Laman

Senin, 08 Juni 2015

The Empress of China: Cerita Wanita, Tahta dan Cinta


Dalam sejarah, baik di China pun wilayah lain di dunia, wanita jarang sekali berpartisipasi dalam pemerintahan apalagi sampai menduduki takhta kekaisaran. Penobatan Wu Zetian sebagai kaisar wanita Dinasti Zhou merupakan pengecualian yang menjadi kisah legendaris. Wu Zetian sebagai satu-satunya kaisar wanita dalam sejarah China masih menjadi kontroversi tersendiri yang mengakibatkan penilaian yang diberikan generasi ke generasi kemudian berbeda-beda. Penilaian ini tentunya berkembang sehubungan dengan kepentingan yang ada



Ngambil di gooogle

Berdasarkan tata susila pada zaman feodal di China, sosok wanita yang sopan, lemah lembut dan ramah tamah dianggap sebagai sosok wanita yang baik meskipun tidak memiliki kepandaian atau kelebihan apapun. Akan tetapi Wu Zetian yang terlahir cantik dan tidak mau mematuhi tata susila yang disepakati umum dan memiliki kharakter tersendiri menjadikan dirinya sosok yang istimewa sekaligus (dianggap) berbahaya. Bahkan baik dalam catatan sejarah pun cerita dari generasi ke generasi banyak kesimpang siuran kisah yang lebih dominan menceritakan kalau sosok kaisar wanita yang pernah menguasai tahta selama 15 tahun tersebut adalah sosok kaisar yang mengerikan yang ketika memerintah berlaku sangat kejam.

Menurut saya pribadi sebagai wanita, kisah kekejaman kaisar wanita yang juga termasuk dalam sejarah dunia tersebut lebih pada upaya mempertahankan feodalisme dan budaya partiarkri. Sebuah upaya pencegahan agar pada waktu selanjutnya tak akan ada lagi wanita yang diberi kesempatan menguasai tahta (khususnya di China) yang tentunya bisa menjadi pukulan tersendiri untuk yang mempercayai teori bahwa hanya lelaki lah yang pantas dan seharusnya berkuasa. Saya lebih percaya kalau Wu Zetian adalah pemimpin yang tegas bukan kejam. 

Merujuk pada hal di atas maka tak mengherankan jika lantas sempat ada sensor dan penghentian tayang sementara untuk Film Serial The Empress of China karena sensor terhadap media atau suatu pemberitaan di China memang merupakan suatu hal yang lumrah dan kerap dilakukan pemerintah guna menjaga stabilitas politik dan keamanan dalam negeri. Pelaksanaan sensor di China tidak hanya terjadi pada dunia internet tetapi juga dilakukan terhadap media televisi, radio, film dan buku.

The Empress of China yang mulai tayang di teve Hunan, China, di penghujung tahun 2014 (sebelum beberapa bulan kemudian ditayangkan di teve Hong Kong juga) dibintangi artis cantik dan paling terkenal China: Fan Bingbing (pernah tampil dalam film X-Man tahun 2014 dan Iron Man 3 versi China). Film seri yang menceritakan kehidupan Kaisar Wu Zetian dalam versi 'baik' dan cukup inspiratif tersebut diberitakan sebagai film seri yang terbagi dalam 80 episode yang berbiaya termahal dalam sejarah pertelevisian China (US$ 49,53 juta).  

Saya yang berkesempatan untuk bisa menyaksikan film seri The Empress of China di TVB sejak episode pertama  sangat terkesan dan larut dalam cerita.

Bagi saya, film seri tersebut memang tidak lebih dari film-film seri yang berlatar tentang kekaisaran China yang pada umumnya menggunakan umpan standar untuk menarik minat penonton dengan menampilkan aktor ganteng dan artis cantik serta gambar-gambar glamour dan megah yang dipenuhi dengan parade busana indah dari para pemerannya. 

Plot cerita the Empress of China sendiri juga standar seperti film seri lainnya (yang sebelumnya pernah tayang dan saya tonton di TVB juga) yang berlatar belakang kerajaan yaitu ceritanya berkutat pada masalah kehidupan dan intrik-intrik yang terjadi di dalam istana kekaisaran. Daya tarik utama dari film seri ini sendiri ada pada pemilihan tema cerita yang mengangkat kehidupan Wu Zetian, wanita legendaris China. Meski film ini bukan film pertama yang mengisahkan kehidupan Kaisar Wu Zetian tetapi penonton tetap menantikannya dan berharap bisa menemukan cerita yang konon disajikan dari sisi yang berbeda. Hal ini ternyata diakui banyak orang, tak terkecuali oleh nenek berusia 88 tahun yang menjadi partner nonton saya setiap harinya.

