Laman

Rabu, 27 Januari 2016

Lika-liku Seputar Masalah Paspor Palsu BMI (3)

Tulisan ini sambungan dari tulisan sebelumnya yang bisa dibaca di
http://thejourneyofpurple.blogspot.hk/2016/01/lika-liku-seputar-masalah-paspor-palsu.html dan
http://thejourneyofpurple.blogspot.hk/2016/01/lika-liku-seputar-masalah-paspor-palsu_26.html

Terkait masalah pemalsuan data paspor selain peraturan negeri asalnya, BMI juga harus memahami atau minimal mengetahui info peraturan yang berlaku di negara penempatan.
Untuk BMI HK, masalah pemalsuan data diri (yang tertera pada dokumen) baik itu atas kesengajaan atau tidak (dilakukan oleh diri sendiri atau oleh pihak lain) termasuk ke dalam jenis tindakan kriminal dan bisa dijerat hukuman sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan dan diberlakukan oleh pemerintah HK yang belum mengadopsi hukum 'human trafficking'.

Saya sendiri ketika menuliskan catatan ini masih belum mendapatkan kejelasan bagaimana awalnya bisa beredar kabar jika BMI Hong Kong bisa melakukan perbaikan data paspor di KJRI HK. Bahkan menurut info yang saya dapatkan awal mula adanya perbaikan data paspor (pemutihan data) ini atas anjuran KJRI. Saya tidak berani memastikan kebenarannya meski juga tidak meragukan kesaksian teman-teman (konselor dan orang-orang yang sempat terlibat masalah ketika melakukan usaha perbaikan data paspor) yang menjadi narasumber saya. Seperti biasa, keputusan atau peraturan yang dibuat pemerintah (dalam hal ini KJRI HK) kerap tidak jelas informasinya ke akar rumput yang notabene menjadi pihak yang mesti menjalankan keputusan atau peraturan yang ada.

Terlepas dari semua (kegalauan) di atas saya berharap tulisan ini bisa memberi informasi lebih bagi teman-teman yang sempat membacanya.

Cara Perbaikan Data Paspor BMI di Hong Kong

Langkah-langkah yang mesti dilakukan dalam proses pengubahan data paspor BMI di Hongkong hampir sama dengan di Indonesia. Hanya bedanya di HK, proses selanjutnya akan melibatkan pihak Imigrasi HK karena sebagai migran secara otomatis BMI juga berhubungan dan terikat serta berurusan langsung dengan pendataan dan peraturan pemerintah di negeri penempatan.

Jadi sebelum mengajukan permohonan pengubahan data paspor selain mesti menyiapkan bukti data diri (paspor lama, KK, AK, Ijazah dan Surat Nikah bagi yang sudah menikah) juga harus benar-benar memahami semua prosedur serta siap menerima resiko dan konsekuensinya. Resikonya selain sejumlah biaya, dalam hal ini juga butuh waktu dan kesabaran karena lama prosesnya yang tidak bisa dipastikan. Setiap kasus berbeda cara dan kelancaran waktu dalam penyelesainya.

1) Ketika kamu membawa paspor lama untuk renew paspor di KJRI HK. Jika kamu dianjurkan untuk memperbaiki data paspor yang ditengarahi bermasalah, kamu akan di-interview oleh bagian Wasdakim untuk mengetahui kronologi kasusmu.

Ketika pengajuan pengubahan data paspor baru di KJRI diterima atau sudah mendapatkan persetujuan, kamu akan mendapatkan endorsement dan secara otomatis harus mulai berurusan dengan pihak imigrasi HK.

Ketika kamu ke Imigrasi HK, mereka akan menerima dan menindaklanjuti laporan kamu dan melakukan pemeriksaan lanjutan, pemeriksaan ini tergantung kebutuhan mereka. Bisa jadi penyelidikan akan sampai ke rumah majikan. Jadi pastikan juga masalah ini tidak akan mengganggu hubungan kerja antara kamu dan majikan.

2) Di kantor Imigrasi HK, kamu akan di-interview. Dari hasil interview tersebut akan disimpulkan kondisi masalahmu. Hasil investigasi, pemeriksaan atau penyelidikan pihak Imigrasi ini yang akan menentukan perlu tidaknya kamu harus ke pengadilan.

Ketika pada akhirnya kamu dinyatakan lolos atau bebas dari dakwaan pemalsuan dokumen secara sengaja dan data baru kamu diterima, maka secara otomatis kontrak kerja dan visa kamu pun berakhir. Hal ini dikarenakan data pada kontrak kerja yang lama sudah tidak berlaku. Dan kamu harus memulai proses dari awal dengan mengajukan permohonan pembaruan Hong Kong Identitas Card (HKID) ke Imigrasi dan melakukan sesuai prosedur terkait yang sudah ditentukan pihak Imigrasi HK.

Setelah mendapatkan HKID baru selanjutnya boleh melakukan proses kontrak kerja baru dengan majikan guna mendapatkan visa kerja baru. Jadi bagi kamu yang berniat mengubah data paspor dikarenakan sangat butuh atau hanya atas anjuran KJRI, yang terpenting sebelum mengambil atau memutuskan pastikan kamu sudah memahami peraturan yang berlaku dan menganalisa kondisi masalahmu secara jujur. Sebab sampai sejauh ini kegagalan yang terjadi dikarenakan BMI yang mengajukan permohonan pengubahan data paspor sedari awal (ketika interview) tidak jujur dalam menceritakan latar belakang pemalsuan paspor yang dimilikinya atau malah berubah-ubah ceritanya (inkonsisten). Misalnya sebenarnya paspor lama digunakan sebagai jaminan hutang bank tapi malah mengaku hilang dan sebagainya. Alhasil ketika sampai di persidangan atau masih dalam proses pemeriksaan ketahuan sedang berbohong, resikonya adalah langsung ditangkap, dipenjara dan diblacklist.

Catatan: penjara dan blacklist ini oleh pemerinta Hongkong bukan KJRI HK.

Untuk perkiraan rentang waktu dari semua proses di atas bisa 3 bulan, 6 bulan, bisa juga sampai setahun atau lebih.

Perlu kamu ketahui jika kamu berhasil mengubah data paspor di Hong Kong, meski prosesnya mungkin memang ribet, keuntungannya suatu waktu kamu tidak akan bermasalah untuk keluar atau masuk HK kembali. Baik untuk urusan kerja ataupun sekadar jalan-jalan. Tetapi jika kamu (BMI yang pernah masuk atau bekerja di HK) mengubah data paspor kamu di Indonesia, berarti kamu harus siap untuk melupakan HK (tidak pernah kembali atau mencoba memasuki HK lagi) karena ketika pengechekan data di Imigrasi HK kamu bisa terjerat tuduhan pemalsuan dokumen dan ditolak atau dideportasi.

Bagaimana Sebenarnya Peran KJRI HK?

Seperti apa yang sudah saya singgung di atas, ada beberapa pengakuan dari BMI yang pernah tersandung kasus sehubungan perbaikan data paspornya bahwa awalnya perbaikan data bukan atas inisiatif mereka pribadi tapi atas anjuran KJRI (petugas di loket pelayanan pembuatan paspor). Petugas pembuatan paspor meminta data asli yang bersangkutan tanpa menjelaskan bahwa akan ada resiko yang mesti ditanggung BMI jika berusaha memperbaiki atau mengubah data paspornya (yang ditengarahi ada kesalahan) di Hong Kong.

Beberapa waktu lalu beredar kabar sehubungan paspor palsu ini, ada beberapa BMI yang sudah berhasil mengubah data tapi ada juga yang terpaksa mendekam di penjara menunggu proses pemulangan. Kabar ini sempat mendapatkan reaksi dari beberapa organisasi progressif yang melalui perwakilannya menanyakan kepada Konsul Imigrasi atas dasar apa (peraturan dan undang-undangnya) KJRI HK meminta BMI melakukan perbaikan data (pemutihan) paspor dan seberapa sanggup KJRI menjamin keselamatan juga melakukan pendampingan BMI ketika pada akhirnya harus berhadapan dengan Imigrasi dan hukum di HK.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut selanjutnya KJRI HK yang entah awalnya memang khilaf atau lupa tentang resiko tersebut yang semestinya diberitahukan kepada BMI sebagai hak akses informasi, kemudian mengubah anjurannya kepada BMI yang ditemukan memiliki kesalahan data paspor (ketika pemeriksaan data saat renew paspor) agar memperbaiki data paspornya di Indonesia.
Jadi sebenarnya dalam hal perbaikan data (pemutihan) paspor ini, andai pun benar sudah ada pengumuman peraturan resmi dari pemerintah Indonesia, peran KJRI HK sendiri lebih kepada pemberi endors (surat keterangan atau surat pengantar), pendampingan serta pemberi jaminan atau bantuan hukum jika dibutuhkan. Selebihnya semua ada pada masing-masing BMI sendiri untuk berusaha dan menjalani prosesnya yang tidak mungkin bisa sekali jadi.

2 Kasus Sebagai Contoh Perbandingan

Sudah ada beberapa kasus sehubungan perbaikan data paspor palsu BMI HK, dua contohnya seperti yang terjadi pada dua orang BMI yang sama-sama memperbaiki data paspornya atas anjuran dari KJRI HK (bukan atas inisiatif sendiri). Sebut saja nama keduanya Si A dan Si B.

1. Si A datang ke KJRI HK dalam rangka memperbarui paspornya yang kemudian ditengarahi menggunakan data palsu. KJRI HK menganjurkan Si A untuk kembali ke KJRI dengan membawa bukti data yang asli. Kemudian Si A atas endors dan pendampingan langsung Bp. Andry sebagai Konsul Imigrasi KJRI HK, menjalani proses pemutihan data paspor. Seperti langkah-langkah yang telah saya sebutkan di atas. Alhamdulillah Si A berhasil.

2. Si B datang ke KJRI HK dalam rangka memperbarui paspornya yang kemudian ditengarahi menggunakan data palsu. KJRI HK menganjurkan Si B untuk kembali ke KJRI dengan membawa bukti data yang asli. Si B ditangani oleh petugas lainnya di loket imigrasi (buka Konsul Imigrasi KJRI seperti Si A). Si B kurang mendapatkan pendampingan, prosesnya berbelit-belit dan menurut pengakuan Si B malah endors yang ia dapatkan dari KJRI HK yang pada akhirnya memberatkannya dan membuatnya dijebloskan ke penjara oleh Imigrasi HK.

Kesimpulan

Dari dua kasus yang menjadi contoh perbandingan di atas, nampaknya ada yang perlu digarisbawahi menjadi pertanyaan yang semoga bisa ditemukan jawabannya; Mengapa bisa terjadi diskriminasi pelayanan pendampingan terhadap kasus BMI yang bisa dibilang serupa? Apakah ini menunjukkan perlunya perbaikan pelayanan di KJRI HK? Sebenarnya pemalsuan data paspor BMI salah siapa?
Ada yang ingin menambahkan pertanyaan atau menjawab pertanyaan saya? Silakan.

HK, Musim Dingin 2016

Selasa, 26 Januari 2016

Lika-liku Seputar Masalah Paspor Palsu BMI (2)

Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan sebelumnya (bagian 1) yang bisa dibaca di
http://thejourneyofpurple.blogspot.com/2016/01/lika-liku-seputar-masalah-paspor-palsu.html

Demi kepentingan tertentu yang benar-benar membutuhkan perbaikan data paspor, kamu bisa berusaha memperbaiki data dengan syarat memahami langkah-langkahnya.

Cara Memperbaiki Data Paspor Palsu BMI di Indonesia

A) Jika Paspor Lama Masih Ada

Bawalah paspor lama (yang datanya perlu diperbaiki) dan lampiran data asli yang dibutuhkan (KTP, KK, AK atau Ijazah) ke Imigrasi terdekat dari wilayah tempat tinggal kamu.

Perlu diingat, kamu tidak bisa tergesa atau langsung membuat (mengajukan aplikasi data) paspor dengan data baru di Imigrasi begitu saja. Sebab resikonya justru akan membuatmu terjerat tuduhan 'kasus duplikasi paspor' dan prosesnya malah jadi ribet.

Jika terjerat kasus atau tuduhan begitu, kamu terpaksa harus mengurus pencabutan data paspor lama terlebih dulu, ke imigrasi yang pernah menerbitkan paspor kamu (paspor dengan data palsu).

Di Imigrasi, sebelum mengajukan permohonan pengubahan data, kamu harus konsultasi ke bagian Wasdakim Imigrasi. Konsultasikan masalah pengubahan data yang kamu butuhkan tersebut. Wasdakim akan membuatkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP), yang berisi catatan dari hasil pemeriksaan verbalisan (wawancara) seputar masalah data paspor yang palsu.

Perlu diketahui bahwa sebenarnya meski sudah memperbarui data, data pertamamu (yang palsu) tidak akan bisa benar-benar dihapus. Tetapi jika kamu sudah berusaha memperpanjang atau membuat paspor dengan data asli maka meski data paspor lama suatu saat akan muncul atau menjadi masalah, setidaknya kamu tidak perlu takut terjerat kasus duplikasi paspor. Karena kamu sudah memiliki salinan BAP dari Wasdakim dan bukti penetapan/pengesahan dari pihak pengadilan.

Jadi setelah mendapatkan BAP dari Wasdakim, kamu juga akan diminta/harus ke pengadilan untuk mendapatkan penetapan nama/data yang kemudian digunakan untuk proses pembuatan/perbaruan data paspormu yang baru.

Berikut ini contoh surat pengajuan permohonan pengubahan data paspor ke pengadilan.

SURAT PERMOHONAN PENGUBAHAN IDENTITAS PASPOR

Bandung, 15 September 2014

Kepada Yth.
Bapak Ketua Pengadilan Negri
Di
Bandung


Perihal : Permohonan Pengubahan Identitas Paspor

Dengan hormat,
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : Siti
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat Tinggal : xxxxxxxxxx
Kebangsaan : Indonesia
Agama : Islam
Pekerjaan : Tidak bekerja

Dan selanjutnya disebut sebagai ———————————————- Pemohon
Bersama ini, pemohon hendak mengajukan permohonan kehadapan Bapak Ketua Pengadilan Negri Bandung, dengan alasan-alasan sebagai berikut :

1. Bahwa Pemohon lahir dengan nama , yang lahir di Gununghalu, pada tanggal 3 Oktober 1986, sesuai dengan KUTIPAN Akta Kelahiran No. 5***-LT-20112013- 0***, tertanggal 2 November tahun 2013 yang lahir dari pasangan suami istri yang bernama Surya dan Maryati dari kantor Catatan Sipil Bandung. (foto copy terlampir)

2. Bahwa sekitar tahun 2006, Pemohon telah mengajukan permohonan penerbitan Paspor, sehingga terbitlah Paspor No. AB016***, atas nama Pipit, lahir di Bandung, tanggal 19 September 1980 (foto copy terlampir)

3. Bahwa Pemohon ingin kembali mengajukan permohonan penerbitan Paspor di Kantor Imigrasi atas nama Siti, yang lahir di Gununghalu, pada tanggal 3 Oktober 1986, akan tetapi khawatir oleh pihak Imigrasi ditolak karena Pemohon telah memiliki paspor atas nama Pipit, lahir di Bandung, tanggal 19 September 1980.

4. Bahwa pengubahan yang dilakukan oleh Pemohon dari Siti, yang lahir di Gununghalu, pada tanggal 3 Oktober 1986 menjadi Pipit, lahir di Bandung, tanggal 19 September 1980 mengajukan permohonan penerbitan paspor pada tahun 2006 tersebut, yang mana pada waktu itu Pemohon tidak berfikir tentang akibat selanjutnya, oleh karena pada waktu itu Pemohon tidak berfikir tentang dampak negatif dari perubahan tersebut.

5. Bahwa namun demikian Pemohon berprinsip bahwa nama Pemohon adalah Siti, yang lahir di Gununghalu, pada tanggal 3 Oktober 1986, sesuai dengan Kutipan Akta Kelahiran No. 5202-LT-20112013-0054, tertanggal 27 November 2013.

6. Bahwa terkait dengan permohonan Pemohon tersebut di atas, Pemohon sangat berharap agar Bapak Ketua Pengadilan Negeri Bandung dapat mengeluarkan suatu penetapan bahwa nama Pemohon adalah Siti, yang lahir di Gununghalu, pada tanggal 3 Oktober 1986, sesuai dengan Kutipan Akta Kelahiran No. 5202-LT-20112013-0054, tertanggal 27 November 2013, dan memerintahkan kepada Kantor Imigrasi untuk memperbaiki Paspor Pemohon dari Nama Pipit, lahir di Bandung, tanggal 19 September 1980, menjadi Siti, yang lahir di Gununghalu, pada tanggal 3 Oktober 1986.

