Laman

Jumat, 05 Februari 2016

Selembar Hipnotis

Bumi Bauhinia, 5 February 2016

Menyapa Neng Tercinta, Echa Kare


Assalamu'alaikum

Apa kabarmu hari ini, Neng? Semoga selalu ceria penuh tawa serenyah wafer tango, dimudahkan segala usahanya dan dikabulkan setiap doa-doa kebaikan yang dilangitkan untuk Neng. Aamiin....

Masih surprise kan? Siapin lap dan ember ya buat ngepel. Eh? Siap-siap saja agar tak terlalu terhipnotis atau malah nangis ketika membaca lembaran hipnotis yang Teteh tulis.

Nengku yang pencemburu, kalau boleh tahu, sejak kapan sih Neng mulai memiliki rasa cemburu pada tetehmu ini? Cemburu kok selalu. Tapi teteh suka sih dicemburuin Neng. Karena artinya Neng perhatian dan sayang pada teteh yang nyebelin ini. Pfffttt! Sebenarnya kalau mau jujur sih bukan hanya teteh yang nyebelin, Neng pun juga. Hoby banget nulis apalah-apalah gitu trus sejurus kemudian dihapus lagi. Jangan dikira tetehmu ini nggak baca loh. Huh.

Entah kapan itu, Teteh sempat lihat postingan Neng yang mengenang kedatangan teteh tengah malam di rumah Neng. Belum juga teteh sempat komen, postingannya sudah hilang. Dodol banget sih. Ngapain coba kok bisa gitu? Labil!

Baiklah Nengku yang cantik, biar teteh saja sekarang yang mengenang tentang pertemuan kita di kotamu. Selembar tiket kereta api yang teteh beli di Jogja jauh-jauh hari itu bukan sekedar bertuliskan Jakarta - Cirebon. Tetapi juga terbaca: Tiket Pelunasan Janji. Ya, tiket itulah yang mengantarkan teteh untuk melunasi janji menemui sosok notaris muda yang manja: Neng Echa Tercinta. 

Perjalanan malam-malam itu sempat membuat teteh gamang. Secara seperti cerita Neng, tak mudah untuk menemukan rumah Neng dengan angkot. Bahkan mustahil jika tengah malam karena angkot pun sudah tak ada yang beroperasi. Syukur banget Neng meminta Aa menjemput Teteh, kalau tidak? Teteh bakalan menunggu pagi di stasiun kereta api. Hiks.

Sepanjang perjalanan malam itu, Aa sempat bertanya kenal kakaknya di mana? Teteh tertawa sambil menjawab ketemu di dunia maya. Untung saja Aa tidak tanya lebih jauh dan mengganti topik perbincangan dengan menunjukkan gedung ini itu yang berjajar di tepi jalan. Yeah, setidaknya kehangatan sambutan Aa membuat keasingan teteh pada kota Cirebon yang terlihat lengang tanpa penghuni (penghuninya udah pindah ke alam mimpi) hilang begitu saja.

Teteeeh...!

Beuh masih kayak mimpi saja ketika teteh turun dari boncengan motor lalu melihat Neng yang baru saja terjaga dari tidur (baca; jelek) tak nyenyak menyambut teteh dan mengajak teteh masuk ke kamar. Dan kita berdua pun kemudian malah menyambung lelap bersama di ranjang Neng. Berapa bilangan tahun kita saling membentang jarak dan berandai-andai untuk ketemu, Neng? Dua hari itu kita seperti dua orang saudara perempuan yang sudah lama tak bersua, kemudian bertemu di satu ruang. Berdua saja. Di tengah serangan kantuk pun kita tetap terjaga, saling bercerita dari a-z kemudian balik ke abcde. Hilang sama sekali semua batas dan keasingan. Hingga tak heran ketika teman-teman Neng mengaku ragu dan tak percaya kalau kita berdua adalah orang-orang asing yang awalnya hanya saling mengenal di dunia maya. Tapi begitulah kenyataan, rasa kasih sayang yang tulus mampu memberangus semua jarak dan ketidak mungkinan serta keterasingan.

Neng sayang, kita berdua punya cerita yang sama meski dalam versi berbeda. Cerita atas luka-luka kenangan dan cinta. Tapi masing-masing dari kita juga punya cara yang berbeda untuk mengatasinya. Cara khas Neng dan cara khas teteh. Maafkan teteh, ya Neng? Kalau teteh yang cenderung diam dan beku selalu membuatmu manyun. Seperti yang Neng bilang sendiri dan mungkin juga pernah teteh akui, teteh memang begitu. Cenderung terkesan chuek bebek dan don't care. Jarang balas pesan kalau sekiranya sedang tidak mood membalas. Apalagi mengirim pesan, malah langka. Gleg! Tapi teteh diam-diam perhatian, perhatian diam-diam. Iya kan? Begitulah. Harap dimaklumi, orang introvert emang sulit dipahami.

Teteh tetap dan masih sayang Neng! Suer. Bukankah dalam diam pun masing-masing dari kita masih bisa saling menguatkan dalam doa? Seperti ketika Neng menyampaikan kabar Aa akan segera menikah mendahului kakak perempuannya. Teteh tidak merespond pesan Neng. Tapi teteh diam-diam berdoa, semoga Neng selalu lapang dada. Atau ketika Neng sedang galau, menceracau tentang luka kenangan, teteh diam. Tapi diam-diam pun juga berdoa, semoga Neng diberi ketabahan dan kekuatan. Dan diam-diam pun sebenarnya teteh merindumu dan ingin memelukmu, Neng....

Oh ya Neng cantik, apa kabar mama? Salam sayang teteh ya buat mama. Sepertinya kita mesti banyak-banyak belajar agar sekuat dan setabah mama. Neng beruntung memiliki perempuan hebat untuk bercermin dan berguru. Seharusnya Neng malu ketika mulai galau dan mengalau lagi. Mama aja sehebat itu, Neng pun semestinya bisa lebih hebat dong. Ayo semangka, Neng!

Konon, melepaskan pun rasa kehilangan adalah puncak romantisme yang dimiliki manusia, Neng. Sudah waktunya kita mengucapkan terima kasih kepada rasa sakit yang telah mengajari kita arti hidup, kepada harapan-harapan yang membuat kita kembali bangun di pagi hari untuk melanjutkan cerita kehidupan. Dan kepada mereka yang tinggal di dalam ingatan, biarlah mereka menjadi bagian dari kenangan. Sebab hidup ini sememangnya juga tentang mengenang dan dikenangkan, Neng.

Eh iya, sudah selesai belum baca buku Muhammad Sang Pewaris Hujan-nya Kang Tasaro? Gimana? Bagus nggak? Teteh sih belum membacanya, entar nunggu kalau udah senggang waktunya saja. Soalnya teteh punya kebiasaan buruk, sekali mulai baca nggak bisa berhenti baca sebelum selesai. Hihihi Oke, deh, cukup di sini dulu ya Neng, suratnya kapan-kapan disambung lagi. Neng boleh balas surat ini loh, soalnya teteh juga ngarep disuratin. Hohoho....

Wassalamualaikum

Tetehmu yang selalu ungu dan awet unyu

@Yullyris

1 komentar: