Laman

Senin, 04 November 2019

Pepe si Katak Hijau yang Mati di Amerika, Bereinkarnasi dan Berjuang Bersama Demonstran Hong Kong


 
"Akhir adalah kesempatan untuk awal yang baru. Aku punya beberapa rencana untuk Pepe yang tidak bisa benar-benar kudiskusikan, tetapi Pepe akan bangkit dari abu seperti burung Phoenix ... dalam kepulan asap ganja." ~ Mat Furie ~ (2017) 

Pepe antropomorfik hijau dengan tubuh humanoid yang diciptakan pada tahun 2005, pada tahun 2017 dikabarkan telah dibunuh oleh penciptanya sendiri, Matt Furie yang seorang seniman dan kartunis Amerika. Alasan Furrie membunuh Pepe karena kecewa karakter komiknya tersebut telah dijadikan lambang white power, simbol kebencian dan rasisme supremasi kulit putih (alt-right) sekaligus karakter untuk kampanye Donald Trump. 


Dalam sebuah komik yang dirilis untuk Free Comic Book bulan Mei 2017, Matt Furie menggambarkan Pepe, katak hijaunya yang pemalas dan penyayang tapi terkenal dan dicintai banyak orang tersebut, sebagai mayat yang diletakkan di dalam peti mati. Gambar tersebut menurut Furie ia tujukan sebagai bentuk teguran terhadap ekstrimis sayap kanan Amerika yang telah mengambil dan mengubah kataknya menjadi simbol rasisme dan kebencian dengan semena-mena. 

Namun, dalam satu kesempatan wawancara dengan media, Furrie dengan yakin mengatakan bahwa kematian katak hijaunya bukan berarti akhir semua cerita. Seperti burung Phoenix yang membakar dirinya menjadi abu untuk kemudian terlahir kembali sebagai Phoenix baru, Furrie percaya suatu hari Pepe akan bangkit kembali sesuai dengan karakter aslinya dan hidup di dunia baru. 


Siapa sangka, dua tahun kemudian,  Pepe yang meski dalam kematiannya tetap membuat Furie harus berjuang di pengadilan berkali-kali untuk mempertahankan dan merebut hak ciptanya dari berbagai pihak yang tidak bertanggung jawab dan berusaha mendulang keuntungan berupa uang dari karyanya, benar-benar terlahir kembali. Tapi pada kelahirannya kembali di sebuah kota baru, Pepe yang tetap berwarna hijau itu tidak lagi menjadi katak pemalas dan simbol kebencian serta Islam phobia seperti di komik The Adventure Of Pepe yang ditarik dari peredarannya, dia sudah menjelma menjadi sosok pejuang demokrasi yang pemberani dan semangat berjuang bersama para demonstran muda Hong Kong. 


Para demonstran Hong Kong menggunakan Pepe the Frog sebagai simbol kebebasan dan perlawanan terhadap RUU ekstradisi dan tindak kebrutalan polisi yang disebut dengan julukan Popo dalam gerakan anti-ekstradisi 2019. Karenanya tulisan 'Pepe never forgot Popo' dan gambarnya bisa ditemukan di banyak dinding Lennon di berbagai penjuru kota. 

Bahkan saat protes terhadap insiden penembakan oleh polisi di Tsim Sha Tsui yang menyebabkan seorang perempuan kehilangan mata kanannya, gambar yang memperlihatkan sosok Pepe si Katak dengan mata yang terluka menjadi viral. Pepe dalam kampanye "Mata Untuk Hong Kong" berhasil mendapatkan perhatian sejumlah media internasional sekaligus menjadi perdebatan di kalangan para demonstran sendiri. Sebagian demonstran sempat menolak kehadiran Pepe yang memang di negara barat lebih dikenal sebagai simbol kebencian, tapi pada akhirnya sebagian lainnya berhasil meyakinkan teman-temannya bahwa mereka bisa merehabilitasi Pepe dan mengabaikan anggapan buruk yang ada jika dengan itu berarti dunia Internasional bisa lebih memperhatikan gerakan dan perjuangan untuk demokrasi mereka.

Pada sebuah Forum maya di LIHKG, para demonstran muda anti-ekstradisi Hong Kong menyatakan bahwa mereka harus merebut kembali Pepe yang dianggap cocok menjadi simbol rakyat dan menjadi bagian dari revolusi mereka untuk melawan Popo yang merupakan simbol aparat dan pemerintah Hong Kong dan China. 

Furie dalam sebuah balasan surat elektronik kepada seorang pengunjuk rasa Hong Kong selain mengatakan terkejut sekaligus bahagia juga menunjukkan dukungannya terhadap Pepe. "Ini adalah berita bagus! Pepe untuk Rakyat!"

Kemunculan Pepe di tengah lautan demonstran berbaju hitam yang mengenakan masker, kacamata keselamatan dan topi kuning secara konsisten sejak berlangsungnya demonstrasi musim panas di Hong Kong sebenarnya tidak instan atau mendadak. Jauh sebelum gerakan anti ekstradisi dimulai pada tanggal 9 Juni 2019, sosok Pepe sudah dikenal dan akrab di kalangan anak muda Hong Kong berkat serangkaian stiker WhatsApp yang menggambarkan Pepe dalam berbagai bentuk dan ekspresi serta aktivitas sehari-hari. Meski bukan termasuk seni tinggi, rangkaian luas stiker mikro-emosi Pepe membuatnya menjadi alternatif yang menyenangkan dan ekspresif bagi emoji.

Ketika gerakan pro-demokrasi di Hong Kong memanas, proliferasi stiker Pepe juga turut memanas dan hadir dalam bentuk yang semakin lengkap. Selain bisa menjadi sosok demonstran garis depan, seorang reporter dan fotografer pemberani, seorang perwira polisi anti huru hara, Pepe juga bisa menjadi sosok pejabat pemerintah seperti Kepala Eksekutif Carrie Lam Cheng Yuet-ngor.



Tidak hanya dalam bentuk sticker dan gambar, Pepe yang sudah terlahir kembali dan secara resmi menjadi warga Hong Kong tersebut bisa ditemui dalam bentuk boneka, mainan dan boneka tas pada setiap demonstrasi, baik itu demonstrasi yang 'panas' pun yang damai semacam 'Human Chain' atau aksi membentuk rantai manusia. 


Dalam sebuah wawancara dengan AFP, seorang demonstran Hong Kong mengatakan Pepe di Amerika dan Pepe yang telah menjadi warga Hong Kong adalah Pepe yang berbeda. Pepe Hong Kong adalah Pepe yang baik, penyayang dan pemberontak seperti gambaran para pemuda Hong Kong. Bagi para demonstran anti-ekstradisi, selain bisa menjadi hiburan dan motivasi, Pepe juga menjadi alat untuk menunjukkan ekspresi perasaan para demonstran yang karena ancaman keselamatan dirinya harus menyembunyikan wajah di balik masker. 

“Bahkan dalam situasi yang sangat sulit, kami masih ingin merasakan harapan dan bahagia. Jika kami dapat mempertahankan pikiran dengan cara yang positif (bersama Pepe), maka kami akan bisa terus melanjutkan demontrasi dan menemukan cara untuk kemenangan demokrasi." ~Demonstran HK~ (2019) 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar