Laman

Senin, 25 Januari 2016

PEA FAMILY Challenge (1)

Merantau Itu Belajar Hidup Tanpa Takut


Pemandangan Hong Kong dari dalam bus

"Bibi Peri yang baik hatinya. Saya ingin menantang bibi menulis kesan pertama kali merantau ke negeri orang. Baik itu pengalaman baik pun buruknya. Saya kepo begini soalnya saya sendiri belum pernah merantau. Cerita ya pengalamannya. Cerita langsung Bi, tanpa sensor-sensor lagi."

Begitulah permintaan Si Bungsu Pea (personil keluarga pea yang paling muda usianya) yang dikirim via WhatsApp. Saya sebenarnya ingin menolak tapi tidak tega karena membayangkan bagaimana ekspresi kepo keponakan unyu saya itu akan berubah menjadi manyun. Dan lagi saya ingat bocah kecil yang usil ini paling tidak mudah menyerah dalam berusaha memuaskan rasa keingin tahuannya. Baiklah. Simak baik-baik catatan ini ya anak muda!

Pada Titik Takdir

Terkadang menjadi perantau itu bukan merupakan sebuah pilihan atau keputusan karena pada dasarnya tak ada satu pun manusia yang menginginkan perpisahan dengan keluarganya, orang-orang terdekatnya, binatang piaraannya, kasur kesayangannya yang sudah bau khas keringatnya dan lain sebagainya. Jadi bisa dibilang takdir adalah titik penentu seseorang di mana dan ke mana garis perjalanan yang menjadi rahasia hidup mesti dijalaninya.

Setidaknya begitulah pemahaman yang diam-diam saya simpan rapat-rapat di kotak pandora dan tidak pernah saya gunakan sebagai jawaban ketika ada orang yang bertanya: "kenapa kamu memilih atau memutuskan untuk merantau?".

"Saya ingin mencari pengalaman dan mencari modal agar bisa membuka usaha apalah-apalah." Pfffft begitulah jawaban klise yang kerap keluar, yang sebenarnya langsung diingkari oleh kejujuran hati saya sendiri. Bohong banget.

Pada titik takdir, mau atau tidak mau, memutuskan atau tidak memutuskan, memilih atau tidak memilih. Tik tik tik! Ketika takdir sudah diketik dan nyatalah saya benar-benar menjadi seorang perantau di negeri orang. Ya sudah.

Super Duper Kuper

Jangankan di negeri rantau yang masih harus menyeberang samudera, melompati puluhan gunung, meloncati ribuan gumpalan awan (dengan bantuan pilot pesawat terbang), jauh jauh jauuuh. Bicara rumah tetangga yang dekat saja kita tidak bisa memastikan ada barang apa saja, gimana kebiasan tetangga di dalam rumahnya (misalnya kita melihat mereka selalu bergamis dan berjubah, bisa jadi di dalam rumah mereka hanya pakai kolor dan u can see, makan sambil goyang kaki, who's know?). Dan itulah yang terjadi pertama kali ketika saya sampai di Hong Kong.

Saya mendadak menjelma jadi mahluk super duper kuper (baca; teramat sangat ndeso tenan). Saya gumun, saya kagum. Saya bisa paham bagaimana perasaan Tarzan ketika pertama kali masuk kota. Melihat gedung tinggi di mana-mana (di tepi sungai dan pantai, di gunung, di bawah jembatan pun ada gedung), bus tingkat yang penuh penumpang tapi tak ada kernet yang teriak pun pedagang asongan yang menawarkan dagangan. Belum lagi percakapan orang-orang asing di sana-sini yang bahasanya terdengar 'kilik kuluk kilik kuluk' di telinga. Wes, pokoknya merasa terasing dalam bising.

Tepar diserang dingin.

