Laman

Jumat, 05 Agustus 2016

Diskriminasi Ada di Mana-mana Karena Anda Mendukungnya!

Diskriminasi Itu

  Apapun bentuknya, diskriminasi tidak ada enaknya sama sekali meski mengandung kata 'nasi'. Merujuk makna kata, diskriminasi adalah tindakan atau perlakuan satu orang atau satu kelompok secara kurang adil atau kurang baik kepada orang atau kelompok yang lain pada situasi dan kondisi yang sebenarnya bisa disamakan.

Diskriminasi dapat bersifat langsung atau tidak langsung, maksudnya bisa terjadi dengan tindakan yang jelas dan terang-terangan atau bisa juga secara halus dan hanya bisa dirasakan oleh korban. Coba bayangkan, gimana bisa enak seumpama kamu tersakiti oleh sikap dan perlakuan orang lain sementara hanya kamu seorang yang bisa merasakannya? Nyesek banget kan?

Perlakuan Berbeda

Berurusan dengan diskriminasi memang bisa berarti berurusan dengan masalah perasaan, tapi bukan berarti perasaan terdiskriminasi itu selalu bisa dibenarkan. Sebab perlakuan berbeda terhadap orang atau kelompok dalam posisi, situasi dan kondisi yang tidak bisa disamakan tidaklah termasuk atau pantas disebut sebagai diskriminasi.

Misalnya ketika kita merasa terdiskriminasi karena para pejabat atau misalnya artis dipersilakan jalan duluan dengan kawalan sementara kita sama-sama jalan di waktu dan tempat yang sama tapi diabaikan. Atau misal ada orang tua, ibu hamil dan anak-anak diutamakan tempat duduknya sementara kita yang sama bayarnya dibiarkan berdiri kelelahan di kereta. Ya, itu bukan diskriminasi dong. Nyadar diri dikit deh. Eh?

Jadi perlu dipahami, diskriminasi butuh pembanding yang seimbang, bukan asal-asalan dan sekadar penyamaan. "Pokoknya saya merasa didiskriminasi! Nggak peduli disktiminasi atau tidak, pokoknya ini diskriminasi!" Pfffttt kalau ada yang ngehek gitu, suruh meledak saja.

Minoritas Rentan Diskriminasi

Hidup sebagai minoritas di Hong Kong yang mengadopsi atau memiliki undang-undang anti diskriminasi masih belum menjamin bahwa saya (dan teman-teman sesama BMI) bisa bebas dari perlakuan dan sikap buruk dari orang lain (baca: mayoritas atau penduduk lokal).  Bahkan diskriminasi masih kerap saya alami baik secara langsung maupun tidak langsung.

Undang-undang tentang diskriminasi memang bisa meminimalisasi bentuk diskriminasi oleh institusi atau lembaga, tapi tidak bisa serta merta mengubah semua individu menjadi orang yang bersikap saling menghormati. Ya begitulah, peraturan hanyalah prosedur dan praktiknya dalam kehidupan sehari-haro tetap ada pada perorangan.

Diteksi dan Jangan Gunakan Emosi untuk Melawan Diskriminasi

Pada bulan Juli kemarin, saya secara mendadak mengajak teman-teman saya berkunjung salah satu Museum Art Virtual Hong Kong yang berada di Repulse Bay. Ajakan saya selain karena permintaan teman untuk mencari tempat libur yang beda dari biasanya juga karena saya teringat info kalau museum tersebut sedang banting harga tiket (dari $180 menjadi $60) sebab akan segera ditutup.

Sebagaimana museum 3D lainnya, tentu saja hal paling mengasikkan bagi pengunjungnya adalah kesempatan narsis poto-poto tanpa batas. Ya, karena memang untuk tujuan itulah museum seni visual itu dibuka.

Tapi apa daya, keasyikan yang kami bayangkan sejak awal ternyata terganggu oleh salah satu pegawai museum. Pegawai yang bertugas menjaga pintu masuk dan memberi keterangan pengantar tentang museum dan membantu pengunjung jika dibutuhkan tersebut ternyata memilih menjadi tokoh antagonis sejak kisah narsis kami dimulai. 

Untuk membayangkan apa yang terjadi pada kami, coba bayangnkan ketika kamu dan teman-temanmu berada di suatu ruangan, sedang berusaha menciptakan kegembiraan bersama dengan poto-poto selfie dan saling memotret bergantian tapi merasa berada di bawah pengawasan sepasang mata yang menatap curiga, tidak suka dan menunjukkan gerak-gerik permusuhan. What the fuck, guys? Secuek-cueknya kamu, pastinya akan merasa terganggu. Begitu pula kami. Tapi kami berusaha mengabaikan sosok perempuan penjaga museum yang menebar aroma tidak menyenangkan itu (selanjutnya saya sebut Ayi).

Sampai satu jam kemudian, ada sati titik emosi yang terpicu tanpa sempat kami hindari. Ceritanya si Ayi mendorong saya karena dia ingin membantu pengunjung lain mengambil gambar di posisi gambar yang sama dengan yang saya ambil. Deg! Saya spontan menggerutu. Tapi saya tidak menyangka kalau teman saya yang biasanya lebih sabar dan pendiam dari saya mendadak meledak. Kemudian terjadilah cek-cok antara teman saya (selanjutnya kita sebut dia sebagai si Bangyau) dengan si Ayi. Gleg!

