Minggu, 24 Mei 2020

Review Dew (Let's Go Together): Sebuah Kisah yang Menguras Air Mata dan Menghangatkan Hati


Menonton film bagi saya sama halnya membaca buku. Dan film produk Thailand Dew (Let's Go Together) ini menurut saya adalah sebuah buku yang keren dan indah sekali. Menguras air mata sekaligus menghangatkan hati.

Saat menonton Dew yang berdurasi 2 jam ini saya menangis keras berkali-kali. Membayangkan betapa menyedihkannya ketika kita sebagai manusia tidak dapat menjadi apa yang kita inginkan karena pembatasan dari masyarakat, keluarga, norma, kepercayaan, dan budaya kita. Betapa frustasinya ketika hidup kita ini dikendalikan oleh lingkungan kita sepenuhnya. Hingga apa yang bisa kita lakukan dalam keputusasaan adalah memikirkan cara menemukan tempat di mana kita dapat melarikan diri dan menjauh dari semua bentuk penghakiman. Damn! Saya pernah mengalaminya.

Film bergenre roman ini bercerita tentang Phop dan Dew, yang belajar di sekolah yang sama yang secara perlahan-lahan menyadari ada sesuatu yang lebih dari persahabatan di antara mereka. Sayangnya, mereka hidup di era yang tidak terbuka untuk homoseksual sehingga perasaan dan hubungan cinta keduanya menjadi ketidakmungkinan yang menyedihkan.

Konon pada tahun 1990-an, tahun setting dalam film ini, AIDS menyebar di Thailand dengan sangat cepat, dan umumnya dialami oleh para pria homoseksual. Hal tersebut membuat pemerintah Thailand  melakukan pendidikan dan pencegahan dengan cara menempatkan para remaja homoseksual (berpenampilan banci atau bersikap cenderung feminin) ke dalam semacam kamp untuk dididik secara militer agar menjadi 'jantan'. Saat itu, homoseksual dianggap penyakit mental yang harus diobati dan para penderitanya mesti disembuhkan dengan cara apapun.

Saya tidak bisa membayangkan betapa sulitnya menjadi seorang homoseksual di Thailand pada saat itu, dianggap sakit mental meskipun sebenarnya itu bukan penyakit mental. Adalah terlarang bagi seseorang untuk mencintai sesama jenis kelamin. Betapa banyak kisah-kisah seperti ini yang seharusnya diceritakan, dipaksa untuk dihapus hanya karena masyarakat mengatakan demikian. 

Cerita tentang latar belakang keluarga Dew dan Phop dalam film ini juga menjadi point penting jalannya cerita.

Ibu Dew adalah orang tua tunggal yang bekerja sebagai pegawai pelayanan publik yang tugasnya berpindah-pindah tempat. Dia digambarkan sebagai sosok ibu tangguh yang sangat mencintai anaknya. Dialog antara Ibu dan Dew saat Dew ditelpon diajak minggat Phop membuat saya nangis termehek-mehek. 

"Kenapa kamu ingin pergi? Pergi kemana?"

"Aku akan pergi ke mana saja, yang penting tidak tinggal di kota ini. Karena ibu tidak mau menjawab pertanyaan yang kuajukan. Apakah ibu akan tetap mencintai dan menerimaku jika aku seorang gay?"

"Kenapa tidak? Ibu akan tetap mencintaimu meski kamu seorang gay. Ibu mencintai dan menerima apapun adanya dirimu, Dew. Karena kamu anak ibu satu-satunya. Kalau kamu pergi ibu akan sendirian. Jadi ibu mohon jangan pergi.... Jangan tinggalkan ibu." 

"Tapi nantinya ibu akan menganggapku sebagai orang yang sakit dan memasukkanku ke pusat rehabilitasi seperti orang lainnya."

"Itu tidak benar. Kamu boleh mencintai siapapun Dew, kamu berhak mencintai laki-laki mana pun. Ibu tidak akan melarangnya dan Ibu rela menjadi satu-satunya perempuan yang kamu cintai di dunia ini. Jadi ibu mohon jangan pergi..., jangan tinggalkan ibu."

Argh... Saya jadi ingat pengakuan beberapa teman gay saya tentang bagaimana sikap dan perlakuan ibu mereka. Cinta ibu kepada anaknya sepanjang masa memang benar adanya.

