah. Aku dan Laksmi seperti halnya kebanyakan warga yang tinggal di sekitar Sungai Bedadung, sehari-harinya sudah terbiasa mengakrabi sungai. Bahkan sejak kanak-kanak kami berdua sudah belajar berenang secara otodidak. Jadi tak mungkin jika Laksmi tenggelam di sungai. Deg! Aku berlari, kembali ke sungai.
"Laksmiii! Kamu di mana, Mi? Jangan bercanda, Mi!"
Aku bingung. Badai ketakutan menghantamku bertalu-talu. Aku berteriak kalap, menjerit, meraung. Membuat bantaran sungai dalam sekejap dipenuhi warga setempat, termasuk orangtuaku dan orangtua Laksmi. Sebelum kegelapan sempurna melelapkanku, aku masih sempat melihat beberapa orang yang terjun ke sungai.
***
"Dit, maafkan aku...."
"Kamu tidak bersalah, An. Aku memang naif. Kepedihan cinta atas kepergian Laksmi tak seharusnya kuluapkan kepadamu. Sedangkan aku tahu kamu pun pasti sedih karena kehilangan sahabat karibmu."
"Maafkan aku yang sebelumnya tak menceritakan mitos kedua Sungai Bedadung kepadamu."
"Mitos kedua?"
"Ya, selain mitos yang sudah kuceritakan masih ada mitos kedua tentang Bedadung. Yakni pada setiap tahunnya Sungai Bedadung akan meminta korban."
"Hah? Benarkah?"
"Begitulah. Untuk bukti kebenaran, ya aku tak bisa menunjukkannya kepadamu. Namanya saja mitos, Dit. Cerita yang ada berdasarkan pengalaman manusia, yang kemudian dirangkai sendiri oleh manusia sehingga membentuk sebuah kesimpulan."
"Aku percaya padamu, An. Tapi kenapa mesti Laksmi yang harus jadi korban?"
"Sama sepertimu, aku juga tak tahu, Dit."
Seperti ketika mengisahkan mitos pertama, pada mitos kedua Sungai Bedadung aku juga menceritakan fakta-fakta pendukung yang ada. Menyebutkan kejadian-kejadian yang hampir setiap tahunnya terjadi. Bagaimana selalu ada saja anak-anak atau orang dewasa yang tenggelam di Sungai Bedadung, baik itu yang terseret ketika mandi, ketika bermain-main di sungai atau yang dihanyutkan banjir yang kerap menyerang perumahan penduduk di musim penghujan.
Aditya yang menyimak ocehanku nampak sudah mulai tenang. Entah ia menyadari atau tidak kalau pada setiap cerita yang disampaikan oleh seseorang tentunya selalu disisipi alasan dan tujuan tertentu. Tak terkecuali aku, yang sengaja menutupi cerita yang kurahasiakan dengan cerita lainnya.
Ya, aku sengaja menyimpan satu cerita untuk kunikmati sendiri. Aku tak akan pernah menceritakan kepada siapapun bahwa kematian Laksmi bukan disebabkan faktor kecelakaan semata. Semua sudah kurencanakan sedari awal, sejak benih-benih kecemburuanku pada Laksmi tumbuh subur di padang rasaku. Aku merencanakan tempat dan mencari waktu yang tepat agar keinginanku menyingkirkan Laksmi bisa terlaksana tanpa ada kecurigaan dari orang lain. Dan ternyata aku cukup diuntungkan oleh adanya mitos kedua Sungai Bedadung, yang bisa kujadikan sebagai alibiku sekaligus penghapus kecurigaan siapapun kepada diriku.
Hong Kong, 2015

2 komentar:

  1. Ya ampun, mi... :( Kenapa jadi korban... Aku baca ini sambil dengerin yutub Elemen - Rahasia Hati.
    Jadi nyampe deh...

    Mi.., itu jembatannya bentuk semanggi beneran? Iya, tah? Kok aku baru tahu ya???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya ingin berbagi cerita kepada anda bahwa dulunya saya ini cuma seorang.
      penjual es kuter kelilin tiap hari. pendapatannya tidak seberapa dan.
      tidak pernah cukup dalam kebutuhan keluarga saya. suatu hari saya dapat.
      informasi dari teman bahwa MBAH SUJARWO bisa membantu melalui pesugihan dana gaib.
      akhirnya saya bergabung sama beliau dan alhamdulillah memanG bener-bener terbukti .
      saya sangat berterimakasih banyak kpd MBAH SUJARWO.atas bantuan MBAH saya sekarang.
      sudah bisa mencukupi kebutuhan keluarga saya bahkan saya juga sudah buka.
      usaha matrial dan butik pakaian muslim.
      Jika anda mau buktikan
      silahkan bergabung sama Mbah Sujarwo
      Di:http://sitogelsgp.blogspot.com Atau siapa tau mau di bantu jg melalui pesugihan dana gaib silakang klik di: https://pesugihanparanormal.wordpress.com atau tlp di nmr:0823-2424-4298
      Saya sudah buktikan dan alhamdulillah kehidupan saya sekarang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya....!!!

      Hapus