Namanya juga cek-cok, kalimat demi kalimat yang keluar tanpa susunan dan bentuk yang benar. Hingga puncaknya saya dan teman-teman diantar atau lebih tepatnya dibawa ke tempat manager pengawas museum berada. Rupanya kalimat teman saya yang ingin mengadukan diskriminasi yang terjadi yang membuat kami harus bertemu manager pengawas museum (setelah ini sebut saja dengan si Singsang). Cek-cok si Bangyau dan si Ayi masih berlanjut meski berada di dalam satu lift. Sebelum sampai ke tempat si Singsang, saya masih sempat mengingatkan si Bangyau agar diam dan saya saja yang berbicara dengan pihak museum. Bukan karena apa sih, sebab kalau sudah urusan protes atau adu argument biasanya saya menjadi juaranya. #lol

"Mereka marah dan bilang akan melaporkan saya yang katanya mendiskriminasi mereka. Padahal mereka yang tidak ingin dan tidak minta bantuan tapi malah dia (si Ayi menuding muka si Bangyau) mengatakan saya tidak mau membantu mereka."

Gleg! Tepat dugaan saya. Dialog drama yang dimulai dengan cek-cok memang kerap tidak terkendali dan bisa belok kanan atau kiri dari tujuan pokok persoalan yang sebenarnya.

Sempat terjadi cek-cok tak terkendali dan makin tak jelas fokusnya karena si Singsang sempat berusaha membela si Ayi, karyawannya. Sampai saya mesti meninggikan volume suara dan meminta bicara kepada si Singsang dan si Ayi diminta pergi.

"Begini nona, saya rasa ini hanya salah paham saja. Seperti kalian ketahui, bagaimana orang-orang China daratan yang dimusuhi dan didiskriminasi oleh orang-orang Hong Kong, kami tetap berusaha memperlakukan mereka secara semestinya. Banyak pengunjung museum ini yang adalah orang china daratan juga orang Philiphina dan Indonesia serta orang-orang asing lainnya. Semuanya selama ini kami perlakukan baik-baik tanpa diskriminasi dalam bentuk apapun." Si Singsang dengan bersungguh-sungguh menjelaskan kepada kami.

"Begini Singsang, saya tahu sekali pihak museum pasti memiliki aturan anti diskriminasi sebagaimana mestinya. Dan kami tidak peduli apa dan bagaimana perlakuan kalian terhadap pengunjung selama ini karena itu jelas tidak menjadi urusan kami. Kami hanya ingin penjelasan dan mempertanyakan tentang kejadian hari ini, yang baru saja kami alami sendiri. Sedari awal kami masuk museum, si Ayi sudah bersikap tidak menyenangkan, tapi kami kira memang dia sudah begitu sikap dan pembawaannya, jadi kami abaikan saja. Tapi ketika pada saat yang sama, ada pengunjung yang lain, yang diperlakukan lebih istimewa bahkan dengan seenaknya si Ayi mendorong saya demi memberi tempat pada pengunjung lainnya yang notabene orang Hong Kong, di situlah kami mulai menyadari adanya diskriminasi. Mengapa kepada sesama pengunjung, yang sama-sama membayar tiket masuk dengan harga sama, bisa terjadi perlakuan berbeda? Apa karena kami orang Indonesia dan pengunjung lainnya tadi orang Hong Kong? Sementara di bawah tadi loh ada dua penjaga, satu penjaga lainnya bisa bersikap wajar dan baik-baik saja, kenapa si Ayi tidak? Kami datang ke museum ini untuk mencari kesenangan, Singsang, bukan untuk mencari masalah. Tapi apa yang kami alami, ditatap penuh kecurigaan dan diawasi dengan sikap permusuhan itu membuat kami bermasalah, jujur saja kami merasa terganggu dan kesenangan kami pun berkurang."

Meski tidak terlalu jelas, tapi saya bisa mendeteksi perubahan ekspresi si Singsang, yang berusaha menyembunyikan keterkejutannya mendengar kalimat panjang saya. Si Singsang seperti kehilangan bahan argumen dan menjadi serba salah. Dan di luar dugaan, si Singsang yang awalnya seperti berusaha ngeles atas kesalahan yang terjadi, langsung buru-buru meminta maaf kepada kami dan berjanji akan melakukan evaluasi kerja terhadap karyawannya.

"Saya, mewakili pihak museum, meminta maaf dan tolong dimaklumi ulah si Ayi. Jujur saja selama ini dia memang dikenal sering menimbulkan masalah dengan sikapnya yang kolot itu. Sebenarnya dia orang baik, makanya kami masih memperkerjakannya, tapi memang begitulah ada sikap dan cara berkomunikasinya yang sulit diterima orang lain dan kerap menimbulkan kesalah pahaman. Kami berterima kasih atas komplain dan pengaduan nona, dan kami berjanji kejadian ini tidak akan terulang lagi."

Masih ada beberapa percakapan dan kalimat basa-basi plus pemberian makanan kecil gratis kepada kami sebagai tanda permohonan maaf dan penyesalan si Singsang (pihak museum) atas kejadian tidak menyenangkan yang sudah kami alami. 

Begitulah inti cerita pengalaman yang saya bagikan adalah dibutuhkan kemampuan mendeteksi, memahami situasi dan menyusun kalimat tanpa emosi tapi tetap tepat sasaran demi melawan atau menolak diskriminasi.

Mengutip kata Bang Napi, kejahatan ada karena ada kesempatan, begitu pula diskriminasi ada di mana-mana karena Anda mendukungnya! Jadi untuk meminimalisasi diskriminasi, Anda, teman-teman Anda, teman-temannya teman-teman Anda dan semuanya mesti bersama-sama menolaknya di manapun dan kapanpun. Say No To Discrimations!

HK, 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar