Laman

Rabu, 07 Juni 2017

Siapkah Kamu Menjadi Artis?


Artis juga manusia biasa, meski menjadi idola tapi juga punya salah dan dosa. Jadi untuk kamu yang membaca tulisan saya ini, jangan terburu-buru menjawab pertanyaan, sebelum saya selesai bercerita.

Bulan ini sudah bulan ketiga saya bekerja di sebuah keluarga yang salah satu anggotanya adalah seorang artis. Sebut saja namanya Nona Artis. Nona Artis saya yang terhormat ini lumayan terkenal di Hong Kong. Dan sebelum bekerja untuknya, saya sudah sering melihatnya mondar-mandir di layar kaca. Terkadang menjadi pemeran figuran dan beberapa kali menjadi pemeran utama wanita. Makanya ketika pertama kali bertemu saya langsung tahu kalau dia seorang artis. Tapi saya tidak bereaksi dan berpura-pura tidak tahu kalau dia itu public figure. Toh apa pentingnya buat saya?

Seminggu, dua minggu, sebulan dan seterusnya, meski hanya bertemu 3 kali dalam satu minggu, Nona Artis sukses membuat saya stress! Emosi Nona Artis kerap meledak-ledak dan sulit ditebak, sesaat baik, sesaat jahat. Bahkan dia bisa mengamuk dan tersenyum hanya berselang hitungan menit. Akting banget! Tapi saya berusaha memahami bahwa kemungkinan Nona berani begitu hanya kepada saya, sebagai pelampiasan atau bisa jadi sebagai uji coba pelatihan aktingnya. Karena di kehidupan luar rumah dia harus mati-matian jaga image jika tak ingin beresiko kehilangan kepopuleran serta pekerjaannya.

Btw, saya sebenarnya sedang tidak ingin membahas sisi emosi Nona. Saya hanya ingin berbagi beberapa fakta yang mungkin bisa menjadi bukti pernyataan saya di paragraf pembuka.

1. Artis itu Bisa Tidak Tahu Cara Telpon via Whatsapp.

Kaget kan? Saya sendiri juga agak gimana gitu ketika pertama tahu fakta ini. Ceritanya keponakan Nona yang dari Kanada sedang berlibur di HK. Dan Nona ingin mengajaknya makan bersama. Biasanya komunikasi sehari-hari mereka hanya melalui obrolan grup Whatsapp Keluarga. 

Hari itu Si Keponakan yang sudah diundang melalui WhatsApp belum menjawab bisa dan tidaknya diajak makan di restoran. Nona yang tidak sabaran langsung meneleponnya berkali-kali dan berkali-kali juga teleponnya gagal.

"Arista, kamu tahu kenapa aku gagal melulu telpon keponakanku? Sampai sekarang dia belum membalas pesanku. Padahal aku sedang terburu-buru!"

Saya cengo. Keponakan yang tidak jawab telpon kenapa saya yang diomelin? Tapi saya tahu setiap pertanyaan dari Nona saya selalu menginginkan jawaban dan tidak mau terima kalau saya tidak bisa menjawab. Fuaaah! Otak saya berputar. Dan ahaaa!

"Coba Nona telpon menggunakan Whatsapp."

"Kenapa aku harus telpon pakai whatsapp? Apa bedanya kalau aku telpon dengan nomor seluler?"

"Kemungkinan nomor yang dipakai keponakanmu adalah nomor Kanada yang secara otomatis sekarang sedang tidak aktif dan tidak bisa ditelpon melalui jaringan seluler. Tapi selagi dia mengaktifkan jaringan internet di hapenya, kamu bisa telpon dia di WA atau aplikasi online lainnya."

"Apakah benar begitu? Bagaimana kamu tahu? Bagaimana caranya telpon via WA?"

Gleg! Saya pun harus jelasin pelan-pelan kepada Nona yang punya energi ngeyel yang abadi meski sedang terjebak dalam lubang ketidak tahuan.

2. Artis itu Bisa Tidak Tahu Arah Jalan dan Tempat Parkir Kendaraan!

Setiap kali berpergian bersama Nona, saya pasti menjadi penumpang merangkap kernet eh lebih tepatnya menjadi peta atau geogle map kayaknya.

"Arista, aku harus belok ke arah mana? Aku mau cari Starbucks di daerah ini untuk ngopi."

Gleg. Nona membawa saya ke daerah asing, kemudian mendadak doi tanya warung kopi. Apa-apaan ini! Mata saya langsung jelalatan memperhatikan tepian jalan yang kami lewati dan gedung-gedungnya plus rambu-rambu lalulintasnya. Beruntung dalam hitungan beberapa menit saya menemukan satu gedung yang saya curigai sebagai mall! Dan di mana ada mall (saya kira) di situ pasti ada warung kopi.

"Jalan lurus, belok kanan kemudian belok lagi."

"Hah? Kamu yakin?"

"Iya, kita ke arah gedung berwarna merah itu. Itu Mall besar, pasti ada Starbucks di sana."

"Kita harus parkir mobil di mana?"

"Di pinggir jalan."

3. Artis itu Bisa Tidak Pakai Logika

Sepanjang jalan, beberapa sopir mobil yang mendahului kami mengacungkan jari dan menggerakkan tangannya ke arah kami, entah bermaksud memberi kode apa.

