Laman

Jumat, 12 Agustus 2016

Cerita Majikanku 'Menggugat' KJRI Hong Kong

"Mr Andry, just friendly talking,  passport mistakes all made by Indonesia Government , Make many many troubles to Employer and the domestic helper, Why still need to pay money? Why so many wrong passports? Indonesia government become rich."

~Kutipan Gugatan Majikanku untuk KJRI~


Kata-kata  Nyonyaku terdengar seperti gema suara yang keluar dari gua di dadaku sendiri. Melegakan sekaligus membuatku merasa jeri. Jika majikanku yang sebenarnya tidak semestinya direpotkan oleh masalah yang sedang kuhadapi bisa menjadi begitu peduli, kenapa KJRI yang seharusnya membantuku justru terkesan malah menambah masalah?

Koreksi Data yang Tanpa Pendataan

Masalahku sama dengan yang sedang dihadapi sebagian teman-temanku, mengalami koreksi data ketika memperpanjang paspor (renew paspor) pada akhir tahun kemarin (2015).  Sebab tahun kelahiranku sengaja dimudakan satu tahun oleh pihak PJTKI yang membantu proses pembuatan paspor pertamaku sebelum aku berangkat bekerja ke luar negeri.

Keterbatasan pengetahuan dan informasi yang kumiliki membuatku tidak terlalu antusias dan belum bisa mengatasi permasalahanku sendiri. Sebelumnya kupikir tidak apa-apa kalau data di paspor berbeda dengan data di Hong Kong ID Card. Kupikir juga kalau memang pada akhirnya aku terpaksa tidak bisa bekerja di HK lagi, ya sudah tidak mengapa, aku akan pulang kampung saja.

Tapi setelah kudapatkan informasi dari temanku (yang juga bermasalah dengan data paspornya) dan mendapat motivasi dari teman-teman JBMI, aku jadi berubah pikiran. Apalagi ketika majikan yang menginginkan kami memperpanjang kontrak kerja mengetahui masalahku ternyata mereka menyemangatiku dan bersedia membantu jika dibutuhkan sewaktu-waktu. Maka aku bertekad untuk berusaha menghadapi dan menyelesaikan koreksi dataku. Tidak peduli bagaimana hasilnya nanti, setidaknya aku tak ingin menyerah dan berhenti di tengah jalan tanpa kepastian.

Menjadi Bola KJRI

Atas bantuan teman yang memiliki kontak Bapak Andri, akhirnya aku bisa berkomunikasi dengan beliau via WhatsApp sebelum bertemu langsung di KJRI.

Setelah aku ceritakan masalahku, Pak Andri malah menanyakan kenapa aku yang sudah kena koreksi data tidak langsung wawancara untuk pembuatan BAP. Ditanya begitu aku pun bertanya balik, lha kenapa petugas di KJRI juga tidak memberitahu atau mengingatkanku untuk membuat laporan, bukannya mereka yang lebih tahu karena mereka yang memproses pasporku dan melakukan pendataan.

Perdebatan kecil kami selanjutnya terasa sia-sia, karena Pak Andri sebagai orang KJRI tentu saja tidak terima KJRI disalahkan dan bersikukuh kalau konsulat dan staf-nya yang benar. Begitu pun aku juga tidak mau jika semua kesalahan dilimpahkan padaku dengan semena-mena. 

Kemudian berdasarkan saran Pak Andri, aku datang ke KJRI bagian imigrasi untuk membuat BAP. Tetapi ternyata sesampainya di KJRI yang kudapatkan adalah kekecewaan. Aku dijadikan bola yang dilempar dari satu petugas ke petugas lainnya tanpa kejelasan. Tiga hari berturut-turut aku datang ke KJRI, hasilnya tetap nihil meski aku sudah minta dan sengaja membawa surat pengantar dari JBMI (yang kudapatkan dari Mbak Eni Lestari). Surat pengantar diterima tapi kepastian nasibku tetap tidak ada.

