Laman

Selasa, 02 Februari 2016

Kepada Lelaki Hebat

Bumi Bauhinia, 2 February 2016 

 Menjumpai lelaki hebat, Om Aiko 

 Assalamu'alaikum 

Om Aiko, kemarin, ketika mengetahui kabar bahwa Om sedang sakit, saya jadi teringat sesuatu yang diam-diam saya simpan di kotak pandora. Sesuatu berupa keinginan yang semestinya tak saya biarkan terurai oleh waktu tanpa keberanian untuk mengakuinya. Maka dari itu, pagi ini saya mengirimkan pesan, menanyakan kabarmu yang sedang terbaring di ruang putih. 

"Sedang dalam perjuangan, Nak, doakan ya." 

Jawaban singkat. Tetapi terbaca serupa mantra yang menghipnotis. Membuat saya menangis. Tangis yang menumbuhkan keberanian untuk mengungkap sebentuk rasa iri yang pernah dan masih saya miliki. Ya, saya diam-diam iri kepada mereka yang bebas memanggil dan mengakui Om Aiko sebagai Ayah. Seperti keirian saya kepada setiap orang yang memiliki ayah dan ibu.

"Saya ayah yang muda dan ganteng kok. Ayo jadi anakku." 

Secuil senyum geli sekaligus haru tak kuasa menyembul di antara gerimis tangis yang tak tertahankan. Om Aiko dalam sakit pun tetap melapangkan dada untuk menyimak curhat dari saya yang sedang berada di titik ke-lebay-an. Sebagai seorang yang tak kecil lagi, saya masih kerap terlempar di titik kerinduan akan sosok ayah dan ibu yang wajahnya pun tak pernah tahu, seperti apa bentuknya.

"Kita tidak bisa memilih saat kita lahir. Banyak cara Allah swt menjadikan umatnya memiliki cerita sendiri. Kita beribu berayah atau bahkan tidak memiliki apa-apa. Katanya kalau kita bisa berdamai dengan masa lalu, maka kita akan berjalan ke masa depan tanpa beban yang kita pikul. Sebab masa lalumu tidak akan membuatmu melangkah lebih ringan. Tapi sebaliknya. Di saat seperti ini kamu hanya butuh air wudhu, sajadah dan berserah diri. Itulah yang disebut istiqomah. Air wudhu akan membuatmu sejuk. Doa-doa akan membuatmu kuat.Tidak ada kesendirian yang sesungguhnya bagi orang-orang yang beriman." 

Om Aiko, ketika mengeja nasehatmu, saya semakin tergugu. Ada buncah, rasa yang melimpah keluar bersama racun-racun kegamangan. Isak sesak yang begitu melegakan. Saya hanya bisa terdiam, berusaha mencari keyakinan dan berhenti mempertanyakan semua janji-janji Tuhan. Dan seperti tahu apa yang tengah saya pikirkan, Om pun mengirim penggalan cerita yang Om temui dalam perjalanan suci. 

"Suatu ketika, saat haji kemarin saya tanya ustadz pembimbing. Ustadz, banyak sekali doa-doa yang menurutku tidak dikabulkan Allah swt. Sementara Allah berjanji akan mengabulkan doa-doa hamba-Nya. Kemanakah doa-doa itu pergi?" 

"Apa jawab Ustadz, Om?" Saya menyela karena tak mendapati tanda-tanda Om Aiko akan menuntaskan ceritanya. 

"Ustadz menjawab, Mas Aiko, sesungguhnya kelak saat kamu di alam kubur ada 3 hal yang akan menemani. Pertama adalah kebaikan yang bisa berwujud malaikat atau teman-teman yang indah. Kedua adalah keburukan yang bisa berwujud kejahatan kubur atau binatang-binatang buas dan satu hal lagi yang jauh lebih besar dan lebih baik dari keduanya. Dan hal ketiga itulah doa-doa kita saat di dunia Allah blm bisa mengabulkan. Itulah kebaikan dan penjaga setia yang akan menemani kita di alam kubur. Jadi ngga usah sedih. Kamu mungkin sudah berdoa banyak hal, tentang ayah ibumu, tentang lain-lainnya, Allah mungkin belum menjawabnya." 

"Mungkin kamu ragu atas nasehat ini, Nak. Tapi apa yang membuat saya yakin? Begini kata Ustadz, Mas Aiko, Ketika Ibrahim meneruskan membangun Kabah ini, dulu ini tanah yang tandus dan gersang yang bahkan binatang pun tidak mau datang ke sini. 1.400 tahun lalu Ibrahin berdoa. "Ya Allah jadikan tempat ini penuh berkah dan dikelilingi oleh umatku dari seluruh penjuru dunia." Apakah Allah mengabulkan doa seorang Nabi yang sangat disayang Allah? Seorang rosul? Tidak! Tetapi setelah Nabi Ibrahim wafat ribuan tahun barulah doa itu dikabulkan. Dan Mekah sekarang jadi pusat kunjungan umat manusia paling besar di dunia. Seorang Nabi, seorang rosul, doanya tidak lantas dikabulkan. Alam kuburnya pasti dipenuhi kebaikan-kebaikan yang tak terhitung. Jadi, kita harus optimis menjadi muslim. Kebahagiaan ada di hati kita. Pupuknya doa-doa, tumbuh kembangnya air wudhu dan sholat 5 waktu. Nah.... Sekarang kamu sudah punya seorang ayah bukan?" 

Alhamdulillah, keharuan begitu memenuhi relung dada. Tak bisa terungkap oleh kata-kata. Terima kasih, Om Aiko yang telah menjadi bagian dari apa yang disebut sebagai kebaikan di dunia ini. Terima kasih atas semua kelapangan dada untuk menerima saya (dan mereka yang lainnya) menjadi anak-anakmu. Terima kasih untuk semua kedermawananmu dalam berbagi rejeki dan ilmu. 

Tak tahu kapan kita bertemu lagi. Tapi kapanpun itu, semoga kita bertemu dalam kebaikan dan saat itu saya ingin mencium tangamu dengan takjim. Meski mungkin itu tak cukup atau bisa jadi berlebihan untuk sekadar mengungkapkan perasaan hormat dan sayang seorang anak kepada ayahnya. Atau kita foto selfie bareng aja, Om, biar kekinian. 

Om Aiko, lekas sehat dan sehat selalu. Tetaplah menjadi lelaki hebat yang tak pernah menua dan selalu semangat menebar inspirasi dan kebaikan di bumi yang tua ini. 

wassalamualaikum

Anakmu yang ungu unyu

@Yullyris

4 komentar: