Laman

Sabtu, 09 Juli 2016

Tak Ada Lebaran di Hong Kong

Pertanyaan tentang seperti apa lebaran di Hong Kong dari keluarga juga teman-teman di Indonesia melalui pesan pendek mereka ternyata sanggup mengusik perenungan dan ingatan panjang saya hari ini. Apalagi setelah dengan nada bercanda saya jawab pertanyaan dengan iseng meniru puisi M Aan Mansyur, Tak Ada New York Hari Ini, yang saya dapati justru reaksi bersimpati dan icon sedih dari mereka. Seakan saya sedang menjadi orang yang paling pantas dikasihani. Duh.

'Tak ada lebaran hari ini
Tak ada lebaran hari kemarin
Aku masih sendiri makan mie di sini
Opor ayam biarlah dimakan yang lain'

Saya baca ulang kalimat saya dan tersenyum geli karenanya. Bisa jadi yang saya tulis memang terbaca sebagai kesedihan, tetapi sebenarnya itu  kenyataan yang bagi saya dan kebanyakan teman-teman di Hong Kong sudah biasa terjadi dan dialami. Kami yang mungkin awalnya memang nelangsa pada akhirnya bisa menjadi terbiasa karena paksaan situasi dan kondisi. 'Aku rapopo' bukan lagi sekadar jargon tapi memang lebaran nggak lebaran kami harus kerja, kerja dan kerja seperti hari biasanya loh bukan seperti apa kata Jokowi.

Kembali kepada apa sebegitu menyedihkannya kenyataan yang mesti saya (dan teman-teman) alami? Iya. Tapi nggak semenyedihkan yang benar-benar sedih juga sih. Mungkin istilah 'ujian yang ada tidak akan melampaui kemampuan kita' itu benar loh, kami para perempuan migran yang memang sadar akan segala risiko hidup di rantau baik menjelang lebaran pun saat lebaran seperti ini lebih bisa move up dan tak ada waktu untuk meratapi diri hihi. Kalaupun ada yang bisa bikin sebagian dari kami galau dan kepikiran sih biasanya malah keadaan atau keluhan keluarga di Indonesia. Tentang kebutuhan ini itu yang mesti dipenuhi, tentang harga ini itu yang semakin tinggi, dan tentang begini atau begitu. Iya gitu.

Ramadhan Sejuta Cerita

Ketika di Indonesia bulan suci diwarnai dengan pro kontra penutupan rumah makan atau warung dan persoalan menggelikan siapa mesti menghormati siapa seperti sekumpulan bocah yang mencari-cari perkara, dari jauh saya hanya bisa menyimak sambil membatin alangkah lebay orang-orang di negeriku.

Di Hong Kong yang notabene muslim adalah minoritas, ibadah puasa pun masih asing. Bagi muslim yang bekerja di sektor formal dan tinggal di tempat tinggal mereka sendiri tentunya tak menjadi soal kalau mau melaksanakan ibadah tersebut. Tapi bagi saya dan teman-teman yang bekerja di sektor domestik dan 24 jam tinggal di dalam rumah majikan, kegiatan berpuasa menjadi tantangan tersendiri. Bagi yang memiliki komunikasi baik dengan majikan, kami mesti membicarakan dan tak jarang harus menjelaskan dulu apa itu puasa. Kemudian reaksi majikan pun akan beda-beda, ada yang mau mengerti lantas mengijinkan, tapi ada juga yang melarang dan menganggap hal tersebut berbahaya dan takut mengganggu kualitas kerja pekerjanya atau malah khawatir pekerjanya sakit sehingga merepotkan mereka nantinya. Sedangkan bagi yang memiliki kendala komunikasi atau memiliki majikan yang tidak baik masih lebih rumit lagi urusannya. Persoalan ibadah puasa menjadi urusan paling pribadi dan tak jarang kami mesti sembunyi-sembunyi. Sehari-hari tetap melakukan rutinitas biasa dan puasa adalah rahasia yang mesti ditutupi.

Misalnya seperti pengalaman saya sendiri, pernah saya berusaha meminta ijin dan menjelaskan apa itu puasa kepada majikan saya. Tapi ujungnya saya malah kena omelan panjang dan mendapatkan sikap yang kurang menyenangkan. Hal tersebut sebenarnya wajar jika mengingat majikan tak mengenal apa itu puasa dan bagi mereka tidak makan dan minum seharian adalah kegiatan konyol untuk menyiksa diri yang membahayakan kesehatan. Ya secara mereka (majikan saya) sejak kehadirannya di muka bumi sudah memiliki jam makan yang terjadwal dengan baik: pagi jam 8 makan roti, jam 12 siang makan nasi, jam 3 sore makan makanan ringan (bisa roti bakar atau kue) dan jam 7 makan malam.  Pfffttt tuh kan, bagaimana bisa mereka bayangin puasa atau bayangin kalau di luar sana banyak orang yang makan aja gak bisa?

