Laman

Selasa, 16 Agustus 2016

Terapi Seni Marjinal di Victoria Park


Marjinal Feat Melani Subono


Minggu pagi sedang mendung ketika langkah kaki saya sampai di kawasan Causeway Bay (14/08). Semendung wajah sesosok teman baru yang saya temukan di sebuah rumah makan Indonesia.
Teman baru yang duduk dengan bertopang dagu dan tatap mata menerawang itu tak terlihat memesan makanan atau minuman apapun. Rupanya ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri dan hanya membutuhkan saru sapaan saja agar membuka bendungan air mata yang sudah ditahan-tahannya.

Cerita yang kemudian mengalir keluar seiring tangisan hanya bisa saya jawab dengan pelukan dan penghiburan. Saya tahu teman yang baru saya kenal itu memang tidak butuh jawaban atau saran apapun atas semua keluh kesahnya, ia hanya sedang butuh tempat bercerita dan orang yang sudi mendengar tanpa menyela atau mencelanya. 

Sudah bukan rahasia lagi jika hidup sebagai seorang perantau, apalagi pekerja di luar negeri memang rentan memiliki dan menanggung beban masalah psikologi. Sebab ada banyak hal kompleks yang kerap tak terungkap yang pada akhirnya bisa mengendap menjadi timbunan emosi.

Kak Boby sedang mempraktekkan bagaimana cara menggunakan pisau cukil

Mengenal Terapi Seni

Setiap orang pastinya pernah bercerita, menggambar, membuat corat-coret, mendengarkan musik, menyanyi dan menari atau melakukan hal-hal kecil yang tanpa disadari adalah usaha untuk melegakan dan menyenangkan diri sendiri atau lebih sering diakui sebagai hobi. Tetapi terlepas dari apapun pengakuan dan tujuannya, kegiatan tersebut sebenarnya jika dipandang dari sisi teori ilmu psikologi bisa termasuk dalam kategori kegiatan terapi seni (Art Therapy).

Menurut American Art Therapy Association (AATA), terapi seni dapat diartikan sebagai suatu kegiatan terapeutik yang menggunakan proses kreatif individu guna memperbaiki dan menyempurnakan fisikal, mental dan emosi individu. Atau secara sederhana terapi seni termasuk dalam kategori terapi ekspresif. Melalui terapi seni ini seseorang dapat memunculkan pengalaman bawah sadar atau mengungkapkan perasaan dengan menggunakan material seni yang tersedia.

Dalam tahapan lebih serius di tangan seorang psikolog sebagai ahlinya, terapi membutuhkan ruang, media, penelitian dan diagnosa secara lebih rumit dan mendalam. Tetapi bukan berarti dengan begitu kita selain psikolog lantas tidak bisa melakukan atau memberikan terapi apa-apa kepada orang-orang yang sekiranya membutuhkannya. Semua orang bisa dan berhak melakukan kebaikan selagi punya niat dan tujuan berbagi, contohnya seperti acara yang diselenggarakan oleh teman-teman JBMI.


Penampakan hasil karya perdana saya setelah disablon pfffttt BBM itu Boby Boy Mike loh


Berkarya Itu Mudah dan Murah

Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI, teman-teman JBMI selain berkolaborasi dengan MFWF yang menyajikan berbagai pelayanan konsultasi kesehatan gratis dan beberapa sesi terapi emosi berupa Taichi dan Senam Yoga Tertawa, salah satu koalisi terbesar Buruh Mingran di Hong Kong itu juga menghadirkan Marjinal dan Melanie Subono.

Selain menghibur teman-teman yang hadir di acara Panggung Budaya dengan sajian lagu-lagu punk beraroma nasionalis dan progresif (seperti: Darah Juang, Marsinah, Negeri Ngeri, dll), Marjinal juga didapuk memberi pelatihan kilat cara mencukil dan menyablon kaos yang cukup mengundang rasa antusiasme para peserta.

Menurut Kak Boby, yang bertugas memberi materi seni cukil dan mengaku sudah mendalami salah satu cabang dari seni grafis tersebut sejak tahun 1996, membuat karya seni dengan cara mencukil atau cetak tinggi ini banyak diminati karena hasil cetaknya jauh lebih murah apabila dibandingkan dengan karya berupa lukisan. Dan bisa dibilang seni cukil dan sablon modal utamanya hanyalah niat.

"Siapa saja bisa membuat seni cukil. Dengan bahan yang mudah didapatkan kita bisa berkreativitas tanpa batas. Menuangkan ide, aspirasi dan ekspresi emosional perasaan kita ke dalam sebuah media," tutur Kak Boby.

Boby Marjinal


Bocoran Album Terbaru Marjinal

Di sela-sela kesibukan tangan Kak Boy dan Kak Boby mencukil dan menyablon, dan sesekali berdiri untuk melayani permintaan poto bareng para fans dadakan, saya juga sempat kepo tentang aktivitas Marjinal sebagai band dan Taring Babi sebagai komunitas mereka.

Menurut Kak Boy, salah satu personel Marjinal yang memegang alat musik Akordion, aktivitas komunitasnya yang bermarkas di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, tersebut bisa dipantengin sekaligus dihubungi melalui berbagai akun media sosial (Facebook, Fanpage, Instagram, Tweeter).

Boy Marjinal


Sewaktu saya cerita kalau saya menyukai lagu Marjinal yang berjudul Bumi Manusia (Soundtract Punk In Love) yang sudah saya unduh dari 4share, Kak Boy dan Kak Boby nyaris berbarengan menyahut kalau Bumi Manusia sebenarnya belum resmi dirilis dan termasuk dalam album baru Marjinal yang ke delapan.

Tapi ketika saya tanyakan kapan kira-kira album baru Marjinal terbaru akan diluncurkan, Kak Boby menjawab kalau mereka belum bisa memastikan. "Belum tentu kapan waktu rilisnya, rencananya sih tahun ini. Sebab album baru kami yang akan berisi 45 lagu itu, saat ini sedang dalam proses rekaman secara mandiri."

Mike Marjinal


Mengenai materi album, Marjinal yang sudah eksis selama 19 tahun dan sempat eberapa kali berganti personel tersebut masih tetap setia dengan karakternya sendiri. Dari segi musik tetap mengusung nuansa punk dan pada bagian lirik masih progresif bercerita soal isu sosial, politik, dan lingkungan.

Thanks atas sharingnya, Marjinal. Semangat dan sukses selalu!

HK, 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar