Laman

Kamis, 11 Februari 2016

Fishball Revolution After Umbrella Revolution

Foto Screenshot dari SCMP


Pada selasa pagi itu (9/2), di hari kedua Perayaan Tahun Baru Imlek 2016, suara keributan memenuhi ruang tamu rumah majikan. Membuat saya yang sedang sibuk membuat sarapan di dapur pun melongok kepo. Rupanya suara ribut itu berasal dari teve yang baru dinyalakan nenek dengan volume kencang. Tayangan rekaman peristiwa kerusuhan nampak memenuhi layar kaca. Meski ingin tahu lebih jelas, saya hanya bisa memasang telinga lebar-lebar agar tetap bisa bekerja sambil mendengarkan siaran berita. 

Dari hasil mencuri dengar (tanpa melihat gambar) saya mengetahui kalau Senin malam telah terjadi bentrok antara para penjual makanan jalanan dengan pihak polisi. "Fishball Revolution," begitulah bentrokan dini hari itu dinamai. Nama yang mengacu pada isu upaya pemerintah 'untuk menekan para penjual makanan jalanan' --dan bola ikan sendiri merupakan bagian terbesar dari jenis makanan jalanan-- di Hong Kong. 

Dalam berita di TVB yang kemudian baru benar-benar sempat saya pelototin semalam (berita yang sama dengan hari sebelumnya, yang memang sengaja ditayangkan berulang-ulang), saya pun mengetahui kalau kekacauan berawal dari agenda operasi tahunan polisi (biasanya memang di awal tahun kepolisian HK melakukan operasi besar-besaran untuk penertiban PKL dan orang-orang yang tinggal tanpa ijin di Hong Kong) untuk membersihkan dan merapikan vendor ilegal yang menjual beraneka macam makanan jalanan, pernak-pernik dan barang-barang rumah tangga di sepanjang jalan utama Mong Kok. 

Rekaman gambar yang ditayangkan beberapa stasiun teve menunjukkan adanya kerumunan ratusan orang yang memakai masker dan kacamata, berteriak-teriak, melemparkan botol, menghantamkan batu bata dari hasil membongkar trotoar, menarik dan melemparkan tempat sampah beserta isinya ke arah para penegak hukum yang kemudian juga membalasnya dengan serangan balik berupa pukulan, semprotan merica dan tembakan peringatan. Di antara dua kubu yang saling serang, mengejar dan dikejar, lantas sama-sama ada yang terjatuh, ditendang dan menendang, ada juga para wartawan yang sedang berburu berita dan orang-orang awam yang terjebak dalam kerusuhan kemudian menjadi korban juga. Kamera menyorot sosok polisi yang dipukuli massa, beralih menyorot bagian dari massa yang digebuk polisi. Ada kening dan tangan yang terluka, berdarah-darah. Ada adegan polisi menangkap dan menggelandang tersangka biang kerusuhan. 

Massa membongkar trotoar agar bisa mendapatkan batu bata untuk dilempar.

Kemudian saya juga sempat mengintip koran majikan dan media online di HK, yang di beberapa HL-nya menyebutkan ada warga HK yang protes pada polisi karena meski sudah berusaha menjelaskan bahwa dirinya terjebak di antara garis polisi anti huru hara dan kerumunan massa kepada polisi, ia ingin pergi meninggalkan tempat tersebut tapi penjelasan mereka tak didengarkan  oleh polisi dan malah disemprot bubuk merica tanpa peringatan terlebih dahulu. Begitupun dengan wartawan yang sudah menunjukkan identitasnya kepada dua pihak yang sedang rusuh, mereka pun ada yang turut terkena hantaman dan pukulan dari keduanya: massa dan polisi. 

Juru bicara kepolisian, Stephen Yu Wai-kit, dalam siaran press mengatakan bahwa ratusan polisi yang sengaja dikerahkan pihaknya hanya untuk melakukan intervensi karena petugas kepolisian bagian urusan kesehatan lingkungan dan makanan telah gagal dalam upaya mereka untuk menertibkan penjual makanan jalanan tanpa ijin di wilayah poros Mong Kok. Puluhan LSM, organisasi dan partai-partai di HK melalui jubirnya ada yang memberi dukungan dan simpati pada puluhan warga HK yang ditangkap karena tuduhan terlibat dalam kerusuhan, ada yang mengecam tindakan polisi yang dianggap tidak sesuai prosedur yang semestinya tapi ada juga yang menyatakan dan menunjukkan dukungan kepada pihak kepolisian. 