Saya hanya bisa diam di sepanjang perjalanan dari bandara ke kantor agency, membiarkan mata saya sibuk menebar pandangan. Sepasang telinga saya mendengarkan sekitar. Tetapi mulut saya tertutup rapat. Hanya jari jemari dan gigi-gigi saya yang bergerak tanpa sadar. Dan gerakan ini pun lama kelamaan diikuti oleh sekujur badan saya juga. Oke catat; saya mulai gatal-gatal dan menggigil! Kedinginan!

Yah, ternyata saya mendarat di Negeri Andi Lau tepat saat pertengahan musim dingin. Saya tidak siap, jaket saya kurang tebal, kulit saya kurang bebal dan mendadak terasa kering dan kaku. Dan saya tidak tahu kalau saya punya alergi dingin!

Yeah saya yang memiliki suhu tubuh rendah dan terbiasa hidup di negara yang panas, mendadak harus terjebak musim dingin yang ekstrim. Bibir saya pecah-pecah, dari ujung jari di sela kuku dan lubang hidung saya menetes darah. Oke, fix. Kata dokter, "She have cold urticaria." Apik to jenenge rumangsamu? Rumangsaku yo apik tapi rasane lumayan mengerikan! Saya sukses terkapar.

Belajar pada hidup, hidup untuk belajar.

Setelah saya mulai bisa menerima dan berdamai dengan cuaca sebagai pelajaran pertama di rantau. Saya pun harus belajar berdaptasi dengan keluarga majikan, budaya, makanan, bahasa dan semua hal yang masih asing. Ada banyak hal yang sebelumnya saya kira sudah saya ketahui, sudah bisa, sudah paham, yang ternyata tidak ada apa-apanya (tidak berguna) untuk di tempat dan waktu yang berbeda. Sehingga saya merasa oon bin bego dan mesti belajar dari nol, lagi, lagi dan lagi.

Misal saja tentang adab berbicara, di Indonesia saya merasa sopan jika berbicara dengan orang lebih tua atau bos/majikan harus menghindari tatapan mata (sedikit menundukkan pandangan). Tetapi di Negeri Bauhinia hal begini dianggap tidak sopan! Jika saya berbicara atau sebaliknya majikan yang berbicara harus menatap mata/wajah sebagai tanda pengghargaan/penghormatan terhadap yang sedang berbicara. Semacam isyarat 'oke saya sedang mendengarkanmu'. Begitu. Misal tentang makanan, saya yang doyan sambal mendadak harus makan makanan berbumbu bawang dan kecap doang. Beuh, bisa dibayangkan rasanya?

Kehidupan di tempat baru benar-benar membuat saya belajar untuk hidup di segala situasi dan keadaan apapun meski di luar kendali dan hidup untuk belajar segala hal yang belum dan ingin saya ketahui. Dan pelajaran yang ada tak pernah benar-benar diajarkan di sekolahan. Sebab pelajaran hidup itu lebih kompleks, gurunya ada di mana-mana.

Seekor anak anjing pun bisa menjadi guru, yang mengajari saya cara memperlakukan dan menyayangi binatang yang sebelumnya hanya saya tahu sisi najis dan haramnya, tidak pernah tahu di mana sisi lucu dan menyenangkannya apalagi kebaikannya. Ternyata Anjing pun punya sisi kelucuan, kebaikan dan bisa menghibur.

Novel Tanpa Ending

Seperti saya mengenal nama Gie dan film 5Cm setelah jauh-jauh hari saya menyukai pendakian gunung dan demonstrasi, begitu pula saya baru mulai membaca novel-novel Kang Abik, A.Fuadi dan Andrea Hirata setelah saya hidup beberapa tahun di negeri rantau. Makanya saya bisa bilang merantau itu tak selalu seperti kisah para lelaki dalam novel ketiga nama penulis yang saya sebut di atas, yang tak lepas dari cinderela syndrome itu. Yang lekas berakhir dengan kesuksesan dan kebahagian yang sempurna seperti ending cerita Ayat-ayat Cinta, Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, Rantau dan Laskar Pelangi.