Pada akhirnya saya tahu jika ingin beribadah ya beribadah saja, jangan berharap simpati atau berharap pengertian dari majikan. Jadi pada sebulan Ramadhan ketika siang ditanya majikan apa sudah makan, ya saya jawab sudah. Atau kalau sengaja diajak makan bareng saya berusaha menolak halus atau kalau beneran dipaksa ya terpaksa batalin puasa dengan niat untuk mengganti di lain hari. Untuk urusan jam buka puasa ya seperti jadwal yang saya sebut di atas, jam buka mengikuti jam makan malam majikan. Dan urusan sahur tentunya menjadi ritual rahasia, sebab saya tidak bisa ke dapur hanya untuk keperluan memanasi makanan atau sekadar membuat teh pada dini hari, kalau ketahuan majikan bisa panjang urusannya. Jadilah saya punya solusi sendiri dengan menyimpan telur rebus atau sepotong roti dan sebotol air minum di tempat tidur saya. Nah jangan bayangkan kamar loh ya, tempat tidur itu maksudnya ranjang. Iya saya sahur di atas ranjang dengan keadaan kamar yang masih gelap. Sebab saya tidak mungkin menyalakan lampu karena saya tinggal sekamar dengan nenek (ibu majikan) yang pasti akan ikutan terjaga dan memarahi saya kalau merasa terganggu tidurnya. Begitulah. Dan pengalaman saya ini hanya secuil contoh nyata dari sejuta cerita lainnya. Jadi kalau sudah tahu contoh cerita yang saya berikan, jangan tanyakan tentang bagaimana sholat teraweh atau ngabuburit. Jauh wes lewatnya.

Takbir dalam Kesunyian Lebaran

Pada tahun ini lebaran seharusnya memang luar biasa ramai dan benar-benar menjadi hari perayaan karena tidak adanya perbedaan hari lagi (NU dan MU) seperti tahun-tahun kemarin. Tapi jika saya simak berita di Indonesia persoalan lebaran selain identik dengan harga barang-barang yang naik sekarang ditambah persoalan arus mudik. Persoalan yang sebenarnya sudah lama ada dan seperti bola bergulir semakin membesar dan diperbesar oleh orang-orang yang menghadapinya sebagai momok bukan sebagai masalah yang harusnya dicarikan solusi bersama. Namanya juga Indonesia. Eh?

Di sini, di Negeri Bauhinia, kami merayakan lebaran dengan bertakbir dalam sunyi. Di sudut-sudut rumah majikan kami mencari celah dan sinyal untuk menghubungi keluarga di rumah, bersilaturahmi lewat suara dan ketikan kata-kata di jejaring media sosial. Selebihnya masing-masing dari kami menikmati hari paling sahdu dengan mendekap rindu erat-erat tanpa siapapun tahu. Begitu.

Pihak pemerintah Indonesia dalam hal ini diwakili KJRI HK memang setiap tahun mengeluarkan dan menyediakan from surat ijin mengikuti sholat I'd bagi WNI di Hong Kong tapi kegunaan surat tersebut kembali lagi seperti penuturan saya di atas, tergantung kepada komunikasi dan level kebaikan hati dan keterbukaan pemikiran majikan terhadap itu agama dan kewajiban untuk pemeluknya. Apalagi tahun ini lebaran jatuh pada hari biasa yang notabene jika majikannya juga pekerja maka artinya pekerja rumah tangganya ya tetap mereka butuhkan untuk bekerja menjaga anak-anak, orangtua dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga mereka seperti biasanya. 

Apa nasib kami terbaca begitu mengenaskan? Iya. Tapi kami tidak akan marah-marah lalu sibuk menyalahkan orang lain. Sebab kami tahu itu risiko bagi kami yang hidup dan bekerja di negeri non muslim dan sesungguhnya ada yang lebih menyedihkan dari kami, yakni nasib orang-orang yang bebas dan bisa merayakan hari lebaran tapi masih tidak bisa menyukurinya. Alih-alih berbahagia di haru lebaran, mereka malah sibuk berebut mana ucapan yang paling benar untuk Idul Fitri dan mengutuki kemacetan jalan yang mereka sendiri turut menjadi bagian dari penyebabnya atau malah sebenarnya mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan urusan mudik dan macet. Jadi di antara mereka ada yang teriak marah dan mengutuki apa yang terjadi hanya karena membaca berita dan menonton tivi. Astaghfirullah.... Lebay sekali.

HK, Juli 2016