Laman

Rabu, 10 Februari 2016

Mengenang Ayami

Bumi Bauhinia, 10 February 2016

Menjumpai Ayami, Ayam kecil kesayanganku

Apakah kau sudah beranak pinak di surga sana, Ay? Eh di surga ada menu soto ayam, ayam bumbu bali dan ayam panggang nggak sih? Kalaupun ada, semoga bukan kamu yang menjadi bahan menu ya, Ay.... Aamiin.

Tahukah kamu, Ay, aku terpaksa menceritakan cerita kenangan tentangmu kepada beberapa orang teman. Hanya kepada teman dekat sih. Soalnya mereka bertanda dan ingin tahu kenapa aku nggak doyan makan daging ayam. Yah, bukannya nggak doyan banget sih, terkadang aku juga mau makan jika tak ada menu pilihan lainnya. Biasanya makan sayap, kulit dan bagian tulang belulang hihihi. 'Kayak kucing' komentar teman-temanku. Aku menceritakan penggalan cerita perpisahanku denganmu. Bagaimana dulu sewaktu masih bocah ingusan (ingusan beneran), aku pernah memiliki seekor ayam kesayangan. Ayam betina yang kudapatkan dari hasil kerja kerasku membersihkan kandang ayam yang bau. Iya, almarhum Mbok berjanji jika aku rajin bersihin kandang ayam, kalau salah satu ayamnya yang sedang bertelur sudah menetas telurnya, aku boleh memiliki seekor anaknya. Dan seekor anak ayam itu benar-benar kumiliki, ibarat harta paling berharga yang kupunya untuk pertama kalinya.

Aku sering dimarahi Mbok karena terlalu memanjakanmu, Ayami. Apa kamu ingat? Ketika ayam lain kuberi makan lebih sedikit dan sisa makanannya yang lebih banyak kuberikan spesial untukmu. Yah, itu karena aku ingin kamu lekas-lekas tumbuh besar sepertiku. Agar kita bisa bermain bersama. Aku juga sering dimarahi Mbok karena ngomong sama kamu. Kata Mbok aku kayak bocah nggak waras. Ya, aku kan hanya butuh teman berbagi yang kupercaya dan itu hanya kamu Ayami. Meski kamu tidak pernah menjawab omonganku sih.

Entah karena memahami keinginanku atau karena makanmu yang banyak, kamu emang tumbuh ndut dan lekas bertelur juga. Telurmu besar-besar. Aku paling suka dan mau sarapan kalau telurmu didadar. Rasanya nikmat. Entah juga ya saat itu aku kok nggak peduli kamu bertelur berapa dan punya anak berapa. Anak-anakmu diambil Mbok. Aku cukup puas memiliki kamu saja, Ayami. Jadi aku tidak pernah bertanya tentang ayam lain-lainnya pada Mbok.

Hingga suatu hari, sepulang sekolah, aku tak menemukanmu. Aku mencarimu kemana-mana, kamu tak ada. Aku menangis. Mbok pun turut mencarimu sambil mengomeliku. Hiks dan tangisku bertambah keras saat akhirnya kami menemukanmu tergeletak bersimbah darah. Rupanya ada pengendara motor yang menabrakmu. Atau bisa jadi kamu yang menabrak motor, Ayami? Kamu nggak bunuh diri kan? Nggaklah ya, kalaupun tega meninggalkanku, kamu pasti gak tega ninggalin anak-anakmu.

Ayami, sejak hari itu, entah karena protes tidak terimaku atau karena traumaku kehilanganmu, aku resmi nggak doyan makan daging ayam. Bahkan jika dipaksa aku bisa mual dan muntah-muntah. Maka sejak saat itu juga, Mbok yang mengerti betapa terlukanya aku, setiap masak daging ayam baik untuk dimakan sendiri atau untuk keperluan hajatan, akan mengganti jatah menuku dengan telur. Iya telur. Telur direbus, telur digoreng, telur dibumbu, telur dikukus. Telur mentah aku nggak doyanlah.

Bertahun-tahun kemudian, seiring waktu berjalan, aku sudah mulai bisa berdamai dengan kenyataan dan mau mencoba makan menu berbahan ayam. Usahaku lumayan sukses, Ayami. Meski nggak sukses banget juga. Setidaknya aku sudah nggak mual dan muntah jika terpaksa memakan menu berbahan olahan ayam.

Ayami, sampai saat ini terkadang aku masih sering rindu padamu. Bagaimanapun keadaanmu di sana, semoga kamu bahagia. Menjadi Ayam idola!

Pemilikmu Yang Mengenang dan Merinduimu

@Yullyris

2 komentar:

  1. Yaelah, kirain si Ayami anaknya Mang Tarmin.

    Hadeuhh ternyata si Ayami Mbok toh.

    BalasHapus
  2. turut berduka untuk ayamnyaa :(
    semoga bisa melihara ayam lagi


    -Ikavuje

    BalasHapus