Selanjutnya entah karena alasan apa atau mungkin karena melihatku rempong bolak-balik tiap hari, KJRI meminta agar majikanku saja yang datang menemui mereka. Aku sedikit terkejut dan tidak bisa menjanjikan bahwa majikanku akan bersedia kendati aku menyampaikannya juga dwngan takut-takut. Aku cukup tahu diri jika tidak sepatutnya merepotkan majikanku dalam hal ini.
Awalnya KJRI meminta majikanku datang tanpa aku, tapi langsung ditolak oleh majikan. Karena menurut majikan, masalah ini adalah masalah pembantunya kenapa harus mereka yang datang? Kalaupun mereka yang diminta datang seharusnya juga diminta mengajakku (yang punya masalah) turut serta agar bisa tahu lebih jelas bagaimana duduk persoalannya.



KJRI Melimpahkan Tanggungjawabnya Kepada Majikanku

Pada tanggal 3 Agustus,  aku datang bersama majikanku ke KJRI. Ternyata pihak KJRI meminta majikanku untuk membuat pernyataan tertulis bahwa mereka siap  bertanggungjawab atas apa-apa yang terjadi padaku. Khususnya jika ada masalah (sehubungan koreksi data pasporku) dengan pihak Imigrasi HK.

Hari itu, setelah menandatangani surat pernyataan, majikanku langsung mengantarku ke Imigrasi untuk membuat laporan tentang perbedaan data dokumenku sekaligus mengajukan permohonan pembuatan HKID yang baru. Semua formulir yang diberikan petugas imigrasi pengisiannya dibantu oleh majikanku. Aku sempat merasa seperti anak-anak yang sedang didaftarkan sekolah oleh orangtuanya. Diam-diam ada rasa haru bercampur lega karena memiliki majikan yang baik hati.

Dua Surat dari Imigrasi HK

Pada tanggal 8 Agustus, aku menerima surat dari Imigrasi HK yang mengabarkan bahwa laporan yang kuajukan sudah mereka terima dan sedang dalam proses pemeriksaan lanjutan.

Pada tanggal 10 Agustus, datang surat kedua dari Imigrasi HK yang isinya panggilan wawancara dan pemeriksaan. Bahwa pada tgl 12 Agustus, aku diminta datang ke kantor Imigrasi Chung Sha Wan dengan membawa dokumenku yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Inggris.

Puncak Emosi Majikanku

Hari ini (Selasa, 11/8) atas sepengetahuan majikan, aku datang ke KJRI untuk meminta bantuan menerjemahkan dokumenku ke Bahasa Inggris.

Petugas KJRI yang kutemui mengatakan jika petugas yang bagian terjemah sedang tidak ada. Petugasnya sedang berlibur ke Indonesia dan akan kembali ke HK perkiraan akhir bulan Agustus. Dan jika aku tetap memaksa meminta dokumenku diterjemahkan oleh mereka, petugas yang mengaku sedang sibuk dan banyak tugas itu tidak bisa menjanjikan proses yang cepat. Minimal satu atau dua minggu itu sudah yang paling cepat, jadi kepastian lamanya waktu menurutnya tidak bisa ditentukan. Jika aku setuju, dokumen asliku harus ditinggal dan aku harus membayar HK $ 532 untuk bantuan terjemah dua dokumen (ijazah dan akte).

Setelah mendengar jawaban petugas di loket KJRI tersebut, aku pun menelepon majikan dan menyampaikan hal yang sama untuk meminta pertimbangan  bagaimana sebaiknya. Ternyata reaksi yang kudapatkan di luar dugaanku, majikanku langsung menelepon imigrasi HK dan meneruskan apa yang sudah aku sampaikan kepadanya.