Kehidupan dan keadaan keluarganya membentuk Dew menjadi sosok ceria tapi penuh teka-teki. Dew gambaran bocah kota besar yang pindah ke kota kecil, memiliki sifat yang egois dan asertif, membuat hubungannya dengan Phop menjadi labil. Namun Dew memiliki sisi ketulusan dan selalu berupaya menunjukkan kasih sayangnya kepada Phop.

Sementara itu tentang keluarga Phop digambarkan memiliki seorang ayah yang sangat maha mengatur. Semua keputusan dibuat oleh ayah yang tidak memberikan ruang sedikit pun bagi anak-anaknya untuk memiliki pengalaman emosional mereka sendiri dan mengembangkan rasa otonomi. Hal ini membuat sosok Phop menjadi anak rapuh yang kesepian yang cenderung berpaling dari keluarganya. 

Itulah sebabnya Phop merasa hidupnya lebih berarti dan lebih berguna ketika bersama Dew. Hal itu ditunjukkan gimana saat isu Dew adalah gay mulai menyebar. Phop rela menggantikan Dew untuk menjalani pelatihan di kamp militer sebagai upaya melindungi orang yang dicintainya dengan caranya sendiri.

"Kemarikan dompetmu?"

"Kenapa? Kamu ingin merampokku?"

"Kemarikan dompetmu!" Phop mengambil paksa dompet dan kartu pelajar Dew. "Mereka hanya akan melihat nama di kartu pelajar kita. Jadi biarkan aku yang pergi ke kamp pelatihan untuk menggantikanmu." 

Argh so sweet sekaligus nyesek banget bagian ini. Apalagi ketika Phop pulang dari kamp dengan tubuh penuh lebam.

Setelah gagal minggat bareng karena Dew kasihan pada ibunya, saya bertanya-tanya bagaimana Dew dan Phop akan bertemu lagi setelah 23 tahun berpisah.  Saya mengira mungkin ketika Phop kembali ke Pang Noi sebagi seorang guru yang beristri akan mengunjungi Dew atau mungkin mereka akan saling bertemu tanpa sengaja gitu kayak di film-film lainnya.

Damn! Saya benar-benar tidak menyangka kalau ternyata film ini mengangkat tema reinkarnasi juga. Awalnya saya mengira Natcha adalah putri Dew karena dia memiliki kemiripan dengan Dew, misalnya suka makan sosis dengan selada atau menyukai musik serta buku stereogram. 

Saya menunggu-nunggu dan penasaran kapan kemunculan Dew. Tapi saya dibikin misuh karena ternyata Natcha adalah Dew! Ternyata Dew meninggal pada malam kepergian Phop. Dew yang emang gak begitu bisa naik motor, menyusul Phop ke stasiun dan mengalami kecelakaan. What the fuck! Argh kacau. Ending film ini benar-benar tidak terduga. Plot twist. 

Menariknya, film ini memasukkan tentang stereogram atau ilusi optik (dengan pola gambar berulang yang seakan terlihat hanya sebagai gambar abstrak) yang menyembunyikan sebuah gambar tiga dimensi yang hanya dapat dilihat dengan metode tertentu. Hal ini menarik dan membuat saya berpikir agak lama, dan menganggapnya sebagai metafora.

Sepertinya sebagaimana keberadaan gambar 3D yang tersembunyi, ada pesan tersembunyi yang ingin disampaikan pembuat film ini. Terutama setelah apa yang dikatakan Phop kepada Natcha.

"Sebenarnya, aku selalu bisa melihatnya (melihat gambar 3D yang tersembunyi dalam stereogram) meski kamu tidak mau memberitahuku apa yang ada di dalamnya. Tapi aku tahu apa itu."

 "Tapi, saat itu, aku terus berpura-pura tidak tahu karena aku tidak berani mengatakannya, Dew. Karena itu ketidakmungkinan bagi kita. Kita berdua sama-sama tahu tentang itu, kan?"

Menurut saya, kemungkinan selain gambar beberapa binatang yang disebutkan, ada gambar hati atau cinta dalam buku stereogram tersebut. Phop tidak mau menyebutkan gambar itu dan bersikukuh pura-pura tidak tahu meski membuat Dew yang tidak percaya menjadi jengkel dan memaksanya untuk mengatakan apa yang dilihatnya. Kepura-puraan dan kejengkelan itu disebabkan keduanya tahu hubungan mereka tidak bisa diterima dan berbahaya. Sebab selain bisa dihukum oleh pemerintah juga bisa dihakimi masyarakat karena tempat tinggal mereka merupakan kota kecil yang secuil gosip bisa menyebar kemana-mana. Semacam di kampung saya nih 🙄

Terlepas dari ulasan gak jelas saya di atas, Film Dew ini keren karena memang akting para pemerannya sangat bagus.

Nont Sadanont yang berperan sebagai Phop muda, menyampaikan karakternya dengan cukup baik melalui ekspresi wajahnya, sama halnya akting Ohm Pawat sebagai Dew. Keduanya melakukan perannya dengan sangat baik dan mengagumkan. Sebagai penonton saya bisa merasakan emosi masing-masing karakter: rasa cinta, sakit, takut, pedih, marah, gelisah, berkelindan seperti roller coaster. 


Salah satu adegan favorite saya di film ini adalah saat Dew dan Phop menunjukkan "gayisme" tertentu dalam perilaku unik mereka saat sesi latihan menari. Dew menerima perannya sebagai 'gadis' pasangan menari Phop.  Dengan menggunakan dinamika kemitraan tradisional itu artinya Phop lebih dominan.  Namun ternyata sebaliknya, Dew malah terlihat lebih agresif dan justru Phop yang mengikutinya.
 

1 komentar:

  1. SAYA MENYAMBUT ANDA SEMUA DI PAGE INI
    INI IALAH CERITA SAYA

    Saya MURNI SANTI, seorang wanita, ibu, kakak dan rakan dari (Bekasi), Indonesia, saya seorang PENGURUS ESTATE SEBENAR dan saya mengalami banyak tekanan kewangan baru-baru ini, tidak ada yang mahu meminjam wang kepada kami untuk menyelesaikan projek komersial kami yang telah dibina dalam beberapa bulan sekarang. Saya telah ditipu oleh beberapa syarikat pinjaman palsu yang menuntut sejumlah besar wang daripada saya tanpa kami menerima pinjaman.

    Saya kecewa, suami saya berusaha sebaik mungkin dan menolong, saya akan membunuh diri kerana kesakitan, terlalu berat untuk ditanggung dan saya kehilangan harapan, sehingga saya diperkenalkan kepada SEMUA PINJAMAN GRANT GLOBAL sebuah syarikat pinjaman yang ditaja oleh bank dunia itu sendiri.

    Saya memutuskan untuk memohon pinjaman dan menghubungi syarikat itu, pegawai pinjaman mereka yang benar-benar memberi saya harapan dan memberitahu saya jangan bimbang syarikat itu akan meminjamkan wang kepada saya, walaupun jumlah yang saya perlukan sangat besar, dan semua yang saya dapat berikan kepada mereka keperluan yang merupakan beberapa maklumat peribadi, yang saya lakukan.

    Saya melalui semua proses, mereka berjanji akan meminjamkan wang yang saya minta setelah mengesahkan saya layak untuk mendapat pinjaman, saya diminta untuk menunggu, yang paling mengejutkan adalah pinjaman yang dimasukkan ke dalam akaun saya dan saya mengesahkannya .. Kami syarikat kembali dari segi kewangan dan keluarga saya berjaya dengan baik ini menjadikan hidup saya lebih baik, saya bersyukur kepada Allah dan semua PINJAMAN PEMBERIAN GLOBAL
    GMAIL ..... allglobalgrantloan@gmail.com

    UNTUK MENGHUBUNGI SAYA
    NAMA Syarikat: SEMUA PINJAMAN GRANT GLOBAL
    EMAIL Syarikat: allglobalgrantloan@gmail.com.
    Whatsapp Syarikat: +1(304)997-4034
    Nama Saya: MURNI SANTI
    E-mel Saya: murnisanti55@gmail.com

    BalasHapus

Featured Post

Kisah Galau di Hati Minggu

Novel yang menurut saya termasuk kategori young adult ini ( baca: tidak direkomendasikan untuk pembaca di bawah umur tanpa pendampingan o...