Sedangkan pemerintah HK sendiri dalam konferensi press menyatakan mengutuk massa yang sudah melakukan tindakan brutal dan menyebabkan terjadinya bentrokan. "Saya yakin semua orang sudah bisa melihat rekaman kerusuhan yang ditayangkan TV mereka dan melihat seberapa serius kejadian itu. Pemerintah HK SAR dan saya pribadi sangat mengutuk perilaku pelanggaran hukum. Polisi akan bekerja keras untuk menangkap para perusuh dan membawa mereka ke pengadilan. Kami juga menyatakan simpati kami kepada para polisi dan wartawan terluka," ujar Chief Executive Leung Chun-ying di layar kaca. 


Saya menghela nafas panjang. Ada sesak yang menyeruak di dada. Apa yang semestinya cukup berhenti sebagai berita yang saya simak saja justru membuat saya mengingat dan berpikir banyak hal. Adegan-adegan tayangan berita tentang 'revolusi bola ikan' di Mong Kok tersebut mengingatkan saya kepada aksi pro-demokrasi Umbrella Revolution atau Revolusi Payung 2014. Ketika mahasiswa menduduki tiga poros jalanan HK (Causeway Bay, Admiralty dan Mong Kong) selama berminggu-minggu untuk memprotes sistem pemilihan umum yang akan berlangsung di Hong Kong yang memberi Cina kuasa penuh untuk menentukan nama-nama calon yang akan menjadi kepala eksekutif kota. Dan bagaimana tindakan yang dilakukan polisi Hong Kong dalam menghadapi demonstran sempat mengundang kecaman internasional. 


Saat itu saya sebagai bagian BMI yang berkesempatan menyaksikan peristiwa bersejarah HK dari dekat dan secara tidak langsung terlibat juga di dalamnya (karena beberapa kali diminta membantu menerjemahkan pernyataan press dan tulisan para demonstran serta LSM /Organisasi pendukungnya ke dalam bahasa Indonesia, menghadiri kampanye tertutup mereka dan ikut berada di antara mereka ketika malam-malam terjadi bentrokan) benar-benar bisa mendapatkan pelajaran berharga. Bahwa jangan pernah menilai pun menghakimi sesuatu hanya dari satu sisi. 


Seperti misalnya ketika menyimak pernyataan press Leung, jangan tergesa turut merutuk dan komentar menghakimi orang-orang yang dianggap perusuh dan sudah ditangkap serta akan diadili dengan ancaman hukuman sepuluh tahun penjara seperti yang disebutkan pihak berwajib. Coba sedikit teliti, kenapa pemerintah HK dan Leung pribadi tidak menyatakan simpatinya kepada massa (baik yang sengaja terlibat atau hanya terjebak dalam kerusuhan) yang sudah jelas juga ada yang terluka? Apa mereka tidak punya hak yang sama atas perhatian pemerintahnya? Bukankah mereka juga warga HK? Coba garis bawahi bagian pemikiran saya ini. Dan tepok jidat saya yang berkerut ini. Eh? 

screenshot poto dari media online HK

Di negara manapun dan pemberitaan apalah-apalah selalu ada bagian yang terlewatkan atau sengaja ditutupi, kecuali tentang berita kejombloan. Karena akhir-akhir ini banyak orang yang bangga mengaku jomblo dan merasa layak memamerkan kejombloan sebagai bagian dari modus atau promo diri terselubung. Pihak yang berkuasa, menguasai pemerintahan dan media, bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan dukungan dan simpatisan tentunya dengan apa yang biasa disebut sebagai pencitraan. Sedangkan warga, orang-orang kecil aka rakyat biasa berekonomi lemah bin orang-orang pinggiran hanya punya solidaritas, tenaga dan keberanian untuk mempertahankan diri dari ancaman kehilangan secuil hak milik mereka. Dalam hal ini penggusuran lapak PKL dengan alasan ilegal atau demi persoalan tata kota atau apapun namanya adalah tetap ancaman nyata buat pemiliknya. So? Jika anarkis adalah rasa frustasi yang memuncak di ubun-ubun. Maka menurut pendapat saya, sudah semestinya pemerintah negara manapun tak membiarkan warganya dirundung rasa frustasi berkepanjangan agar tak ada lagi tindakan anarkis yang mereka kecam sebagai bentuk pemberontakan. 


Tuen Mun, 11 Februari 2016


Tidak ada komentar:

Posting Komentar