Menurut Pasal 52 Undang-undang Nomor 23 tahun 2006, tentang Administrasi Kependudukan, terlebih dahulu harus mendapatkan ijin/Penetapan dari Hakim Pengadilan Negri tempat Pemohon.
Maka berdasarkan uraian-uraian tersebut diatas, Pemohon mohon kepada Bapak Ketua Pengadilan Negeri Bandung agar berkenan mengabulkan permohonan Pemohon dengan memberikan Penetapan sebagai berikut:

1. Mengabulkan permohonan Pemohon untuk seluruhnya.

2. Menetapkan bahwa Pemohon lahir dengan nama Siti, yang lahir di Gununghalu, pada tanggal 3 Oktober 1986 sesuai dengan Kutipan Akta Kelahiran No. 52**-LT-20112013-**54, tertanggal 27 November tahun 2013.

3. Memerintahkan kepada Kantor Imigrasi untuk mengubah Paspor No. AB 0163**, atas nama Pipit, lahir di Bandung, tanggal 19 September 1980 menjadi Siti, yang lahir di Gununghalu, pada tanggal 3 Oktober 1986.

4. Membayar biaya perkara menurut ketentuan yang berlaku.

Demikian permohonan ini diajukan kepada Bapak Ketua Pengadilan Negri Bandung. Diucapkan terima kasih.

Hormat saya,

Pemohon,


Siti

Biaya Yang Dibutuhkan

Tentang besaran biaya pembayaran untuk saat ini belum ada data biaya yang konkrit, karena besaran biaya baik imigrasi ataupun pengadilan tiap wilayah berbeda-beda. Jadi kamu mesti berhati-hati dan tidak mudah tertipu calo atau mau ditarik biaya yang menurutmu besarannya tidak masuk di akal perincian.

Menurut penuturan beberapa narsum yang saya tanya-tanya (yang menolak disebutkan identitasnya), mereka membayar kisaran 500 ribu sampai 1 juta rupiah. Tapi ada juga yang terjerat calo hingga 5-10 juta rupiah.

B) Jika Paspor Lama Sudah Tidak Ada.

Biasanya tidak adanya paspor lama ini disebabkan BMI yang bersangkutan sebelumnya pernah kabur dari majikan (di luar negeri) dengan meninggalkan dokumennya (misal untuk eks BMI Malaysia),  dokumen (paspor) di tahan PJTKI /PPTKIS atau Agency dan sudah tidak memungkinkan untuk didapatkan kembali, benar-benar hilang entah di/ke mana.

Untuk kamu yang mengalami hal seperti tersebut di atas bukan berarti lantas akan lebih mudah memperbarui atau dengan sengaja mengubah data paspor. Sebab jika kamu melakukan dengan kesengajaan (menghilangkan atau pura-pura kehilangan) hanya untuk menipu /memanipulasi data maka pada akhirnya pasti akan ketahuan juga.

Langkah pertama sebelum memperbarui data dan membuat paspor baru, kamu harus melapor ke kantor polisi soal kehilangan dokumen tersebut. Dapatkan surat keterangan atau bukti tanda laporan kehilangan dari pihak kepolisian terlebih dulu, kemudian baru kamu bisa ke  Wasdakim Imigrasi dengan membawa berkas lengkap  guna mendapatkan BAP. Selanjutnya proses sama dengan point A.
 
Catatan penting dalam menjalani proses tertulis di atas, akan lebih baik jika kamu tidak pergi sendirian. Usahakan agar ada pendamping yang bisa membantumu. Karena yang lebih penting dari semua langkah prosedural di atas adalah persiapan mental kamu sendiri untuk menghadapi petugas Imigrasi yang terkadang sengaja berbelit-belit dan mempersulit jalannya proses. Hal ini biasanya disengaja agar kamu mau mengeluarkan uang lebih sebagai pelicin atau malah lelah dan menyerahkan semua urusan pada calo.

*bersambung ke bagian 3

Senin, 25 Januari 2016

Ketika KJRI Hong Kong Hilangkan Paspor Seorang BMI

Dalam beberapa media lokal (cetak dan online) berbahasa Indonesia di Hong Kong, saya pernah membaca kutipan pernyataan KJRI Hong Kong yang disampaikan konsul Rafail. Kurang lebih kutipan itu intinya adalah 'kalau ada BMI di Hong Kong dan Macau yang sakit atau overstay, baiknya segera mengabarkannya ke KJRI, melalui nomor hotline yang disediakan. Dengan begitu KJRI akan bisa lebih cepat melakukan penanganan.' 

Sebagai bagian dari Buruh Migran Indonesia di Hong Kong tentu saja saya bahagia mengetahuinya. Secara begitu manisnya janji KJRI yang terbaca, semanis janji cinta para mantan kepada mantan kekasihnya. Sayangnya kebahagian saya itu hanya sementara, karena mendapati kenyataan dan fakta yang berbeda. Bisa jadi pernyataan KJRI yang dimuat media tersebut memang dikhususkan untuk kasus-kasus BMI yang telah, sedang dan akan diliput oleh media. Tapi tidak berlaku untuk masalah-masalah yang dialami BMI dan tidak terjamah oleh tangan media. Bisa jadi. 

Paspor Baru Siti


Paspor Yang Tertukar 

Bukan hanya 'pacar yang tertukar' seperti salah satu judul ftv yang pernah tayang di RCTI, paspor pun bisa tertukar di KJRI. Begitulah yang terjadi dengan salah satu BMI Hong Kong bernama Siti (bukan nama sebenarnya) yang pada tanggal 8 Mei 2015, tahun lalu, mengambil paspor barunya. Siti yang baru menyadari kalau paspor lama yang diambilnya bersama paspor baru ternyata bukan atas namanya, segera kembali naik ke lantai atas untuk menanyakan kepada petugas di loket imigrasi. Ia menyerahkan paspor atas nama Sukartini dan menanyakan paspor lama miliknya. Tetapi sampai dengan jam pelayanan loket berakhir, Siti tak mendapatkan kepastian bagaimana nasib paspor lamanya. 

Dengan mencatat salah satu nama Staf KJRI yang memintanya menunggu tanpa kepastian, Siti pulang ke rumah majikan dengan pikiran berkecamuk. Hilang sudah sensasi rasa lega yang semestinya ada karena sudah berhasil memperpanjang masa berlaku paspornya (renew pasport). Apa artinya paspor baru, jika visa dan permit kerjanya turut hilang bersama paspor lama?

Kekhawatiran Siti semakin bertambah ketika pada esok lusanya (Minggu, 10 Mei 2015), setelah kembali dan menunggu lagi di depan loket Imigrasi KJRI hampir seharian, belum juga menemukan kepastian nasib paspor lamanya. 

Pencarian Jejak Paspor Yang Hilang 

"Kalau KJRI Hong Kong menghilangkan paspor saya, apa saya bisa menuntut? Bagaimana caranya agar saya bisa menuntut KJRI agar berusaha menemukan dan mengembalikan paspor lama saya?" 

Begitulah kurang lebih pertanyaan Siti, yang selain curhat ke teman-temannya juga berusaha menghubungi salah satu media lokal berbahasa Indonesia di Hong Kong. Dari media yang dihubunginya Siti mendapatkan kontak Bp. Andry Indrady, Konsul Imigrasi KJRI Hong Kong. Melalui percakapan via WhatsApp, Bp. Andry meminta Siti untuk menemuinya pada: Minggu, 17 Mei 2015. 

Hari itu Siti datang dengan harapan lebih besar dan merasa cukup terhibur oleh sikap dan tanggapan Konsul Imigrasi yang ditemuinya. Tapi hati Siti mencelos lagi ketika mendengar ucapan salah satu staf perempuan yang diminta Bp. Andry untuk membantunya menemukan dokumen Siti. 

"Mana mungkin saya cari dokumen di antara dokumen yang segitu banyaknya." 

Alhasil, Siti pun benar-benar pulang dengan kekecewaan sekaligus kecemasan akan kelanjutan nasibnya, bagaimana kalau sampai ada masalah lebih besar akibat kehilangan paspor lamanya tersebut. 

Surat Keterangan Kehilangan Paspor Siti dari Kepolisian HK


Overstay 2 Bulan! 

