Laman

Senin, 15 Februari 2016

Wajah Sakura di Empat Belas Februari

Sakura


Seperti biasa, ketika penyakit apalah-apalah saya sedang kambuh, saya mengusir jenuh dengan menikmati hobi melakukan perjalanan seorang diri. Pergi ke tempat yang bisa membuat mimpi-mimpi saya hidup kembali atau berpetualang ke tempat asing yang bisa menghilangkan pening. Dan untuk kemarin pilihan saya jatuh pada Sakura di New Asia Collage. Saya ingin tahu apakah wajah Sakura di 14 Februari masih semempesona ketika pertama kali saya melihatnya setahun lalu.

Senyum Sakura


Kamu sudah keluar rumah belum, Ris?

Pesan dan pertanyaan yang sama, yang biasa dikirim tiap minggu pagi oleh Kak Atin membuat saya sedikit merasa berdosa. Benar saja, musuh bebuyutan (baca: sahabat) saya protes kenapa saya tak menawarkan atau mengajaknya melihat Sakura. Saya membalas pesan dengan menjanjikan akan mengajaknya melihat Lautan Mawar Cahaya yang lebih dekat dan mudah dijangkau tempatnya.

Patung di Gerbang CUHK


Pagi masih sepi ketika saya melangkah keluar dari Exit A stasiun University dan berdiri termangu di bawah patung ber-rok pelangi (baca: Bendera LGBT) yang membuat saya mengernyitkan dahi. Hmmm...., boleh juga ini kreativitasnya dalam berkampanye. Simbolik dan artistik.

Shuttle Bus


"Hei, kamu mau kemana? Bus kuliah tidak beroperasi di Hari Minggu, kalau mau ke Puncak kamu harus naik di sebelah sana," ujar seorang pria tua berakacamata sambil menunjuk tempat pemberhentian bus yang berjarak beberapa meter dari tempat saya menunggu bus berwarna ungu. "Kamu naik bus warna coklat yang plat H."

Bus yang beroperasi di Hari Minggu


Beuh untung banget ada orang baik hati yang peduli untuk memberi saya informasi tanpa perlu bertanya. Ingatan saya melayang pada tahun kemarin ketika terpaksa berjalan berputar-putar (baca catatan saya tahun kemarin di blog ini juga, tentang kisah mencari sakura di musim dingin) untuk sampai ke NAC karena orang-orang yang saya tanyai tidak menunjukkan jalur jalan dengan jelas. Bahkan beberapa malah mengaku tidak tahu jalan yang mana yang menuju NAC. Pantesan juga saat itu (di Hari Minggu) saya dan teman-teman juga tidak menemukan bus kuliah berwarna ungu yang pernah mengantar saya ke NAC pertama kalinya (waktu itu saya pergi sendiri di Hari Rabu atau hari biasa). Pfffttt....

NAC


Setelah antre beberapa menit saya pun naik bus gratis dan turun di area Fakultas Bahasa Jepang, Chinese University of Hong Kong. Seperti apa kata Mr Masao (teman saya yang Orang Jepang dan menjadi dosen di CUHK), Sakura yang saya temukan belum mekar sepenuhnya. Hanya ada satu pohon yang bunganya sudah bermekaran, beberapa pohon lainnya penuh dengan kuncup kembang yang menggemaskan.

Pohon Sakura


Saya tertegun beberapa saat ketika menyadari ada yang berbeda dengan taman kecil tempat Sakura Jepang yang diadopsi Hong Kong ini tinggal. Ada tali pembatas dan beberapa lembaran peringatan yang mengingatkan pengunjung agar tidak masuk area atau menyentuh Sakura. 

Gleg!


Hmmm....


Padahal di tahun kemarin pengunjung bebas mau selfie atau mendekati Pohon Sakura yang masih mungil dan menghirup aroma serta menyentuhnya. Hmmm..., inilah efek pengunjung yang saking terpesonanya tanpa bisa mengekang nafsu berusaha memetik dan merusak ranting bunga. Kasus yang sama dengan yang terjadi di Sweet Gum Woods.

Tiga!


Setelah puas menikmati dan memandang wajah Sakura yang menghidupkan kembali mimpi-mimpi saya untuk kelak bisa sampai ke Negeri Naruto dan Conan, saya bergegas pergi. Menunggu bus yang sama yang akan membawa saya ke stasiun kereta.

Pengunjung yang selfie bersama kuncup Sakura


Sudah selesai belum, Ris, ketemu Sakura-nya? Bagus nggak bunganya?


Saya kirimkan selembar gambar sakura yang cantik sebagai balasan pesan untuk Kak Atin. Ya, setidaknya meski tidak turut pergi bersama saya, teman-teman saya pun bisa menikmati pesona wajah sakura yang merona merah muda.


Hong Kong, 15 Februari 2016

2 komentar:

  1. Padahal ini lagi bahas di Hongkong yakaan.... aku jadi pengen keeeee jepang.

    BalasHapus
  2. Cece itu phon sakuranya bsar ya

    BalasHapus