Entah bagaimana isi percakapan mereka (Majikan dan Imigrasi HK),  majikan yang meneleponku balik memintaku membawa pulang dokumen asliku (atas saran yang diperolehnya dari pihak Imigrasi HK). Jika aku memang harus membayar mahal dan butuh waktu lama untuk menerjemahkan dokumenku, petugas imigrasi HK mengatakan kalau aku boleh membawa dokumen asliku (tanpa versi terjemahan) kepada mereka.

Sesampainya di rumah barulah kuketahui kalau majikanku bukan hanya menelepon Imigrasi HK tapi mereka yang emosi atas nasib pembantunya yang seperti sedang dipermainkan juga 'menggugat' KJRI via WhatsApp. Nyonya menunjukkan percakapannya via WA dengan Pak Andri dan Pak Rafael. Yang intinya berisi ungkapan kekecewaan dan pertanyaan atas kinerja KJRI dan pemerintah Indonesia.




Keajaiban Hasil Aksi Majikan

Gugatan majikan ternyata menghasilkan keajaiban. Hapeku mendadak dipenuhi pemberitahuannya panggilan tak terjawab dari nomor KJRI! Dan ketika salah satu telpon yang masuk kuangkat, ternyata telpon dari Pak Rafael. Beliau meminta agar majikan dan aku tidak emosi dan marah-marah lagi karena dokumenku sudah selesai mereka terjemahkan. Pak Rafael juga memintaku agar sore ini juga datang mengambilnya langsung ke KJRI. Tentu saja aku tidak bisa pergi mengambil karena harus menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda ketika kutinggal ke KJRI siang tadi. Akhirnya pihak KJRI meminta alamat fax majikan untuk mengirim dokumen terjemahan.

Ajaib! Benar-benar keajaiban bisa terjadi hanya karena majikanku  sempat mengancam untuk menyebar luaskan dan melaporkan keburukan kinerja KJRI yang berorientasi pada uang (korupsi) ke lembaga penyelidikan korupsi di HK, pihak KJRI langsung tidak lagi mempermasalahkan besaran biaya terjemah yang harus kubayar.

Dan lebih dari itu, disebabkan  gugatan majikanku secara mendadak telah terjadi percepatan waktu di KJRI, dari minimal kecepatan waktu menerjemahkan dokumen selama satu minggu bisa berubah menjadi secepat kilat (cukup dalam hitungan tak lebih dari satu jam)!

Harapan Hasil Terbaik

Besok pagi aku akan pergi ke Imigrasi ditemani majikanku. Majikan tahu kalau aku kurang bisa berbicara, selain karena keterbatasan bahasa juga karena aku pemalu (baca: mudah grogi). Majikanku bilang mereka yang akan membantuku menjadi juru bicara atau minimal membantu menjelaskan apa-apa jika sekiranya dibutuhkan. 

Apapun hasil wawancara pertama ini dan bagaimana proses selanjutnya, harapanku semoga bisa kudapatkan hasil terbaik. Dan minimal cerita yang kubagikan ini bisa menjadi tambahan informasi sekaligus inspirasi untuk teman-teman BMI lainnya agar tak berhenti untuk berusaha memperjuangkan haknya. Juga untuk KJRI agar bisa menjadi masukan dalam perbaikan kinerja ke depannya.

HK, 11 Agustus 2016

**Cerita nyata ini ditulis berdasarkan curhat si Aku kepada penulis.
*** Jika ada yang merasa dirugikan dengan tulisan ini, silakan menghubungi penulis via WA di +85266006504

8 komentar:

  1. Amaziing
    memanx harus begitu..biar KJRI seenaknya mempermainksn kita...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biar kjri tdak seenaknya mempermainkan qt kc.... maap di atas slah penulisane kc heeeeee

      Hapus
    2. Biar kjri tdak seenaknya mempermainkan qt kc.... maap di atas slah penulisane kc heeeeee

      Hapus
  2. Kamfreeet memang petugas KJRI
    Mental korup diindonesia dibawa kehongkong

    BalasHapus