Berdasarkan saran dari salah satu konselor BMI yang mengetahui ceritanya dan mengingatkan tentang kemungkinan overstay, Siti meminta foto copy paspor dan visa lama yang biasanya menjadi bagian dari dokumen yang disimpan majikan. Berbekal foto copy paspor dan visa tersebut, pada tanggal 16 November 2015, Siti mengajukan aplikasi extend visa di Imigrasi Wan Chai. 

Dari data base Imigrasi HK diketahui pada hari itu kalau ternyata Siti sudah overstay selama 2 bulan. 
Setelah diwawancarai dan membuat berkas acara kasus, Siti diminta pulang dan kembali dua hari berikutnya dengan membawa surat keterangan dari majikannya. 

Pada tanggal 18 November, Siti kembali ke Imigrasi dengan selembar surat keterangan dari majikan yang menyatakan kesaksian bahwa paspor lama Siti hilang di KJRI dan Siti masih sah bekerja di rumahnya sesuai kontrak kerja mereka. 


"I am so sorry, I am never chek my visa. Forgive me." ~Siti, BMI OS ~ 


Karena dalam wawancara ulang, Siti mengaku tidak tahu kalau dia OS karena tidak membaca tanggal expired yang tertera di visa, maka Siti diminta menulis permintaan maaf kepada Imigrasi HK. Sebagai tambahan dokumen keterangan masalah, Siti juga diminta petugas untuk melapor dan membuat surat keterangan kehilangan paspor ke kantor polisi terdekat. 

Hari itu juga setelah wara-wiri dari Imigrasi ke Kantor Polisi kemudian ke Imigrasi lagi dan membayar biaya sejumlah HKD190, Siti berhasil mendapatkan perpanjangan ijin tinggalnya (visa) di Hong Kong sampai kontrak kerjanya dengan majikan berakhir. 

Uneg-uneg Siti Sebagai WNI 

Siti memang sudah berhasil menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Tetapi sebagai warga negara Indonesia (WNI) di Hong Kong, terlepas dari statusnya sebagai BMI yang rawan diskriminasi, Siti sangat menyayangkan pelayanan KJRI Hong Kong yang jelas-jelas jauh dari kata professional dan bertanggung jawab. 

"Saya beruntung punya majikan baik yang mau mengerti dan memberi saya ijin keluar rumah (ke KJRI dan Imigrasi HK) pada jam kerja saya, kalau tidak bagaimana?" Siti juga menambahkan kalau ia merasa dirugikan baik tenaga, waktu dan materi karena keteledoran pihak KJRI yang semestinya tidak terjadi. 

Lebih lanjut Siti dengan sedikit emosi juga memaparkan kepada saya, bahwa ia sempat mencoba meminta surat keterangan dari KJRI kalau paspor-nya hilang di KJRI tapi ditolak dengan alasan surat keterangan yang diminta takutnya malah bisa disalah gunakan oleh Siti. Saya bisa memahami emosi Siti, bagaimana perasaan seorang korban yang malah dijadikan tersangka. Pasti nyesek rasanya. 

Perlindungan Bukan Nomor Satu 

Membaca berita dan pernyataan positive KJRI yang banyak dikutip media tentunya adalah baik. Dan tak semestinya dinyinyiri. Tetapi memaparkan fakta dan kenyataan sebagai kritik yang bisa menjadi bahan perbaikan selanjutnya adalah tanggung jawab setiap orang (bukan hanya hak media). Menurut saya berbagai kasus BMI yang berhubungan dengan KJRI HK, seperti kasus paspor yang hilang di atas, menegaskan bahwa perlindungan oleh KJRI itu bukan nomor satu. Karena tanpa dilindungi KJRI pun BMI sudah berada di bawah perlindungan Undang-undang dan peraturan yang semestinya diaplikasikan. 

Sejauh ini yang lebih dibutuhkan BMI HK dari KJRI adalah professionalitas pelayanan. Bagaimana agar BMI bisa mendapatkan pelayanan yang semestinya, yang menjadi hak mereka sebagai warga negara Indonesia di luar negeri. Analoginya seperti tentang layanan hotline, yang terpenting bukan tentang berapa banyak nomor yang ada, tapi lebih tentang seberapa banyak respon KJRI ketika dihubungi melalui nomor hotline-nya.


Hong Kong, 25 Januari 2016

PEA FAMILY Challenge (1)

Merantau Itu Belajar Hidup Tanpa Takut


Pemandangan Hong Kong dari dalam bus

"Bibi Peri yang baik hatinya. Saya ingin menantang bibi menulis kesan pertama kali merantau ke negeri orang. Baik itu pengalaman baik pun buruknya. Saya kepo begini soalnya saya sendiri belum pernah merantau. Cerita ya pengalamannya. Cerita langsung Bi, tanpa sensor-sensor lagi."

Begitulah permintaan Si Bungsu Pea (personil keluarga pea yang paling muda usianya) yang dikirim via WhatsApp. Saya sebenarnya ingin menolak tapi tidak tega karena membayangkan bagaimana ekspresi kepo keponakan unyu saya itu akan berubah menjadi manyun. Dan lagi saya ingat bocah kecil yang usil ini paling tidak mudah menyerah dalam berusaha memuaskan rasa keingin tahuannya. Baiklah. Simak baik-baik catatan ini ya anak muda!

Pada Titik Takdir

Terkadang menjadi perantau itu bukan merupakan sebuah pilihan atau keputusan karena pada dasarnya tak ada satu pun manusia yang menginginkan perpisahan dengan keluarganya, orang-orang terdekatnya, binatang piaraannya, kasur kesayangannya yang sudah bau khas keringatnya dan lain sebagainya. Jadi bisa dibilang takdir adalah titik penentu seseorang di mana dan ke mana garis perjalanan yang menjadi rahasia hidup mesti dijalaninya.

Setidaknya begitulah pemahaman yang diam-diam saya simpan rapat-rapat di kotak pandora dan tidak pernah saya gunakan sebagai jawaban ketika ada orang yang bertanya: "kenapa kamu memilih atau memutuskan untuk merantau?".

"Saya ingin mencari pengalaman dan mencari modal agar bisa membuka usaha apalah-apalah." Pfffft begitulah jawaban klise yang kerap keluar, yang sebenarnya langsung diingkari oleh kejujuran hati saya sendiri. Bohong banget.

Pada titik takdir, mau atau tidak mau, memutuskan atau tidak memutuskan, memilih atau tidak memilih. Tik tik tik! Ketika takdir sudah diketik dan nyatalah saya benar-benar menjadi seorang perantau di negeri orang. Ya sudah.

Super Duper Kuper

Jangankan di negeri rantau yang masih harus menyeberang samudera, melompati puluhan gunung, meloncati ribuan gumpalan awan (dengan bantuan pilot pesawat terbang), jauh jauh jauuuh. Bicara rumah tetangga yang dekat saja kita tidak bisa memastikan ada barang apa saja, gimana kebiasan tetangga di dalam rumahnya (misalnya kita melihat mereka selalu bergamis dan berjubah, bisa jadi di dalam rumah mereka hanya pakai kolor dan u can see, makan sambil goyang kaki, who's know?). Dan itulah yang terjadi pertama kali ketika saya sampai di Hong Kong.

Saya mendadak menjelma jadi mahluk super duper kuper (baca; teramat sangat ndeso tenan). Saya gumun, saya kagum. Saya bisa paham bagaimana perasaan Tarzan ketika pertama kali masuk kota. Melihat gedung tinggi di mana-mana (di tepi sungai dan pantai, di gunung, di bawah jembatan pun ada gedung), bus tingkat yang penuh penumpang tapi tak ada kernet yang teriak pun pedagang asongan yang menawarkan dagangan. Belum lagi percakapan orang-orang asing di sana-sini yang bahasanya terdengar 'kilik kuluk kilik kuluk' di telinga. Wes, pokoknya merasa terasing dalam bising.

Tepar diserang dingin.

Saya hanya bisa diam di sepanjang perjalanan dari bandara ke kantor agency, membiarkan mata saya sibuk menebar pandangan. Sepasang telinga saya mendengarkan sekitar. Tetapi mulut saya tertutup rapat. Hanya jari jemari dan gigi-gigi saya yang bergerak tanpa sadar. Dan gerakan ini pun lama kelamaan diikuti oleh sekujur badan saya juga. Oke catat; saya mulai gatal-gatal dan menggigil! Kedinginan!

Yah, ternyata saya mendarat di Negeri Andi Lau tepat saat pertengahan musim dingin. Saya tidak siap, jaket saya kurang tebal, kulit saya kurang bebal dan mendadak terasa kering dan kaku. Dan saya tidak tahu kalau saya punya alergi dingin!

Yeah saya yang memiliki suhu tubuh rendah dan terbiasa hidup di negara yang panas, mendadak harus terjebak musim dingin yang ekstrim. Bibir saya pecah-pecah, dari ujung jari di sela kuku dan lubang hidung saya menetes darah. Oke, fix. Kata dokter, "She have cold urticaria." Apik to jenenge rumangsamu? Rumangsaku yo apik tapi rasane lumayan mengerikan! Saya sukses terkapar.

Belajar pada hidup, hidup untuk belajar.

Setelah saya mulai bisa menerima dan berdamai dengan cuaca sebagai pelajaran pertama di rantau. Saya pun harus belajar berdaptasi dengan keluarga majikan, budaya, makanan, bahasa dan semua hal yang masih asing. Ada banyak hal yang sebelumnya saya kira sudah saya ketahui, sudah bisa, sudah paham, yang ternyata tidak ada apa-apanya (tidak berguna) untuk di tempat dan waktu yang berbeda. Sehingga saya merasa oon bin bego dan mesti belajar dari nol, lagi, lagi dan lagi.

Misal saja tentang adab berbicara, di Indonesia saya merasa sopan jika berbicara dengan orang lebih tua atau bos/majikan harus menghindari tatapan mata (sedikit menundukkan pandangan). Tetapi di Negeri Bauhinia hal begini dianggap tidak sopan! Jika saya berbicara atau sebaliknya majikan yang berbicara harus menatap mata/wajah sebagai tanda pengghargaan/penghormatan terhadap yang sedang berbicara. Semacam isyarat 'oke saya sedang mendengarkanmu'. Begitu. Misal tentang makanan, saya yang doyan sambal mendadak harus makan makanan berbumbu bawang dan kecap doang. Beuh, bisa dibayangkan rasanya?

Kehidupan di tempat baru benar-benar membuat saya belajar untuk hidup di segala situasi dan keadaan apapun meski di luar kendali dan hidup untuk belajar segala hal yang belum dan ingin saya ketahui. Dan pelajaran yang ada tak pernah benar-benar diajarkan di sekolahan. Sebab pelajaran hidup itu lebih kompleks, gurunya ada di mana-mana.

Seekor anak anjing pun bisa menjadi guru, yang mengajari saya cara memperlakukan dan menyayangi binatang yang sebelumnya hanya saya tahu sisi najis dan haramnya, tidak pernah tahu di mana sisi lucu dan menyenangkannya apalagi kebaikannya. Ternyata Anjing pun punya sisi kelucuan, kebaikan dan bisa menghibur.

Novel Tanpa Ending

Seperti saya mengenal nama Gie dan film 5Cm setelah jauh-jauh hari saya menyukai pendakian gunung dan demonstrasi, begitu pula saya baru mulai membaca novel-novel Kang Abik, A.Fuadi dan Andrea Hirata setelah saya hidup beberapa tahun di negeri rantau. Makanya saya bisa bilang merantau itu tak selalu seperti kisah para lelaki dalam novel ketiga nama penulis yang saya sebut di atas, yang tak lepas dari cinderela syndrome itu. Yang lekas berakhir dengan kesuksesan dan kebahagian yang sempurna seperti ending cerita Ayat-ayat Cinta, Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, Rantau dan Laskar Pelangi.

Jauh dari itu, merantau itu sendiri adalah novel kehidupan yang belum diketahui bagaimana endingnya bahkan menjadi teka teki yang menjalaninya sendiri.
Akan seperti apa lika-liku perantauan saya berakhir, wallahu aklam. Saya hanya bisa menabung doa dan harapan sebanyak-banyaknya agar Sang Penentu mengabulkan ending bagus yang saya inginkan. Tolong di aminin ya....

Last but not less.

Dalam merantau baik untuk pertama kali pun kesekian kalinya pasti akan ada kesan baik pun buruk, sebab begitulah hidup. Hidup adalah ujian bagi yang menjalaninya. Dan merantau adalah termasuk ujian agar bagaimana saya bisa belajar menghadapi ketakutan demi ketakutan dalam hidup. Misal takut hidup seorang diri tanpa saudara pun siapapun juga yang memiliki ikatan darah yang bisa diminta bantuannya ketika ada masalah. Takut itu manusiawi dan adanya sangat wajar meski hanya disimpan di pojok hati sekalipun ia tetap ada dan menggenapi rasa manusia.

Belajar hidup tanpa takut bukan berarti benar-benar tak ada rasa takut seperti kata Bujang di Novel Pulang Tere Liye. Belajar hidup tanpa takut itu menempatkan takut di sudut paling sudut dan tak membiarkannya menampakkan diri kecuali pada Sang Pencipta. Itu saja.

"Katakanlah : Berjalanlah dimuka bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan manusia dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu’’ (QS.Al-‘Ankabuut:20)

Begitulah kutipan dari isi ayat penganjur hidup merantau. Jadi kalau mau tahu kesan gimana merantau itu, minimal pergilah travelling atau jalan-jalan. Nggak harus ke luar negeri, bisa juga ke tetangga, keluar desa, keluar kecamatan atau kemanalah gitu. Tapi dengan niat belajar, membuka mata dan telinga lebar-lebar. Menilai dan memahami apa yang berbeda dengan tempat baru itu dibanding tempatmu sendiri. Oke, silakan dicoba.

Tapi perlu saya ingatkan, banyak orang merantau malah ingin pulang dan orang yang di rumah (tak pernah kemana-mana) saja malah rindu merantau. Jadi? Jalani saja hidupmu, bagaimana selanjutnya biarlah titik takdir menjadi penentunya.


HK di titik 3C

Sabtu, 23 Januari 2016

Daun Jatuh Jangan Dipungut!

Sweet Gum Woods


Sabtu siang sedikit mendung ketika saya berjalan seorang diri menelusuri jalan menuju lokasi "Daun Maple Bergerigi Tiga" yang menjadi obyek wisata paling menarik Hong Kong di musim dingin. Bukan hanya warga lokal Negeri Bauhinia yang mengunjungi area wisata alam bernuansa ala Kanada tersebut, banyak juga warga daratan China, wisatawan asing juga para potografer yang sengaja mengadakan pemotretan di lereng pegunungan berlatar warna warni daun dengan bentuknya yang khas. 

Tai Lam Country Park yang berada di kawasan Tai Tong Trail, Yuen Long, merupakan tempat yang indah dan sejuk dengan panorama alam yang masih sangat alami. Jalanan yang merupakan salah satu rute pendakian (hiking) dan olahraga bersepeda menjadi pilihan para pendaki juga penyuka acara bersepeda tidak hanya di musim dingin tapi juga di musim-musim lainnya. Karena jalur wisata alam terbuka ini memiliki dua pilihan rute yakni rute ringan (jalan beraspal) dan rute extrim (jalan mendaki dan curam di antara bibir lembah pegunungan).

Hong Yip yang berwarna semburat ungu


Sweet Gum bukan Maple Leaves 

Sweet Gum dan Maple meski sering dianggap sama oleh orang awam tapi tetap berbeda. Berbeda baik pohon, bentuk daun juga buahnya. Sweet Gum di Hong Kong termasuk jenis Liquidambar Formosana. Ketika musim gugur, daun Sweet Gum tak kalah menariknya dengan daun Maple. 

Daun bergerigi yang bentuknya mirip namun berbeda dengan daun maple di Kanada ini oleh orang Hong Kong biasa disebut Red Leaves/Hong Yip selalu bisa menjadi fenomena tersendiri di tiap akhir bulan Desember sampai Januari. Karena di beberapa minggu pada pertengahan musim dingin tersebut Hong Yip yang awalnya hijau itu akan berubah warna menjadi coklat kuning-oranye, merah dan ungu sebelum gugur semuanya. Sungguh merupakan pemandangan yang indah dan menimbulkan sensasi tersendiri bagi penikmatnya. 