"Arista, kamu tahu apa yang terjadi? Ada apa dengan orang-orang itu? Ada apa dengan bagian belakang mobilku? Kamu tahu?"

Gleg! Saya berada di dalam mobil bersamanya, bagaimana saya bisa tahu dan bisa melihat ke arah bagian belakang atau badan mobil bagian luar? Emangnya saya tukang sihir? Logikanya di mana coba?"

"Entahlah. Saya tidak tahu, Nona."

"Kenapa kamu tidak tahu? Kamu harus cari tahu!"

Pfffttt piye jal? Setelah mobil berhenti, saya langsung memeriksa dan mencari tahu apa yang terjadi. Ternyata ban mobil bagian belakang bocor. Duh. Jadilah saya harus menjadi geogle map untuk mencari letak bengkel terdekat!

Eh sudah ya curhat saya. Kalau dilanjutkan bisa kebanyakan. Intinya ya gitu deh kalau kamu ingin menjadi Artis, tolong dimengerti kalau menjadi artis itu bukan berarti menjadi sempurna. Menjadi orang terkenal itu butuh kekuatan dan ketahanan mental yang luar biasa, siapkah kamu? Sudah, tidak perlu menjawab pertanyaan saya yang tidak penting. Terima kasih ya sudah menyimak dan membaca curhat saya.

HK, 2 Juni 2017





Meledak Atau Tidak, Bom Itu Berbahaya!

Selang beberapa hari setelah peristiwa ledakan bom bunuh diri Kampung Melayu di tanah air yang sempat saya simak baik melalui sosial media pun di stasiun televisi lokal, Hong Kong dihebohkan oleh keberadaan suatu benda yang ditengarai sebagai bom yang sengaja diletakkan di tempat umum di daerah Central. 

Ketegangan menyelimuti kota, puluhan polisi dikerahkan untuk mengamankan kawasan dimana benda mencurigakan itu berada. Petugas penjinak bom pun beraksi dengan hati-hati. Tapi ternyata benda yang dicurigai bisa meledak itu adalah bom palsu!

Menurut rekaman cctv yang beberapa kali ditayangkan di tv juga penuturan media, tersangka yang sengaja meletakkan benda tersebut adalah seorang perempuan muda. Belum diketahui pasti apa tujuannya, tetapi menurut peraturan yang berlaku, tindakan perempuan tersebut sudah termasuk teror bagi warga umum di Hong Kong.

Negeri bagian China di mana saya tinggal dan bekerja sekarang ini wilayahnya tidak luas, dan bisa dibilang tingkat pengamanan lumayan tinggi. Namun, tindak kejahatan masih kerap ditemukan dan mewarnai bumi Bauhinia yang pastinya membuat dan menuntut pihak kepolisian selalu upgrade sistem pengamanannya. Apalagi sehubungan isu-isu teroris dan ISIS yang terjadi di beberapa negara di dunia, pihak kepolisian Hong Kong yang menyadari negaranya termasuk negara yang welcome kepada pendatang sudah berada pada taraf siaga. Hal ini bisa terlihat dari adanya pelatihan-pelatihan intensif oleh instansi-instansi terkait untuk mencegah dan menangani ancaman berbagai macam terorisme.

Kesiagaan dan ketatnya pengamanan sehubungan masalah terorisme​ dan ISIS oleh pemerintah HK sempat menuai komentar pro dan kontra dari warga Hong Kong sendiri. Mereka yang menentang berasalan khawatir akan efect dari kesiagaan justru menumbuhkan benih-benih paranoid dan diskriminasi terhadap muslim seperti yang terjadi di Amerika.

Saya sendiri sebagai perantau dan sebagai muslim minoritas di negeri Jackie Chan ini hanya bisa menyimak dan diam-diam berusaha belajar dari semua perdebatan yang terjadi. Dari semua argumen yang dijadikan bahan debat, tak jarang saya bisa mengambil 'sesuatu' yang menambah bahan pemikiran dan pemahaman saya.

Ketika tersiar berita adanya bom palsu/ bom mainan, saya memperhatikan reaksi media dan komentar netizen HK terkait hal tersebut. Saya menemukan fakta kalau ada beberapa orang yang masih bisa menertawakan dan menganggap kejadian mendebarkan itu sebagai lelucon. Tapi sebagian besar lainnya sepakat bahwa hal ini harus ditindak lanjuti. 

Berikut kutipan dua komentar dari seorang netizens dan seorang penyiar televisi yang saya sukai. Saya suka karena sama dengan yang saya pikirkan sih.

"Asli atau bukan, meledak atau tidak, bom tetaplah benda yang berbahaya. Disebut namanya saja sudah menjadi teror, apalagi ada wujud bendanya? #SayaTolakTerorisme! " ~JC~

"Meski bom itu hanya bom mainan, siapapun yang melakukannya adalah bedebah. Bom mainan itu tetap berbahaya! Karena dengan adanya lelucon yang tidak lucu ini, bisa jadi di lain kali kita lengah dan kurang hati-hati, kemudian terjadi peristiwa meledaknya bom asli yang sebelumnya diabaikan keberadaannya karena dianggap hanya bom mainan!" ~ZW~

HK, 1 Juni 2017