Kamis, 30 April 2020

365: Repeat The Year dan Hasrat Manusia untuk Mengubah Takdir


 
Docpri: Screenshoot episode 1




“Tidak masalah jalan manapun yang saya pilih, pasti akan memberikan kesempatan. Selama saya tidak takut.” - Ji Hyung-joo -

Saya baru saja selesai menonton drama korea “365: Repeat The Year” atau
 “365: One Year Against Destiny”. Drama TV bersambung ini konon diadaptasi dari novel Jepang berjudul “Repeat” karya Kurumi Inui. Drama bergenre  thriller, misteri, fantasi, dan kriminal yang membuat saya menekan tombol pause dan repeat untuk menonton ulang beberapa adegan dengan plot cepat sambil menahan napas ini menurut saya perpaduan antara Final Destination dan The Hunger Games. Keren pakai banget.

365: Repeat The Year mengisahkan tentang 10 orang yang menjadi resetter atau mengikuti reset mengatur ulang kehidupan mereka dengan mundur satu tahun ke belakang dari 11 Januari 2020 ke 11 Januari 2019. Kesepuluh orang rapuhyang berbeda latar belakang dan usia tersebut ingin kembali ke tahun sebelumnya untuk mencegah kejadian buruk yang telah terjadi dalam kehidupan mereka masing-masing.

Pada episode awal, saya sempat menekan tombol pause dan merenungi cerita pembuka drama yang begitu manusiawi. Betapa nyaris semua orang ketika menghadapi situasi buruk, terjebak di titik paling galau dan kesedihan yang tak tertahankan kerap berandai-andai: andai waktu bisa diputar kembali, mungkin semua tak akan sama.. Jika saya bisa menghindari kesalahan yang sama, tentunya semua kan baik-baik saja dan saya akan bahagia.

Sebelum lanjut menonton episode selanjutnya, saya  sempat berpikir, bagaimana jika saya yang sedang di titik nol makbedunduk ditelepon orang asing yang menawari saya untuk kembali ke masa lalu? Apakah saya akan menerimatanpa curiga dan tanpa mempertimbangkan risikonya seperti sepuluh orang dalam drama tersebut? Atau saya akan berpikir ulang kemudian memilih melanjutkan kehidupan saat ini seperti salah satu perempuan yang sedang hamil yang menolak kembali ke tahun sebelumnya karena tak ingin kehilangan bayinya? Ah! Ternyata saya kesulitan untuk menemukan jawaban pasti dalam diri saya sendiri. Labil.

Setelah seminggu kembali ke tahun lalu, sebagian resetter merasa senang karena bisa memperbaiki keadaan. Tapi sebagian lagi menyesal karena malah menemukan kenyataan pahit yang sebelumnya tak mereka temukan di masa depan.

Siapa sangka kesepuluh orang yang awalnya tak saling mengenal dan dipertemukan pertama kalinya dalam program reset tersebut pada akhirnya memiliki cerita kehidupan yang bersinggungan. Mereka mulai sadar bahwa mereka telah kembali ke masa lalu untuk mengikuti sebuah permainan yang penuh misteri. Mereka mulai mempertanyakan apa risiko usaha mereka untuk mengubah takdir? Apa efek samping atau risiko dari perjalanan menembus waktu yang sudah mereka lakukan?  

Mereka yang saling mencurigai setelah kematian demi kematian terjadi, berusaha keras untuk memecahkan misteri dan menyelidiki serta mencegah siapa yang akan mati selanjutnya dengan mengenali berbagai pola dari urutan tempat duduk, siapa yang berdiri duluan pada saat sedang berkumpul, hingga siapa yang menerima rangkaian bunga dan kartu ucapan berisi sebaris pesan teka-teki.

Kerja tim, kepercayaan, persahabatan, penipuan, pengkhianatan, hingga misteri kematian dan teka-teki pembunuhan berantai yang berakhir dengan pembelokan takdir yang diramu dalam plot cepat dengan total 24 episode ini benar-benar seru, mendebarkan tapi nggak menye-menye.

Selain plot twist dan sinematografinya yang menarik karena kamera kadang-kadang disorot berdasarkan sudut pandang tak biasa, yaitu sudut pandang mata pemain. Akting para pemainnya juga benar-benar total dan professional sehingga karakter tiap tokoh dalam cerita menjadi sangat kuat. Lee Joon-hyuk sebagai Ji Hyung-jooNam Ji-hyun sebagai Shin Ga-hyunKim Ji-soo sebagai Lee Shin dan Yang Dong-geun sebagai Bae Jung-tae dan pemain pendukung lainnya masing-masing memerankan sosok yang nggak hanya numpang lewat kemudian terlupakan.

Usai menonton episode terakhir, lagi-lagi saya bertanya kepada diri sendiri: Andai memiliki kesempatan untuk mengubah takdirmu dengan kembali ke masa lalu, apa kamu mau, Yuli? Kemungkinan saya akan terus mencari jawaban hingga kesempatan itu benar-benar datang. Dan selama kesempatan itu masih belum menjadi kemungkinan, saya pun bisa mengingat kata-kata yang diucapkan  Ji Hyung-joo ketika dia berhasil reset independent atau kembali ke 1 tahun sebelumnya dengan melakukan perjalanan pribadi, “Tidak masalah jalan manapun yang saya pilih, pasti akan memberikan kesempatan. Selama saya tidak takut.”

Jujur saja selesai menonton 365: Repeat The Year, saya jadi heran kenapa drama sekeren ini bisa kalah  populer dengan drama bertema pelakor The World of the Married dan dunia pararel The King: Eternal Monarch ya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Kisah Galau di Hati Minggu

Novel yang menurut saya termasuk kategori young adult ini ( baca: tidak direkomendasikan untuk pembaca di bawah umur tanpa pendampingan o...