Meski saya sengaja memilih hari biasa untuk menikmati sensasi pemandangan yang membuat penikmatnya serasa berada di Kanada atau Korea ini ternyata pengunjung pun masih lumayan banyak. Kebanyakan dari mereka membawa serta Anjing, binatang kesayangannya.

Sweet Gum On Blue Sky


Nafsu ingin memiliki itu bisa merusak!

Keindahan yang selayaknya dijaga dan dinikmati apa adanya itu terkadang memang malah bisa mengundang nafsu. Jika hanya nafsu memotret saja masih belum seberapa (meski saking nafsunya kerap ada yang sampai melanggar pagar), nafsu memiliki dengan memetik daun di pohon atau memungut daun maple yang berguguran itulah yang sangat bermasalah. 

Sebenarnya bukan tidak ada larangan atau peringatan, baik secara tertulis ataupun teguran secara langsung, larangan dan peraturan itu ada. Seperti yang saya temui misalnya , seorang petugas menegur seorang perempuan berwajah oriental (warga lokal) yang terlihat memegang beberapa helai daun maple. 

"Tolong daun itu dikembalikan ke tempatnya, Nona. Di sini tidak boleh memetik atau memungut daun yang ada!" 

Meski sempat menggerutu, yang kurang lebih protes kenapa hanya dia yang ketahuan dan ditegur, sementara yang lain juga berulah sama meski sembunyi-sembunyi. Tetapi pada akhirnya Nona Cantik itu mengembalikan daun yang dipegangnya ke bawah pohon terdekat. 

Merujuk pelajaran IPA, gugurnya daun bertujuan untuk mengurangi penguapan dan berguna untuk membentuk humus yang menyuburkan tanah di sekitar pepohonan. Begitu pun apa yang diungkapkan sukarelawan (volunter) penjaga area wisata alam tersebut. 

Lebih jauh lagi perempuan paruh baya yang mengaku tidak tahu bagaimana menuliskan namanya dalam versi alphabet tersebut mengungkapkan bahwa bukan hanya alasan yang simple itu saja tapi sebenarnya jika dibiarkan saja para pengunjung (yang jumlahnya ribuan orang di tiap hari biasa dan meningkat berkali lipat jumlahnya di Hari Minggu) akan membuat daun maple habis dalam sekejap. Menyisakan pohon dan reranting sweet gum-nya saja! Pfffft

Ketika saya berbagi kegalauan rasa!


Banyak Cara Menuju Hong Yip 

Untuk sampai ke Sweet Gum Woods ini yang memiliki mobil pribadi bisa langsung mengemudi mobil sendiri meski area parkir yang disediakan sangat terbatas. Di hari libur musim dingin sangat susah untuk menemukan tempat parkir yang kosong. 

Taksi warna hijau juga bisa sampai ke area parkir Country Park, tarif sekitar HKD60 jika naik dari Yuen Long Citi Store. 

Minibus warna merah bisa didapatkan di Hung Min atau Gedung Pengadilan Yuen Long dan turun di bus stop terakhir Tai Tong Shan Road. Sama dengan jika ke sana naik bus K66 dengan tarif HKD4,5 dari MTR Long Ping. 

Kemudian dari bus stop pengunjung bisa berjalan menyusuri sepanjang Tai Tong Shan Road yang agak menanjak selama sekitar 60 menit agar sampai ke Sweet Gum Woods. Tidak usah takut tersesat, banyak papan petunjuk yang dipasang di tepi jalan.

Untuk perjalanan pulang, pengunjung bisa kembali ke jalan semula seperti yang saya tempuh kemudian naik bus lagi ke Yuen Long. Untuk pecinta pendakian gunung setelah puas menikmati pemandangan Sweet Gum bisa melanjutkan perjalanan melalui jalur hiking Yuen Tsuen Ancient Trail. 

Hong Kong, Musim Dingin 2015

Jumat, 22 Januari 2016

Perjalanan Melongok Jendela Dunia

Penampakan bagian depan WoW dari Puncak Eiffel


Beberapa isu tentang sulitnya proses pembuatan visa atau ijin perjalanan ke China membuat saya sempat maju mundur cantik untuk mewujudkan keinginan pergi melongok jendela dunia. Tetapi demi kepentingan extend visa (memperpanjang ijin tinggal) saya pun mulai mengabaikan isu-isu dan mulai berusaha mencari teman-teman yang pernah pergi ke Windows Of The World's, Shenzen untuk saya introgasi (baca; dikepoin). 

Dari beberapa teman yang saya tanya, rata-rata mereka mengaku sudah lama pernah pergi ke China dan kurang jelas atau sudah lupa bagaimana caranya. Karena mayoritas mereka pergi dengan menggunakan jasa agen perjalanan wisata (travel agent). Jadi tinggal bayar sejumlah uang dan tahu beres, yang butuh mereka lakukan hanya setia mengekor pemandu jalan (tour guide). Sebenarnya menggunakan jasa seperti ini selain membatasi kebebasan untuk eksplore tempat sesukanya juga tidak cukup memberi pengalaman yang sulit dilupakan (misalnya pengalaman harus tersesat dan bertanya ke sana-sini kemudian mendapati orang yang ditanyai tidak mengerti bahasa yang kita gunakan. Ini keren hahaha). 

Ada juga teman-teman yang sama sekali belum pernah ke China karena mereka keluar Hong Kong untuk keperluan extend visa (jutking) ke Macau. Tentu saja saya harus mengabaikan saran mereka agar saya ke Macau saja, karena selain perjalanan ke negeri judi itu butuh waktu lebih lama dibanding ke Shenzen (wilayah daratan China yang berbatasan langsung dengan Hong Kong), saya juga sedang tidak ingin naik kapal laut. 

Merah Putih berkibar di antara bendera-bendera negara lain.



Keping Informasi

Selain mengumpulkan beberapa informasi dari internet, saya juga menghubungi dua orang teman yang saya ingat dari postingan di pesbuk pernah pergi ke WoW. Dari percakapan via WhatsApp saya mendapatkan informasi tambahan yang akurat. Terutama tentang pengalaman keduanya membuat visa di Imigrasi, point yang memang saya butuhkan. Masih menurut mereka berdua jika membawa bekal, untuk biaya perjalanan satu hari ke WoW perkiraan dana yang dibutuhkan ¥500 (HKD600-an). Tapi bisa juga lebih jika saya butuh mencoba semua permainan yang ada yang memerlukan bayar tiket lagi. Pffft saya bukan bocah kecil keles.

Tinggal tersisa satu pertanyaan yang saya pikirkan, salah satu dari teman yang akan pergi bersama saya ke WoW, masa berlaku paspornya kurang dari 6 bulan. Apakah ini tidak akan bermasalah? Kalau menurut hasil logika saya sendiri sih tidak semestinya ada masalah. Karena baik Imigrasi HK ataupun China tidak ada hubungan dengan urusan panjang (masa berlaku) paspor visitor. Dan ternyata pemikiran saya terbukti, teman saya yang awalnya diliputi keraguan akhirnya bisa tersenyum setelah melewati loket pemeriksaan imigrasi tanpa masalah. 


Mata Uang & Visa 

Sesuai rencana, Sabtu pagi yang dingin itu saya dan ketiga teman saya (Kak Atin, Tara dan Tere) bertemu di Lo Wu. Kami sengaja sama-sama menukar hari libur di hari biasa dan pergi sepagi mungkin untuk menghindari terjebak antrean panjang di kedua Imigrasi (Imigrasi HK dan Imigrasi China). Hal ini mesti diperhatikan, khususnya untuk teman-teman (BMI HK) yang memiliki batas waktu untuk pulang ke rumah majikan. Sebab pada hari Minggu dan hari-hari libur lainnya, antrean di imigrasi lebih panjang dari hari biasa. 

Sebelum keluar dari Hong Kong, saya menukar mata uang dari HKD ke RMB (Yuan). Semenjak nilai mata uang China lebih tinggi dari mata uang Hong Kong, semua proses jual beli di Shenzen hanya menggunakan RMB. Begitu pun dengan pembayaran di loket pembuatan visa Lo Wu, hanya menerima mata uang RMB. Berdasarkan pengalaman Kak Atin, yang sudah menukar uang di jasa penukaran uang dan ternyata kurs tukar lebih tinggi dibanding jika tukar uang di bank. Maka saya dan kedua teman lainnya memilih mengambil uang RMB dari ATM Hang Seng Bank. Jika via ATM nilai tukarnya lumayan lebih murah dan bisa selisih HKD50 per ¥500 sama seperti jika datang ke bank langsung. 