Cerita TEOC sendiri dimulai dengan diterimanya sosok gadis muda Wu Zetian (14 tahun) sebagai penari istana bersama gadis-gadis muda lainnya. Seiring perjalanan waktu, para penari muda istana yang berlatih dan hidup bersama-sama di lingkungan istana itu tumbuh menjadi wanita-wanita cantik yang memiliki ambisi bukan sekedar menjadi penari istana tapi harus bisa menjadi istri atau selir Kaisar Taizong. Karena kehidupan menjadi istri atau selir kaisar memang jauh lebih baik dibanding hanya sebagai penari. Dimulai dari adanya ambisi inilah intrik demi intrik kemudian dibangun dalam cerita. Tentang para wanita yang ada di sekeliling kaisar, dimulai dari permaisuri, selir hingga para wanita muda, yang berebut kesempatan untuk mendapatkan perhatian dan menjadi wanita terdekat kaisar.

Wu Zetian yang sejak awal diceritakan sebagai gadis paling cantik dan menonjol akhirnya berhasil masuk ke dalam lingkaran perhatian Kaisar Taizong dan bahkan menjadi salah satu istri kesayangan kaisar yang usianya jauh di atasnya. Bukan hanya itu, Wu Zetian yang dengan keistimewaan serta kecerdasan otak serta keberaniannya selalu bisa membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi kaisar kemudian membuatnya dianugerahi nama baru yakni Wu Meilong (Wu Meniang) yang bermakna Wanita Cantik. 

Kecemburuan, iri hati, dengki serta dendam wanita-wanita di sekitarnya membuat Wu Meilong harus hidup menderita di lautan fitnah. Berkali-kali ia disiksa fisik dan dijebloskan dalam penjara bahkan oleh kaisar sendiri. Tapi bagi saya adegan yang paling mengesankan dan mampu membuat saya menangis bukan pada adegan penderitaan atau penyiksaan terhadap Wu Zetian, justru pada adegan romantis tentang kisah cinta segitiganya antar ia, kaisar dan Mo, sosok lelaki yang datang dari masa kecil Wu Meilong. Bagaimana kaisar rela melepas Meilong untuk seorang lelaki muda dari masa lalu istrinya; Mo demi cintanya yang besar pada wanitanya dan bagaimana Mo, malah rela mati di ujung ribuan anak panah demi keselamatan wanita yang sangat dicintainya; Meilong, yang dilepaskannya untuk lelaki pilihannya; Kaisar.  So sweet kan? Nyesek pull tahu!

Cerita dalam film seri ini pada akhirnya akan sampai pada kisah bagaimana Meilong malah bisa menjadi permasuri Kaisar Gaozong, anak tirinya sendiri. Putra ke-9 dari Kaisar Taizong  yang naik tahta setelah kaisar yang usianya memang sudah tua ditambah sakit-sakitan wafat. Setelah itulah kemudian akan diceritakan bagaimana cinta membuat jalan Wu Zetian untuk menjadi kaisar wanita pertama dan satu-satunya di China terbuka lebar. Setelah menjadi kaisar, Wu Zetian pun kemudian mendirikan dinasti baru yang dinamakan Dinasti Zhou.

Selain sisipan kisah cinta yang romantis, yang juga tak kalah menariknya bagi saya adalah bagaimana dalam film seri ini disisipkan pesan akan pentingnya nilai pendidikan (diskusi, belajar, menulis dan membaca buku)  dengan betapa seringnya ditampilkan adegan Kaisar dan Wu Zetian serta tokoh pembantu cerita lainnya sedang berdiskusi dalam menentukan suatu keputusan, membaca berbagai macam buku, menulis serta belajar dan berlatih ilmu bela diri yang dibutuhkan dalam suatu pertempuran (berkuda, memanah dan menggunakan pedang).

Tingkat kemajuan pendidikan dan kehidupan intelektual pada jaman Dinasti Tang nampak menjadi salah satu faktor yang ditonjolkan dalam film ini yang konon menurut sejarah China mampu menjadikan Kekaisaran Tang berjaya di segala aspek kehidupan dengan stabilitas politik dan ekonomi yang stabil pada abad ke-7. Bahkan pada masa pemerintahan Wu Zetian kesempatan, kesetaraan dan peran perempuan dipandang sangat penting dan meningkatnya hubungan sosial dalam kemajuan dan kesuksesan pemerintahan. Bahkan Wu Zetian dengan kharakter uniknya yang liberal berhasil mendobrak tatanan kekaisaran sebelumnya dengan menerapkan sistem pemerintahan dari rakyat untuk rakyat.