Jauh dari itu, merantau itu sendiri adalah novel kehidupan yang belum diketahui bagaimana endingnya bahkan menjadi teka teki yang menjalaninya sendiri.
Akan seperti apa lika-liku perantauan saya berakhir, wallahu aklam. Saya hanya bisa menabung doa dan harapan sebanyak-banyaknya agar Sang Penentu mengabulkan ending bagus yang saya inginkan. Tolong di aminin ya....

Last but not less.

Dalam merantau baik untuk pertama kali pun kesekian kalinya pasti akan ada kesan baik pun buruk, sebab begitulah hidup. Hidup adalah ujian bagi yang menjalaninya. Dan merantau adalah termasuk ujian agar bagaimana saya bisa belajar menghadapi ketakutan demi ketakutan dalam hidup. Misal takut hidup seorang diri tanpa saudara pun siapapun juga yang memiliki ikatan darah yang bisa diminta bantuannya ketika ada masalah. Takut itu manusiawi dan adanya sangat wajar meski hanya disimpan di pojok hati sekalipun ia tetap ada dan menggenapi rasa manusia.

Belajar hidup tanpa takut bukan berarti benar-benar tak ada rasa takut seperti kata Bujang di Novel Pulang Tere Liye. Belajar hidup tanpa takut itu menempatkan takut di sudut paling sudut dan tak membiarkannya menampakkan diri kecuali pada Sang Pencipta. Itu saja.

"Katakanlah : Berjalanlah dimuka bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan manusia dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu’’ (QS.Al-‘Ankabuut:20)

Begitulah kutipan dari isi ayat penganjur hidup merantau. Jadi kalau mau tahu kesan gimana merantau itu, minimal pergilah travelling atau jalan-jalan. Nggak harus ke luar negeri, bisa juga ke tetangga, keluar desa, keluar kecamatan atau kemanalah gitu. Tapi dengan niat belajar, membuka mata dan telinga lebar-lebar. Menilai dan memahami apa yang berbeda dengan tempat baru itu dibanding tempatmu sendiri. Oke, silakan dicoba.

Tapi perlu saya ingatkan, banyak orang merantau malah ingin pulang dan orang yang di rumah (tak pernah kemana-mana) saja malah rindu merantau. Jadi? Jalani saja hidupmu, bagaimana selanjutnya biarlah titik takdir menjadi penentunya.


HK di titik 3C

3 komentar:

  1. Mimi, ini amazing!
    Ya, aku sepenasaran si Bungsu ketika tahu mimi ada di negeri Andi Lau. Seberapa sulitnya beradaptasi hingga skarang rasanya mimi sudah sangat terbiasa dengan perbedaan yg sangat mencolok di Indonesia.
    Jika mimi bilang dulu mimi Katrok di sana. Malah aku lihat diriku di kota sendiri lebih katrok dan gak tau apa2. >_<
    Yah namanya aku anak rumahan sih. Wkkwk..

    By the way, aku lihat perjalanan mimi itu asik meski asiknya itu harus mengorbankan hak mimi. Aku apresiasi sangat besar utk hal itu.

    BalasHapus
  2. Sy tidak tau apa ini cara kebetulan saja atau gimana. Yg jelas sy berani sumpah kalau ada ke bohongan sy sama sekali. Kebetulan saja buka internet dpt nomer ini +6282354640471 Awalnya memang sy takut hubungi nomer trsebut. Setelah baca-baca artikel nya. ada nama Mbah Suro katanya sih.. bisa bantu orang mengatasi semua masalah nya. baik jalan Pesugihan dana hibah maupun melalui anka nomer togel. Setelah sy telpon melalui whatsApp untuk dengar arahan nya. bukan jg larangan agama atau jalan sesat. Tergantung dari keyakinan dan kepercayaan saja. Syukur Alhamdulillah melalui bantuan beliau benar2 sudah terbukti sekarang. Amin...

    BalasHapus