Kantor pembuatan visa ke Shenzen (China) di Lo Wu (buka jam 9 pagi sampai jam 10:30 malam) terletak di lantai atas, sebelum ruang antrean keluar dari imigrasi Hong Kong. Jika tidak bisa menemukan petunjuk jalan, kita bisa bertanya kepada petugas yang bertugas mengarahkan antrean pengunjung.Pokoknya ini kunci yang saya bawa kemana-mana: malu bertanya, muter-muter nggak jelas hihi. 

Setelah menemukan kantor pembuatan visa, saya langsung mengambil formulir yang sudah tersedia (dan nomor antrean jika dibutuhkan). Nah, untuk formulir pengajuan visa, saya diminta untuk menuliskan alamat yang akan dituju di Shenzhen (China). Saat itu saya (diikuti oleh teman-teman saya) menuliskan WoW di kolom alamat tujuan. Yang kemudian menyebabkan terjadi percakapan lucu di loket pembuatan visa yang masih sepi. Oh ya ada tiga loket di kantor ini, loket pengajuan aplikasi visa tempat kita menyerahkan paspor, loket pembayaran dan loket pengambilan paspor yang sudah ditempeli visa.

 "Kamu mau kemana ini? WoW ini alamat apa? Di mana?" 

"WoW itu Windows Of The World's, Pak. Saya akan pergi ke sana tapi saya tidak jelas alamat lengkapnya." 

"Ini spesial, untuk pertama kalinya ada yang menulis WoW sebagai alamat tujuan." 

"Hihi maaf ya, Pak. Kan saya tadi buru-buru menulisnya. Anggap saja saya memang spesial." 

Bapak petugas pemeriksa aplikasi visa dan kedua temannya yang bertugas di loket lain tertawa mendengar jawaban bercanda saya. Sambil meminta saya berdiri cantik untuk diambil gambar saya via camera di loket, dia bertanya: "Itu teman-temanmu juga mau ke WoW? Sana kamu bayar sekalian visa mereka." 

Proses pembuatan visa dengan biaya RMB163 itu ternyata prosesnya mudah, hanya memakan total waktu 10 menit. Karena kebetulan memang tidak perlu memakai nomor antrean. Yeah! Yang saya tahu jika antrean panjang bisa sampai satu jam atau lebih. Dari informasi ada yang saya rasa unik,  ternyata biaya pembuatan visa ini jika menggunakan pasport Inggris bisa berkali lipat loh biayanya, sekitar RMB470. Apa mungkin ini masih efek permusuhan jaman dahulu kala atau entahlah. 

Catatan: Meski Lok Ma Chau sama dengan Lo Wu juga merupakan perbatasan HK-China tapi tidak memiliki kantor layanan visa ke Shenzen. Jadi hanya bisa digunakan untuk para pengunjung yang tidak membutuhkan visa. 

Kacamata baru berguna untuk selfie hihi


Di antara dua Imigrasi 

Sebagaimana perbatasan dua negara lainnya, Imigrasi Hong Kong dan Imigrasi China di Lo Wu ini hanya terpisah satu dinding dan berjarak beberapa meter saja. Tapi perbedaannya sangat mencolok, terutama dalam pelayanan dan pemeriksaan. Misalnya saja untuk barang bawaan, ketika visitor membawa buah-buahan dari China ke HK tidak ada masalah. Tetapi sebaliknya jika visitor membawa buah dari HK ke Shenzen pasti akan disita. Begitulah yang terjadi pada seplastik Apel yang dibawa Kak Atin (Hiks! Kami sungguh kehilangan Apel yang merah merona mempesona dan entah bagaimana nasibnya setelah jatuh ke tangan penyita). 

Tips untuk melewati Imigrasi dengan cepat, ketika menunggu pemeriksaan paspor dan visa usahakan bersikap anggun. Tatap petugas dengan tatapan bersahabat, tanpa menunjukkan wajah ragu malu atau takut yang justru bisa menimbulkan kecurigaan. Selain itu siapkan juga dokumen yang dibutuhkan dan tangan untuk menekan tombol penilaian pelayanan petugas yang telah disediakan. Jangan ragu mengekspresikan apresiasi atas pelayanan mereka. Karena ini akan menjadi perbaikan untuk pelayanan petugas Imigrasi kedepannya. Jadi kalau mereka terlalu lama memeriksa, tekan saja tombol bad atau buruk. Saya sendiri karena merasa petugas cepat dalam memriksa maka saya tekan tombol tersenyum (good).

Replika Piramid


 Kota Istimewa

Shenzen merupakan kota yang diistimewakan oleh China. Sebab kota yang awalnya kota nelayan pinggiran ini sejak tahun 1980 sengaja dibangun menjadi kota zona ekonomi, budaya dan wisata untuk menyaingi Hong Kong yang waktu itu masih berada di tangan Inggris. Dibanding pertumbuhan kota lain, Shenzen sangat mencengangkan. Dalam kurun waktu 30 tahun saja kota ini sudah sepadan dengan kota-kota besar di dunia, seperti Tokyo, London, New York, Merlbourne dan lainnya. Lengkap dengan simbol-simbol kemajuan berupa gedung-gedung pencakar langit dan fasilitas kota yang prima. 

Atraksi Tari-tarian


Kereta dan Harga 

Begitu keluar dari gedung imigrasi, saya disuguhi keriuhan yang lumayan semrawut. Ada rombongan tour yang mencari anggotanya, ada asongan, sampai para calo taxi dan guide yang menawarkan jasa. Saya memilih naik kereta dari stasiun Lo Wu ke stasiun Window of The World (Shi Jie Zhi Chuang) yang membutuhkan waktu sekitar 40 menit. Sebelum naik kereta saya harus membeli tiket (tiket kereta berupa koin plastik berwarna hijau) seharga RMB5. Oh ya jika naik taxi mesti bayar RMB20 (bisa juga lebih). 

Ada perbedaan yang bisa ditemui di stasiun kereta di Shenzhen dan Hong Kong. Di Shenzhen setiap masuk stasiun ada pemeriksaan manual seperti halnya di imigrasi. Barang-barang mesti discaning dan ada banyak petugas berseragam yang menjaga. 

Sesampainya di stasiun Shi Jie Zhi Chuang, pengunjung bisa keluar dari exit mana saja, kemudian mencari jalan ke arah WoW yang dari kejauhan sudah akan menunjukkan penampakan pucuk Menara Eiffel. Tapi untuk exit mtr terdekat saya sengaja pilih exit J. Sebelum masuk ke Jendela Dunia saya harus antre membeli ticket masuk seharga RMB180. 

Berbeda dengan tempat wisata di Hong Kong (Ocean Park, Disney Land dll), di WoW para pengunjung bebas membawa makanan dan minuman dari luar area WoW. Jadi untuk penghematan uang pun waktu (untuk antre beli makanan), para pengunjung WoW bisa membawa bekal dari rumah. Selain itu usahakan untuk tidak terpikat untuk membeli souvenir jika tidak ahli dalam tawar menawar atau terpaksa membeli karena butuh. Misalnya seperti Kak Atin yang terpaksa membeli kacamata hitam (karena cuaca lembab yang membuat mata pedih) seharga RMB60, padahal kacamata hitam tersebut jika dibeli di Hong Kong cukup HKD20. Dengan pertimbangan itulah saya dan teman-teman membawa bekal dan hanya belanja sebuah kacamata hitam untuk Kak Atin, sebuah topi koboi seharaga RMB40 untuk Tara dan berondong jagung seharga RMB20 untuk kami berempat. 

Jendela Dunia atau "Window of the World' Shenzhen merupakan sebuah maha karya replika keajaiban dunia dengan skala rata-rata 1:1, 1:5, atau 1:15 yang memiliki luas lebih dari 48 hektar. Masing-masing 'landmark' menunjukkan keterampilan pembuatnya karena desainnya sangat detail dan spesifik, sesuai dengan bangunan-bangunan aslinya. Yang membuat pengunjung benar-benar merasa berkeliling dunia dalam waktu seharian. 