Akhirnya, di tengah pro dan kontra dan berbagai silang pendapat atas film seri ini, saya sebagai penonton tetap salut dan berterima kasih atas sajian tontonan yang menarik. Yang sanggup memaksa saya untuk belajar dan mengenali lebih jauh sejarah kekaisaran di China yang dulu saya kira hanya dongeng. Eh? 

Ngambil di google

Alhasil saya jadi berandai-andai semoga di Indonesia akan segera terlahir dan marak film-film seri dengan pendekatan sejarah seperti The Empress of China ini yang penuh selipan pesan kebaikan dan motivasi untuk menggantikan sinetron-sinetron yang melulu mengangkat tema cerita tentang binatang (dari serigala sampai harimau) yang merupa manusia ganteng dan cantik yang memuat pesan apalah-apalah itu.  Pffft... Aamiin.
HK, Juni 2015

8 komentar:

  1. Baru nyadar saya mba, ternyata its my first time visit your blogg, terimakasih atas colekanya tadi hehe, dan juga tulisanya sangat membantu saya, selama ini saya nontonya putus nyambung dikarenakan jam tayang adalah jam saya nyupir, apalagi bahasanya menggunakan bahasa asli Cina (maklum sang empunya TV enggan menggunakan bahasa Cantonese) ... Kebetulan pas cowoknya kena panah saya liat, dan musik latarnya itu mendukung untuk menangis *gak jadi nangis tapi haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya ingin berbagi cerita kepada anda bahwa dulunya saya ini cuma seorang.
      penjual es kuter kelilin tiap hari. pendapatannya tidak seberapa dan.
      tidak pernah cukup dalam kebutuhan keluarga saya. suatu hari saya dapat.
      informasi dari teman bahwa MBAH SUJARWO bisa membantu melalui pesugihan dana gaib.
      akhirnya saya bergabung sama beliau dan alhamdulillah memanG bener-bener terbukti .
      saya sangat berterimakasih banyak kpd MBAH SUJARWO.atas bantuan MBAH saya sekarang.
      sudah bisa mencukupi kebutuhan keluarga saya bahkan saya juga sudah buka.
      usaha matrial dan butik pakaian muslim.
      Jika anda mau buktikan
      silahkan bergabung sama Mbah Sujarwo
      Di:http://sitogelsgp.blogspot.com Atau siapa tau mau di bantu jg melalui pesugihan dana gaib silakang klik di: https://pesugihanparanormal.wordpress.com atau tlp di nmr:0823-2424-4298
      Saya sudah buktikan dan alhamdulillah kehidupan saya sekarang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya....!!!

      Hapus
  2. Sip, mimi.., kaya begini bagus! :) Enak dilihat dan dibacanya...

    BalasHapus
  3. My opini Bisa bisa bisa kalau indonesia buat film panjang tentang krajaan "masa kejayaan majapahit" pasti bagus juga ikut kerjasama dengan beberapa ahli sejarah gak melulu tentang jiplak atau yang laen nya seperti film turkey sama korea yang di buat jadi versi indonesia cerita sama tapi ngambil artis indonesia ya klo lebih bagus klo bisa buat film cerita yang frees and new beda dari yang laen dan menarik walau itu film trailer fantasi love comedi, semoga perfilman indonesia makin maju . Semangat generasi penerus yuk

    BalasHapus
  4. Waktu saya tulis komentar ini, saya masih mengikuti tayangan ke 60. Sampai saya membatalkan segala kegiatan di jam tayangnya, film yang sangat menarik yang membuat saya terseret untuk tidak melewatkan satu episode pun. Amat banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari film ini, terutama bagi para penulis. Permainan konflik yang amat cerdas, memukau hingga akhir mungkin, karena ceritanya belum saya tonton sampai tamat.

    BalasHapus
  5. Setelah sy tonton sd episode 20 akhirnya lelah dan sedih karena semua full sub english and no indo subtitle

    BalasHapus
  6. Fanbinbing yg jadi dayang namanya chinsuo pelayannya cuwei di putri huanzhu

    BalasHapus
  7. Nyimpen filmnya full episode ga min minta dong

    BalasHapus