Sejak resmi dibangun secara bertahap dan dibuka untuk umum pada tahun 1994 silam, Jendela Dunia ini telah berhasil menjelma menjadi salah satu pusata wisata rekreasi taman miniatur yang begitu populer serta terkenal yang membuat orang-orang berdatangan melongoknya. Berbagai replika keajaiban serta simbol berbagai dunia yang lebih dari 130 macam di taman wisata ini dibagi menjadi beberapa lokasi atau zona-zona wisata yang berbeda. Dari zona Amerika, Asia, Eropa, Australia dan Afrika, hingga beberapa zona menarik lainnya seperti Taman Patung, World Oceania, World Square, serta sebuah zona bernama International Street yang penuh deretan toko souvenir dan restoran yang menyajikan menu berbagai negara. 

Salah satu zona yang paling menarik dan menjadi pusat perhatian pengunjung adalah replika Menara Eiffel dari Paris. Menara unik dengan ketinggian yang mencapai kurang lebih sekitar 108 meter tersebut, menjadi salah satu objek paling mengesankan. Selain terlihat begitu menawan, di menara ini juga ada area khusus pada puncak menara sebagai titik pusat bagi para pengunjung agar dapat menikmati serta mengagumi seluruh keindahan wilayah taman miniatur dan sekitarnya dari ketinggian. 

Saya mesti antre membeli tiket agar bisa naik ke menara impian (yang suatu hari ingin saya kunjungi versi aslinya). Harga tickets naik ke Eiffel di hari libur RMB30. Tetapi karena saya datang di hari biasa cukup membayar RMB20 per-orang.

Replika Eiffel

Salah satu daya tarik lainnya yang dapat kita temukan di kawasan WoW ini adalah beberapa acara panggung hiburan berupa pertujukan tari-tarian dan musik yang diselenggarakan secara rutin setiap malamnya. Bahkan terkadang menghadirkan artis-artis terkenal dari berbagai negara. Selain pertunjukan rutin tersebut juga ada beberapa kegiatan perayaan atau festival kebudayaan yang diselenggarakan pada waktu serta musim-musim tertentu. Seperti Festival Musim Semi, Cherry Festival, Pekan Kebudayaan India, Beer Festival International, Pop Music Festival, Festival Musim Panas, hingga sederetan festival menarik khas dari berbagai Negara lainnya. 

Malam, Pulang dan Kesan 

Ada kekurangan dan perbedaan yang mencolok di waktu malam hari antara Window of The Word dan Disney land atau Ocean Park di Hong Kong, yakni urusan lampu. WoW di malam hari lebih gelap dan suram di banyak sudut. Bahkan terkesan horor. Jadi saya tidak akan merekomendasikan pembaca untuk menikmati WoW di saat cuaca sudah gelap, kecuali di area pertunjukan yang berada di dekat pintu masuk dan keluar. 

Perjalanan pulang saya ke HK lancar saja, tak ada hambatan baik di stasiun kereta ataupun di Imigrasi. Mungkin karena sudah merasakan kepuasan dalam menikmati perjalanan sehari melongok Jendela Dunia, saya tidak merasa lelah. Bahkan diam-diam saya menyimpan niat terpendam untuk mengulang kunjungan bersama orang-orang tersayang. Aamiin 

Hong Kong, Musim Dingin 2015

LIKA-LIKU SEPUTAR MASALAH PASPOR PALSU BMI (1)


Paspor adalah dokumen identitas bagi seorang warga negara yang sedang berada di luar negeri. Baik untuk sekedar berkunjung, belajar ataupun bekerja, seorang migran harus memiliki paspor sebagai salah satu syarat utama. Begitu juga tak terkecuali dengan syarat untuk menjadi Buruh Migran Indonesia (BMI).

Berbeda dengan negara lainnya, Indonesia memiliki aturan yang relatif diskriminatif mengenai paspor. Karena pemerintah mengeluarkan dua jenis paspor; paspor 48 halaman untuk non BMI dan paspor 24 halaman khusus BMI. Paspor 24 halaman terutama diberikan pada BMI yang bekerja di sektor informal (pembantu rumah tangga, supir pribadi, dll).
Sedangkan untuk BMI formal biasanya jika yang membantu mengurus pembuatan paspor adalah PPTKIS/PJTKI juga mendapatkan paspor 24 halaman. Tetapi jika yang bersangkutan mengurus sendiri paspornya tanpa bantuan PPTKIS/PJTKI akan memperoleh paspor 48 halaman.


Sejak dibubarkannya imigrasi khusus BMI di Tangerang, calon BMI ‘diwajibkan’ untuk membuat paspor di imigrasi yang terdekat dengan daerah asalnya. Verifikasi dokumen cukup dilakukan oleh Disnakertrans setempat dan Imigrasi daerah.

Pada tiap kantor Imigrasi biasanya ada keterangan tentang syarat beserta biaya proses pembuatan paspor, tapi pada prakteknya pemohon pembuatan paspor selain masih harus berhadapan dengan petugas imigrasi yang terkadang mempersulit proses juga mesti berhati-hati terhadap jebakan calo imigrasi yang membuat biaya pembuatan paspor menjadi berlipat ganda dari yang semestinya.

Pembuatan Paspor Secara Mandiri

Berikut ini tips pembuatan paspor secara mandiri berdasarkan pengalaman beberapa nara sumber.

1. Membawa data lengkap: Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), Akte Kelahiran (AK) dan uang. Kalau tak ada Akte Kelahiran bisa membawa ijazah (SD, SMP atau SMA) sebagai bukti pengganti AK. Pastikan nama dan tanggal lahir kamu tidak ada perbedaan baik di KTP, KK, AK ataupun ijazah.
Pastikan juga semua yang disebutkan di atas benar-benar lengkap, karena jika ketinggalan atau kurang salah satu data saja akan membuat proses pembuatan paspor tertunda.


2. Berpakaian rapi dan berpenampilan tenang. Saat ditanya petugas usahakan memberi jawaban yang tegas dan meyakinkan kalau kamu akan membuat paspor untuk umroh atau jalan-jalan/travelling ke luar negeri.

3. Jangan sesekali menunjukkan sikap ragu-ragu atau mengatakan kalau tujuanmu membuat paspor untuk bekerja di luar negeri. Kalau kamu mengatakan begitu maka pengajuan paspor akan ditolak dan kamu diminta mengajukan pembuatan paspor melalui atau dengan bantuan PJTKI/PPTKIS dengan dalih karena dibutuhkannya rekomendasi dari Disosnakertrans setempat.

4. Kamu tidak perlu takut atau sangsi apakah penempatan dan pemberangkatan kamu ke luar negeri nantinya akan ilegal karena saat proses pembuatan paspor di imigrasi daerah kamu tidak mengatakan yang sebenarnya. Sebab setiap penempatan BMI di luar negeri sudah pasti membutuhkan visa kerja dan jika kamu berangkat bekerja dengan jalur resmi via PJTKI/PPTKIS maka paspor kamu juga akan kembali diproses untuk mendapatkan endorsement atau pengesahan dari pihak imigrasi pusat di Jakarta. Endorsement yang menyatakan bahwa paspor kamu akan digunakan untuk bekerja ke luar negeri tersebut akan tertera di salah satu halaman paspor kamu.

Sumber Permasalahan

Banyaknya masalah, keluhan dan pertanyaan sehubungan paspor palsu yang dimiliki BMI dan eks BMI, baik yang sedang berada di berbagai negara penempatan atau yang sudah kembali ke Indonesia, lebih disebabkan pada proses pembuatan paspor untuk pertama kalinya mereka sama sekali tidak tahu menahu kejelasan informasi seperti yang tertulis di atas. Dan mayoritas semua mengakui kalau pengurusan dan pengisian data paspor dilakukan oleh PJTKI /PPTKIS. Alhasil riskan terjadi banyak kasus pemalsuan data paspor (biasanya nama dan tanggal serta tahun lahir tidak sesuai KTP, KK, AK atau Ijazah) dengan berbagai alasan dan latar belakang kepentingan.

Awalnya pemalsuan atau kesalahan data paspor memang tidak akan atau tidak menjadi masalah jika pengguna paspor pada kemudian hari tidak membutuhkan data diri yang asli, misalnya untuk kepentingan melanjutkan sekolah/kuliah di luar negeri yang datanya mesti sinkron dengan data ijazah sebelumnya, untuk menikah di luar negeri, dan lain sebagainya. Dan kalau sudah demikian maka semua pertanyaan akan sampai pada ;
"BAGAIMANA CARA AGAR SAYA BISA MEMPERBAIKI DATA SAYA YANG DIPALSUKAN PJTKI /PPTKIS?"

*Bersambung